Loading...
Archive for June 30th, 2009
  1. Tom Monaghan Ia adalah pahlawan bagi mahasiswa Amerika yang kelaparan dengan sofa kentang di asramanya – pria yang membuat pizza segar dan panas semudah mengangkat telepon. Dengan menjadi pionir untuk rantai usaha pizza delivery, Tom Monaghan mengubah sebuah tempat makan pizza yang lusuh menjadi serangkaian usaha pizza terbesar di negeri itu. Sepanjang masa itu, ia telah mengumpulkan kekayaan yang diperkirakan mencapai $1 milyar. Tidak buruk untuk seorang anak miskin dari Ann Arbor, Michigan, yang lulus terakhir dari sekolah menengah atasnya, ditendang dari sekolah seminari, dan didaftarkan di kampus selama enam kali tanpa melewati status praja muda.

    Awal masa kehidupan Tom Monaghan jika dibaca nyaris seperti novel Charles Dickens. Ketika ia berusia 4 tahun, ayahnya meninggal di malam Natal. Ibunya merasa tidak mampu merawat dua putranya selagi belajar di sekolah keperawatan, maka Monaghan menghabiskan banyak masa remajanya di panti asuhan dan rumah-rumah adopsi. Ketika ia masih praja muda di sekolah menengah atasnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang pendeta. Tetapi peraturan disiplin seminari yang ketat membuktikan banyak anak muda yang liat yang perlu ditangani, dan ia dikeluarkan kurang dari setahun setelah melakukan pelanggaran peraturan seperti perang bantal dan berbicara sewaktu kapel. Kembali ke sekolah, Monaghan lulus yang ke-44 dari kelas 44. Sebuah tulisan di bawah fotonya dalam buku tahunan tahun 1955 terbaca, "Semakin sulit saya mencoba untuk menjadi baik, semakin buruk yang saya dapatkan; tetapi mungkin selanjutnya saya melakukan sesuatu yang sensasional."

    Monaghan bermimpi untuk belajar arsitektur di Universitas Michigan, tetapi tingkatnya yang rendah ditambah lagi dengan hanya memiliki sedikit uang membuat itu tak tercapai. Ia terdaftar di Marine Corps, dan di akhir perjalanan selama tiga tahun, ia telah menyimpan $2.000 untuk uang kuliah. Tetapi ia dengan lugunya menginvestasikan uang tersebut dalam skema cepat kaya pebisnis minyak yang tidak jujur. Tentu saja ia tidak pernah melihat uangnya atau si pengusaha minyak itu lagi. Dengan hanya $15 di kantongnya, Monaghan menumpang dari mobil ke mobil dari San Diego kembali ke Ann Arbor.

    Pada 1960, keberuntungan Monaghan akhirnya mulai berubah ketika ia dan saudaranya, Jim, meminjam $900 dan membeli sebuah toko pizza yang gagal di Ypsilanti, Michigan. Monaghan menceburkan dirinya ke dalam bisnis tersebut dalam 100 jam setiap minggunya. Delapan minggu setelah usaha baru tersebut, saudaranya mulai lelah dengan rutinitas pekerjaan dan menukar setengah dari bisnisnya dengan Volkswagen Beetle milik Monaghan. "Itu adalah kemunduran, tetapi saya mengambil dengan langkah panjang dan tetap optimis," tulis Monaghan dalam otobiografinya, Pizza Tiger. "Saya membuat keputusan untuk mengkomitmenkan diri saya dengan sepenuh hati dan jiwa untuk menjadi pria pizza. Tujuan saya sangat jelas, dan pengetahuan mengenai kesuksesan atau kegagalan masa datang dari bisnis ini saya sambut berada di pundak saya."

    Tak lama setelah itu, Monaghan mendobrak dengan formula yang akan menjadi keberuntungan. Ia menyederhanakan menunya, membatasi jumlah ukuran dan topping, mengatur standar ketat untuk bahan makanan, dan menawarkan jasa pengantaran dalam 30 menit atau kurang. "Ide dari mengetatkan penghantaran 30 menit muncul dari keyakinan saya untuk memberikan para pelanggan pizza yang berkualitas," Monaghan menjelaskan dalam Pizza Tiger. "Sangatlah tidak beralasan untuk menggunakan hanya bahan makanan terbaik jika pizzanya dingin dan tak berasa lagi ketika pelanggan menerimanya." Untuk memotivasi para supirnya untuk mengantarkan pesanan secepat mungkin, Monaghan memberikan bonus bagi yang bisa mengumpulkan kas paling banyak.

    Di akhir 1965, Monaghan menikmati kesuksesannya dengan sederhana dan membeli dua toko lagi. Di tahun yang sama, Monaghan mengubah nama dari tiga toko pizzanya menjadi Domino’s Pizza.

    Domino’s PizzaDomino’s Pizza Inc. menemukan pasarnya di daerah perkampusan dan dekat basis militer, dan pada 1967, Monaghan menjual waralaba pertamanya, mengakhiri tahun itu dengan keuntungan $50.000, Monaghan membangun sebuah gol ambisius dengan membuka satu toko baru setiap minggunya – dan ia nyaris mencapai gol tersebut. Pada 10 bulan pertama di tahun 1969, 32 toko Domino baru muncul, kebanyakan di area tempat tinggal.

    Tetapi ekspansi yang cepat terbukti menjadi bencana. Kebanyakan toko-toko tersebut gagal, dan Monaghan mendapati dirinya terjebak dalam hutang $1.5 juta. Untuk menghindari kebangkrutan, ia menyerahkan kontrol dari perusahaan kepada pebisnis lokal. Ia mendapatkan kendali selama setahun, tetapi perjanjian tersebut mengajari dirinya pelajaran berharga. Monaghan berjanji "tidak akan ada lagi ekspansi demi ekspansi," mengurangi gol-nya menjadi 20 toko baru per tahun, dan mulai memilih tempat dengan hati-hati.

    Strategi tersebut bekerja, dan di akhir 1980, Domino’s bertumbuh menjadi 290 toko. Untuk merayakan pembukaan dari 1000 waralabanya pada 1983, Monaghan menghidupkan mimpi seumur hidupnya dengan membeli klub bisbol Detroit Tigers seharga $35 juta. Pada tahun-tahun setelahnya, Tigers memenangkan seri Dunia.

    Pertumbuhan Domino’s yang mengagumkan berlanjut hingga setengah tahun selanjutnya di tahun 1980, dan pada 1989 perusahaan meledak hampir menjadi 5000 toko di Amerika Serikat dan 260 di negara-negara lainnya. Di tahun yang sama, Monaghan mengejutkan dunia bisnis dengan menyerahkan jabatan presidennya di Domino untuk lebih menghabiskan waktu di kegiatan amal Katolik.

    Ia menjabat sebagai ketua dan CEO hingga 1998, ketika ia sekali lagi mengejutkan industri dengan mengumumkan pensiunnya dan menjual 93 persen sahamnya di Domino’s kepada firma investasi Bain Capital yang berbasis di Boston untuk sejumlah kira-kira $1 juta.

    Semenjak pensiun, Monaghan menjadi lebih aktif di Gereja Katolik, memberikan waktu dan uangnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan amal seperti membangun gereja-gereja dan misi-misi di Honduras dan Nikaragua, dan mendirikan sekolah hukum Katolik.

    Untuk Domino’s, semuanya berjalan baik tanpa pendirinya. Pada 1999, itu meledak hingga 6200 toko pada lebih dari 60 negara, dan adalah perusahaan pesan antar pizza nomor 1 di dunia dan rantai usaha pizza nomor 2 di antara semuanya.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

  2. Berry Gordy Ketika Berry Gordy mendirikan sebuah label rekaman independen kecil pada 1959 dalam dua bangunan kokoh di West Grand Boulevard, Detroit, ia tidak berpikir sama sekali bahwa dengan menulis dan memproduseri sendiri musiknya akan menimbulkan sebuah revolusi musikal. Sepanjang 1950an dan di akhir 1960an, industri musik dengan jelas terbagi dalam garis rasial. Jazz, blues, R&B, soul dan yang lain yang disebut "black music" hanya dimainkan di stasiun-stasiun radio "black". Tetapi Gordy ingin merubah semua itu. Style musiknya yang unik, yang ia sebut "the Sound of Young America"-lah yang pertama mendobrak batas rasial. Sebagai tambahan dari menghimpun penerimaan nasional akan black music dan pengakuan yang layak diterima dari para penyanyi dan pemusik di belakangnya, "suara Motown" Gordy memberi kelahiran untuk bisnis kulit hitam terbesar dan tersukses di Amerika.

    Bertumbuh di Lower East Side Detroit, dua kecintaan terbesar Gordy adalah bertinju dan jazz. Ketika ia lulus dari Northeastern High School di tahun 1948, awalnya Gordy telah siap untuk mulai bertinju. Tetapi setelah memenangkan 15 Golden Gloves, karirnya sebagai seorang petinju terhenti ketika ia terdaftar untuk bertempur pada konflik Korea. Setelah perang, Gordy sudah terlalu tua untuk melanjutkan bertinju, maka ia berpaling kepada cintanya yang lain, membuka sebuah toko rekaman musik khusus musik jazz. Sayangnya, Gordy gagal memperhatikan bahwa para kaum kulit hitam di Detroit khususnya tidak tertarik pada jazz. Mereka ingin mendengar rock ‘n’ roll. 3-D Record Mart milik Gordy bangkrut setelah bertahan hanya selama dua tahun.

    Setelah kegagalan awal ini, Gordy sebenarnya tak berkeinginan menerima sebuah pekerjaan di Ford Motor Co., memasang kain pelapis di otomobil Lincoln. Tetapi ia tidak menyerah begitu saja akan mimpinya berkarir di musik. Ia mulai mendengar rock ‘n’ roll dan mulai menulis beberapa lagu dengan style tersebut, yang ia coba jual kepada para penyanyi lokal dan label-label musik. Ia mendapatkan beberapa kesuksesan, tetapi gebrakannya datang ketik ia menarik perhatian penyanyi Jackie Wilson, yang merekam "Reet Petite" karya Gordy dan yang legendaris "Lonely Teardrops." Baik kedua lagu itu menjadi hits instan, dan berdasarkan kesuksesan mereka, Gordy keluar dari pekerjaan $85 per minggunya di Ford dan muncul sebagai produser independen.

    Tetapi meskipun dengan dua lagu hit di ikat pinggangnya, Gordy masih sangat jauh dari kesuksesan finansial. "Sebagai penulis, saya memiliki masalah mendapatkan uang sewaktu saya membutuhkannya," jelasnya. "Saya bangkrut meskipun memiliki rekaman-rekaman hit." Dalam satu kasus, sebuah penerbit New York menolak untuk membayar Gordy. Dinasihati bahwa biaya untuk menuntut penerbit tersebut akan menghabiskan lebih banyak uang daripada royalti yang didapatkan jika menang, Gordy memutuskan untuk membiarkan kehilangannya. Tetapi insiden tersebut mengajarinya sebuah pelajaran penting mengenai industri musik: Jika Anda tidak memiliki kendali, Anda tidak memiliki kuasa.

    Untuk memiliki kendali yang ia butuhkan, Gordy memutuskan untuk memulai perusahaan rekamannya sendiri. Meminjam $800 dari keluarganya, ia mendirikan Hitsville USA pada 1959. Hit besar pertama dari label muda yang siap bersinar ini adalah "Way Over There" oleh William "Smokey" Robinson – seorang penyanyi remaja yang Gordy temukan di pojok jalan. Di bawah pengarahan Gordy, Robinson dan grup-nya, the Miracles, dengan cepat menjadi sebuah sensasi, menarik performer hitam muda lainnya ke perusahaan rekaman berusia muda tersebut. Dalam tiga tahun, para performer Gordy yang stabil bertumbuh termasuk sejumlah pencapai puncak chart, seperti Mary Wells, the Marvelettes, Marvin Gaye, the Contours, the Prime (yang Gordy ubah namanya menjadi Temptations), dan bocah buta berusia 9 tahun bernama Stevie Morris-yang lebih dikenal sebagai Stevie Wonder. Pada 1960, Gordy telah memproduksi tidak kurang dari 5 rekaman hit dan mengubah nama perusahaannya menjadi Motown, sebuah singkatan dari julukan Detroit, Motor Town.

    Diana RossMenyusuri klub-klub malam dan setiap sudut jalanan dari Detroit, Gordy menemukan masukan talenta tak terbatas, para performer hitam muda, termasuk The Four Tops, Diana Ross and the Supremes, dan Martha Vandella and the Spinners, semuanya yang dengan cepat ia ajak tanda tangan kerjasama dengan Motown Records. Pada 1966, tiga dari empat yang dirilis Motown menjadi hit single di top chart. Perusahaan tersebut sangat sukses hingga Gordy membuka Tamla-Motown Records di London pada 1965. Hits-hits tersebut berlanjut tanpa sengaja, dan Motown pun berlanjut dengan mendominasi chart-chart pop sepanjang 1960an.

    Pada 1970an membawa serangkaian perubahan pada Motown, tidak semuanya menjadi lebih baik. Gordy memindahkan operasi-operasinya dari Detroit ke jantung dunia hiburan – Hollywood. Gordy mencabangkannya, mendirikan sebuah divisi perfilman yang film pertamanya, "Lady Sings the Blues," sebuah biografi dari legenda blues Billie Holiday yang dibintangi Diana Ross, yang mendapatkan sukses baik komersil maupun kritik. Gordy juga membuatg rencana untuk memproduksi show-show Broadway, spesial televisi dan film-film televisi. Pada 1973, Gordy resign sebagai presiden dari Motown Records untuk mengepalai Motown Industries, payung perusahaan besar yang mengawasi semua anak perusahaannya. Tetapi sebagaimana Gordy mencapai sukses dari usaha-usahanya, Motown Records mulai kehilangan pegangan dalam chart-chart pop sebagaimana kebanyakan bintang-bintang besar labelnya mulai meninggalkan berpindah ke perusahaan lain dan talenta-talenta baru tampaknya kurang memiliki "khas" Motown yang karenanya Motown dikenal. Dalam waktu dekat, tidak ada lagi hits yang muncul.

    Pada 1988, Gordy menjual Motown kepada MCA dan grup investasi Boston Ventures untuk $61 juta. Di tahun yang sama, ia masuk dalam Rock and Roll Hall of Fame. Sekarang, Gordy dikenal aktif dalam industri hiburan, menulis lagu-lagu, memproduksi rekaman-rekaman dan bekerja dengan Motown Historical Museum yang baru saja berdiri di Detroit.

    Berry GordyMeskipun Motown tidak lagi mendominasi chart-chart sebagaimana dahulunya, dampak Gordy dalam industri musik tidak bisa berlebihan. Sound Motown telah mempengaruhi semuanya dimulai dari the Beatles dan the Rolling Stones hingga pencapai puncak chart sekarang seperti Janet Jackson dan Paula Abdul. Seorang pionir sejati, Gordy membentuk tidak lebih dari era putaran rock ‘n’ roll mengagumkan dari para artis, pemusik, penulis lagi dan produser, dan dalam mengejar mimpinya, ia telah membawakan dua ras bersama dalam satu musik.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

Powered by ExtJS Theme flavored Wordpress.