Menjadi pewaris kerajaan bisnis Martha Tilaar Group bukanlah perkara mudah. Setidaknya inilah yang dirasakan Wulan Tilaar kala didaulat untuk meneruskan aktivitas ibundanya, pemilik sekaligus penggagas Martha Tilaar.
"Rasanya risih banget. Enggak enak aja, kemana-mana harus ikut ibu pastinya dilihat orang. Sedangkan saudara yang lain enak, bisa santai ikut acara duduk dibelakang memakai pakaian seadanya, bahkan cuma pakai daster," kata Wulan Tilaar sewaktu ditemui wartawan saat bertandang ke Martha Tilaar Beauty Galery, di Jakarta.
Wulan memang dipasrahi tugas untuk mengemban tongkat estafet sosok ibu Martha Tilaar. Selama ini, ibu Martha dikenal publik sebagai ikon kecantikan. "Sosok ibu inilah yang diserahkan kepada saya," ujarnya.
Sedangkan untuk operasional di Martha Tilaar Group, dipegang oleh lima bersaudara Tilaar, yakni Wulan dan keempat saudaranya. Wulan mengaku, tugas ini terbilang berat. Terlebih, dia tergolong anak rumahan, pemalu, dan tidak suka tampil di depan umum.
Namun, seiring berjalannya waktu dia sadar bahwa ini merupakan jalan hidupnya. Perlahan dia mulai belajar dari ibu Martha. Misalnya, kata Wulan, ibu bicara apa, saya lihat dan saya dengarkan jawabannya. Tak terkecuali juga belajar dari orang lain. "Saat ini saya memang sudah basah kuyup, sampai masuk angin segala. Tidak mungkin mundur," tutur Wulan.
Untuk operasional, Wulan mendapat jatah meng-handle PT Martha Beauty Gallery, yang merupakan anak perusahaan dari Martha Tilaar Group. PT Martha Tilaar Beauty Galery ini membawahi Martha Tilaar Salon and Day Spa. "Namun sekarang, sebenarnya saya sudah harus masuk ke Puspita Martha secara total. Itu lebih besar lagi," kata Wulan.
Dalam menjalankan bisnisnya, agaknya Wulan tidak main-main. Keinginan terbesarnya adalah ingin menguasai market Asia dan internasional. Menurutnya, saat ini produk Martha Tilaar sudah beredar di kawasan Asia, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan sebagainya. Untuk ke depan, dia ingin lebih mantap lagi. Sedangkan untuk spa, Martha Tilaar memiliki sekitar 10 tempat di luar negeri.
Wulan Tilaar – Martha Tilaar Group"Rencananya,akan membuka di Rusia, Hanoi, dan Malaysia lagi. Saya sih mimpinya ingin perusahaan ini go international beneran," tuturnya.
Untuk bisa eksis di setiap negara, Wulan menyebut, pihaknya harus membuat produk yang sesuai dengan keinginan masyarakat di luar negeri. Karena itu, dituntut pula untuk terus melakukan inovasi dan kreatif menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda dengan produk lain, namun tetap mengusung kekayaan alam di Indonesia. "Itu pesan ibu Martha. Tetap mengangkat tradisi Indonesia. Dari situlah kami menggali sesuatu yang unik," tuturnya.
Walaupun imej, Martha Tilaar identik dengan tradisi kebudayaan Indonesia, namun menurut Wulan, pihaknya tidak ketinggalan dengan tren-tren dunia, seperti mandi coklat, kopi, atau cranberry.
Meski menjadi putri mahkota Group Martha Tilaar, namun tidak membuat Wulan ingin diistimewakan. Dalam mencapai sesuatu hal, dia tidak ingin melakukannya secara instan. "Jangan tiba-tiba jebret, sopo iku. Saya paling enggak suka, mentang-mentang anaknya Ibu Martha jadi langsung di awang-awang," ujarnya. Saat ini, Wulan ingin menjalankan proses dan terus belajar dan terus belajar.
H. Wayne Huizenga dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu pria dengan ide terhebat dalam sejarah bisnis Amerika. Dengan kemampuannya yang luar biasa memilih sebuah industri matang yang terbagi untuk konsolidasi dan menciptakan sebuah perusahaan yang mendominasi industri tersebut begitu cepat sehingga para pesaingnya tertinggal di luar kedinginan, Huizenga menjadikan dirinya sendiri seorang milyuner. Dipilih oleh majalah Forbes sebagai salah satu "Pebisnis Amerika Yang Paling Berkuasa," ia memimpin sebuah kerajaan bisnis bernilai milyaran dolar yang termasuk tim olahraga professional hingga ritel mobil terbesar di Negeri itu. Dan itu semua dimulai hanya oleh satu truk sampah.
Fakta bahwa Huizenga akan menjadi salah satu pengusaha paling sukses di dunia bukanlah sebuah kejutan. Faktanya, wirausaha sudah mendarah-daging pada keluarganya. Kakeknya yang seorang imigran Belanda memulai sebuah bisnis sampah di Chicago dan ayahnya mengepalai perusahaan konstruksinya sendiri. Ketika ia masih seorang remaja pria, ayah Huizenga mengatakan kepadanya, "Kamu tidak bisa mendapatkan uang dengan bekerja bagi orang lain."
Wayne muda mengambil saran dari ayahnya hingga ke hati dan mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam dunia bisnis. Pada 1962, di usia 25, Huizenga memulai Southern Sanitation Service dengan meminjam $5000 dari ayahnya dan membujuk seorang penarik sampah lokal di Fort Lauderdale, Florida, untuk menjualnya sebuah truk bekas dan beberapa peralatan. Setiap harinya, Huizenga akan bersiap untuk rutenya pada pukul 2 pagi, mengangkat sampah dan mengangkutnya ke pembuangan hingga sore menjelang. Lalu ia mandi, berpakaian terbaik, dan menghabiskan sisa hari menelpon para pemilik rumah, supermarket-supermarket, dan toko-toko ritel untuk menggalang bisnis bagi perusahaannya. "Saya tidak mengetahui apapun mengenai bisnis," terangnya pada sebuah wawancara dengan majalah The New York Times. "Saya hanya bekerja keras dan memberikan pelayanan yang baik."
Pendekatan itu bekerja, dan pada 1968 Huizenga memiliki 20 truk dan melayani para kustomer sampai selatan jauh hingga Key West. Pada waktu itulah seorang kerabat, Dean Buntrock, yang menjalankan firma pembuangan asli yang didirikanoleh kakek Huizenga, menyarankan penggabungan perusahaannya dengan Southern Sanitation. Huizenga setuju, dan Waste Management pun terbentuk.
Wayne HuizengaVisi Buntrock adalah untuk menciptakan sebuah perusahaan sanitasi nasional. Untuk mencapai tujuan ini, ia dan Huizenga memulai sebuah pelesir pembelian, mencakup 90 pengangkut sampah selama sembilan bulan. Sepanjang masa inilah Huizengan mengembangkan strategi-strategi kunci dan keahlian-keahlian yang akhirnya ia pakai untuk menjalankan perusahaan-perusahaannya yang lain. Pembelian-pembelian itu utamanya dilakukan untuk stok Waste Management. Huizenga dan Buntrock merasakan bahwa pencairan saham-saham kepemilikan mereka itu lebih baik daripada menekan pembayaran bunga uang bisa menguburkan perusahaan lebih lagi. Mereka juga umumnya menjaga pemilik-pemilik sebelumnya sebagai manajer, mempercayai bahwa jika perusahaan-perusahaan mereka cukup baik untuk dipersunting, begitu juga keahlian mereka. Terima kasih kepada strategi ini, Waste Management pun akhirnya menjadi perusahaan pemusnahan sampah terbesar di Negeri itu, menjadikan Huizenga dan Buntrock jutawan.
Pada 1984, perolehan Waste Management mencapai puncak $1 milyar. Tetapi Huizenga menjadi lelah dengan bisnis sampah, dan ia pensiun pada usia 46. Bagaimanapun masa pensiunnya tidak bertahan lama. Tanpa lelah dan berharga $21 juta terima kasih kepada sahamnya di Waste Management, Huizenga mulai membeli bisnis-bisnis kecil lokal. Selama tiga tahun pertama, ia memiliki lebih dari 100 bisnis dimulai dari air minum botol dan jasa berkebun untuk hotel dan perkantoran. Sebagai seorang penulis berkata, "Huizenga begitu mendominasi Fort Lauderdale sehingga seorang warganya tidak mungkin melewati hari tanpa usaha jasanya." Pada 1986, koleksi bisnisnya yang menjemukan telah memiliki pendapatan tahunan hingga $100 juta. Tetapi ia belum mendapatkan perjanjian yang akan menjadikannya legenda bisnis.
Pada 1987, John Melk, seorang mantan karyawan, dan Don Flynn, wakil presiden senior Waste Management, meyakinkan Huizenga untuk melirik kepada serantaian kecil toko video yang disebut Blockbuster. Sebenarnya, Huizenga menolak keras. Ia selalu mengasosiasikan toko-toko video dengan perusahaan-perusahaan pornografi yang kotor. Tetapi ketika ia melihat bahwa toko-toko Blockbuster itu bersih, tertata rapi dan berkaryawankan para pekerja yang berpotongan rapi, satu kata muncul di kepalanya: "McDonald’s." Seperti rantai toko hamburger terkenal, Huizenga menyadari bahwa Blockbuster adalah sebuah konsep produk mudah yang bisa bergerak agresif – dan menguntungkan secara nasional. Dalam satu minggu, Huizenga, Melk dan Flynn memiliki perhatian mengontrol dalam Blockbuster.
Sekarang untuk menanganinya, Huizenga memulai apa yang menjadi strategi standarnya: akuisisi dalam skala besar. Ketika ia membeli Blockbuster pada 1987, itu memiliki delapan toko dan 11 waralaba. Hanya dalam satu tahun setelahnya, Blockbuster menjadi serantaian rental video terbesar di dunia. Pada pertengahan tahun 1991, toko tersebut telah terhitung mencapai 1.654, tidak termasuk 27 toko di Inggris Raya dan 51 di Kanada.
Huizenga membuat uang begitu cepat hingga ia tidak bisa membelanjakan semuanya pada perusahaan, maka ia pergi untuk pembelian plesir yang lain, kali ini untuk membeli semua atau sebagian kepemilikan dari Miami Dolphins, Joe Robbie Stadium, the Florida Marlins, the Florida Panthers, the Super Club Retail Entertainment, Republic Pictures, Sound Warehouse dan Music Plus. Huizenga telah menjadi salah seorang pria termakmur di Amerika, berharga hampir mencapai $700juta. Tetapi sekali lagi, Huizenga merasakan keinginan untuk maju. Maka pada 1984, ia menjual Blockbuster kepada Viacom untuk $8.4 milyar dan mulai melirik industri baru untuk dikalahkan.
Ia menemukannya pada 1995, tetapi itu bukanlah sebuah industri baru. Faktanya, itu adalah sesuatu yang Huizenga sangat familiar. Menginvestasikan $64 juta dengan uangnya sendiri dan menghimpun tambahan $168 juta, ia membeli perusahaan sanitasi di Atlanta Republic Waste Industries. Pergerakan ini membingungkan banyak ahli Wall Street. Mereka tidak mengerti mengapa Huizenga mau kembali lagi ke bisnis sampah. Sebenarnya, dia tidak. "Saya hanya ingin melihat sebuah kerangka (perusahaan), dan ini muncul begitu saja," jelasnya dalam sebuah wawancara Forbes. "Itu bisa apa saja."
Pada waktu itu, perusahaan tersebut, dimana Huizenga mengganti namanya dengan Republic Industries, adalah sebuah perusahaan kecil yang berjuang dalam pemusnahan sampah dan bisnis keamanan elektronik. Hingga susunannya, Huizenga dengan hebat memperlebar baik kedua aspek dari bisnis tersebut, menjadikan mereka sapi perahan yang menguntungkan. Tenggelam dengan uang, Huizenga melatih tempat-tempatnya dengan target dia selanjutnya, industri ritel otomotif, dan mulai membangun jaringan nasional dari outlet-outlet mobil baru dan bekas. Selama masa enam bulan, ia membeli 65 hak penjualan otomotif dengan 109 outlet menjual 31 merek, membuka 11 superstore mobil bekas yang disebut AutoNation USA, dan membeli tiga agensi rental mobil, termasuk Alamo dan National.
Wayne HuizengaSekali lagi, "sentuhan Midas" Huizenga bekerja dengan ajaib. Pada 1999, Republic, sekarang bernama AutoNation Inc., memiliki perjanjian-perjanjian hak penjualan 400 mobil baru dan lebih dari 40 toko mobil bekas, dan telah beroperasi hampir pada 4000 lokasi rental mobil di seluruh Negeri, menjadikannya ritel otomotif nomor satu di dunia dan penyedia jasa rental kendaraan terbesar kedua di Amerika Serikat.
Sebagaimana bagi Huizenga, ia dinyatakan sebagai salah satu seorang pria terkaya di dunia. Tetapi ironisnya, uang tidaklah penting baginya. Ia bahkan tidak mempedulikan untuk mengambil gaji dari AutoNation. Yang mendorongnya adalah sensasi yang ia dapatkan dari kompetisi satu lawan satu antara dirinya dan rivalnya. Itulah sebabnya di waktunya ketika kebanyakan orang di usianya diperkirakan untuk pensiun, Huizenga menekannya dan berjanji untuk menjadi salah seorang pengusaha sukses yang paling berpengaruh dalam percaturan peta bisnis dunia hingga abad selanjutnya.
"Rasanya risih banget. Enggak enak aja, kemana-mana harus ikut ibu pastinya dilihat orang. Sedangkan saudara yang lain enak, bisa santai ikut acara duduk dibelakang memakai pakaian seadanya, bahkan cuma pakai daster," kata Wulan Tilaar sewaktu ditemui wartawan saat bertandang ke Martha Tilaar Beauty Galery, di Jakarta.
Wulan memang dipasrahi tugas untuk mengemban tongkat estafet sosok ibu Martha Tilaar. Selama ini, ibu Martha dikenal publik sebagai ikon kecantikan. "Sosok ibu inilah yang diserahkan kepada saya," ujarnya.
Sedangkan untuk operasional di Martha Tilaar Group, dipegang oleh lima bersaudara Tilaar, yakni Wulan dan keempat saudaranya. Wulan mengaku, tugas ini terbilang berat. Terlebih, dia tergolong anak rumahan, pemalu, dan tidak suka tampil di depan umum.
Namun, seiring berjalannya waktu dia sadar bahwa ini merupakan jalan hidupnya. Perlahan dia mulai belajar dari ibu Martha. Misalnya, kata Wulan, ibu bicara apa, saya lihat dan saya dengarkan jawabannya. Tak terkecuali juga belajar dari orang lain. "Saat ini saya memang sudah basah kuyup, sampai masuk angin segala. Tidak mungkin mundur," tutur Wulan.
Untuk operasional, Wulan mendapat jatah meng-handle PT Martha Beauty Gallery, yang merupakan anak perusahaan dari Martha Tilaar Group. PT Martha Tilaar Beauty Galery ini membawahi Martha Tilaar Salon and Day Spa. "Namun sekarang, sebenarnya saya sudah harus masuk ke Puspita Martha secara total. Itu lebih besar lagi," kata Wulan.
Dalam menjalankan bisnisnya, agaknya Wulan tidak main-main. Keinginan terbesarnya adalah ingin menguasai market Asia dan internasional. Menurutnya, saat ini produk Martha Tilaar sudah beredar di kawasan Asia, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan sebagainya. Untuk ke depan, dia ingin lebih mantap lagi. Sedangkan untuk spa, Martha Tilaar memiliki sekitar 10 tempat di luar negeri.
Wulan Tilaar – Martha Tilaar Group"Rencananya,akan membuka di Rusia, Hanoi, dan Malaysia lagi. Saya sih mimpinya ingin perusahaan ini go international beneran," tuturnya.
Untuk bisa eksis di setiap negara, Wulan menyebut, pihaknya harus membuat produk yang sesuai dengan keinginan masyarakat di luar negeri. Karena itu, dituntut pula untuk terus melakukan inovasi dan kreatif menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda dengan produk lain, namun tetap mengusung kekayaan alam di Indonesia. "Itu pesan ibu Martha. Tetap mengangkat tradisi Indonesia. Dari situlah kami menggali sesuatu yang unik," tuturnya.
Walaupun imej, Martha Tilaar identik dengan tradisi kebudayaan Indonesia, namun menurut Wulan, pihaknya tidak ketinggalan dengan tren-tren dunia, seperti mandi coklat, kopi, atau cranberry.
Meski menjadi putri mahkota Group Martha Tilaar, namun tidak membuat Wulan ingin diistimewakan. Dalam mencapai sesuatu hal, dia tidak ingin melakukannya secara instan. "Jangan tiba-tiba jebret, sopo iku. Saya paling enggak suka, mentang-mentang anaknya Ibu Martha jadi langsung di awang-awang," ujarnya. Saat ini, Wulan ingin menjalankan proses dan terus belajar dan terus belajar.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : kompas.com
Fakta bahwa Huizenga akan menjadi salah satu pengusaha paling sukses di dunia bukanlah sebuah kejutan. Faktanya, wirausaha sudah mendarah-daging pada keluarganya. Kakeknya yang seorang imigran Belanda memulai sebuah bisnis sampah di Chicago dan ayahnya mengepalai perusahaan konstruksinya sendiri. Ketika ia masih seorang remaja pria, ayah Huizenga mengatakan kepadanya, "Kamu tidak bisa mendapatkan uang dengan bekerja bagi orang lain."
Wayne muda mengambil saran dari ayahnya hingga ke hati dan mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam dunia bisnis. Pada 1962, di usia 25, Huizenga memulai Southern Sanitation Service dengan meminjam $5000 dari ayahnya dan membujuk seorang penarik sampah lokal di Fort Lauderdale, Florida, untuk menjualnya sebuah truk bekas dan beberapa peralatan. Setiap harinya, Huizenga akan bersiap untuk rutenya pada pukul 2 pagi, mengangkat sampah dan mengangkutnya ke pembuangan hingga sore menjelang. Lalu ia mandi, berpakaian terbaik, dan menghabiskan sisa hari menelpon para pemilik rumah, supermarket-supermarket, dan toko-toko ritel untuk menggalang bisnis bagi perusahaannya. "Saya tidak mengetahui apapun mengenai bisnis," terangnya pada sebuah wawancara dengan majalah The New York Times. "Saya hanya bekerja keras dan memberikan pelayanan yang baik."
Pendekatan itu bekerja, dan pada 1968 Huizenga memiliki 20 truk dan melayani para kustomer sampai selatan jauh hingga Key West. Pada waktu itulah seorang kerabat, Dean Buntrock, yang menjalankan firma pembuangan asli yang didirikanoleh kakek Huizenga, menyarankan penggabungan perusahaannya dengan Southern Sanitation. Huizenga setuju, dan Waste Management pun terbentuk.
Wayne HuizengaVisi Buntrock adalah untuk menciptakan sebuah perusahaan sanitasi nasional. Untuk mencapai tujuan ini, ia dan Huizenga memulai sebuah pelesir pembelian, mencakup 90 pengangkut sampah selama sembilan bulan. Sepanjang masa inilah Huizengan mengembangkan strategi-strategi kunci dan keahlian-keahlian yang akhirnya ia pakai untuk menjalankan perusahaan-perusahaannya yang lain. Pembelian-pembelian itu utamanya dilakukan untuk stok Waste Management. Huizenga dan Buntrock merasakan bahwa pencairan saham-saham kepemilikan mereka itu lebih baik daripada menekan pembayaran bunga uang bisa menguburkan perusahaan lebih lagi. Mereka juga umumnya menjaga pemilik-pemilik sebelumnya sebagai manajer, mempercayai bahwa jika perusahaan-perusahaan mereka cukup baik untuk dipersunting, begitu juga keahlian mereka. Terima kasih kepada strategi ini, Waste Management pun akhirnya menjadi perusahaan pemusnahan sampah terbesar di Negeri itu, menjadikan Huizenga dan Buntrock jutawan.
Pada 1984, perolehan Waste Management mencapai puncak $1 milyar. Tetapi Huizenga menjadi lelah dengan bisnis sampah, dan ia pensiun pada usia 46. Bagaimanapun masa pensiunnya tidak bertahan lama. Tanpa lelah dan berharga $21 juta terima kasih kepada sahamnya di Waste Management, Huizenga mulai membeli bisnis-bisnis kecil lokal. Selama tiga tahun pertama, ia memiliki lebih dari 100 bisnis dimulai dari air minum botol dan jasa berkebun untuk hotel dan perkantoran. Sebagai seorang penulis berkata, "Huizenga begitu mendominasi Fort Lauderdale sehingga seorang warganya tidak mungkin melewati hari tanpa usaha jasanya." Pada 1986, koleksi bisnisnya yang menjemukan telah memiliki pendapatan tahunan hingga $100 juta. Tetapi ia belum mendapatkan perjanjian yang akan menjadikannya legenda bisnis.
Pada 1987, John Melk, seorang mantan karyawan, dan Don Flynn, wakil presiden senior Waste Management, meyakinkan Huizenga untuk melirik kepada serantaian kecil toko video yang disebut Blockbuster. Sebenarnya, Huizenga menolak keras. Ia selalu mengasosiasikan toko-toko video dengan perusahaan-perusahaan pornografi yang kotor. Tetapi ketika ia melihat bahwa toko-toko Blockbuster itu bersih, tertata rapi dan berkaryawankan para pekerja yang berpotongan rapi, satu kata muncul di kepalanya: "McDonald’s." Seperti rantai toko hamburger terkenal, Huizenga menyadari bahwa Blockbuster adalah sebuah konsep produk mudah yang bisa bergerak agresif – dan menguntungkan secara nasional. Dalam satu minggu, Huizenga, Melk dan Flynn memiliki perhatian mengontrol dalam Blockbuster.
Sekarang untuk menanganinya, Huizenga memulai apa yang menjadi strategi standarnya: akuisisi dalam skala besar. Ketika ia membeli Blockbuster pada 1987, itu memiliki delapan toko dan 11 waralaba. Hanya dalam satu tahun setelahnya, Blockbuster menjadi serantaian rental video terbesar di dunia. Pada pertengahan tahun 1991, toko tersebut telah terhitung mencapai 1.654, tidak termasuk 27 toko di Inggris Raya dan 51 di Kanada.
Huizenga membuat uang begitu cepat hingga ia tidak bisa membelanjakan semuanya pada perusahaan, maka ia pergi untuk pembelian plesir yang lain, kali ini untuk membeli semua atau sebagian kepemilikan dari Miami Dolphins, Joe Robbie Stadium, the Florida Marlins, the Florida Panthers, the Super Club Retail Entertainment, Republic Pictures, Sound Warehouse dan Music Plus. Huizenga telah menjadi salah seorang pria termakmur di Amerika, berharga hampir mencapai $700juta. Tetapi sekali lagi, Huizenga merasakan keinginan untuk maju. Maka pada 1984, ia menjual Blockbuster kepada Viacom untuk $8.4 milyar dan mulai melirik industri baru untuk dikalahkan.
Ia menemukannya pada 1995, tetapi itu bukanlah sebuah industri baru. Faktanya, itu adalah sesuatu yang Huizenga sangat familiar. Menginvestasikan $64 juta dengan uangnya sendiri dan menghimpun tambahan $168 juta, ia membeli perusahaan sanitasi di Atlanta Republic Waste Industries. Pergerakan ini membingungkan banyak ahli Wall Street. Mereka tidak mengerti mengapa Huizenga mau kembali lagi ke bisnis sampah. Sebenarnya, dia tidak. "Saya hanya ingin melihat sebuah kerangka (perusahaan), dan ini muncul begitu saja," jelasnya dalam sebuah wawancara Forbes. "Itu bisa apa saja."
Pada waktu itu, perusahaan tersebut, dimana Huizenga mengganti namanya dengan Republic Industries, adalah sebuah perusahaan kecil yang berjuang dalam pemusnahan sampah dan bisnis keamanan elektronik. Hingga susunannya, Huizenga dengan hebat memperlebar baik kedua aspek dari bisnis tersebut, menjadikan mereka sapi perahan yang menguntungkan. Tenggelam dengan uang, Huizenga melatih tempat-tempatnya dengan target dia selanjutnya, industri ritel otomotif, dan mulai membangun jaringan nasional dari outlet-outlet mobil baru dan bekas. Selama masa enam bulan, ia membeli 65 hak penjualan otomotif dengan 109 outlet menjual 31 merek, membuka 11 superstore mobil bekas yang disebut AutoNation USA, dan membeli tiga agensi rental mobil, termasuk Alamo dan National.
Wayne HuizengaSekali lagi, "sentuhan Midas" Huizenga bekerja dengan ajaib. Pada 1999, Republic, sekarang bernama AutoNation Inc., memiliki perjanjian-perjanjian hak penjualan 400 mobil baru dan lebih dari 40 toko mobil bekas, dan telah beroperasi hampir pada 4000 lokasi rental mobil di seluruh Negeri, menjadikannya ritel otomotif nomor satu di dunia dan penyedia jasa rental kendaraan terbesar kedua di Amerika Serikat.
Sebagaimana bagi Huizenga, ia dinyatakan sebagai salah satu seorang pria terkaya di dunia. Tetapi ironisnya, uang tidaklah penting baginya. Ia bahkan tidak mempedulikan untuk mengambil gaji dari AutoNation. Yang mendorongnya adalah sensasi yang ia dapatkan dari kompetisi satu lawan satu antara dirinya dan rivalnya. Itulah sebabnya di waktunya ketika kebanyakan orang di usianya diperkirakan untuk pensiun, Huizenga menekannya dan berjanji untuk menjadi salah seorang pengusaha sukses yang paling berpengaruh dalam percaturan peta bisnis dunia hingga abad selanjutnya.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com