Loading...
Archive for June 29th, 2009
  1. Thomas Watson Ketika Thomas Watson Jr. memegang kendali atas IBM dari ayahnya, ia memiliki banyak sepatu yang harus diisi. Setelah semuanya itu, Watson senior telah mendirikan IBM dari perusahaan pembuat jam dan tabulator punch-card menjadi perusahaan raksasa. Meragukan kemampuan diri sendiri, penerus tahta IBM ini pernah meratap kepada ibunya, "Saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak bisa bekerja untuk IBM." Tetapi sebenarnya ia tidak hanya meneruskan ayahnya, tetapi bahkan mengunggulinya. Ia dengan berani membawa IBM – dan dunia – ke dalam era komputer, menciptakan sebuah perusahaan yang memiliki penjualan luar biasa dan pelayanan mantak budaya jas hitam yang berdiri atas semua yang baik… dan buruk… mengenai korporat Amerika.

    Thomas Watson Jr. lahir pada tahun 1914, di tahun yang sama ketika ayahnya ditunjuk sebagai manajer dari Computing-Tabulating-Recording Co. (CTR). Pada 1924, Watson Sr. menjadi CEO dan merubah nama perusahaan tersebut menjadi International Business Machines (IBM). Dikarenakan posisi ayahnya, Thomas Jr. memiliki pendidikan yang sangat istimewa, bersekolah di sekolah swasta, berkeliling dunia dan menikmati keuntungan dari kemakmuran keluarga. Ini justru akan membuktikan lebih sebagai sebuah rintangan dan bukannya keuntungan bagi pria muda bermasalah tersebut.

    Watson Sr. adalah pribadi yang kaku dan sulit memaafkan, dan memiliki ekspetasi tinggi tak beralasan putranya – harapan-harapan yang Watson Jr. kerap rasakan bahwa ia tidak dapat melakukannya. Tentu saja, pada awalnya terlihat jelas bahwa ia tidak bisa disamakan dengan ayahnya, tidak juga sebagai penerus yang kompeten. Seorang murid gagal yang abadi, "Terrible Tom," sebagaimana teman-teman sekelasnya dan instrukturnya memanggil dirinya, menghembuskan frustrasinya dengan berseloroh berlebihan dan melawan otoritas. Itu memerlukan enam tahun dan tiga sekolah untuk melewati masa sekolah menengah atas, dan kampus tidaklah lebih baik. Pada Brown University, ia menghabiskan kebanyakan dari waktunya dengan bermain, dan hanya lulus dikarenakan intervensi seorang dekan yang simpati padanya.

    Setelah kuliah, Watson terdaftar pada sekolah penjualan IBM, tetapi tidaklah juga cukup baik padanya. "Masa tiga tahun saya sebagai salesman adalah masa meragukan diri sendiri yang menyakitkan," tulisnya dalam otobiografinya Father, Son & Co.: My Life at IBM and Beyond. Dan Watson memiliki alasan bagus untuk merasa seperti itu. Ia tidak pernah yakin apa yang ia telah capai karena dirinya sendiri dan apa yang telah direncanakan untuk memberi ‘bumbu’ berita bagus bagi ayahnya, sebagaimana kepala dari kelas training penjualannya membereskannya hingga ia bisa terpilih sebagai presidennya. "Buruknya bagi saya," Watson mengingat, "Saya kekurangan kekuatan karakter untuk mengatakan ‘Saya tidak akan memiliki ini.’"

    Tetapi Perang Dunia II mengubah itu semua. Sebagai ajudan dan pilot bagi Mayor Jenderal Follett Bradley, jenderal inspektur Tentara Angkatan Udara, Watson terbang hingga Asia, Afrika, dan Pasifik, menunjukkan syaraf mentah, pandangan visioner dan kemampuan perencanaan yang cerdas. Sebagai hasil dari pengalaman-pengalamannya, ia kembali dari perang dan berpikir semakin yakin untuk pertama kalinya bahwa ia mungkin berkemampuan menjalankan IBM.

    Ayahnya, bagaimanapun, tidaklah terlalu percaya diri. Watson Jr. telah sangat tidak mengesankan dirinya sebelum masa perang yang artinya itu adalah sulit bagi Watson senior untuk menerima bahwa ia telah berubah. Dan tidak hanya juga ia telah berubah, ia juga telah kembali ke IBM dengan sebuah perspektif baru. Ia dengan cepat menyadari bahwa masa depan IBM terletak pada komputer-komputer, tidak pada teknologi yang telah ketinggalan jaman seperti tabulator-tabulator, dimana adalah barang dagang perusahaan. Kebanyakan orang, termasuk ayahnya, menolak untuk mempercayai bahwa produk inti perusahaan secepatnya akan menjadi kuno.

    Thomas Watson – IBMMeskipun begitu, ketika Watson menjadi presiden IBM pada 1952, ia mengikuti visinya, merekrut para ahli elektronik, seperti pionir komputer John von Neumann, yang bertanggung-jawab untuk menciptakan komputer-komputer IBM pertama yang sukses, seri 700 dan seri 650. Pada 1963, IBM telah meraup memimpin dari 8-sampai-1 penghasilan atas Sperry Rand, competitor terdekatnya dan pencipta Univac – komputer komersial terbesar pertama.

    Dengan IBM yang sudah jelas berada di puncak, Watson mengambil resiko terbesar dalam karirnya. Ia mengajukan untuk menghabiskan lebih dari $5 milayar untuk mengembangkan sebuah standar baru komputer-komputer yang akan menjadikan mesin-mesin perusahaan yang telah ada menjadi kuno. Visinya adalah untuk menggantikan unit-unit spesial dengan komputer-komputer kompatibel bernama System/360 yang dapat mengisi setiap data-processing dan dinaikkan sebagaimana kebutuhan-kebutuhan mereka bertambah, tanpa memiliki untuk mengesampingkan software mereka yang sudah ada.

    Itu adalah strategi yang sangat jelas yang hampir gagal karena masalah software menciptakan delay pengiriman. Watson menugaskan 2000 teknisi untuk bekerja memecahkan masalah software tersebut. Meskipun mesin yang pertama masih lambat, mereka menjadi lebih baik sebagaimana terus-menerus dibangun. Pada 1966, program software yang ber-delay lama dikirimkan, dan System/360, yang pada akhirnya akan merevolusi industri komputer, terbukti menjadi sukses fenomenal. IBM menginstal dasar untuk komputer-komputer ‘skyrocketed’ dari 11.000 pada 1964 hingga 35.000 pada 1970, dan perolehannya lebih dari dua kali lipa menjadi $7.5 milyar.

    Thomas WatsonPada 1971, tahun-tahun akan masa kerja keras dan stress menghinggapi Watson, dan ia pernah mengalami serangan jantung yang nyaris fatal. Selagi memulihkan kesehatan, ia memutuskan untuk pensiun. "Saya ingin hidup lebih lama dibandingkan saya ingin untuk menjalankan IBM," ia menjelaskan dalam buku Father, Son & Company. "Itu adalah sebuah pilihan yang tidak pernah ayah saya lakukan, tetapi saya pikir ia akan menghargainya." Setelah masa pensiunnya, Watson mengejar ketertarikannya yang lain akan berlayar dan terbang, dan bahkan melayani sebagai duta bagi USSR di bawah Presiden Jimmy Carter. Pada Desember 1993, pria yang majalah Fortune puji sebagai "kapitalis terbesar yang pernah hidup," meninggal karena komplikasi diikuti dengan stroke.

    Di bawah Thomas Watson Jr., IBM sepenuhnya mendominasi industri komputer yang akhirnya meninggalkan kompetitor-kompetitor seperti Sperry Rand yang terpukul karena kebangkitan IBM. Dan meskipun pendatang-pendatang baru seperti Compaq dan Microsoft nyaris membawa IBM bertekuk di lutut mereka pada masa 1980an, sebagaimana millennium baru berganti, patung raksasa yang Watson wariskan dan kuat pada tahun 1950an dan 1960an berdiri tegak sebagai perusahaan keenam terbesar di Amerika Serikat.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

  2. Ogilvy Berkacamata mengenakan "Man in the Hathaway Shirt." Kolonel Whitehead dan "Schweppervescence." Wagon bakery The Pepperidge Farm. Semuanya telah menjadi ikon-ikon periklanan. Dan semuanya berasal dari pikiran David Ogilvy. Salah seorang bapak pendiri dari periklanan modern, Ogilvy menghabiskan masa hidupnya ‘mengkhotbahkan’ keuntungan-keuntungan dari riset; kopi iklan panjang yang informatif, dan juga, keuntungan-keuntungan. Keyakinan dasarnya bahwa "konsumen tidaklah bodoh" menolong memulai revolusi kreatif pada era 1960an yang mengubah pandangan dari periklanan Amerika.

    Lahir pada West Horsley, Inggris, pada Juni 1991, Ogilvy mengambil rute yang cukup berputar dalam jalan menjadi legenda periklanan. Setelah mengalami gagal di Oxford pada 1931, ia pergi ke Paris untuk mengambil sebuah pekerjaan sebagai koki magang di Hotel Majestic. Monsieur Pitard, kepala koki, memberi kesan abadi kepada Ogilvy dan menolong membentuk prinsip-prinsipnya akan manajemen ketika ia memecat koki yunior yang tidak bisa membuat roti yang layak. Saya terkejut dengan sikap jahat itu, "Ogilvy mengingat dalam bukunya, Confessions of an Advertising Man, "tetapi itu membuat koki-koki lainnya merasakan bahwa mereka bekerja dalam dapur terbaik di dunia."

    Kembali ke Inggris setahun kemudian, Ogilvy mencari uang bagi dirinya sendiri dengan menjual kompor door to door. Ia begitu sukses sehingga majikannya meminta kepadanya untuk menulis sebuah manual instruksi bagi sesama penjual. Manual tersebut, bersama dengan campur tangan dari abangnya, Francis, menolong Ogilvy memenangkan sebuah pekerjaan copywriting di agensi periklanan London Mather & Crowley, dimana Francis sebagai eksekutif. Periklanan menjadi sebuah gairah yang paling menghabiskan banyak waktu Ogilvy. "Saya cinta periklanan," tulisnya. Saya melahapnya. Saya belajar dan membacanya dan menjadikannya sebagai sesuatu yang sangat serius." Dedikasi Ogilvy dengan cepat terbayar. Mather & Crowley mempromosikan dirinya sebagai account executive. Tetapi Ogilvy menaruh matanya pada padang rumput yang lebih hijau.

    Terdaftar untuk belajar teknik periklanan Amerika, Ogilvy meyakinkan Mather & Crowley untuk mengirimnya ke Amerika Serikat pada 1938. Ia menjadi terkagum dengan Amerika dan orang-orang Amerika itu sendiri, dan di akhir 1939, ia resign dari Mather & Crowley untuk mengambil sebuah posisi dengan guru riset George Gallup. Ogilvy selanjutnya menyebut ini sebagai "putusan paling beruntung dalam hidup saya," dan mengutip Gallup sebagai salah satu pengaruh paling besar dalam pemikirannya. Metode-metode riset sangat teliti Gallup dan setia pada realitas adalah fondasi dari apa yang disebut "pendekatan Ogilvy pada periklanan."

    David OgilvySepanjang Perang Dunia II, Ogilvy bekerja untuk British Intelligence di Amerika Serikat, mengumpulkan intelijen-intelijen ekonomik di Amerika Latin, dan ia selanjutnya melayani sebagai sekretaris kedua di Kedutaan Inggris Raya. Setelah pengerahan keluar pada 1945, Ogilvy dan istrinya pindah ke sebuah pertanian di wilayah Amish di Lancaster County, Pennsylvania. Ogilvy telah jatuh cinta dengan area tersebut selagi dalam perjalanan bersepeda. Lalu Ogilvy ‘menaruh’ tangannya pada pertanian tembakau, tetapi menemukan itu "fisik dan ekonomis mustahil untuk sukses." Dan pada 1948, dengan backingan dari mantan atasannya, Mather & Crowley, Ogilvy menaruh dasar untuk agensi periklanan yang akhirnya ternyata menjadi dikenal sebagai Ogilvy & Mather.

    Dari awalnya, Ogilvy mengelak penjualan cepat, gaya periklanan yang keras menjual yang adalah standar masa itu baik untuk jangka panjang lebih, pendekatan penjualan yang lembut. Strategi Ogilvy berfokus pada pembangunan kesadaran akan nama brand, dan juga copy yang panjang, informatif, orientasi keuntungan dan orang atau simbol yang eye-catching. Kesuksesan terbesar pertamanya berasal dari sebuah kampanye yang ia ciptakan untuk perusahaan clothing kecil dari Maine bernama Hathaway.

    Kopi iklan Ogilvy untuk iklan pertamanya bercampur dengan literatur yang memikat intelijensia pembaca. Tetapi itu juga karena fotograf yang menemani yang menggerakkan kampanye tersebut menjadi sejarah periklanan. Dengan tingkahnya, Ogilvy memutuskan untuk memfoto model prianya mengenakan kaos Hathaway – dan eye patch. Ketika "The Man in the Hathaway Shirt" muncul untuk pertama kalinya di majalah The New Yorker pada September 1951, itu menimbulkan sensasi instant. Perusahaan pun berhadapan dengan banyak permintaan akan kaos tersebut.

    David OgilvyReputasi Ogilvy sebagai master image dan brand recognition semakin meningkat ketika ia mengambil alih penggarapan Schweppes, produsen air obat kuat asal Inggris yang berjuang menjejakkan kaki di Amerika. Ia mendesain sebuah kampanye iklan cetak seputar Kolonel Edward Whitehead yang berjenggot, kepala operasi Schweppes asal Inggris di Amerika. Selama lima tahun, Schweppes telah menjual lebih dari 30 juta botol setiap tahunnya.

    Apa yang menjadikan pekerjaan dari Ogilvy & Mather begitu memukau adalah desakan Ogilvy bahwa iklan-iklan cetak tidak hanya menaruh nama klien, atau nama brand, di setiap headline-nya, tetapi menjanjikan sebuah keuntungan… mengirimkan berita-berita… menawarkan pelayanan… mengutip kustomer yang puas… menyadari masalah yang ada… atau mengatakan sebuah kisah yang signifikan." Sebuah contoh sempurna dari headline klasik Ogilvy salah satunya yang ia tulis pada 1958 untuk Rolls-Royce: " Pada kecepatan 60 mil per jam, suara bising yang terdengar dari Rolls-Royce baru ini hanyalah suara jam elektrik." Kampanye ini menolong melipat-gandakan penjualan perusahaan Amerika tersebut dalam satu tahun.

    Sepanjang 1960 dan akhir 1970an, Ogilvy & Mather meraih sukses luar biasa dari gelombang pekerjaan yang tidak hanya menghimpun penjualan-penjualan bagi klien-kliennya. Tetapi juga kekaguman dari industri dan menerima sejumlah penghargaan. Ogilvy menjadi sebuah icon bagi orang-orang agensi periklanan, yang terbebaskan dalam revolusi kreatif pasca perang yang ia percikkan. Seiring waktu Ogilvy melangkah sebagai direktur kreatif Ogilvy & Mather pada 1975, yang adalah agensi periklanan terbesar kelima di dunia.

    David OgilvySekarang, David Ogilvy dipandang banyak orang dalam industri sebagai pengiklan berpengaruh pada abad 20. Ide-ide periklanannya telah menjadi icon-icon, tulisan-tulisan dan bukunya, adalah kitab yang menyusun apa yang menjadi iklan yang buruk dan baik. Tetapi warisan terbesarnya, satu-satunya yang sebenarnya membentuk wajah periklanan modern, adalah pendekatan pada periklanan bahwa konsumen adalah pembeli yang pintar.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

Powered by ExtJS Theme flavored Wordpress.