Loading...
Archive for June 26th, 2009
  1. Apakah presiden QVC Doug Briggs memiliki tempat keramat untuk Ron Popeil di kamar tidurnya? Atau apakah CEO USA Networks Barry Diller mengirim Popeil kartu "terima kasih" setiap kali Home Shopping Network-nya mencatat $100 juta penjualan baru? Jika tidak, seharusnya mereka begitu, karena tanpa Popeil, mereka mungkin tidaklah eksis. Dengan mengkombinasikan penjaja peneriak abad 19 dengan medium yang baru muncul yaitu televisi, Popeil menemukan infomersial dan menyiapkan roda gerakan untuk industri home shopping modern seharga $2,5 juta.

    Popeil adalah Horatio Aleger di era televisi – milyuner yang kaya atas kerja keras sendiri yang memulai dari tidak punya apa-apa. Lahir pada 3 Mei 1935, orang-tuanya bercerai dan meninggalkan dirinya. Diasingkan kedalam sekolah asrama di New York, ia tidak melihat mereka untuk beberapa tahun.

    Ketika Popeil sekitar berusia 8 tahun, kakek-neneknya dari sang ayah mengambilnya, tetapi kehidupan bersama mereka tidaklah lebih baik. Pasangan itu suka bertengkar dan menunjukkan kepada dirinya sedikit perhatian. Itu terjadi hingga akhirnya mereka pindah dari Miami ke Chicago – dimana ayahnya memiliki pabrik peralatan dapur – dimana Popeil menemukan kebebasan disini. Ketika ia berusia 16, ia menemukan sebuah tempat dimana ia bisa keluar dari masa kecilnya yang suram – Maxwell Street yang tak terkenal di Chicago.

    Maxwell Street adalah jalanan kotor dengan lingkungan yang buruk, dimana sekumpulan penjual jalanan yang kacau dan kasar menjual pakaian-pakaian, produk-produk dapur dan perhiasan kecil, dan para pencopet mengeluarkan pelek ban, radio-radio, dan pernak-pernik curian lainnya.

    Ketika Popeil melihat orang-orang itu menjual barang-barang dan menaruh uang ke dalam kantong mereka, ia mendapatkan ide. "Saya bisa melakukan apa yang mereka lakukan," pikirnya. "Tetapi saya bisa melakukannya lebih baik." Mengumpulkan semua produk-produk dapur dari pabrik ayahnya, Popeil melangkah ke Maxwell Street untuk mencobanya. "Saya mendorong. Saya berteriak menjaja. Dan itu bekerja," ingatnya dalam otobiografinya, The Salesman of the Century. "Saya menaruh uang ke dalam kantong-kantong saya, lebih banyak uang dari yang saya pernah lihat dalam hidup saya. Saya tidak perlu lagi menjadi miskin untuk seumur hidup saya. Melalui berjualan, saya bisa lari dari kemiskinan dan kehidupan yang menyedihkan bersama kakek-nenek saya. Saya telah hidup di rumah untuk 16 tahun tanpa cinta, dan sekarang saya akhirnya menemukan bentuk perhatian, dan sebuah hubungan antar manusia, melalui berjualan."

    Untuk beberapa tahun ke depan, Popeil akan bangun sebelum fajar, mengumpulkan kol, kentang, lobak dan wortel ke dalam satu gantang sebagai alat demonstrasinya, dan menyiapkan mejanya di Maxwell Street dan pada pekan raya dan pertunjukkan-pertunjukkan di Chicago. Berteriak menjaja dengan berdiri di atas kerat Pepsi, ia memotong dan mendadukan selagi mengasah sebagai rutinitasnya. Dan orang-orang membeli peralatannya – beberapa minggu terkadang ia bisa mendapat $500.

    Ron PopeilPopeil menggunakan sebagian dari pendapatannya untuk mendaftar di Universitas Illinois. Tetapi setelah satu tahun setengah menghadiri kelas, ia memutuskan berkuliah bukanlah untuknya. Meninggalkan universitas, Popeil memutuskan untuk membawa aksinya ke dalam ruangan. Ia membuat perjanjian dengan manajer dari Chicago Woolworth untuk membiarkan dirinya membawa masuk produk-produknya untuk sebagian dari aksinya. Popeil menjajakan beragam produk, kebanyakan yang ia beli dari ayahnya, termasuk penyemprot kilau sepatu, peralatan tanaman plastik dan pemotong makanan. Bekerja enam hari seminggu menjual produk-produk pabrik ayahnya begitu juga dari penyalur-penyalur lainnya, pedagang keliling berbakat alami menanjak naik menjadi $1000 per minggu dimana pada masa itu gaji bulanannya masih $500.

    Popeil masih tetap mendemonstrasikan produk di Woolworth ketika ia masuk pertama kalinya ke dalam TV marketing. Ia dengan cepat menyadari potensi luar biasa dari medium baru tersebut dan mulai mencari cara-cara untuk mengambil keuntungan sepenuhnya dari itu. Masalah utamanya hanyalah uang. Iklan-iklan televisi terlalu mahal untuk diproduksi dan mengudara, dan Popeil masih tidak memiliki modal. Lalu, pada 1963, seorang temannya mengatakan kepadanya bahwa sebuah stasiun TV di Tampa bisa dapat memasukkan iklannya untuk seharga $550. Bagi Popeil, itu hanyalah setengah dari bayaran setiap minggunya, dan ia mendapatkan bahwa ia tak akan kehilangan apa-apa. Yang ia butuhkan hanyalah sebuah produk.

    Untuk debut TV-nya, Popeil menginginkan sebuah peralatan yang baru dan berbeda. Tak ada dari produk-produk ayahnya memenuhi criteria, maka ia menjelajahi pasar untuk mencari barang-barang baru. Selama pencariannya, seorang temannya memberitahu Popeil mengenai selang penyemprot bertekanan tinggi yang ia rasakan adalah produk tepat untuk TV. Dengan menambahkan meja-meja berbeda (untuk deterjen, sabun mobil, penyubur atau pembunuh hama) antar selang penyemprot bertekanan tingginya, Anda bisa mencuci dan membersihkan mobil Anda, menyuburkan kebun Anda dan membunuh hama. "Itu adalah perangkap yang lebih baik," ungkap Popeil dalam otobiografinya. "Itu adalah produk hebat untuk memulainya dalam karir TV saya, karena semua orang menggunakannya."

    Popeil membeli sejumlah kecil dari produk sebuah pabrik di Chicago, bernamakan Ronco Spray Gun (Ronco adalah kependekan dari Ron’s Company- nama yang ia pilih untuk perusahaannya yang baru), dan mulai memasarkannya di stasiun-stasiun TV sepanjang Midwest. Popeil menulis, mengarahkan, dan membintangi dalam komersial tersebut sendiri, lalu mengudarakannya sepanjang waktu-waktu yang tak terjual yang ia beli dengan murah dari stasiun-stasiun TV lokal. Selagi melakukannya, ia menulis bab pertama dalam sejarah dari penjualan televisi direct-response.

    Seperti yang Popeil telah prediksikan, Ronco Spray Gun pun sukses luar biasa. Setelah melihat pencapaian putranya, ayah Popeil menanyakan kepadanya untuk menjual pemotong makanan baru yang revolusioner yang ia kembangkan yang ia sebut Chop-O-Matic. Popeil setuju, dan sekali lagi ia menulis, mengarahkan, dan membintangi dalam komersialnya sendiri. Seperti Ronco Spray Gun, Ronco Chop-O-Matic pun menjadi hit besar. Chop-O-Matic adalah kesuksesan terbesar yang ayah Popeil pernah sadari, menjual ribuan unit. Dimandikan dengan dolar-dolar, Popeil yang lebih tua mulai memimpikan sekuel Chop-O-Matic dan akhirnya keluar dengan sebuah produk yang membuat Ronco menjadi sebuah nama peralatan rumah – Veg-O-Matic.

    Ron PopeilTerima kasih banyak kepada Veg-O-Matic, penjualan tahunan Ronco meroket dari $ 200.000 menjadi $8,8 juta hanya dalam waktu empat tahun. Popeil memutuskan sudah waktunya agar perusahaannya menjadi publik dan menanyakan perusahaan investasi Shearson Hammill untuk menulis awal penawaran publik. Shearson Hammill setuju, tetapi menyarankan agar Popeil mengubah nama perusahaannya. "Ronco, kata mereka, tidak benar-benar mengatakan apapun tentang siapa kami," Popeil menjelaskan dalam Salesman of the Century. "Mereka ingin nama yang jelas tentang apa yang kami lakukan. Jadi kami menjadi Ronco Teleproducts Inc."

    Ketika penawaran keluar pada Agustus 1969, Popeil menjadi multimilyuner dalam semalam, dan dinasti pemasaran direct-response TV lahir. Selama 20 tahun, Popeil akan memperkenalkan pemirsa TV malam kepada serangkaian produk "ajaib", mulai dari Dial-O-Matic dan Buttoneer hingga Pocket Fisherman dan Mr. Microphone, kebanyakan adalah temuan atau ia yang mendesainnya. Saham Ronco naik hingga NYSE, dan Popeil, yang, salah seorang reporter sebutkan, bisa menjual pewarna kuku kepada Venus De Milo, menjadi milyuner jetset.

    Pada masa 1980an, Popeil telah menjual rekaman-rekaman, pemotong, pengiris, pendadu, kaus kaku, peralatan lilin, dan masih banyak lagi. Tetapi hari-hari gelap menyelimuti Hemmingway bagi home-shopping ini. Pada 1984, Ronco (namun bukan Popeil) dipaksa menjadi pailit ketika sebuah bank memanggil dalam pinjaman tak terduga dan menangkap inventaris perusahaan. Popeil, kehilangan semangat tetapi tak takut, membeli kembali inventarisasinya, menggulung lengan bajunya dan kembali ke sirkuit pertandingan. Untuk kali ini, titik kehadirannya hilang dari radar.

    Pada 1989, Popeil meluncurkan kembalinya ia dalam dunia televisi, menyerang stasiun-stasiun teve kabel dengan infomersial untuk sebuah produk yang ia impikan dari satu dekade sebelumnya-makanan dehydrator. Einstein dari infomersial ini membuktikan kejeniusannya sekali lagi. Dalam satu tahun, ia menjual dehydrators yang seharga lebih dari $150 juta nilainya. Kembali ke atas, Popeil mengikuti dengan GLH-9 (penyemprot rambut), sebuah pembuat pasta dan pembuat sosis.

    Setelah 40-tahun yang ganjil menjual semuanya yaitu barang-barang yang tak terbayangkan sebelumnya. Dan dengan proyek terbarunya, Showtime Rotisserie & BBQ, lebih kuat, Popeil berjanji agar tetap diingat sebagai TV’s top salesperson hingga abad selanjutnya. Faktanya, meskipun ia kerap berbicara mengenai pensiun, ia mengakui bahwa ia tak akan pernah. "Anda akan selalu melihat Ronco atau Popeil di marketplace," ujarnya. "Saya tidak akan pernah berhenti."

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

  2. Tong Djoe Dari gedung Tunas miliknya, taipan asal Indonesia yang bermukim di Singapura, Tong Djoe, mengaku banyak membantu Indonesia, China, dan bahkan Singapura. Lalu apa sebenarnya gedung Tunas yang dia maksud?

    Gedung perkantoran Tunas diresmikan oleh Dirut Pertamina Ibnu Sutowo pada tahun 1973. Lokasinya di kawasan Tanjong Pagar, dekat pelabuhan Singapura.

    Gedung Tunas merupakan gedung tertinggi dan termewah saat itu karena kawasan itu masih merupakan kampung. "Istri Lee Kuan Yew (mantan PM Singapura) ketika datang bertanya kenapa saat itu saya membangun gedung tinggi di kawasan pelabuhan Singapura yang saat itu masih kampung. Kenapa tidak membangun di pusat kota. Saya jawab suatu saat kawasan ini menjadi kawasan terpenting dan mahal. Sekarang terbukti gedung perkantoran ini yang paling kecil dibandingkan yang lainnya," kata Tong Djoe.

    Dari gedung inilah ia ikut membantu bisnis Pertamina, Pelni, dan BUMN Indonesia lainnya. Gedung Tunas menjadi tempat pertemuan para pengusaha Indonesia dan BUMN dengan mitra bisnis internasionalnya. Gedung ini juga menjadi saksi dia membantu finansial para perwira tinggi TNI dan pemimpin politik Indonesia.

    "Dari gedung ini juga, saya ikut merapatkan hubungan bilateral dan bisnis antara Indonesia-Singapura. Ketika tentara Indonesia sudah siap menyerang Singapura awal tahun 1970-an, saya juga yang bantu menyelesaikannya. Setelah baik, saya membawa para pengusaha Singapura ke Indonesia," katanya.

    Tong Tjoe"Saya menjual gedung ini untuk mendanai normalisasi hubungan Indonesia-RRC atas permintaan Presiden (waktu itu) Suharto langsung. Juga normalisasi hubungan bilateral Singapura-RRC," tambah dia.

    "Suatu hari Jaksa Agung Singapura datang ke saya sebelum berkunjung ke Xianmen, China. Dia minta bantuan saya. Saya bilang lho kok datang ke saya bukan ke perwakilan China. Saat itu, Singapura belum ada hubungan diplomatik dengan RRC. Mereka bilang datang ke saya karena percaya bisa membantu. Akhirnya, saya bantu dan mereka bisa masuk Xianmen dan kini hubungan Singapura-RRC sangat baik," katanya.

    Selain itu, Tong Djoe merupakan pengusaha Indonesia yang membangun pertama kali pergudangan modern di pelabuhan Singapura.

    Atas perjuangan Tong Djoe dan segala upayanya dalam membantu Indonesia, sejak perang kemerdekaan hingga masa pembangunan ekonomi, Presiden Habibie atas nama Republik Indonesia memberikan penghargaan bintang jasa pratama kepada taipan ini, 25 Agustus 1998, diserahkan langsung oleh Menlu Ali Alatas di Gedung Deplu Pejambon, Jakarta.

    Itulah dia kiprah Tong Djoe baik sebagai pengusaha maupun agen diplomatik bangsa. Prestasi yang ia torehkan terbukti dari baiknya hubungan negara kita baik dengan Singapore maupun RRC.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : kompas.com

Powered by ExtJS Theme flavored Wordpress.