Loading...
Ruth Handler: Ibunda Kerajaan Bisnis Barbie

Ketika pendiri kedua Mattel, Ruth Handler, awalnya menawarkan agar perusahaan membuat boneka dewasa, staf marketing di Mattel menolak keras ide tersebut. Gadis-gadis kecil menyukai bermain dengan boneka-boneka bayi, klaim mereka. Dan mereka yakin bahwa wanita dewasa tak akan menginginkan anak-anak mereka bermain dengan boneka-boneka wanita dewasa. Tetapi dinamo rekan bisnis ini tidak menyerah begitu gampangnya. Memerlukan hampir tiga tahun bagi dirinya untuk meyakinkan perusahaan agar membuat boneka tersebut. Itu mungkin adalah keputusan terbaik yang akhirnya mereka lakukan. Barbie, begitulah Ruth berikan nama bagi boneka yang memiliki panjang 11,5 inch tersebut, menjadi hit besar, tidak hanya membuat Mattel sebuah pemimpin tak tergoyahkan dalam pembuatan boneka, tetapi juga menciptakan industri $1,9 milyar per tahunnya.

Perusahaan tersebut akhirnya menjadi salah satu pemimpin pembuat boneka di dunia dimulai dari sebuah bisnis garasi tak menguntungkan di El Segundo, California. Para pendiri aslinya, Harold Matson dan Elliot Handler, memberi nama perusahaan tersebut dengan nama "Mattel," menciptakan sebuah nama dengan mengkombinasikan dari awal dan akhir nama mereka. Produk pertama Mattel adalah bingkai-bingkai foto, tetapi Elliot mengembangkan sebuah bisnis pembuatan furnitur rumah boneka dari sisa potongan bingkai foto.

Mempercayai bahwa perusahaan sedang menukik jatuh, Matson menjual semuanya ke partnernya dan istrinya Handler, yakni Ruth, yang bergabung dengan suaminya sebagai sesama pendiri. Terdorong oleh kesuksesan mereka dalam bisnis furnitur boneka, kedua Handlers mengubah inti perusahaan ke boneka-boneka dan mulai membuat sebuah dasar untuk produk-produk musikal, termasuk ukulele berukuran anak-anak dan sebuah kotak musik pengengkol tangan yang dipatenkan, yang meraup banyak pemasukan perusahaan pada tahun 50an dan 60an.

Perusahaan berjalan dengan sangat baik, tetapi masih dari jauh dari kelompok industri besar. Itulah pada tahun 1956 ketika Ruth Handler mengeluarkan ide jenius yang akan meroketkan Mattel menjadi yang terdepan dalam industri boneka dan memukau empat generasi gadis muda.

Ruth mendapatkan inspirasinya akan boneka Barbie ketika sedang menonton putrinya yang masih kecil, Barbara, dan teman-temannya bermain dengan boneka kertas. Para gadis kecil itu sedang bermain seandai-andai gadis dewasa atau remaja dengan boneka-boneka tersebut, membayangkan diri mereka sebagai mahasiswi, cheerleaders, dan orang dewasa yang berkarir. Itu dengan instan membuat Handler menyadari dan berpura-pura akan masa depan adalah bagian penting dari pertumbuhan. Dalam meriset pasar, ia menemukan area yang kosong dan berketetapan untuk mengisi ceruk pasar tersebut dengan boneka 3 dimensi.

Para desainer Mattel memiliki keragu-raguan, hingga mengatakan bahwa membuat boneka seperti itu adalah mustahil. Selagi berlibur di Eropa, Handler menemukan sebuah boneka Jerman bernama Lili – sebuah hadiah yang agak berbau pornografi bagi pria. Ia membeli tiga buah boneka ke rumah dan mengirimkan para desainer Mattel ke Jepang untuk mengatakan kepada mereka "carikan kami seorang pembuatnya."

Visi Ruth bagi boneka tersebut, yang ia panggil Barbie (panggilan putrinya), agar boneka tersebut menjadi wanita yang "ideal." Menurut legenda, wajah dan figur Barbie diciptakan dari sebuah kombinasi dari fitur-fitur bintang-bintang populer masa itu, termasuk alis Audrey Hepburn yang terkenal.

Ruth Handler – BarbiePada tahun 1959, Barbie adalah sebuah realita dan siap untuk menggebrak toko-toko. Tetapi ada sedikit halangan. Pada awalnya dalam riset pasar, terungkapkan bahwa para ibu membenci boneka tersebut, satu orang melaporkan, "Wow! Itu benar-benar adalah boneka kesukaan ayah, bukankah begitu?" Para peritel boneka di Toy Fair tahun 1959 di New York City, para peritel tidak pernah melihat sebelumnya sebuah boneka yang sama sekali tidak seperti boneka bayi dan balita yang populer pada masa tersebut, dan banyak yang menolak untuk membawanya.

Tak kenal takut, Ruth langsung mengarahkan ke para gadis muda dengan iklan-iklan televisi yang merepresentasikan Barbie sebagai orang sebenarnya. Terima kasih kepada pendekatan marketing inovatif ini, dalam tiga bulan semenjak debutnya, boneka-boneka Barbie terjual rata-rata sekitar 20.000 per minggunya. Permintaan akan boneka tersebut begitu luar biasa hingga itu membutuhkan beberapa tahun untuk persediaan memenuhi permintaan. Barbie begitu suksesnya hingga ia mampu menjadikan Mattel untuk publik pada tahun 1960, dan dalam waktu lima tahun, Mattel bergabung dalam peringkat Fortune 500.

Selama beberapa tahun selanjutnya, seluruh industri hanya berputar mengenai Barbie. Para desainer secara berlanjut bekerja menciptakan pekerjaan-pekerjaan untuk Barbie yang merefleksikan perubaha fesyen masa itu. Tetapi mereka tidak hanya berputar pada pakaian saja. Barbie selanjutnya memiliki rumah impiannya sendiri, mobil, pesawat, yacht, lusinan aksesoris lainnya, belum termasuk lagi "teman-temannya," seperti boneka-boneka bernama Midge, Skipper, dan Christie. Barbie bahkan memiliki kekasihnya sendiri, yakni Ken, yang diberi nama seperti putranya Handler. Ironisnya, kisaran dari harga $5 ke atas, kebanyakan dari pakaian-pakaian dan aksesoris-aksesoris Barbie harganya lebih dari boneka itu sendiri (Barbie harganya $3). Faktanya, di masa sekarang aksesoris-aksesori Barbie meraup nyaris 40 persen dari pemasukan Mattel.

Ruth Handler – BarbieSemenjak "kelahirannya," diperkirakan 1 milyar Barbie telah terjual dalam empat dekade, menjadikan "anak" dari Handler ini sebagai boneka fesyen terlaris di setiap pasar global besar, dengan penjualan tahunan di seluruh dunia mencapai $1,9 milyar.

Pada tahun 1999, dalam sebuah event gala merayakan 40 tahun Barbie, Handler ditanya apakah ia terkejut akan kesuksesan dari Barbie yang luar biasa. "Saya selalu berpikir bahwa Barbie sangat sangatlah basic," jawabnya. "Ia adalah dasar dari sebuah boneka untuk dimainkan selama mungkin, dan saya memiliki keyakinan bahwa ia akan menjadi mainan yang luar biasa. Tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa akan ada mainan manaoun yang bisa bertahan sepanjang ini atau bertumbuh sebesar ini."

Setelah kemenangan pribadi melawan kanker payudara di pertengahan tahun 1970an, Ruth Handler pensiun dari Mattel. Ia melangkah menggunakan pengalaman pribadi dan keahliannya untuk memulai Ruthton Corp. yang didedikasikan untuk pengembangan dan memproduksi prostheses payudara yang disebut "Nearly me." Oleh pertemuan dengan pembeli-pembeli department store, mempromosikan sendiri produk-produk di sepanjang AS, dan berbicara dengan sesama pejuang melawan kanker payudara lainnya, Handler membangun perusahaan keduanya dengan sukses. Pada tahun 1991, ia menjual Ruthton Corp. ke sebuah divisi dari raksasa kecantikan dan kesehatan Kimberly-Clark.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Ron Popeil: Raja TV Marketing

Apakah presiden QVC Doug Briggs memiliki tempat keramat untuk Ron Popeil di kamar tidurnya? Atau apakah CEO USA Networks Barry Diller mengirim Popeil kartu "terima kasih" setiap kali Home Shopping Network-nya mencatat $100 juta penjualan baru? Jika tidak, seharusnya mereka begitu, karena tanpa Popeil, mereka mungkin tidaklah eksis. Dengan mengkombinasikan penjaja peneriak abad 19 dengan medium yang baru muncul yaitu televisi, Popeil menemukan infomersial dan menyiapkan roda gerakan untuk industri home shopping modern seharga $2,5 juta.

Popeil adalah Horatio Aleger di era televisi – milyuner yang kaya atas kerja keras sendiri yang memulai dari tidak punya apa-apa. Lahir pada 3 Mei 1935, orang-tuanya bercerai dan meninggalkan dirinya. Diasingkan kedalam sekolah asrama di New York, ia tidak melihat mereka untuk beberapa tahun.

Ketika Popeil sekitar berusia 8 tahun, kakek-neneknya dari sang ayah mengambilnya, tetapi kehidupan bersama mereka tidaklah lebih baik. Pasangan itu suka bertengkar dan menunjukkan kepada dirinya sedikit perhatian. Itu terjadi hingga akhirnya mereka pindah dari Miami ke Chicago – dimana ayahnya memiliki pabrik peralatan dapur – dimana Popeil menemukan kebebasan disini. Ketika ia berusia 16, ia menemukan sebuah tempat dimana ia bisa keluar dari masa kecilnya yang suram – Maxwell Street yang tak terkenal di Chicago.

Maxwell Street adalah jalanan kotor dengan lingkungan yang buruk, dimana sekumpulan penjual jalanan yang kacau dan kasar menjual pakaian-pakaian, produk-produk dapur dan perhiasan kecil, dan para pencopet mengeluarkan pelek ban, radio-radio, dan pernak-pernik curian lainnya.

Ketika Popeil melihat orang-orang itu menjual barang-barang dan menaruh uang ke dalam kantong mereka, ia mendapatkan ide. "Saya bisa melakukan apa yang mereka lakukan," pikirnya. "Tetapi saya bisa melakukannya lebih baik." Mengumpulkan semua produk-produk dapur dari pabrik ayahnya, Popeil melangkah ke Maxwell Street untuk mencobanya. "Saya mendorong. Saya berteriak menjaja. Dan itu bekerja," ingatnya dalam otobiografinya, The Salesman of the Century. "Saya menaruh uang ke dalam kantong-kantong saya, lebih banyak uang dari yang saya pernah lihat dalam hidup saya. Saya tidak perlu lagi menjadi miskin untuk seumur hidup saya. Melalui berjualan, saya bisa lari dari kemiskinan dan kehidupan yang menyedihkan bersama kakek-nenek saya. Saya telah hidup di rumah untuk 16 tahun tanpa cinta, dan sekarang saya akhirnya menemukan bentuk perhatian, dan sebuah hubungan antar manusia, melalui berjualan."

Untuk beberapa tahun ke depan, Popeil akan bangun sebelum fajar, mengumpulkan kol, kentang, lobak dan wortel ke dalam satu gantang sebagai alat demonstrasinya, dan menyiapkan mejanya di Maxwell Street dan pada pekan raya dan pertunjukkan-pertunjukkan di Chicago. Berteriak menjaja dengan berdiri di atas kerat Pepsi, ia memotong dan mendadukan selagi mengasah sebagai rutinitasnya. Dan orang-orang membeli peralatannya – beberapa minggu terkadang ia bisa mendapat $500.

Ron PopeilPopeil menggunakan sebagian dari pendapatannya untuk mendaftar di Universitas Illinois. Tetapi setelah satu tahun setengah menghadiri kelas, ia memutuskan berkuliah bukanlah untuknya. Meninggalkan universitas, Popeil memutuskan untuk membawa aksinya ke dalam ruangan. Ia membuat perjanjian dengan manajer dari Chicago Woolworth untuk membiarkan dirinya membawa masuk produk-produknya untuk sebagian dari aksinya. Popeil menjajakan beragam produk, kebanyakan yang ia beli dari ayahnya, termasuk penyemprot kilau sepatu, peralatan tanaman plastik dan pemotong makanan. Bekerja enam hari seminggu menjual produk-produk pabrik ayahnya begitu juga dari penyalur-penyalur lainnya, pedagang keliling berbakat alami menanjak naik menjadi $1000 per minggu dimana pada masa itu gaji bulanannya masih $500.

Popeil masih tetap mendemonstrasikan produk di Woolworth ketika ia masuk pertama kalinya ke dalam TV marketing. Ia dengan cepat menyadari potensi luar biasa dari medium baru tersebut dan mulai mencari cara-cara untuk mengambil keuntungan sepenuhnya dari itu. Masalah utamanya hanyalah uang. Iklan-iklan televisi terlalu mahal untuk diproduksi dan mengudara, dan Popeil masih tidak memiliki modal. Lalu, pada 1963, seorang temannya mengatakan kepadanya bahwa sebuah stasiun TV di Tampa bisa dapat memasukkan iklannya untuk seharga $550. Bagi Popeil, itu hanyalah setengah dari bayaran setiap minggunya, dan ia mendapatkan bahwa ia tak akan kehilangan apa-apa. Yang ia butuhkan hanyalah sebuah produk.

Untuk debut TV-nya, Popeil menginginkan sebuah peralatan yang baru dan berbeda. Tak ada dari produk-produk ayahnya memenuhi criteria, maka ia menjelajahi pasar untuk mencari barang-barang baru. Selama pencariannya, seorang temannya memberitahu Popeil mengenai selang penyemprot bertekanan tinggi yang ia rasakan adalah produk tepat untuk TV. Dengan menambahkan meja-meja berbeda (untuk deterjen, sabun mobil, penyubur atau pembunuh hama) antar selang penyemprot bertekanan tingginya, Anda bisa mencuci dan membersihkan mobil Anda, menyuburkan kebun Anda dan membunuh hama. "Itu adalah perangkap yang lebih baik," ungkap Popeil dalam otobiografinya. "Itu adalah produk hebat untuk memulainya dalam karir TV saya, karena semua orang menggunakannya."

Popeil membeli sejumlah kecil dari produk sebuah pabrik di Chicago, bernamakan Ronco Spray Gun (Ronco adalah kependekan dari Ron’s Company- nama yang ia pilih untuk perusahaannya yang baru), dan mulai memasarkannya di stasiun-stasiun TV sepanjang Midwest. Popeil menulis, mengarahkan, dan membintangi dalam komersial tersebut sendiri, lalu mengudarakannya sepanjang waktu-waktu yang tak terjual yang ia beli dengan murah dari stasiun-stasiun TV lokal. Selagi melakukannya, ia menulis bab pertama dalam sejarah dari penjualan televisi direct-response.

Seperti yang Popeil telah prediksikan, Ronco Spray Gun pun sukses luar biasa. Setelah melihat pencapaian putranya, ayah Popeil menanyakan kepadanya untuk menjual pemotong makanan baru yang revolusioner yang ia kembangkan yang ia sebut Chop-O-Matic. Popeil setuju, dan sekali lagi ia menulis, mengarahkan, dan membintangi dalam komersialnya sendiri. Seperti Ronco Spray Gun, Ronco Chop-O-Matic pun menjadi hit besar. Chop-O-Matic adalah kesuksesan terbesar yang ayah Popeil pernah sadari, menjual ribuan unit. Dimandikan dengan dolar-dolar, Popeil yang lebih tua mulai memimpikan sekuel Chop-O-Matic dan akhirnya keluar dengan sebuah produk yang membuat Ronco menjadi sebuah nama peralatan rumah – Veg-O-Matic.

Ron PopeilTerima kasih banyak kepada Veg-O-Matic, penjualan tahunan Ronco meroket dari $ 200.000 menjadi $8,8 juta hanya dalam waktu empat tahun. Popeil memutuskan sudah waktunya agar perusahaannya menjadi publik dan menanyakan perusahaan investasi Shearson Hammill untuk menulis awal penawaran publik. Shearson Hammill setuju, tetapi menyarankan agar Popeil mengubah nama perusahaannya. "Ronco, kata mereka, tidak benar-benar mengatakan apapun tentang siapa kami," Popeil menjelaskan dalam Salesman of the Century. "Mereka ingin nama yang jelas tentang apa yang kami lakukan. Jadi kami menjadi Ronco Teleproducts Inc."

Ketika penawaran keluar pada Agustus 1969, Popeil menjadi multimilyuner dalam semalam, dan dinasti pemasaran direct-response TV lahir. Selama 20 tahun, Popeil akan memperkenalkan pemirsa TV malam kepada serangkaian produk "ajaib", mulai dari Dial-O-Matic dan Buttoneer hingga Pocket Fisherman dan Mr. Microphone, kebanyakan adalah temuan atau ia yang mendesainnya. Saham Ronco naik hingga NYSE, dan Popeil, yang, salah seorang reporter sebutkan, bisa menjual pewarna kuku kepada Venus De Milo, menjadi milyuner jetset.

Pada masa 1980an, Popeil telah menjual rekaman-rekaman, pemotong, pengiris, pendadu, kaus kaku, peralatan lilin, dan masih banyak lagi. Tetapi hari-hari gelap menyelimuti Hemmingway bagi home-shopping ini. Pada 1984, Ronco (namun bukan Popeil) dipaksa menjadi pailit ketika sebuah bank memanggil dalam pinjaman tak terduga dan menangkap inventaris perusahaan. Popeil, kehilangan semangat tetapi tak takut, membeli kembali inventarisasinya, menggulung lengan bajunya dan kembali ke sirkuit pertandingan. Untuk kali ini, titik kehadirannya hilang dari radar.

Pada 1989, Popeil meluncurkan kembalinya ia dalam dunia televisi, menyerang stasiun-stasiun teve kabel dengan infomersial untuk sebuah produk yang ia impikan dari satu dekade sebelumnya-makanan dehydrator. Einstein dari infomersial ini membuktikan kejeniusannya sekali lagi. Dalam satu tahun, ia menjual dehydrators yang seharga lebih dari $150 juta nilainya. Kembali ke atas, Popeil mengikuti dengan GLH-9 (penyemprot rambut), sebuah pembuat pasta dan pembuat sosis.

Setelah 40-tahun yang ganjil menjual semuanya yaitu barang-barang yang tak terbayangkan sebelumnya. Dan dengan proyek terbarunya, Showtime Rotisserie & BBQ, lebih kuat, Popeil berjanji agar tetap diingat sebagai TV’s top salesperson hingga abad selanjutnya. Faktanya, meskipun ia kerap berbicara mengenai pensiun, ia mengakui bahwa ia tak akan pernah. "Anda akan selalu melihat Ronco atau Popeil di marketplace," ujarnya. "Saya tidak akan pernah berhenti."

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Tong Djoe: Dari Gedung Tunas Saya Membantu Indonesia

Tong Djoe Dari gedung Tunas miliknya, taipan asal Indonesia yang bermukim di Singapura, Tong Djoe, mengaku banyak membantu Indonesia, China, dan bahkan Singapura. Lalu apa sebenarnya gedung Tunas yang dia maksud?

Gedung perkantoran Tunas diresmikan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo pada tahun 1973. Lokasinya di kawasan Tanjong Pagar, dekat pelabuhan Singapura.

Gedung Tunas merupakan gedung tertinggi dan termewah saat itu karena kawasan itu masih merupakan kampung. "Istri Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura) ketika datang bertanya kenapa saat itu saya membangun gedung tinggi di kawasan pelabuhan Singapura yang saat itu masih kampung. Kenapa tidak membangun di pusat kota. Saya jawab suatu saat kawasan ini menjadi kawasan terpenting dan mahal. Sekarang terbukti gedung perkantoran ini yang paling kecil dibandingkan yang lainnya," kata Tong Djoe.

Dari gedung inilah ia ikut membantu bisnis Pertamina, Pelni, dan BUMN Indonesia lainnya. Gedung Tunas menjadi tempat pertemuan para pengusaha Indonesia dan BUMN dengan mitra bisnis internasionalnya. Gedung ini juga menjadi saksi dia membantu finansial para perwira tinggi TNI dan pemimpin politik Indonesia.

"Dari gedung ini juga, saya ikut merapatkan hubungan bilateral dan bisnis antara Indonesia-Singapura. Ketika tentara Indonesia sudah siap menyerang Singapura awal tahun 1970-an, saya juga yang bantu menyelesaikannya. Setelah baik, saya membawa para pengusaha Singapura ke Indonesia," katanya.

Tong Tjoe"Saya menjual gedung ini untuk mendanai normalisasi hubungan Indonesia-RRC atas permintaan Presiden (waktu itu) Suharto langsung. Juga normalisasi hubungan bilateral Singapura-RRC," tambah dia.

"Suatu hari Jaksa Agung Singapura datang ke saya sebelum berkunjung ke Xianmen, China. Dia minta bantuan saya. Saya bilang lho kok datang ke saya bukan ke perwakilan China. Saat itu, Singapura belum ada hubungan diplomatik dengan RRC. Mereka bilang datang ke saya karena percaya bisa membantu. Akhirnya, saya bantu dan mereka bisa masuk Xianmen dan kini hubungan Singapura-RRC sangat baik," katanya.

Selain itu, Tong Djoe merupakan pengusaha Indonesia yang membangun pertama kali pergudangan modern di pelabuhan Singapura.

Atas perjuangan Tong Djoe dan segala upayanya dalam membantu Indonesia, sejak perang kemerdekaan hingga masa pembangunan ekonomi, Presiden Habibie atas nama Republik Indonesia memberikan penghargaan bintang jasa pratama kepada taipan ini, 25 Agustus 1998, diserahkan langsung oleh Menlu Ali Alatas di Gedung Deplu Pejambon, Jakarta.

Itulah dia kiprah Tong Djoe baik sebagai pengusaha maupun agen diplomatik bangsa. Prestasi yang ia torehkan terbukti dari baiknya hubungan negara kita baik dengan Singapore maupun RRC.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : kompas.com

Joyce Clyde Hall: Visioner Pendiri Hallmark

Ketika berusia 18 tahun Joyce Clyde Hall melangkah keluar dari sebuah kereta di Kansas City, Missouri, pada 1910, ia tidak membawa banyak barang – hanya membawa sebuah kopor dan dua kotak sepatu berisikan gambar-gambar postcard. Dipenuhi dengan antusiasme orang muda, J.C. (sebagaimana ia lebih suka dipanggil seperti itu) telah ditentukan untuk membuat jejaknya pada dunia bisnis Ia memiliki rencana-rencana besar dan sebuah energi untuk membuat semuanya itu terjadi. Dan mereka memang akan terjadi – selama lebih dari 56 tahun selanjutnya, Hall menciptakan sebuah industri baru dan membangun perusahaan kartu ucapan terbesar di dunia.

Kehidupan awal Hall ditandai dengan perjuangan terus-menerus untuk mengatasi kemiskinan yang hina. Ayahnya, seorang pengkhotbah keliling, meninggalkan keluarganya, meninggalkan Hall dan kedua putranya yang lebih tua untuk menyediakan bagi ibunya yang setengah cacat. Ia mengambil pekerjaan pertamanya di pertanian pada usia 8 tahun,dan setahun kemudian ia menjual kosmetik-kosmetik dan sabun dari pintu ke pintu untuk California Perfume Company (yang kemudian berganti nama menjadi Avon).

Pada 1902, kakak pria tertua Hall pindah ke Norfolk, Nebraska, dan membuka sebuah toko buku. Tak lama setelah itu, seluruh keluarga bergabung dengan mereka, dan Hall berangkat kerja ke toko tersebut untuk dibayar $18 per bulan. Percaya bahwa ada pasar lokal besar untuk postcard-postcard yang di-impor dari Eropa, Hall dan saudara-saudara prianya mendirikan Norfolk Post Card Co. ketika ia berusia 16. Sayangnya, disitu tidak permintaan lokal yang cukup untuk menjaga perusahaan tetap menjalankan bisnis. Menyadari bahwa mungkin saja ada pasar yang lebih besar untuk postcard-postcard di luar Norfolk, Hall keluar dari sekolah, mengepak dua kotak sepatu yang dipenuhi dengan postcard dan melangkah ke Kansas City.

Ketika Hall tiba di Kansas City, ia hanya memiliki sedikit uang untuk meminjam sebuah kamar kecil di YMCA, dimana berfungsi sebagai rumahnya, kantor, dan gudang untuk beberapa tahun ke depan. Ia mengirim paket-paket dari 100 postcard kepada para dealer di sepanjang Midwest dengan harapan untuk memulai bisnis mail order yang sukses. Beberapa dealer menyimpan kartu-kartu tersebut tanpa membayar. Yang lain mengembalikan merchandise yang tak diinginkan tersebut dengan catatan luapan kemarahan. Tetapi sekitar sepertiga dari para dealer mengirim cek kepada sang pengusaha muda tersebut. Dalam hanya beberapa bulan ia telah menerima $200.

Sekalipun di balik kesuksesan awalnya, Hall mempercayai postcard-postcard ilustrasi hanyalah tren sesaat, maka ia menambahkan sebuah tema dari kartu-kartu Natal dan Valentine impor. Dalam setahun saudara prianya Rollie bergabung dengan dirinya dalam bisnis tersebut, dan pada 1912 logo Hall bersaudara tampil pada kartu-kartu ucapan. J.C dan Rollie lebih jauh lagi memperluas tema mereka dan membuka toko-toko ritel di Kansas City dan Chicago.

Tetapi ketika kesuksesan tampaknya berada dalam genggaman pria bersaudara ini, bencana datang menimpa. Pada tahun 1915, hanya beberapa minggu sebelum hari Valentine, api menyapu gudang mereka, menghancurkan seluruh persediaan kartu Valentine mereka dan menyebabkan sang bersaudara tersebut berhutang sejumlah $17,000. "Jika Anda ingin keluar, itu adalah waktu yang tepat untuk keluar," ujar Hall mengenai bencana tersebut. "Tetapi jika Anda bukan seorang quitter, Anda mulai untuk berpikir cepat." Dan itulah tepat apa yang dia lakukan.

Hallmark CardMelangkah naik kepada tantangan, Hall meminjam sejumlah cukup uang untuk membeli usaha ukiran lokal hingga ia dan Rollie bisa mengisi kembali stok mereka dengan cepat dan dengan murah mencetak kartu-kartu mereka sendiri. Mereka memproduksi dua kartu pertama mereka tepat waktu pada Natal 1915. Ucapan-ucapan masa Natal karya tangan dengan cepat menjadi sukses oleh para pembeli musim liburan, menyediakan sang bersaudara pemasukan kas yang sangat dibutuhkan.

Sekarang ia telah memiliki mesin cetaknya sendiri dan beberapa modal untuk dikerjakan, Hall mulai bereksperimen dengan konsep-konsep kartu lainnya. Pada waktu tersebut, kebanyakan dari kartu-kartu ucapan yang dijual di Amerika Serikat diukir import dari Inggris dan Jerman, dibuat hanya untuk pada Natal dan Valentine. Tetapi Hall mempercayai warga Amerika, yang lebih kasual dari warga Eropa, dapat mengambil ide kartu ucapan "setiap hari" yang tak mahal yang bisa mereka kirim kepada teman-teman dan keluarga tidak hanya di hari-hari khusus, tetapi di sepanjang tahun. Visinya akan kartu-kartu ilustrasi penuh warna mengekspresikan perasaan-perasaan, pertemanan, dan bahkan simpati yang dapat menciptakan sebuah pasar baru untuk kartu-kartu ucapan di Amerika.

Yakin bahwa mengirimkan pesan-pesan kasual "me to you" dapat akhirnya menangkap perhatian dalam pergaulan sehari-hari, Hall memperkenalkan kartu setiap-hari pertamanya pada 1919. Itu berisikan sebuah kata dari penyair Amerika Edgar Guest: "Saya ingin menjadi teman yang begitu baik sebagaimana begitulah kamu pada saya." Bait sederhana dan juga penuh perasaan ini menangkap sebuah perasaan bahwa banyak orang ingin untuk berbagi, dan itu menjadi laris dengan cepatnya.

Didorong oleh keberhasilan dari usaha awal ini, Hall bersaudara memperluas tema kartu ulang tahun mereka termasuk ucapan ulang tahun, perayaan, ucapan inspirasi dan pesan lekas sembuh. Perang Dunia I menambahkan keberhasilan mereka, karena orang-orang yang berada di kampong halaman ingin untuk mengirim kartu "missing you" bagi yang tercinta yang ditugaskan di seberang lautan.

Pada awal tahun 1920an, kartu-kartu semua-peristiwa khusus telah terjual di toko-toko sepanjang East dan Midwest, dan Hall bersaudara pindah ke lokasi Kansas City yang baru yang memperkerjakan 120 pekerja. Hingga pada masa tersebut, mengirim kartu-kartu "me to you" telah menjadi sesuatu yang lumrah dalam pergaulan sehari-hari, sesuatu yang sebelumnya dilewatkan oleh kompetitor utama, American Greetings, yang juga telah mulai menjual kartu-kartu semua-peristiwa. Sebagai respon pada kompetisi yang telah meningkat dan untuk lebih cepat memperlebar dan menghimpun perhatian nasional, Hall kembali mengubah nama perusahaan menjadi Hallmark – sebuah nama yang disarankan kualitas tertinggi.

Hallmark CardBeberapa dekade yang mengikuti, Hall mulai melanjutkan untuk berjuang untuk menjadikan nama Hallmark sama dengan kesempurnaan. Pada 1944, eksekutif Hallmark C.E. Goodman membakukan slogan iklan Hallmark yang sekarang legendaris, "Ketika Anda begitu peduli untuk mengirimkan yang terbaik." Untuk memastikan kartu-kartunya menghidupi janji ini, Hall memanggil di antara talenta-talenta dari artis-artis popular dan penulis-penulis masa tersebut, seperti Norman Rockwell, Grandma Moses, Ogden Nash dan Pearl Buck. Ia bahkan menjual kartu-kartu yang didesain oleh Winston Churchill dan Jacqueline Kennedy Onassis.

Selalu mencari cara-cara baru untuk menjual kartu-kartunya, Hall mulai mempelajari kebiasaan-kebiasaan berbelanja warga Amerika dan menemukan sebuah pasar potensial yang besar menjual kartu-kartu melalui rantaian peritel obat, makanan, dan diskon. Pada 1959, ia memperkenalkan Ambassador Cards, sebuah dasar yang diciptakan khusus untuk dijual melalui saluran-saluran ritel yang bertumbuh dengan cepat.

Seorang otokrat keras dan perfeksionis yang kukuh, Hall mengharuskan untuk memberikan tanda persetujuannya untuk setiap desain kartu ucapan dan baris kata sebelum itu ditambahkan pada produk. Bahkan setelah hari pensiunnya pada 1966, ketika putranya, Donald, mengambil alih helm, Hall melanjutkan untuk mengambil hari-hari penuh di kantor ketika ia tidak sedang berlibur. Pada waktu kematian Hall pada 1982, perusahaan yang ia bangun lebih dari 70 tahun seblumnya berbalik menjadi 8 juta kartu ucapan setiap harinya, termasuk kartu yang memulai itu semua – bait persahabatan Edgar Guest, yang tetap diingat sebagai salah satu penjualan terkuat Hallmark sekarang ini.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Howard Hughes: Industrialis Serba Bisa

Bisa dibilang ia adalah milyarder di dunia yang paling misterius, sukar dipahami, dan aneh yang pernah dikenal, Howard Hughes dikenal sebagai penyendiri yang eksentrik yang ketakutan akan kuman dan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya terbungkus dalam rahasia dan rumor. Namun sebelum terlahap dalam ke-eksentrikannya, Hughes adalah wirausaha jenius yang telah mencapai banyak hal sebagai produser film, seorang pilot dan industriawan. Dia mewariskan kekayaan, dan selama beberapa dekade, ditransformasikannya menjadi salah satu kerajaan bisnis paling beragam dalam sejarah bisnis Amerika.

Hughes dilahirkan dalam kekayaan pada 24 Desember 1905. Ayahnya, seorang pengusaha pengebor minyak, mengembangkan pengeboran revolusioner untuk industri minyak yang dihasilkan dan digunakan untuk membangun Hughes Tool Co. Tragisnya, Hughes telah menjadi yatim piatu pada usia muda. Ibunya meninggal ketika dia 16, dan ayahnya dua tahun kemudian, dengan meninggalkan bagi Hughes sebuah estate senilai hampir $ 1 juta. Hughes tidak menyukai sisi administrasi bisnis dan mempekerjakan akuntan muda bernama Noah Dietrich untuk menjalankan Hughes Tool Co. pada tahun 1925. Selama lima tahun, Dietrich membalikkan warisan Hughes yang senilai $1 juta menjadi $ 75 juta.

Dengan Dietrich bertanggung-jawab pada perusahaannya, Hughes bebas untuk mengejar mimpinya yang lain. Pada usia 21, ia menjadi produser film. Film pertamanya, "Swell Hogan," sangatlah buruk sehingga tidak pernah dirilis, tetapi ia melakukan yang lebih baik pada dua film selanjutnya, "Everybody’s Acting" dan "Two Arabian Knights," yang memenangkan Academy Award. Ia pun terus melanjutkan dengan membuat film klasik yang terkenal seperti epik penerbangan Perang Dunia I "Hell Angels," "The Front Page" dan "Scarface."

Howard HughesHughes untuk sementara meninggalkan industri perfilman pada 1932 untuk bergerak dalam gairahnya yang lain – penerbangan. Hughes bermimpi untuk mematahkan record paling cepat sedunia, dan ia mendirikan Hughes Aircraft Co. untuk mendesain dan membangun sebuah pesawat yang khususnya untuk tujuan itu. Hasilnya adalah pembalap Hughes H-1 yang revolusioner, sebuah gebrakan dalam aerodinamik yang sebenarnya membuat record penerbangan paling cepat sedunia dari 353 mph yang mencengangkan pada tahun 1935. Enam bulan kemudian, Hughes menyiapkan record baru yang lain ketika ia menerbangkan H-1 yang baru tanpa henti dari Burbank, California, ke Newark, New Jersey, dalam hanya tujuh jam dan 28 menit.

Hughes kemudian menyiapkan tempat-tempat perhentiannya untuk menaklukkan dunia. Pada 1938, ia dan kru-nya yang beranggotakan empat orang mengawaki Lockheed Model 14 ke seluruh dunia dalam tiga hari, 19 jam dan 8 menit. Penerbangan tersebut tidak hanya membuat sebuah record baru, tetapi juga menolong untuk menyiapkan jalan untuk industri penerbangan komersial.

Setelah penerbangan seluruh dunianya, Hughes mulai kuatir bahwa perusahaan-perusahaan perakitan pesawat yang lain melewati Hughes Aircraft. Untuk mengatasi ini, ia membeli hak kendali dalam TWA dan mulai mendesain perakitan pesawat eksperimental untuk militer.

Ia juga kembali ke dalam pembuatan film dengan sebuah film yang kontroversial "The Outlaw." Dibintangi oleh gadis 19 tahun yang berpakaian minim, pendatang baru Jane Russell, sensor-sensor pun mengawali film ini. Ketika Hughes akhirnya mendapatkan ijin untuk menunjukkan ke publik, ia menunggu hingga dua tahun, membuat rasa penasaran publik terbangun. Meskipun dikutuk sebagai film yang sangat buruk, "The Outlaw" bagaimanapun telah meraup jutaan dolar.

Selama Perang Dunia II, Hughes satu tim dengan Henry Kaiser dan memenangkan sebuah kontrak pemerintah untuk membangun tiga "kapal terbang" besar, yang diharapkan berfungsi sebagai pengangkut tentara. Hanya satu yang selesai, Spruce Goose yang terkenal. Pemerintah membatalkan kontrak tersebut ketika jelas sudah bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan waktu yang didapat selama masa perang.

Pada 1946, kehidupan Hughes menjadi mengenaskan dan berbelok. Selagi uji coba sebuah pesawat baru di langit-langit Los Angeles, pesawatnya kehilangan tenaga dan menabrak rumah-rumah Beverly Hills. Hughes dibawa keluar dari puing-puing terbakar oleh pemuda AL yang sedang lewat, dan selanjutnya diketahui bahwa hampir di setiap tulang di tubuhnya telah patah. Hughes memang menjadi pulih secara fisik, tetapi semangatnya tidak pernah sama lagi. Selama masa pemulihannya, ia membutuhkan banyak kodein untuk mengatasi rasa sakitnya yang akhirnya ia menjadi kecanduan akan pembunuh rasa sakit dan akhirnya begitu terus hingga sisa hidupnya.

Howard HughesSetelah kecelakaan tersebut, perilaku Hughes menjadi semakin aneh lagi. Begitu banyak hal aneh sehingga ketika pesawat Spruce Goose-nya akhirnya keluar dari perakitan pada 1947, militer menolak untuk mempercayai bahwa raksasa tersebut bisa terbang, dan Senat AS menuduh Hughes membuat lelucon untuk hiburan sendiri Untuk membuktikan bahwa Spruce Goose tidaklah bohong, Hughes sendiri masuk dalam uji coba penerbangan pesawat besar tersebut pada 2 November 1947. Itu menjadi penampilan publik terbesar terakhirnya dan karya seni terakhir sebagai penerbang. Lima tahun kemudian, Hughes menghentikan divisi perakitan pesawatnya dari Hughes Tools dan menggunakan uang tersebut untuk membangun Howard Hughes Institute di Florida.

Selalu penyendiri, Hughes menjadi semakin misterius. Pada 1963, ia begitu tak berkeinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik ketika 78 persen saham di TWA menyulut sebuah pengajuan pengadilan antitrust, Hughes menolak untuk hadir di pengadilan atau bahkan memberikan sebuah pernyataan. Kegagalannya untuk tampil pada peraturan yang melawan dirinya, dan ia akhirnya dipaksa untuk menjual saham TWA miliknya untuk $546 juta.

Untuk menghindari membayar pajak-pajak di California, Hughes berpindah ke Las Vegas dan menggunakan uang yang dari penjualan saham TWA-nya untuk membeli Desert Inn dan Casino, dimana akhirnya menjadi rumah dan markasnya. Empat tahun selanjutnya, ia membeli beberapa hotel dan kasino lain, sebuah stasiun televisi lokal, Alamo Airlines dan nyaris 25.000 hektar properti mengeliling Las Vegas. Properti-properti baru tersebut, dikombinasikan dengan Hughes Tool dan saham real estate di Arizona dan California, memberikan Hughes keuntungan bersih kira-kira $1 juta.

Howard HughesPada November 1970, Hughes pindah ke Bahamas, lagi-lagi untuk menghindari pajak. Ia tidak pernah kembali ke Amerika Serikat. Kecanduan obat-obatan dan kesehatan mental serta fisik yang menurun mendorong dirinya untuk memisahkan diri. Selama tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, pertapa yang kaya raya tenggelam antara peristirahatan-peristirahatan rahasia di Nikaragua, Kanada, dan Inggris sebelum akhirnya menetap di Acapulco, Meksiko. Tahun-tahun akan penggunaan narkoba dan diet miskin akhirnya merenggut apa yang selama ini mereka gerogoti pada 1976, ketika Hughes, yang kurus lemah berisi 94 pon, meninggal karena gagal ginjal selagi dalam penerbangan dari Acapulco ke Houston, dimana ia dibawa untuk perawatan medis.

Howard Hughes bisa dibilang memiliki semua mimpi ala Amerika. Ia adalah pahlawan dan inovator Amerika sejati. Tetapi juga ia diingat tidak hanya karena pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa, tetapi juga tragedi kehidupannya. Tampaknya Howard Hughes adalah bukti nyata dari kalimat tua, "Uang tidak bisa membelik kebahagiaan."

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Ricky Ow, Optimis Menyetir TV Berbayar

Ricky Ow Meski ditempa beragam kasus, industri TV berbayar di Asia terus tumbuh. Sebab, hingga kini permintaan konsumen masih tinggi. Karena itu, Ricky Ow tetap optimis menyetir industri ini.

Sebagai Senior Vice President dan General Manager SPE Networks-Asia (SPENA), Ricky Ow mengembangkan porfolio SPENA dari dua hingga enam merk kanal, menawarkan paket TV hiburan yang komplit untuk rumah tangga pengguna TV satelit dan kabel di Asia.

Ia mencontohkan, menonton kanal di TV berbayar seperti pergi ke restoran. "Anda memesan makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, atau kue-kue dan membayarnya. Setelah selesai, Anda tinggalkan tempat itu," kata Ricky Ow dalam sebuah perbincangan.

Kiprah Ricky Ow di SPENA dimulai tahun 1999 sebagai Kepala Sales dan Marketing untuk merk tunggal, AXN Asia. Tidak main-main, merk itu berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu merk TV internasional yang terkenal di Asia. Merk tersebut juga menjadi pilihan pengiklan dan pembeli.

Ricky kemudian mengembangkan perannya untuk memasukkan program, secara efektif mengambil alih manajemen secara keseluruhan dari merk kanal ini. Alhasil, AXN menjadi kanal berbahasa Inggris nomor satu di Asia, yang menjangkau 80 juta rumah tangga dan menarik lebih dari 107 juta penonton setiap tahun.

Tahun 2004 , Ricky meluncurkan Animax Asia untuk segmen remaja. Kanal kabel ini memiliki spesialisasi di animasi Jepang dan program remaja, seperti game, musik, fesyen dan seni.

Kini, Animax menjangkau 29 juta rumah tangga dengan daya tonton lebih dari 50 juta. Di bawah kepemimpinan Ricky, SPENA berkembang cepat. Singkatnya, empat merk kanal baru di dalam anak kelompok Sony ini bertambah, seperti AXN Beyond, Sony Entertainment Television, PIX, dan PIX Thriller.

Ricky juga memimpin SPENA menjadi pengusung hiburan berkelas, dengan melakukan langkah AXN memproduksi program hiburan berbahasa Inggris di Asia, untuk Asia. Usahanya terbayar ketika AXN memenangkan Best Entertainment Programme pada tahun 2006 dalam Asian Television Awards untuk The Man’s World Show, sebuah program realitas yang didisain untuk laki-laki.

Dengan kesuksesan ini, Ricky merambah ke produksi TV di Asia, The Amazing Race Asia, edisi Asia dari The Amazing Race yang memperoleh Emmy Award untuk format reality show kompetisi. Proyek jutaan dolar ini tidak hanya membawa AXN ke lapisan lebih tinggi di mata penonton dan pengiklan karena program ini membawa record rating untuk kanal ini.Program ini juga membuat posisi AXN sebagai pemimpin di hiburan berkelas di industri media.

Terganjal pembajakan

Kiprah Ricky memasarkan TV berbayar bukan tanpa hambatan. Ia menyebut, salah satu hambatannya adalah maraknya pembajakan di wilayah Asia, terutama Indonesia. "Maksudnya bukan pembajakan seperti DVD. Tetapi ada kebocoran. Jadi yang bayar satu tetapi yang memakai rame-rame," ujarnya.

Kebocoran ini dinilai merugikan dan mematikan industri TV berbayar. Lebih jauh ia mengatakan, pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar, karena memiliki populasi yang banyak dibandingkan negara lainnya di Asia.

Meski perolehan labanya bukan yang paling tinggi, pertumbuhan TV berbayar di Indonesia terbilang cepat di antara lima pasar teratas.

Ia memprediksi, Indonesia akan berkembang dalam waktu 10 tahun mendatang karena ukuran pasarnya yang besar. "Indonesia akan tumbuh terutama bila pembajakan dapat ditangani," tuturnya.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : kompas.com

Howard Hughes: Industrialis Serba Bisa

Bisa dibilang ia adalah milyarder di dunia yang paling misterius, sukar dipahami, dan aneh yang pernah dikenal, Howard Hughes dikenal sebagai penyendiri yang eksentrik yang ketakutan akan kuman dan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya terbungkus dalam rahasia dan rumor. Namun sebelum terlahap dalam ke-eksentrikannya, Hughes adalah wirausaha jenius yang telah mencapai banyak hal sebagai produser film, seorang pilot dan industriawan. Dia mewariskan kekayaan, dan selama beberapa dekade, ditransformasikannya menjadi salah satu kerajaan bisnis paling beragam dalam sejarah bisnis Amerika.

Hughes dilahirkan dalam kekayaan pada 24 Desember 1905. Ayahnya, seorang pengusaha pengebor minyak, mengembangkan pengeboran revolusioner untuk industri minyak yang dihasilkan dan digunakan untuk membangun Hughes Tool Co. Tragisnya, Hughes telah menjadi yatim piatu pada usia muda. Ibunya meninggal ketika dia 16, dan ayahnya dua tahun kemudian, dengan meninggalkan bagi Hughes sebuah estate senilai hampir $ 1 juta. Hughes tidak menyukai sisi administrasi bisnis dan mempekerjakan akuntan muda bernama Noah Dietrich untuk menjalankan Hughes Tool Co. pada tahun 1925. Selama lima tahun, Dietrich membalikkan warisan Hughes yang senilai $1 juta menjadi $ 75 juta.

Dengan Dietrich bertanggung-jawab pada perusahaannya, Hughes bebas untuk mengejar mimpinya yang lain. Pada usia 21, ia menjadi produser film. Film pertamanya, "Swell Hogan," sangatlah buruk sehingga tidak pernah dirilis, tetapi ia melakukan yang lebih baik pada dua film selanjutnya, "Everybody’s Acting" dan "Two Arabian Knights," yang memenangkan Academy Award. Ia pun terus melanjutkan dengan membuat film klasik yang terkenal seperti epik penerbangan Perang Dunia I "Hell Angels," "The Front Page" dan "Scarface."

Howard HughesHughes untuk sementara meninggalkan industri perfilman pada 1932 untuk bergerak dalam gairahnya yang lain – penerbangan. Hughes bermimpi untuk mematahkan record paling cepat sedunia, dan ia mendirikan Hughes Aircraft Co. untuk mendesain dan membangun sebuah pesawat yang khususnya untuk tujuan itu. Hasilnya adalah pembalap Hughes H-1 yang revolusioner, sebuah gebrakan dalam aerodinamik yang sebenarnya membuat record penerbangan paling cepat sedunia dari 353 mph yang mencengangkan pada tahun 1935. Enam bulan kemudian, Hughes menyiapkan record baru yang lain ketika ia menerbangkan H-1 yang baru tanpa henti dari Burbank, California, ke Newark, New Jersey, dalam hanya tujuh jam dan 28 menit.

Hughes kemudian menyiapkan tempat-tempat perhentiannya untuk menaklukkan dunia. Pada 1938, ia dan kru-nya yang beranggotakan empat orang mengawaki Lockheed Model 14 ke seluruh dunia dalam tiga hari, 19 jam dan 8 menit. Penerbangan tersebut tidak hanya membuat sebuah record baru, tetapi juga menolong untuk menyiapkan jalan untuk industri penerbangan komersial.

Setelah penerbangan seluruh dunianya, Hughes mulai kuatir bahwa perusahaan-perusahaan perakitan pesawat yang lain melewati Hughes Aircraft. Untuk mengatasi ini, ia membeli hak kendali dalam TWA dan mulai mendesain perakitan pesawat eksperimental untuk militer.

Ia juga kembali ke dalam pembuatan film dengan sebuah film yang kontroversial "The Outlaw." Dibintangi oleh gadis 19 tahun yang berpakaian minim, pendatang baru Jane Russell, sensor-sensor pun mengawali film ini. Ketika Hughes akhirnya mendapatkan ijin untuk menunjukkan ke publik, ia menunggu hingga dua tahun, membuat rasa penasaran publik terbangun. Meskipun dikutuk sebagai film yang sangat buruk, "The Outlaw" bagaimanapun telah meraup jutaan dolar.

Selama Perang Dunia II, Hughes satu tim dengan Henry Kaiser dan memenangkan sebuah kontrak pemerintah untuk membangun tiga "kapal terbang" besar, yang diharapkan berfungsi sebagai pengangkut tentara. Hanya satu yang selesai, Spruce Goose yang terkenal. Pemerintah membatalkan kontrak tersebut ketika jelas sudah bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan waktu yang didapat selama masa perang.

Pada 1946, kehidupan Hughes menjadi mengenaskan dan berbelok. Selagi uji coba sebuah pesawat baru di langit-langit Los Angeles, pesawatnya kehilangan tenaga dan menabrak rumah-rumah Beverly Hills. Hughes dibawa keluar dari puing-puing terbakar oleh pemuda AL yang sedang lewat, dan selanjutnya diketahui bahwa hampir di setiap tulang di tubuhnya telah patah. Hughes memang menjadi pulih secara fisik, tetapi semangatnya tidak pernah sama lagi. Selama masa pemulihannya, ia membutuhkan banyak kodein untuk mengatasi rasa sakitnya yang akhirnya ia menjadi kecanduan akan pembunuh rasa sakit dan akhirnya begitu terus hingga sisa hidupnya.

Howard HughesSetelah kecelakaan tersebut, perilaku Hughes menjadi semakin aneh lagi. Begitu banyak hal aneh sehingga ketika pesawat Spruce Goose-nya akhirnya keluar dari perakitan pada 1947, militer menolak untuk mempercayai bahwa raksasa tersebut bisa terbang, dan Senat AS menuduh Hughes membuat lelucon untuk hiburan sendiri Untuk membuktikan bahwa Spruce Goose tidaklah bohong, Hughes sendiri masuk dalam uji coba penerbangan pesawat besar tersebut pada 2 November 1947. Itu menjadi penampilan publik terbesar terakhirnya dan karya seni terakhir sebagai penerbang. Lima tahun kemudian, Hughes menghentikan divisi perakitan pesawatnya dari Hughes Tools dan menggunakan uang tersebut untuk membangun Howard Hughes Institute di Florida.

Selalu penyendiri, Hughes menjadi semakin misterius. Pada 1963, ia begitu tak berkeinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik ketika 78 persen saham di TWA menyulut sebuah pengajuan pengadilan antitrust, Hughes menolak untuk hadir di pengadilan atau bahkan memberikan sebuah pernyataan. Kegagalannya untuk tampil pada peraturan yang melawan dirinya, dan ia akhirnya dipaksa untuk menjual saham TWA miliknya untuk $546 juta.

Untuk menghindari membayar pajak-pajak di California, Hughes berpindah ke Las Vegas dan menggunakan uang yang dari penjualan saham TWA-nya untuk membeli Desert Inn dan Casino, dimana akhirnya menjadi rumah dan markasnya. Empat tahun selanjutnya, ia membeli beberapa hotel dan kasino lain, sebuah stasiun televisi lokal, Alamo Airlines dan nyaris 25.000 hektar properti mengeliling Las Vegas. Properti-properti baru tersebut, dikombinasikan dengan Hughes Tool dan saham real estate di Arizona dan California, memberikan Hughes keuntungan bersih kira-kira $1 juta.

Howard HughesPada November 1970, Hughes pindah ke Bahamas, lagi-lagi untuk menghindari pajak. Ia tidak pernah kembali ke Amerika Serikat. Kecanduan obat-obatan dan kesehatan mental serta fisik yang menurun mendorong dirinya untuk memisahkan diri. Selama tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, pertapa yang kaya raya tenggelam antara peristirahatan-peristirahatan rahasia di Nikaragua, Kanada, dan Inggris sebelum akhirnya menetap di Acapulco, Meksiko. Tahun-tahun akan penggunaan narkoba dan diet miskin akhirnya merenggut apa yang selama ini mereka gerogoti pada 1976, ketika Hughes, yang kurus lemah berisi 94 pon, meninggal karena gagal ginjal selagi dalam penerbangan dari Acapulco ke Houston, dimana ia dibawa untuk perawatan medis.

Howard Hughes bisa dibilang memiliki semua mimpi ala Amerika. Ia adalah pahlawan dan inovator Amerika sejati. Tetapi juga ia diingat tidak hanya karena pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa, tetapi juga tragedi kehidupannya. Tampaknya Howard Hughes adalah bukti nyata dari kalimat tua, "Uang tidak bisa membelik kebahagiaan."

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Ricky Ow, Optimis Menyetir TV Berbayar

Meski ditempa beragam kasus, industri TV berbayar di Asia terus tumbuh. Sebab, hingga kini permintaan konsumen masih tinggi. Karena itu, Ricky Ow tetap optimis menyetir industri ini.

Sebagai Senior Vice President dan General Manager SPE Networks-Asia (SPENA), Ricky Ow mengembangkan porfolio SPENA dari dua hingga enam merk kanal, menawarkan paket TV hiburan yang komplit untuk rumah tangga pengguna TV satelit dan kabel di Asia.

Ia mencontohkan, menonton kanal di TV berbayar seperti pergi ke restoran. "Anda memesan makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, atau kue-kue dan membayarnya. Setelah selesai, Anda tinggalkan tempat itu," kata Ricky Ow dalam sebuah perbincangan.

Kiprah Ricky Ow di SPENA dimulai tahun 1999 sebagai Kepala Sales dan Marketing untuk merk tunggal, AXN Asia. Tidak main-main, merk itu berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu merk TV internasional yang terkenal di Asia. Merk tersebut juga menjadi pilihan pengiklan dan pembeli.

Ricky kemudian mengembangkan perannya untuk memasukkan program, secara efektif mengambil alih manajemen secara keseluruhan dari merk kanal ini. Alhasil, AXN menjadi kanal berbahasa Inggris nomor satu di Asia, yang menjangkau 80 juta rumah tangga dan menarik lebih dari 107 juta penonton setiap tahun.

Tahun 2004 , Ricky meluncurkan Animax Asia untuk segmen remaja. Kanal kabel ini memiliki spesialisasi di animasi Jepang dan program remaja, seperti game, musik, fesyen dan seni.

Kini, Animax menjangkau 29 juta rumah tangga dengan daya tonton lebih dari 50 juta. Di bawah kepemimpinan Ricky, SPENA berkembang cepat. Singkatnya, empat merk kanal baru di dalam anak kelompok Sony ini bertambah, seperti AXN Beyond, Sony Entertainment Television, PIX, dan PIX Thriller.

Ricky OwRicky juga memimpin SPENA menjadi pengusung hiburan berkelas, dengan melakukan langkah AXN memproduksi program hiburan berbahasa Inggris di Asia, untuk Asia. Usahanya terbayar ketika AXN memenangkan Best Entertainment Programme pada tahun 2006 dalam Asian Television Awards untuk The Man’s World Show, sebuah program realitas yang didisain untuk laki-laki.

Dengan kesuksesan ini, Ricky merambah ke produksi TV di Asia, The Amazing Race Asia, edisi Asia dari The Amazing Race yang memperoleh Emmy Award untuk format reality show kompetisi. Proyek jutaan dolar ini tidak hanya membawa AXN ke lapisan lebih tinggi di mata penonton dan pengiklan karena program ini membawa record rating untuk kanal ini.Program ini juga membuat posisi AXN sebagai pemimpin di hiburan berkelas di industri media.

Terganjal pembajakan

Kiprah Ricky memasarkan TV berbayar bukan tanpa hambatan. Ia menyebut, salah satu hambatannya adalah maraknya pembajakan di wilayah Asia, terutama Indonesia. "Maksudnya bukan pembajakan seperti DVD. Tetapi ada kebocoran. Jadi yang bayar satu tetapi yang memakai rame-rame," ujarnya.

Kebocoran ini dinilai merugikan dan mematikan industri TV berbayar. Lebih jauh ia mengatakan, pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar, karena memiliki populasi yang banyak dibandingkan negara lainnya di Asia.

Meski perolehan labanya bukan yang paling tinggi, pertumbuhan TV berbayar di Indonesia terbilang cepat di antara lima pasar teratas.

Ia memprediksi, Indonesia akan berkembang dalam waktu 10 tahun mendatang karena ukuran pasarnya yang besar. "Indonesia akan tumbuh terutama bila pembajakan dapat ditangani," tuturnya.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : kompas.com

Runi Palar: Ikon Generasi Baru Perak Indonesia

Runi Palar, bernama lengkap Sotjawaruni Kumala Palar lahir di Pujokusuman, Yogyakarta 26 Mei 1946. Dia dapat disebut sebagai ikon generasi baru disainer perak Indonesia. Memulai karier sebagai disainer perhiasan perak dan emas pada 1968. Dia membuat perhiasan dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam.

Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree (trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian dilas, dan ketokan. Runi memasarkan produknya terutama ke Jepang, Eropa dan Amerika, selain Indonesia. Sehingga namanya menempati posisi tersendiri dalam perkembangan perak Indonesia.

Ayahnya RS Tjokrosoeroso (almarhum) adalah ahli kerajinan perak bakar dan merupakan orang Indonesia pertama yang memamerkan silverwork dan cara pembuatannya di San Fransisco, USA selama 14 bulan pada tahun 1938. Alat transportasi yang digunakan pada waktu itu adalah kapal laut. Ibunya R Ngt. Sumiyati Soenandar (almarhumah) berasal dari Surabaya.

Suaminya Drs. Adriaan Palar, keturunan Minahasa, lahir di Bandung 14 November 1936. Seorang Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966 , jurusan Interior Design. Runi dan Adriaan pertama kali bertemu di New York, USA pada tahun 1964. Mereka menikah pada tanggal 29 Oktober 1967. Adriaan yang mendorong Runi dalam berkarya dan menekuni bidang seni pakai gapplied arts-design, khususnya fashion dan perhiasan.

Mereka dikaruniai tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM. Sarjana Hukum jurusan Hukum Tata Negara Universitas Pajajaran (UNPAD), Bandung. Telah menikah, dikaruniai 3(tiga) orang anak. Saat ini bekerja sebagai staff pengajar Fakultas Hukum UNPAD, Bandung. Ia memperoleh bea siswa dari Aus-Aids untuk melanjutkan program S2 pada akhir tahun 2001 ke Sydney, Australia dan telah mendapatkan gelar Master dalam Intellectual Property Rights.

Anak kedua, Alvin Daniel Dipodi Palar, SSn. Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Grafis, mengikuti program S2 bidang Magister Management di Universitas Pajajaran, Bandung. Telah menikah dan dikaruniai 2(dua) orang putra.

Anak ketiga, Xenia Dani Tajiati Palar, lulusan Seni Rupa, Institut Tehnologi Bandung (ITB), jurusan Desain Tekstil. Belum menikah.

Runi Palar menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) di Yogyakarta. Kemudian, dia hijrah ke Bandung, kuliah di Institut Teknologi Tekstil (ITT) selama 2 tahun, namun tidak sampai selesai karena segera menikah.

Kemudian Runi masuk Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwenda (1970) dan Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, Spsi (1974-1977) dan kursus-kursus bahasa serta ketrampilan lainnya.

Runi PalarDia menggumuli perhiasan perak mulai dari hobby hingga ke Profesi Designer. Bermula dari hobby mendesain busana sendiri dan membuat perhiasan dari kuningan dan perak, serta sering mengikuti berbagai fashion show dan pameran kerajinan, pada tahun 1976, Runi bersama suaminya Adriaan Palar mendirikan CV RUNA.

Nama RUNA diambil dari singkatan nama RUNI dan ADRIAAN. RUNA dengan kekhususan tersendiri, bergerak di bidang desain, produksi perhiasan emas dan perak dengan logo RUNA Jewelry.

Berdedikasi tinggi dan kerja keras menghasilkan kreasi Runi banyak digemari tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.

Dalam mengembangankan usaha selain bidang perak & emas, Runi dan Adriaan melihat adanya potensi dan ketertarikan anak-anaknya, Xenia dan Alvin pada bidang desain, khususnya desain tekstil (textile design).

Pada tahun 1996, Runi dan Adriaan beserta kedua anak mereka, mendirikan Kirta Kaloka (anak perusahaan CV RUNA) yang merupakan usaha baru di bidang Textile Arts of Indonesia. Di samping mendesain dan membuat busana batik eksklusif dan household textiles dengan logo KIRITA Batik, Kirta Kaloka juga membuat perhiasan yang terbuat dari bahan-bahan lainnya (kayu, kulit, keramik, kuningan, dll.)

Dalam mengembangkan usahanya, Runi sering melakukan studi banding dan praktek kerja. Di antaranya, Januari 1988, Studi Banding ke Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Hongkong dan Taipei, Taiwan. Maret 1988, studi banding ke Paris (Perancis) dan Arezzo & Vicenza (Italia). Kemudian Juni 2001 ke Vicenza-Oro, Italia. Juga kunjungan studi banding atas undangan World Gold Council International (Pameran dan Seminar tentang Perhiasan Emas).

Sementara praktek kerja, antara lain dilakukan pada September 1982 di London & Scotland, Inggris mengennai Teknik Desain & Casting. Pada Maret 1996 mengikuti Kursus Teknik Kerajinan yang Eksklusif di Kyoto, Jepang.

Runi Palar juga aktif di berbagai organisasi sosial dan profesi. Organisasi Sosial yang diikutinya adalah Women International Club (WIC) sebagai member (anggota biasa).

Sementara Organisasi Profesi yang diikuti sebagai member, di antaranya: Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional/Indonesian Craft Council), Bandung; Kadin (Kamar Dagang Indonesia/Indonesian Chambers of Commerce), Bandung; HIMPI (Indonesian Craft Association for Small Scale Industry); ASEPHI (Indonesian Craft Exporter Association); American Craft Council, New York; WIPI (Wanita Insan Pariwisata Indonesia), Jawa Barat.

Organisasi Profesi dimana Runi duduk sebagai Board of Director (Pengurus), antara lain: MBI (Indonesian Society of Gemstone), Bandung; Dewan Penyantun Yayasan Fashion Indonesia, Jakarta; IPAPI (Indonesian Jewelry Designer Association), Jakarta, selaku Ketua.

Runi Palar & Runa Jewelry
Sejak semula didirikan CV RUNA pada tahun 1976, Runi Palar memimpin sendiri RUNA Jewelry dibantu oleh suami, Adriaan Palar. Pada 5 (lima) tahun terakhir, dibantu oleh anak-anak Alvin & Xenia dalam bidang desain dan artistik serta staff administrasi dan teknik di kedua galeri/kantor di Bandung dan Bali.

CV. RUNA hingga saat ini masih merupakan perusahaan keluarga berskala usaha kecil menengah dengan prospek perluasan pemasaran ke luar negeri.

Bentuk Pemasaran
Produk RUNA dijual/dipasarkan secara retail, maupun wholesale, melalui toko-toko retail RUNA sendiri dan di luar negeri melalui boutique-boutique pelanggan RUNA Jewelry, mail order company di luar negeri.

Penjualan secara wholesale untuk ekspor dilakukan hanya melalui kantor/galeri RUNA di Bandung & Bali. Juga melayani pemesanan khusus berupa corporate gifts untuk hotel-hotel berbintang di dalam negeri maupun luar negeri, kantor-kantor, untuk keperluan konggres, cinderamata yang diperlukan oleh Istana Negara, Jakarta, juga untuk museum shop di luar negeri.

Selain itu pula, produk RUNA diekspor secara rutin ke manca negara seperti: Singapore, Hongkong, Jepang & Amerika.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : tokohindonesia.com

Clarence Birdseye: Momentum Menjadi Penemu

Salah satu tanda dari pengusaha sejati adalah kemampuan untuk memperkirakan kesempatan berbisnis yang orang lain bisa saja tak perhatikan bahwa kesempatan itu ada. Kemampuan tersebut, bersama dengan ketertarikan yang tak ada habisnya, cinta kepada jalan-jalan keluar atau solusi dan kecenderungan untuk mengambil resiko, yang memampukan pionir makanan-beku Clarence Birdsey untuk mengubah tradisi ratusan tahun menjadi proses revolusioner yang menciptakan industri jutaan dolar dan membuat Birdseye sebagai pria sangat kaya.

Lahir di Brooklyn, New York, pada 1886, Clarence Birdseye, seperti banyak pengusaha sukses lainnya, naik ke jalur perniagaan bebas di usia muda. Ketika ia baru berusia 10 tahun, ia mendengar mengenai seorang tuan tanah Inggris mencari permainan berburu untuk tanah miliknya, maka Birdseye muda mengepak lusinan tikus air yang telah ia tangkap di Long Island. Usaha pertamanya memberikan ia keuntungan bersih $9, yang ia gunakan untuk membeli senapan berburu.

Terbakar oleh ketertarikan membakar pada tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, Birdseye memasuki Amherst College untuk mempelajari biologi. Ia membayar biaya perkuliahannya melalui beberapa usaha yang unik, termasuk menjul bayi-bayi kodok ke Kebun Binatang Bronx untuk makanan ular dan menangkap tikus-tikus hitam yang jarang di toko daging lokal untuk professor genetic. Tetapi dana-dana yang dihasilkan dari bisnis-bisnis tersebut serta sampingan lainnya tidaklah mencukupi untuk memenuhi biaya-biaya perkuliahan yang meningkat, maka Birdseye keluar dari Amherst setelah dua tahun untuk menaruh tangannya di bisnis perdagangan bulu.

Mendapatkan dana dari rumah bulu di New York, Birdseye berkeliling oleh pimpinan anjing-anjing (dogsled, red) ke Labrador, Newfoundland, dimana ia mampu untuk mengubah keuntungan kecil dari jual-beli bulu-bulu untuk uang. Selagi di Arctic, ia diperkenalkan kepada praktik Inuit Indian untuk "membekukan cepat" ikan yang mereka tangkap. Sang nelayan cukup menaruh ikan tersebut di es, dan kombinasi es, angin, dan temperatur membekukan ikan nyaris secara instan. Bahkan yang lebih mengagumkan, Birdseye memperhatikan bahwa ketika ikan dimasak dan dimakan, begitu empuk dan mudah dibelah, dan rasanya sama bagusnya ketika ditangkap dengan segar. Birdseye juga memperhatikan hal yang sama juga terjadi pada karibu, angsa, dan kepala kubis yang ia simpan di luar kabinnya sepanjang musim dingin Kanada yang panjang.

Clarence BirdseyeBirdseye mengetahui bahwa usaha-usaha untuk membekukan daging dan sayur-sayuran secara komersial di Amerika Serikat telah gagal, sebagian besar dikarenakan makanan-makanan tidak terjaga rasanya ataupun teksturnya. Tetapi pada waktu itu, metode-metode pembekuan menghabiskan waktu sekitar 18 jam atau lebih. Birdseye menyimpulkan bahwa metode cepat-beku Inuit menjaga kristal-kristal es besar dari terbentuk di makanan, menjaga dari bahaya struktur sel sehingga menjaga kualitas "segar" makanan. Ia juga beranggapan bahwa masyarakat daerah asalnya akan dengan senang hati membayar untuk makanan-makanan beku yang enak, jika ia bisa membawakannya.

Dilengkapi dengan pengetahuan ini, Birdseye kembali ke New York pada September 1922. Ia mengorganisasikan perusahaannya sendiri, Birdseye Seafood Inc., dan mulai mengembangkan mesin cepat-beku dengan mata yang melirik ke pembeli-pembeli ritel. Dimana usaha-usaha awalnya adalah kesuksesan dari sudut pandang teknologikal, tetapi secara komersil gagal. Para pembelinya skeptis, dan Birdseye tidak mampu untuk meyakinkan para penjual grosir dan ibu-ibu rumah tangga bahwa ikan cepat-bekunya berbeda dari makanan kering, tanpa rasa yang diciptakan dari teknik-teknik pembekuan tradisional yang lambat. Perusahaan itu pun dengan cepat menjadi bangkrut.

Tak kenal takut dengan kegagalan ini, Birdseye terus melanjutkan bekerja untuk menyempurnakan mesin cepat-bekunya. Pada 1924, ia mengembangkan sebuah paket untuk ikan atau makanan lainnya dalam karton, lalu membekukan-cepat isi-isinya antara dua penekan yang berpermukaan rata dan beku. Menyadari bahwa ia telah menemukan dasar dari operasi pembekuan yang tipenya sama sekali baru, Birdseye memutuskan untuk membentuk sebuah perusahaan baru untuk menghasilkan uang dari penemuannya.

Dengan pertolongan perbankan keuangan dari beberapa pebisnis New York yang kaya raya, Birdseye mengorganisasikan General Seafood Corp., dan industri makanan beku pun lahir. Kendatipun peningkatan-peningkatan revolusioner telah Birdseye buat, ia tetap tidak bisa mengalahkan ketidakpercayaan publik akan makanan beku. Meskipun itu tidak langsung diterima luas, makanan cepat beku Birdseye tetaplah menjadikan ia sebagai pria kaya-raya. Dengan penjualan yang tertahan, General Seafood menjual aset-asetnya, termasuk paten-paten Birdseye, ke Postum Co. pada 1929 untuk $22 juta yang mengejutkan di masa itu.

Food Frozen Industry – Clarence BirdseyePostum mengorganisasikan kembali dirinya sebagai General Foods Corp. dan menyetujui Clarence Birdseye sebagai presiden dari divisi Birds Eye Frosted Foods yang baru. Pada 1930, perusahaan meluncurkan sebuah kampanye besar untuk memenangkan penerimaan akan bentuk baru dari "makanan beku." Kampanye tersebut pun sukses, dan pemilihan makanan-makanan Birdseye pun dengan cepat bervariasi dari kacang polong, bayam, dan ceri-ceri ke ikan dan beberapa jenis daging. Setelah dua kali usaha-usaha pertama gagal, mimpi Clarence Birdseye untuk menjadikan makanan cepat-beku tersedia untuk masyarakat umum telah menjadi kenyataan.

Tak pernah istirahat seperti sebelumnya, Clarence Birdseye membelanjakan 25 tahun selanjutnya bekerja pada penemuan-penemuan baru, termasuk bayangan lampu-lampu bohlam, sebuah putaran ikan elektrik dan sebuah seruit penjaga untuk pemburu-pemburu ikan paus. Bekerja di dapurnya dengan sebuah kipas angin, panas dari coffee maker elektriknya, dan setumpuk roti kubus, ia mengembangkan sebuah proses untuk makanan-makanan kering. Ia bahkan menulis sebuah buku mengenai bunga-bunga liar dengan istrinya. Di waktu hari kematiannya pada Oktober 1956, ia telah memegang nyaris 300 paten. Tak lama sebelum kematiannya, Birdseye menawarkan sarannya bagi para lulusan kuliah untuk mencari lebih lagi di dunia: "Saya bisa pergi berkeliling bertanya banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh dan mengambil pilihan-pilihan yang ada."

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Powered by ExtJS Theme flavored Wordpress.