Tak ada lagi filmmaker di abad 20 ini yang memiliki dampak luar biasa dalam industri film dibandingkan George Lucas. Semangatnya akan berinovasi menempa hubungan baru akan hiburan dengan teknologi yang merevolusi seni motion pictures. Bisnisnya yang cerdas dan tak lazim mengubah lisensi perfilman dan menjadikannya merchandise hingga menjadi industri jutaan dolar. Dan trilogy "Star Wars"-nya menyambut dalam era mega-blockbuster Hollywood.
Lucas lahir di Modesto, California pada 14 Mei 1944. Sebagai seorang beranjak dewasa yang, ia katakan, "hampir ciut karena sekolah menengah atas," Lucas berkeinginan untuk menjadi pembalap otomotif. Ia mengubah pikirannya mengenai karir balapannya, bagaimanapun, ketika kecelakaan hampir fatal menghantam paru-parunya dan mengirimkan dirinya ke rumah sakit selama tiga bulan hanya beberapa hari sebelum kelulusan sekolah menengah atasnya. Pengalaman itu merubah Lucas. "Saya menyadari bahwa menghidupi hidup saya begitu dekat dengan ujungnya dalam waktu begitu lama," ujarnya. "Itulah ketika saya memutuskan untuk tetap maju, menjadi murid yang lebih baik, untuk mencoba sesuatu dengan diri saya sendiri."
Lucas terdaftar pada Modesto Junior College, dimana ia mengembangkan pesona yang luar biasa akan bakat sinematografi-nya. Memutuskan untuk berkarir di film, ia mendaftar pada sekolah film University of Southern California (USC) yang prestisius. USC adalah batu loncatan bagi Lucas. "Tiba-tiba saja hidup saya adalah film film film dan film – setiap saya bangun," ujarnya dalam wawancara dengan Playboy pada tahun 1997. Ia berkonsentrasi dalam membuat film-film sains fiksi abstrak dan dokumenter-dokumenter ejekan, yang menarik perhatian sutradara Francis Ford Coppola, yang mengundang Lucas untuk duduk sewaktu syuting "Finian’s Rainbow." Coppola juga merangkul Warner Bros untuk membuat salah satu film kuliah Lucas. Durasi penuh, "THX-1138," berisikan dongeng Orwellian yang suram dirilis pada 1971 untuk review-review sopan dan penerimaan hangat pada box office. Tetapi eksekutif-eksekutif studio terpesona dengan talenta Lucas yang sangat jelas.
"THX-1138" telah memberi Lucas sebuah reputasi sebagai filmmaker yang berkeahlian tinggi tetapi mekanis menghindari humor dan perasaan. Film keduanya, "American Graffiti," yang berdasarkan masa ia selama berada di Modesto, akan mengubah itu. Difilmkan dengan budget seadanya hanya dengan $780.000, film tersebut dengan cepat menjadi hit semenjak perilisannya pada Juni 1973 dan ternyata akhirnya menghimpun $120 juta.
Film tersebut mendapatkan review-review yang hangat dan menjadikan Lucas sebagai sensasi Hollywood. Itu juga membuktikan momen menentukan bagi Lucas, baik sebagai pembuat film dan pebisnis. Orang-orang yang berwenang di studio memukul peringkat dan membuat perubahan pada versi akhir Lucas. Perubahan yang ada memang minim, tetapi luka-lukanya tahan lama. "Saya sangat waspada sebagai orang kreatif yang mengendalikan makna kontrol produksi atas visi kreatif," ujarnya. "Bukanlah sebuah masalah seseorang berkata "Anda harus membiarkan saya memiliki potongan akhirnya," karena tak peduli apapun yang orang lakukan dalam kontrak, mereka akan tetap melakukannya. Walaupun jika Anda yang memiliki kamera dan Anda memiliki film tersebut, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan Anda." Dan itulah apa yang Lucas tetapkan untuk lakukan.
Ketika bernegosiasi dengan 20th Century Fox pada tahun 1975 untuk filmnya yang selanjutnya, "Star Wars," Lucas memotong bayarannya sebagai sutradara sebanyak $500.000 untuk menukarkan dengan hal-hal yang dianggap Fox sesuatu yang nyaris tak berguna: kepemilikan atas merchandising film dan semua hak-hak sekuel. Itu menjadi sebuah gerakan yang brilian, suatu yang memastikan Lucas sebuah independensi sejati dan kontrol kreatif yang selama ini ia cari. "Star Wars" memecahkan semua record box office, memberikan Lucas sekitar $40 juta untuk perilisan awalnya – merchandising selanjutnya memberikan dirinya puluhan juta seterusnya. Yang paling penting, Lucas memiliki sekuel-sekuelnya, dan juga sebuah waralaba. Untuk memaksimalkan nilainya, ia membiayai sekuel pertamanya, "The Empire Strikes Back," dirinya sendiri, meminjam sangat banyak untuk menutupi biaya produksi sekitar $30 juta. Berdasarkan dari kesuksesan "Star Wars," itu adalah taruhan yang bagus, tetapi juga resiko besar – jika film tersebut meledak, Lucas akan menjadi bangkrut. "Empire" berjalan sangat baik, bagaimanapun, sama dengan film ketiga dalam trilogy, "Return of the Jedi," yang juga Lucas biayai.
George LucasLucas menambahkan lebih banyak lagi kekayaannya pada 1980an dengan memproduksi tiga film Indiana Jones, dimana ia menghasilkan lebih dari $100 juta. Lalu, di puncak dari permainannya, ia sebagian besar meninggalkan pembuatan film dan mencurahkan kekayaannya pada eksperimen-eksperimen digital yang, ia rasa benar, akan mentransformasi bisnis perfilman.
Fokus utamanya adalah Industrial Light & Magic (ILM), yang ia bangun pada 1975 ketika ia tidak bisa mencari sebuah perusahaan luar untuk melakukan efek-efek spesial untuk "Star Wars." Gebrakan pertaman ILM adalah sebuah kamera motion-control, dimana bisa berputar berulang-ulang mengelilingi obyek yang tak bergerak selagi mengambil fokus tetap, juga simulasi penerbangan. Untuk menghimpun uang, Lucas mengalihkan ILM menjadi sebuah perusahaan jasa. Menciptakan sebuah pasar bagi film-film yang memuat efek-efek spesial, ia mulai mengambil pekerjaan dari para pembuat film lainnya. Dengan cara ini ia bisa menjaga mengembangkan teknik-teknik selagi orang lain membiayai risetnya.
Mengenakan biaya hingga $25 juta per film, ILM dengan cepat menjadi sesuatu yang menguntungkan, menyediakan efek-efek spesial untuk film-film blockbuster seperti "Jurassic Park" dan "Twister." Lucas menyalurkan keuntungan-keuntungan ILM ke dalam bisnis-bisnis yang berasal dari risetnya. Skywalker Sound muncul menjadi perusahaan teratas dalam industri audio pasca-produksi, lalu bercabang lagi untuk menyediakan sebuah sound system digital untuk bioskop-bioskop dan rumah-rumah di bawah nama THX (sebagai penghormatan dalam film pertamanya). Dan dengan berdirinya LucasArts Entertainment, Lucas pindah ke video games, memproduksi produk-produk top-seller seperti yang terinspirasi Star Wars: Rebel Assault, X-Wing dan Dark Forces.
George Lucas – Star WarsPada pertengahan 1990an, Lucas memutuskan untuk kembali dalam pembuatan film dan mulai bekerja menciptakan skrip untuk prekuel Star Wars, "Star Wars: Episode I, The Phantom Menace." Untuk menciptakan desas-desus untuk film terbaru tersebut, ia masuk dalam strategi marketing yang terencana dengan baik. Pada 1997, ia merilis ulang trilogi "Star Wars" sebagai edisi spesial, yang mencetak $475 juta dalam box office. Popularitas besar dari film-film tersebut membangun audiens baru untuk "The Phantom Menace." Sama pentingnya, itu menyediakan Lucas sejumlah $115 juta yang ia butuhkan untuk membiayai produksi, menjamin ia baik untuk kontrol kreatif dan keuntungan-keuntungan yang lebih besar. Lagi, itu juga adalah sebuah taruhan. Tetapi lagi, itu terbayar impas.
Dirilis pada 19 Mei 1999, film ini mematahkan semua record box office, diawali dengan perkiraan $42 juta pada hari pembukaannya. Pada September, itu telah menjadi film dengan pendapatan kotor terbesar di musim panas, mencapai $419,9 juta, lebih dari dua kali lipatnya sama banyaknya dengan pesaing terdekat.
Kesuksesan dari "The Phantom Menace" dengan tegas mengukuhkan Lucas sebagai salah seorang yang paling kuat – dan menguntungkan – di Hollywood. Tetapi pria yang mengaku workaholic ini tidak langsung beristirahat dalam kemenangan-kemenangannya. Berencana untuk "Star Wars" Episodes II and III yang sudah ada di meja, begitu juga rencana-rencana untuk film keempat Indiana Jones.
Selama hampir 30 tahun sebagai filmmaker, George Lucas telah meningkatkan seni dari motion pictures dengan mengambil resiko-resiko dan melanjutkan membuka amplop. Ia telah merubah cara Hollywood membuat film-film dengan men-setting standar untuk bisa jadi seperti apa film komersial modern. Dan itu belum berakhir, Jedi muda.
Ibu satu anak berusia 30 tahun ini mendirikan Parental Advisory Baby Clothing, sebuah distro baju anak. Desainnya tak biasa. Misalnya, t-shirt bertuliskan: Kill Sinetron-Kids Against Television, Where’s My F*ckin’ Milk, atau gambar gajah dan tulisan: It’s an elephant not a penis. Menyeramkan? Ya. Tapi, Monique punya misi lain di balik desain yang ia gagas.
Kapan bikin Parental Advisory Baby Clothing (PABC)?
Sekitar akhir 2006. Ide awalnya sih karena saya enggak menemukan distro anak yang sesuai selera. Tahun-tahun itu di Bandung banyak distro buka, tapi 90 persen cuma menjual produk untuk remaja dan dewasa, enggak ada produk buat anak. Saya juga enggak begitu tertarik dengan baju anak yang kebanyakan ada.
Nah, kebetulan waktu itu saya baru saja melahirkan. Akhirnya terpikir membuat baju anak. Itu pun tadinya cuma buat anak sendiri atau buat anak teman-teman.
Punya latar belakang desain?
Enggak. Saya lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, Bandung. Jadi, saya masuk bisnis pakaian ini ya ibaratnya terjun bebas saja. Selain karena soal selera, saya juga melihat ada peluang di situ. Ya sudah, jalan deh.
Kenapa memilih nama PABC?
Karena dari awal, idenya ingin membuat baju anak yang agak nyeleneh. Selain itu, ada misi yang ingin saya sampaikan. Kalau melihat desain atau kata-katanya, baju-baju PABC kata orang terlalu kasar untuk anak-anak. Padahal, justru sebetulnya saya ingin supaya orangtua yang membeli baju buat anaknya bisa menjelaskan maksudnya ke anak. Anak dapat bimbingan (parental advisory). Jadi, bukan hanya bikin tanpa ada makna apa-apa di balik desain. Rata-rata, desain atau kata-kata PABC ada sejarahnya.
Misalnya?
Contohnya t-shirt bertuliskan Kill Sinetron; Kids Against Television. Itu karena menurut saya, anak sekarang enggak bisa hidup tanpa televisi. Sementara acara buat anak-anak di televisi kita sekarang ini kayaknya enggak ada edukasinya, enggak ada yang pas. Baru sekarang ada "Si Bolang" atau "Laptop Si Unyil" lumayanlah. Sebelum-sebelumnya kan sinetron melulu. Hampir di semua stasiun televisi ada sinetron, dari pagi sampai malam. Jadi, kapan jam-jam anak bisa nonton?
Celakanya kalau orang tua juga suka sinetron. Supaya anaknya diam, anak diajak nongkrong di depan televisi, nonton sinetron. Yang ada anak mengikuti adegan di sinetron. Orang marah-marah, memaki-maki enggak jelas. Itu kan membunuh karakter anak.
Contoh lain?
Ada t-shirt tulisannya Where’s My F*ckin’ Milk? Lumayan laku. Penjualannya bagus terus meski sudah beberapa produksi ulang (repeat). Misi tulisan di desain itu adalah supaya ibu-ibu muda mau memberi ASI eksklusif minimal 6 bulan ke anaknya. Syukur-syukur 2 tahun. Soalnya ada kecenderungan, orang sekarang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang hak anak. Nah, minum ASI itu hak anak. Ada kekhawatiran yang enggak perlu, seperti, "Aduh kalau saya nyusuin, bentuk badan jadi berubah", "Saya enggak punya waktu nyusuin karena harus kerja," dan sebagainya yang buat saya sangat tidak masuk akal.
Anda sendiri memberi ASI ke putri Anda?
Saya termasuk yang kurang beruntung enggak bisa memberi ASI eksklusif ke anak saya, Magia Calluella Chaszta Az-Zurra (2,8). Waktu itu habis melahirkan, saya harus menjalani operasi, masuk ICU 2 hari. Jadi, enggak bisa langsung kasih ASI. Setelah operasi, ASI jadi terhambat. Saya sudah coba bermacam cara, tapi enggak bisa keluar juga. Saya menyesal sekali. Bukan mau irit, tapi karena itu hak anak. Kalau saya bisa membayar, berapa pun saya akan bayar supaya saya bisa kasih ASI eksklusif ke anak saya. Tapi mungkin saya memang tidak beruntung, ya. Jadi, tolong kalau bisa memberi ASI eksklusif, kasihlah anak ASI eksklusif. Kalau bisa yang alami, kenapa harus kasih susu pabrikan?
Efektif enggak pesan-pesan itu disampaikan lewat desain t-shirt?
Cukup efektif karena desain sangat berbicara. Desain Kill Sinetron tadi misalnya, ternyata banyak orang tua yang memang enggak setuju dengan acara-acara yang ada di televisi.
Orang yang enggak mengerti bisa-bisa berkomentar, "Kok kalimatnya seperti itu?"
Makanya ada product knowledge. Jadi kalau ada konsumen, kami jelaskan satu-satu maksud kalimatnya apa. Pernah ada yang berkomentar, "Gila, ini apa-apaan sih maksudnya? Ya saya sih mencoba berpikir positif saja, menerima itu sebagai masukan. Tapi, rata-rata konsumen yang beli di sini adalah pelanggan tetap yang sudah enggak kaget lagi. Ada sih satu-dua orang yang bilang, "Oh, ternyata ada desain begini buat anak?" Ya kami jelaskan saja. Jadi, kami enggak sekadar jual tanpa makna atau misi.
Pendekatan ke pelanggan personal sekali, ya
Betul. Kami ajak pembeli ngobrol dan memberi pengertian. Tapi sejauh ini enggak ada yang komplain sampai ngotot yang gimana gitu. Kami malah banyak melakukan kerjasama, misalnya jadi sponsor acara anak-anak. Jadi, enggak cuma sekadar jualan.
Sekilas seperti kaus dewasa yang dipakai anak, ya?
Bisa jadi ada yang melihat begitu. Tapi anak sekarang lebih kritis, lho. Banyak pelanggan yang datang anaknya memilih sendiri. Karena saya punya anak, jadi saya tahu juga. Dan memang orang tua harus menjelaskan.
Siapa sih yang membuat desain dan kalimat-kalimatnya?
Saya dibantu teman saya, Phaerly. Karena saya enggak punya latar belakang desain, biasanya kalau ada ide di benak langsung eksekusinya saya serahkan ke dia. Saya bikin gambar gunung aja pakai penggaris ha-ha-ha. Paling kalau ada yang kurang saya kasih masukan.
Sekarang sudah ada berapa desain?
Lebih dari 60 desain. Mayoritas warnanya memang hitam, putih, dan abu-abu. Kami sengaja pilih warna-warna tua karena baju anak-anak sekarang kan kebanyakan warna-warna pastel. Kami ingin beda. Dan ternyata banyak yang bilang justru lebih menarik. Karena itu tadi, warna mainstream-nya kan warna-warna pastel yang colourfull. Kami juga pikirkan bahan dan sablon seperti apa yang yang nyaman buat anak-anak.
Model kausnya juga panjang. Kebanyakan baju anak kan pendek di bagian torsonya. Nah, saya sengaja modifikasi. Saya masih ingat kultur orang Timur, kalau bajunya pendek pusarnya jadi kelihatan. Saya lihat masih banyak kok orangtua yang enggak kepingin pusar anaknya kelihatan. Model memanjang kayaknya juga lebih enak daripada ngatung.
Selain kaus, apalagi yang dijual PABC?
Macam-macam, dari diapers bag, tas anak, topi, jaket, celana, sepatu, sandal. Pasarnya lumayan bagus kok. Omzet per bulan kalau sedang ramai bisa Rp 70 juta. Meskipun sekarang sudah mulai banyak brand lain. Di Bandung aja ada sekitar 5 brand yang konsepnya mirip-mirip PABC. Cuma enggak tahu ya, mungkin orang tahu PABC lebih awal, jadi mereka biasanya membandingkan sama produk-produk PABC. Tapi banyak saingan justru bagus karena kami jadi harus berpikir, bikin saya terpacu.
Rencana bisnis ke depannya seperti apa?
Yang jelas saya mau ekspansi. Banyak sih yang minta atau menawarkan kerja sama, cuma belum ada yang menawarkan display sendiri. PABC ini kan baju anak, kalau display-nya disatukan sama baju dewasa, susah. Enggak kelihatan. Apalagi warna-warna kami warna dewasa.
Soal anak, pola pendidikan seperti apa sih yang Anda terapkan?
Saya dan suami sangat terbuka ke anak. Hal-hal yang masih tabu buat sebagian orang, saya sampaikan ke anak. Contohnya pendidikan seks, sudah saya kenalkan ke Magia sejak dini. Jadi, ia sudah tahu lho, proses kelahiran dia, dia keluar dari mana, dia punya vagina, menstruasi itu apa, dan sebagainya. Tapi tentu disesuaikan dengan perkembangannya. Hal-hal kecil seperti ini menurut saya justru jadi starting point yang harus disampaikan sejak dini.
Sambil bisnis, enggak repot punya anak balita ?
Saya selalu mengajari Magia untuk mandiri. Jadi, saya hampir enggak pernah merasakan repotnya punya anak balita. Saya enggak pernah gendong dia, tidur sendiri, saya tinggal pergi juga enggak rewel. Paling-paling dia nanya, "Ibu mau ke mana? Oh, mau nyari duit ya? Buat beli susu ya?" Dari lahir sampai sekarang enggak pernah pakai pembantu atau baby sitter. Semua saya kerjakan sendiri. Dia juga enggak pernah nonton televisi, kecuali acara musik. Kalau musik, 2-3 jam dia betah. Kalau pas kebetulan lihat adegan sinetron, dia malah suka nanya, "Kenapa sih orangnya marah-marah? Memang siapa yang nakal, kok dimarahin?"
Memang cukup kreatif dan kontroversial juga usaha yang dikelola oleh ibu muda ini. Tetapi di balik kontroversialnya, ia membawa visi dari setiap product-nya. Dan itulah yang disukai dan dicari oleh konsumennya.
Ketika pendiri kedua Mattel, Ruth Handler, awalnya menawarkan agar perusahaan membuat boneka dewasa, staf marketing di Mattel menolak keras ide tersebut. Gadis-gadis kecil menyukai bermain dengan boneka-boneka bayi, klaim mereka. Dan mereka yakin bahwa wanita dewasa tak akan menginginkan anak-anak mereka bermain dengan boneka-boneka wanita dewasa. Tetapi dinamo rekan bisnis ini tidak menyerah begitu gampangnya. Memerlukan hampir tiga tahun bagi dirinya untuk meyakinkan perusahaan agar membuat boneka tersebut. Itu mungkin adalah keputusan terbaik yang akhirnya mereka lakukan. Barbie, begitulah Ruth berikan nama bagi boneka yang memiliki panjang 11,5 inch tersebut, menjadi hit besar, tidak hanya membuat Mattel sebuah pemimpin tak tergoyahkan dalam pembuatan boneka, tetapi juga menciptakan industri $1,9 milyar per tahunnya.
Perusahaan tersebut akhirnya menjadi salah satu pemimpin pembuat boneka di dunia dimulai dari sebuah bisnis garasi tak menguntungkan di El Segundo, California. Para pendiri aslinya, Harold Matson dan Elliot Handler, memberi nama perusahaan tersebut dengan nama "Mattel," menciptakan sebuah nama dengan mengkombinasikan dari awal dan akhir nama mereka. Produk pertama Mattel adalah bingkai-bingkai foto, tetapi Elliot mengembangkan sebuah bisnis pembuatan furnitur rumah boneka dari sisa potongan bingkai foto.
Mempercayai bahwa perusahaan sedang menukik jatuh, Matson menjual semuanya ke partnernya dan istrinya Handler, yakni Ruth, yang bergabung dengan suaminya sebagai sesama pendiri. Terdorong oleh kesuksesan mereka dalam bisnis furnitur boneka, kedua Handlers mengubah inti perusahaan ke boneka-boneka dan mulai membuat sebuah dasar untuk produk-produk musikal, termasuk ukulele berukuran anak-anak dan sebuah kotak musik pengengkol tangan yang dipatenkan, yang meraup banyak pemasukan perusahaan pada tahun 50an dan 60an.
Perusahaan berjalan dengan sangat baik, tetapi masih dari jauh dari kelompok industri besar. Itulah pada tahun 1956 ketika Ruth Handler mengeluarkan ide jenius yang akan meroketkan Mattel menjadi yang terdepan dalam industri boneka dan memukau empat generasi gadis muda.
Ruth mendapatkan inspirasinya akan boneka Barbie ketika sedang menonton putrinya yang masih kecil, Barbara, dan teman-temannya bermain dengan boneka kertas. Para gadis kecil itu sedang bermain seandai-andai gadis dewasa atau remaja dengan boneka-boneka tersebut, membayangkan diri mereka sebagai mahasiswi, cheerleaders, dan orang dewasa yang berkarir. Itu dengan instan membuat Handler menyadari dan berpura-pura akan masa depan adalah bagian penting dari pertumbuhan. Dalam meriset pasar, ia menemukan area yang kosong dan berketetapan untuk mengisi ceruk pasar tersebut dengan boneka 3 dimensi.
Para desainer Mattel memiliki keragu-raguan, hingga mengatakan bahwa membuat boneka seperti itu adalah mustahil. Selagi berlibur di Eropa, Handler menemukan sebuah boneka Jerman bernama Lili – sebuah hadiah yang agak berbau pornografi bagi pria. Ia membeli tiga buah boneka ke rumah dan mengirimkan para desainer Mattel ke Jepang untuk mengatakan kepada mereka "carikan kami seorang pembuatnya."
Visi Ruth bagi boneka tersebut, yang ia panggil Barbie (panggilan putrinya), agar boneka tersebut menjadi wanita yang "ideal." Menurut legenda, wajah dan figur Barbie diciptakan dari sebuah kombinasi dari fitur-fitur bintang-bintang populer masa itu, termasuk alis Audrey Hepburn yang terkenal.
Ruth Handler – BarbiePada tahun 1959, Barbie adalah sebuah realita dan siap untuk menggebrak toko-toko. Tetapi ada sedikit halangan. Pada awalnya dalam riset pasar, terungkapkan bahwa para ibu membenci boneka tersebut, satu orang melaporkan, "Wow! Itu benar-benar adalah boneka kesukaan ayah, bukankah begitu?" Para peritel boneka di Toy Fair tahun 1959 di New York City, para peritel tidak pernah melihat sebelumnya sebuah boneka yang sama sekali tidak seperti boneka bayi dan balita yang populer pada masa tersebut, dan banyak yang menolak untuk membawanya.
Tak kenal takut, Ruth langsung mengarahkan ke para gadis muda dengan iklan-iklan televisi yang merepresentasikan Barbie sebagai orang sebenarnya. Terima kasih kepada pendekatan marketing inovatif ini, dalam tiga bulan semenjak debutnya, boneka-boneka Barbie terjual rata-rata sekitar 20.000 per minggunya. Permintaan akan boneka tersebut begitu luar biasa hingga itu membutuhkan beberapa tahun untuk persediaan memenuhi permintaan. Barbie begitu suksesnya hingga ia mampu menjadikan Mattel untuk publik pada tahun 1960, dan dalam waktu lima tahun, Mattel bergabung dalam peringkat Fortune 500.
Selama beberapa tahun selanjutnya, seluruh industri hanya berputar mengenai Barbie. Para desainer secara berlanjut bekerja menciptakan pekerjaan-pekerjaan untuk Barbie yang merefleksikan perubaha fesyen masa itu. Tetapi mereka tidak hanya berputar pada pakaian saja. Barbie selanjutnya memiliki rumah impiannya sendiri, mobil, pesawat, yacht, lusinan aksesoris lainnya, belum termasuk lagi "teman-temannya," seperti boneka-boneka bernama Midge, Skipper, dan Christie. Barbie bahkan memiliki kekasihnya sendiri, yakni Ken, yang diberi nama seperti putranya Handler. Ironisnya, kisaran dari harga $5 ke atas, kebanyakan dari pakaian-pakaian dan aksesoris-aksesoris Barbie harganya lebih dari boneka itu sendiri (Barbie harganya $3). Faktanya, di masa sekarang aksesoris-aksesori Barbie meraup nyaris 40 persen dari pemasukan Mattel.
Ruth Handler – BarbieSemenjak "kelahirannya," diperkirakan 1 milyar Barbie telah terjual dalam empat dekade, menjadikan "anak" dari Handler ini sebagai boneka fesyen terlaris di setiap pasar global besar, dengan penjualan tahunan di seluruh dunia mencapai $1,9 milyar.
Pada tahun 1999, dalam sebuah event gala merayakan 40 tahun Barbie, Handler ditanya apakah ia terkejut akan kesuksesan dari Barbie yang luar biasa. "Saya selalu berpikir bahwa Barbie sangat sangatlah basic," jawabnya. "Ia adalah dasar dari sebuah boneka untuk dimainkan selama mungkin, dan saya memiliki keyakinan bahwa ia akan menjadi mainan yang luar biasa. Tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa akan ada mainan manaoun yang bisa bertahan sepanjang ini atau bertumbuh sebesar ini."
Setelah kemenangan pribadi melawan kanker payudara di pertengahan tahun 1970an, Ruth Handler pensiun dari Mattel. Ia melangkah menggunakan pengalaman pribadi dan keahliannya untuk memulai Ruthton Corp. yang didedikasikan untuk pengembangan dan memproduksi prostheses payudara yang disebut "Nearly me." Oleh pertemuan dengan pembeli-pembeli department store, mempromosikan sendiri produk-produk di sepanjang AS, dan berbicara dengan sesama pejuang melawan kanker payudara lainnya, Handler membangun perusahaan keduanya dengan sukses. Pada tahun 1991, ia menjual Ruthton Corp. ke sebuah divisi dari raksasa kecantikan dan kesehatan Kimberly-Clark.
Lucas lahir di Modesto, California pada 14 Mei 1944. Sebagai seorang beranjak dewasa yang, ia katakan, "hampir ciut karena sekolah menengah atas," Lucas berkeinginan untuk menjadi pembalap otomotif. Ia mengubah pikirannya mengenai karir balapannya, bagaimanapun, ketika kecelakaan hampir fatal menghantam paru-parunya dan mengirimkan dirinya ke rumah sakit selama tiga bulan hanya beberapa hari sebelum kelulusan sekolah menengah atasnya. Pengalaman itu merubah Lucas. "Saya menyadari bahwa menghidupi hidup saya begitu dekat dengan ujungnya dalam waktu begitu lama," ujarnya. "Itulah ketika saya memutuskan untuk tetap maju, menjadi murid yang lebih baik, untuk mencoba sesuatu dengan diri saya sendiri."
Lucas terdaftar pada Modesto Junior College, dimana ia mengembangkan pesona yang luar biasa akan bakat sinematografi-nya. Memutuskan untuk berkarir di film, ia mendaftar pada sekolah film University of Southern California (USC) yang prestisius. USC adalah batu loncatan bagi Lucas. "Tiba-tiba saja hidup saya adalah film film film dan film – setiap saya bangun," ujarnya dalam wawancara dengan Playboy pada tahun 1997. Ia berkonsentrasi dalam membuat film-film sains fiksi abstrak dan dokumenter-dokumenter ejekan, yang menarik perhatian sutradara Francis Ford Coppola, yang mengundang Lucas untuk duduk sewaktu syuting "Finian’s Rainbow." Coppola juga merangkul Warner Bros untuk membuat salah satu film kuliah Lucas. Durasi penuh, "THX-1138," berisikan dongeng Orwellian yang suram dirilis pada 1971 untuk review-review sopan dan penerimaan hangat pada box office. Tetapi eksekutif-eksekutif studio terpesona dengan talenta Lucas yang sangat jelas.
"THX-1138" telah memberi Lucas sebuah reputasi sebagai filmmaker yang berkeahlian tinggi tetapi mekanis menghindari humor dan perasaan. Film keduanya, "American Graffiti," yang berdasarkan masa ia selama berada di Modesto, akan mengubah itu. Difilmkan dengan budget seadanya hanya dengan $780.000, film tersebut dengan cepat menjadi hit semenjak perilisannya pada Juni 1973 dan ternyata akhirnya menghimpun $120 juta.
Film tersebut mendapatkan review-review yang hangat dan menjadikan Lucas sebagai sensasi Hollywood. Itu juga membuktikan momen menentukan bagi Lucas, baik sebagai pembuat film dan pebisnis. Orang-orang yang berwenang di studio memukul peringkat dan membuat perubahan pada versi akhir Lucas. Perubahan yang ada memang minim, tetapi luka-lukanya tahan lama. "Saya sangat waspada sebagai orang kreatif yang mengendalikan makna kontrol produksi atas visi kreatif," ujarnya. "Bukanlah sebuah masalah seseorang berkata "Anda harus membiarkan saya memiliki potongan akhirnya," karena tak peduli apapun yang orang lakukan dalam kontrak, mereka akan tetap melakukannya. Walaupun jika Anda yang memiliki kamera dan Anda memiliki film tersebut, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan Anda." Dan itulah apa yang Lucas tetapkan untuk lakukan.
Ketika bernegosiasi dengan 20th Century Fox pada tahun 1975 untuk filmnya yang selanjutnya, "Star Wars," Lucas memotong bayarannya sebagai sutradara sebanyak $500.000 untuk menukarkan dengan hal-hal yang dianggap Fox sesuatu yang nyaris tak berguna: kepemilikan atas merchandising film dan semua hak-hak sekuel. Itu menjadi sebuah gerakan yang brilian, suatu yang memastikan Lucas sebuah independensi sejati dan kontrol kreatif yang selama ini ia cari. "Star Wars" memecahkan semua record box office, memberikan Lucas sekitar $40 juta untuk perilisan awalnya – merchandising selanjutnya memberikan dirinya puluhan juta seterusnya. Yang paling penting, Lucas memiliki sekuel-sekuelnya, dan juga sebuah waralaba. Untuk memaksimalkan nilainya, ia membiayai sekuel pertamanya, "The Empire Strikes Back," dirinya sendiri, meminjam sangat banyak untuk menutupi biaya produksi sekitar $30 juta. Berdasarkan dari kesuksesan "Star Wars," itu adalah taruhan yang bagus, tetapi juga resiko besar – jika film tersebut meledak, Lucas akan menjadi bangkrut. "Empire" berjalan sangat baik, bagaimanapun, sama dengan film ketiga dalam trilogy, "Return of the Jedi," yang juga Lucas biayai.
George LucasLucas menambahkan lebih banyak lagi kekayaannya pada 1980an dengan memproduksi tiga film Indiana Jones, dimana ia menghasilkan lebih dari $100 juta. Lalu, di puncak dari permainannya, ia sebagian besar meninggalkan pembuatan film dan mencurahkan kekayaannya pada eksperimen-eksperimen digital yang, ia rasa benar, akan mentransformasi bisnis perfilman.
Fokus utamanya adalah Industrial Light & Magic (ILM), yang ia bangun pada 1975 ketika ia tidak bisa mencari sebuah perusahaan luar untuk melakukan efek-efek spesial untuk "Star Wars." Gebrakan pertaman ILM adalah sebuah kamera motion-control, dimana bisa berputar berulang-ulang mengelilingi obyek yang tak bergerak selagi mengambil fokus tetap, juga simulasi penerbangan. Untuk menghimpun uang, Lucas mengalihkan ILM menjadi sebuah perusahaan jasa. Menciptakan sebuah pasar bagi film-film yang memuat efek-efek spesial, ia mulai mengambil pekerjaan dari para pembuat film lainnya. Dengan cara ini ia bisa menjaga mengembangkan teknik-teknik selagi orang lain membiayai risetnya.
Mengenakan biaya hingga $25 juta per film, ILM dengan cepat menjadi sesuatu yang menguntungkan, menyediakan efek-efek spesial untuk film-film blockbuster seperti "Jurassic Park" dan "Twister." Lucas menyalurkan keuntungan-keuntungan ILM ke dalam bisnis-bisnis yang berasal dari risetnya. Skywalker Sound muncul menjadi perusahaan teratas dalam industri audio pasca-produksi, lalu bercabang lagi untuk menyediakan sebuah sound system digital untuk bioskop-bioskop dan rumah-rumah di bawah nama THX (sebagai penghormatan dalam film pertamanya). Dan dengan berdirinya LucasArts Entertainment, Lucas pindah ke video games, memproduksi produk-produk top-seller seperti yang terinspirasi Star Wars: Rebel Assault, X-Wing dan Dark Forces.
George Lucas – Star WarsPada pertengahan 1990an, Lucas memutuskan untuk kembali dalam pembuatan film dan mulai bekerja menciptakan skrip untuk prekuel Star Wars, "Star Wars: Episode I, The Phantom Menace." Untuk menciptakan desas-desus untuk film terbaru tersebut, ia masuk dalam strategi marketing yang terencana dengan baik. Pada 1997, ia merilis ulang trilogi "Star Wars" sebagai edisi spesial, yang mencetak $475 juta dalam box office. Popularitas besar dari film-film tersebut membangun audiens baru untuk "The Phantom Menace." Sama pentingnya, itu menyediakan Lucas sejumlah $115 juta yang ia butuhkan untuk membiayai produksi, menjamin ia baik untuk kontrol kreatif dan keuntungan-keuntungan yang lebih besar. Lagi, itu juga adalah sebuah taruhan. Tetapi lagi, itu terbayar impas.
Dirilis pada 19 Mei 1999, film ini mematahkan semua record box office, diawali dengan perkiraan $42 juta pada hari pembukaannya. Pada September, itu telah menjadi film dengan pendapatan kotor terbesar di musim panas, mencapai $419,9 juta, lebih dari dua kali lipatnya sama banyaknya dengan pesaing terdekat.
Kesuksesan dari "The Phantom Menace" dengan tegas mengukuhkan Lucas sebagai salah seorang yang paling kuat – dan menguntungkan – di Hollywood. Tetapi pria yang mengaku workaholic ini tidak langsung beristirahat dalam kemenangan-kemenangannya. Berencana untuk "Star Wars" Episodes II and III yang sudah ada di meja, begitu juga rencana-rencana untuk film keempat Indiana Jones.
Selama hampir 30 tahun sebagai filmmaker, George Lucas telah meningkatkan seni dari motion pictures dengan mengambil resiko-resiko dan melanjutkan membuka amplop. Ia telah merubah cara Hollywood membuat film-film dengan men-setting standar untuk bisa jadi seperti apa film komersial modern. Dan itu belum berakhir, Jedi muda.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com
Kapan bikin Parental Advisory Baby Clothing (PABC)?
Sekitar akhir 2006. Ide awalnya sih karena saya enggak menemukan distro anak yang sesuai selera. Tahun-tahun itu di Bandung banyak distro buka, tapi 90 persen cuma menjual produk untuk remaja dan dewasa, enggak ada produk buat anak. Saya juga enggak begitu tertarik dengan baju anak yang kebanyakan ada.
Nah, kebetulan waktu itu saya baru saja melahirkan. Akhirnya terpikir membuat baju anak. Itu pun tadinya cuma buat anak sendiri atau buat anak teman-teman.
Punya latar belakang desain?
Enggak. Saya lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, Bandung. Jadi, saya masuk bisnis pakaian ini ya ibaratnya terjun bebas saja. Selain karena soal selera, saya juga melihat ada peluang di situ. Ya sudah, jalan deh.
Kenapa memilih nama PABC?
Karena dari awal, idenya ingin membuat baju anak yang agak nyeleneh. Selain itu, ada misi yang ingin saya sampaikan. Kalau melihat desain atau kata-katanya, baju-baju PABC kata orang terlalu kasar untuk anak-anak. Padahal, justru sebetulnya saya ingin supaya orangtua yang membeli baju buat anaknya bisa menjelaskan maksudnya ke anak. Anak dapat bimbingan (parental advisory). Jadi, bukan hanya bikin tanpa ada makna apa-apa di balik desain. Rata-rata, desain atau kata-kata PABC ada sejarahnya.
Misalnya?
Contohnya t-shirt bertuliskan Kill Sinetron; Kids Against Television. Itu karena menurut saya, anak sekarang enggak bisa hidup tanpa televisi. Sementara acara buat anak-anak di televisi kita sekarang ini kayaknya enggak ada edukasinya, enggak ada yang pas. Baru sekarang ada "Si Bolang" atau "Laptop Si Unyil" lumayanlah. Sebelum-sebelumnya kan sinetron melulu. Hampir di semua stasiun televisi ada sinetron, dari pagi sampai malam. Jadi, kapan jam-jam anak bisa nonton?
Celakanya kalau orang tua juga suka sinetron. Supaya anaknya diam, anak diajak nongkrong di depan televisi, nonton sinetron. Yang ada anak mengikuti adegan di sinetron. Orang marah-marah, memaki-maki enggak jelas. Itu kan membunuh karakter anak.
Contoh lain?
Ada t-shirt tulisannya Where’s My F*ckin’ Milk? Lumayan laku. Penjualannya bagus terus meski sudah beberapa produksi ulang (repeat). Misi tulisan di desain itu adalah supaya ibu-ibu muda mau memberi ASI eksklusif minimal 6 bulan ke anaknya. Syukur-syukur 2 tahun. Soalnya ada kecenderungan, orang sekarang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang hak anak. Nah, minum ASI itu hak anak. Ada kekhawatiran yang enggak perlu, seperti, "Aduh kalau saya nyusuin, bentuk badan jadi berubah", "Saya enggak punya waktu nyusuin karena harus kerja," dan sebagainya yang buat saya sangat tidak masuk akal.
Anda sendiri memberi ASI ke putri Anda?
Saya termasuk yang kurang beruntung enggak bisa memberi ASI eksklusif ke anak saya, Magia Calluella Chaszta Az-Zurra (2,8). Waktu itu habis melahirkan, saya harus menjalani operasi, masuk ICU 2 hari. Jadi, enggak bisa langsung kasih ASI. Setelah operasi, ASI jadi terhambat. Saya sudah coba bermacam cara, tapi enggak bisa keluar juga. Saya menyesal sekali. Bukan mau irit, tapi karena itu hak anak. Kalau saya bisa membayar, berapa pun saya akan bayar supaya saya bisa kasih ASI eksklusif ke anak saya. Tapi mungkin saya memang tidak beruntung, ya. Jadi, tolong kalau bisa memberi ASI eksklusif, kasihlah anak ASI eksklusif. Kalau bisa yang alami, kenapa harus kasih susu pabrikan?
Efektif enggak pesan-pesan itu disampaikan lewat desain t-shirt?
Cukup efektif karena desain sangat berbicara. Desain Kill Sinetron tadi misalnya, ternyata banyak orang tua yang memang enggak setuju dengan acara-acara yang ada di televisi.
Orang yang enggak mengerti bisa-bisa berkomentar, "Kok kalimatnya seperti itu?"
Makanya ada product knowledge. Jadi kalau ada konsumen, kami jelaskan satu-satu maksud kalimatnya apa. Pernah ada yang berkomentar, "Gila, ini apa-apaan sih maksudnya? Ya saya sih mencoba berpikir positif saja, menerima itu sebagai masukan. Tapi, rata-rata konsumen yang beli di sini adalah pelanggan tetap yang sudah enggak kaget lagi. Ada sih satu-dua orang yang bilang, "Oh, ternyata ada desain begini buat anak?" Ya kami jelaskan saja. Jadi, kami enggak sekadar jual tanpa makna atau misi.
Pendekatan ke pelanggan personal sekali, ya
Betul. Kami ajak pembeli ngobrol dan memberi pengertian. Tapi sejauh ini enggak ada yang komplain sampai ngotot yang gimana gitu. Kami malah banyak melakukan kerjasama, misalnya jadi sponsor acara anak-anak. Jadi, enggak cuma sekadar jualan.
Sekilas seperti kaus dewasa yang dipakai anak, ya?
Bisa jadi ada yang melihat begitu. Tapi anak sekarang lebih kritis, lho. Banyak pelanggan yang datang anaknya memilih sendiri. Karena saya punya anak, jadi saya tahu juga. Dan memang orang tua harus menjelaskan.
Siapa sih yang membuat desain dan kalimat-kalimatnya?
Saya dibantu teman saya, Phaerly. Karena saya enggak punya latar belakang desain, biasanya kalau ada ide di benak langsung eksekusinya saya serahkan ke dia. Saya bikin gambar gunung aja pakai penggaris ha-ha-ha. Paling kalau ada yang kurang saya kasih masukan.
Sekarang sudah ada berapa desain?
Lebih dari 60 desain. Mayoritas warnanya memang hitam, putih, dan abu-abu. Kami sengaja pilih warna-warna tua karena baju anak-anak sekarang kan kebanyakan warna-warna pastel. Kami ingin beda. Dan ternyata banyak yang bilang justru lebih menarik. Karena itu tadi, warna mainstream-nya kan warna-warna pastel yang colourfull. Kami juga pikirkan bahan dan sablon seperti apa yang yang nyaman buat anak-anak.
Model kausnya juga panjang. Kebanyakan baju anak kan pendek di bagian torsonya. Nah, saya sengaja modifikasi. Saya masih ingat kultur orang Timur, kalau bajunya pendek pusarnya jadi kelihatan. Saya lihat masih banyak kok orangtua yang enggak kepingin pusar anaknya kelihatan. Model memanjang kayaknya juga lebih enak daripada ngatung.
Selain kaus, apalagi yang dijual PABC?
Macam-macam, dari diapers bag, tas anak, topi, jaket, celana, sepatu, sandal. Pasarnya lumayan bagus kok. Omzet per bulan kalau sedang ramai bisa Rp 70 juta. Meskipun sekarang sudah mulai banyak brand lain. Di Bandung aja ada sekitar 5 brand yang konsepnya mirip-mirip PABC. Cuma enggak tahu ya, mungkin orang tahu PABC lebih awal, jadi mereka biasanya membandingkan sama produk-produk PABC. Tapi banyak saingan justru bagus karena kami jadi harus berpikir, bikin saya terpacu.
Rencana bisnis ke depannya seperti apa?
Yang jelas saya mau ekspansi. Banyak sih yang minta atau menawarkan kerja sama, cuma belum ada yang menawarkan display sendiri. PABC ini kan baju anak, kalau display-nya disatukan sama baju dewasa, susah. Enggak kelihatan. Apalagi warna-warna kami warna dewasa.
Soal anak, pola pendidikan seperti apa sih yang Anda terapkan?
Saya dan suami sangat terbuka ke anak. Hal-hal yang masih tabu buat sebagian orang, saya sampaikan ke anak. Contohnya pendidikan seks, sudah saya kenalkan ke Magia sejak dini. Jadi, ia sudah tahu lho, proses kelahiran dia, dia keluar dari mana, dia punya vagina, menstruasi itu apa, dan sebagainya. Tapi tentu disesuaikan dengan perkembangannya. Hal-hal kecil seperti ini menurut saya justru jadi starting point yang harus disampaikan sejak dini.
Sambil bisnis, enggak repot punya anak balita ?
Saya selalu mengajari Magia untuk mandiri. Jadi, saya hampir enggak pernah merasakan repotnya punya anak balita. Saya enggak pernah gendong dia, tidur sendiri, saya tinggal pergi juga enggak rewel. Paling-paling dia nanya, "Ibu mau ke mana? Oh, mau nyari duit ya? Buat beli susu ya?" Dari lahir sampai sekarang enggak pernah pakai pembantu atau baby sitter. Semua saya kerjakan sendiri. Dia juga enggak pernah nonton televisi, kecuali acara musik. Kalau musik, 2-3 jam dia betah. Kalau pas kebetulan lihat adegan sinetron, dia malah suka nanya, "Kenapa sih orangnya marah-marah? Memang siapa yang nakal, kok dimarahin?"
Memang cukup kreatif dan kontroversial juga usaha yang dikelola oleh ibu muda ini. Tetapi di balik kontroversialnya, ia membawa visi dari setiap product-nya. Dan itulah yang disukai dan dicari oleh konsumennya.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : kompas.com
Perusahaan tersebut akhirnya menjadi salah satu pemimpin pembuat boneka di dunia dimulai dari sebuah bisnis garasi tak menguntungkan di El Segundo, California. Para pendiri aslinya, Harold Matson dan Elliot Handler, memberi nama perusahaan tersebut dengan nama "Mattel," menciptakan sebuah nama dengan mengkombinasikan dari awal dan akhir nama mereka. Produk pertama Mattel adalah bingkai-bingkai foto, tetapi Elliot mengembangkan sebuah bisnis pembuatan furnitur rumah boneka dari sisa potongan bingkai foto.
Mempercayai bahwa perusahaan sedang menukik jatuh, Matson menjual semuanya ke partnernya dan istrinya Handler, yakni Ruth, yang bergabung dengan suaminya sebagai sesama pendiri. Terdorong oleh kesuksesan mereka dalam bisnis furnitur boneka, kedua Handlers mengubah inti perusahaan ke boneka-boneka dan mulai membuat sebuah dasar untuk produk-produk musikal, termasuk ukulele berukuran anak-anak dan sebuah kotak musik pengengkol tangan yang dipatenkan, yang meraup banyak pemasukan perusahaan pada tahun 50an dan 60an.
Perusahaan berjalan dengan sangat baik, tetapi masih dari jauh dari kelompok industri besar. Itulah pada tahun 1956 ketika Ruth Handler mengeluarkan ide jenius yang akan meroketkan Mattel menjadi yang terdepan dalam industri boneka dan memukau empat generasi gadis muda.
Ruth mendapatkan inspirasinya akan boneka Barbie ketika sedang menonton putrinya yang masih kecil, Barbara, dan teman-temannya bermain dengan boneka kertas. Para gadis kecil itu sedang bermain seandai-andai gadis dewasa atau remaja dengan boneka-boneka tersebut, membayangkan diri mereka sebagai mahasiswi, cheerleaders, dan orang dewasa yang berkarir. Itu dengan instan membuat Handler menyadari dan berpura-pura akan masa depan adalah bagian penting dari pertumbuhan. Dalam meriset pasar, ia menemukan area yang kosong dan berketetapan untuk mengisi ceruk pasar tersebut dengan boneka 3 dimensi.
Para desainer Mattel memiliki keragu-raguan, hingga mengatakan bahwa membuat boneka seperti itu adalah mustahil. Selagi berlibur di Eropa, Handler menemukan sebuah boneka Jerman bernama Lili – sebuah hadiah yang agak berbau pornografi bagi pria. Ia membeli tiga buah boneka ke rumah dan mengirimkan para desainer Mattel ke Jepang untuk mengatakan kepada mereka "carikan kami seorang pembuatnya."
Visi Ruth bagi boneka tersebut, yang ia panggil Barbie (panggilan putrinya), agar boneka tersebut menjadi wanita yang "ideal." Menurut legenda, wajah dan figur Barbie diciptakan dari sebuah kombinasi dari fitur-fitur bintang-bintang populer masa itu, termasuk alis Audrey Hepburn yang terkenal.
Ruth Handler – BarbiePada tahun 1959, Barbie adalah sebuah realita dan siap untuk menggebrak toko-toko. Tetapi ada sedikit halangan. Pada awalnya dalam riset pasar, terungkapkan bahwa para ibu membenci boneka tersebut, satu orang melaporkan, "Wow! Itu benar-benar adalah boneka kesukaan ayah, bukankah begitu?" Para peritel boneka di Toy Fair tahun 1959 di New York City, para peritel tidak pernah melihat sebelumnya sebuah boneka yang sama sekali tidak seperti boneka bayi dan balita yang populer pada masa tersebut, dan banyak yang menolak untuk membawanya.
Tak kenal takut, Ruth langsung mengarahkan ke para gadis muda dengan iklan-iklan televisi yang merepresentasikan Barbie sebagai orang sebenarnya. Terima kasih kepada pendekatan marketing inovatif ini, dalam tiga bulan semenjak debutnya, boneka-boneka Barbie terjual rata-rata sekitar 20.000 per minggunya. Permintaan akan boneka tersebut begitu luar biasa hingga itu membutuhkan beberapa tahun untuk persediaan memenuhi permintaan. Barbie begitu suksesnya hingga ia mampu menjadikan Mattel untuk publik pada tahun 1960, dan dalam waktu lima tahun, Mattel bergabung dalam peringkat Fortune 500.
Selama beberapa tahun selanjutnya, seluruh industri hanya berputar mengenai Barbie. Para desainer secara berlanjut bekerja menciptakan pekerjaan-pekerjaan untuk Barbie yang merefleksikan perubaha fesyen masa itu. Tetapi mereka tidak hanya berputar pada pakaian saja. Barbie selanjutnya memiliki rumah impiannya sendiri, mobil, pesawat, yacht, lusinan aksesoris lainnya, belum termasuk lagi "teman-temannya," seperti boneka-boneka bernama Midge, Skipper, dan Christie. Barbie bahkan memiliki kekasihnya sendiri, yakni Ken, yang diberi nama seperti putranya Handler. Ironisnya, kisaran dari harga $5 ke atas, kebanyakan dari pakaian-pakaian dan aksesoris-aksesoris Barbie harganya lebih dari boneka itu sendiri (Barbie harganya $3). Faktanya, di masa sekarang aksesoris-aksesori Barbie meraup nyaris 40 persen dari pemasukan Mattel.
Ruth Handler – BarbieSemenjak "kelahirannya," diperkirakan 1 milyar Barbie telah terjual dalam empat dekade, menjadikan "anak" dari Handler ini sebagai boneka fesyen terlaris di setiap pasar global besar, dengan penjualan tahunan di seluruh dunia mencapai $1,9 milyar.
Pada tahun 1999, dalam sebuah event gala merayakan 40 tahun Barbie, Handler ditanya apakah ia terkejut akan kesuksesan dari Barbie yang luar biasa. "Saya selalu berpikir bahwa Barbie sangat sangatlah basic," jawabnya. "Ia adalah dasar dari sebuah boneka untuk dimainkan selama mungkin, dan saya memiliki keyakinan bahwa ia akan menjadi mainan yang luar biasa. Tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa akan ada mainan manaoun yang bisa bertahan sepanjang ini atau bertumbuh sebesar ini."
Setelah kemenangan pribadi melawan kanker payudara di pertengahan tahun 1970an, Ruth Handler pensiun dari Mattel. Ia melangkah menggunakan pengalaman pribadi dan keahliannya untuk memulai Ruthton Corp. yang didedikasikan untuk pengembangan dan memproduksi prostheses payudara yang disebut "Nearly me." Oleh pertemuan dengan pembeli-pembeli department store, mempromosikan sendiri produk-produk di sepanjang AS, dan berbicara dengan sesama pejuang melawan kanker payudara lainnya, Handler membangun perusahaan keduanya dengan sukses. Pada tahun 1991, ia menjual Ruthton Corp. ke sebuah divisi dari raksasa kecantikan dan kesehatan Kimberly-Clark.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com