Loading...
Archive for June 24th, 2009
  1. Ketika berusia 18 tahun Joyce Clyde Hall melangkah keluar dari sebuah kereta di Kansas City, Missouri, pada 1910, ia tidak membawa banyak barang – hanya membawa sebuah kopor dan dua kotak sepatu berisikan gambar-gambar postcard. Dipenuhi dengan antusiasme orang muda, J.C. (sebagaimana ia lebih suka dipanggil seperti itu) telah ditentukan untuk membuat jejaknya pada dunia bisnis Ia memiliki rencana-rencana besar dan sebuah energi untuk membuat semuanya itu terjadi. Dan mereka memang akan terjadi – selama lebih dari 56 tahun selanjutnya, Hall menciptakan sebuah industri baru dan membangun perusahaan kartu ucapan terbesar di dunia.

    Kehidupan awal Hall ditandai dengan perjuangan terus-menerus untuk mengatasi kemiskinan yang hina. Ayahnya, seorang pengkhotbah keliling, meninggalkan keluarganya, meninggalkan Hall dan kedua putranya yang lebih tua untuk menyediakan bagi ibunya yang setengah cacat. Ia mengambil pekerjaan pertamanya di pertanian pada usia 8 tahun,dan setahun kemudian ia menjual kosmetik-kosmetik dan sabun dari pintu ke pintu untuk California Perfume Company (yang kemudian berganti nama menjadi Avon).

    Pada 1902, kakak pria tertua Hall pindah ke Norfolk, Nebraska, dan membuka sebuah toko buku. Tak lama setelah itu, seluruh keluarga bergabung dengan mereka, dan Hall berangkat kerja ke toko tersebut untuk dibayar $18 per bulan. Percaya bahwa ada pasar lokal besar untuk postcard-postcard yang di-impor dari Eropa, Hall dan saudara-saudara prianya mendirikan Norfolk Post Card Co. ketika ia berusia 16. Sayangnya, disitu tidak permintaan lokal yang cukup untuk menjaga perusahaan tetap menjalankan bisnis. Menyadari bahwa mungkin saja ada pasar yang lebih besar untuk postcard-postcard di luar Norfolk, Hall keluar dari sekolah, mengepak dua kotak sepatu yang dipenuhi dengan postcard dan melangkah ke Kansas City.

    Ketika Hall tiba di Kansas City, ia hanya memiliki sedikit uang untuk meminjam sebuah kamar kecil di YMCA, dimana berfungsi sebagai rumahnya, kantor, dan gudang untuk beberapa tahun ke depan. Ia mengirim paket-paket dari 100 postcard kepada para dealer di sepanjang Midwest dengan harapan untuk memulai bisnis mail order yang sukses. Beberapa dealer menyimpan kartu-kartu tersebut tanpa membayar. Yang lain mengembalikan merchandise yang tak diinginkan tersebut dengan catatan luapan kemarahan. Tetapi sekitar sepertiga dari para dealer mengirim cek kepada sang pengusaha muda tersebut. Dalam hanya beberapa bulan ia telah menerima $200.

    Sekalipun di balik kesuksesan awalnya, Hall mempercayai postcard-postcard ilustrasi hanyalah tren sesaat, maka ia menambahkan sebuah tema dari kartu-kartu Natal dan Valentine impor. Dalam setahun saudara prianya Rollie bergabung dengan dirinya dalam bisnis tersebut, dan pada 1912 logo Hall bersaudara tampil pada kartu-kartu ucapan. J.C dan Rollie lebih jauh lagi memperluas tema mereka dan membuka toko-toko ritel di Kansas City dan Chicago.

    Tetapi ketika kesuksesan tampaknya berada dalam genggaman pria bersaudara ini, bencana datang menimpa. Pada tahun 1915, hanya beberapa minggu sebelum hari Valentine, api menyapu gudang mereka, menghancurkan seluruh persediaan kartu Valentine mereka dan menyebabkan sang bersaudara tersebut berhutang sejumlah $17,000. "Jika Anda ingin keluar, itu adalah waktu yang tepat untuk keluar," ujar Hall mengenai bencana tersebut. "Tetapi jika Anda bukan seorang quitter, Anda mulai untuk berpikir cepat." Dan itulah tepat apa yang dia lakukan.

    Hallmark CardMelangkah naik kepada tantangan, Hall meminjam sejumlah cukup uang untuk membeli usaha ukiran lokal hingga ia dan Rollie bisa mengisi kembali stok mereka dengan cepat dan dengan murah mencetak kartu-kartu mereka sendiri. Mereka memproduksi dua kartu pertama mereka tepat waktu pada Natal 1915. Ucapan-ucapan masa Natal karya tangan dengan cepat menjadi sukses oleh para pembeli musim liburan, menyediakan sang bersaudara pemasukan kas yang sangat dibutuhkan.

    Sekarang ia telah memiliki mesin cetaknya sendiri dan beberapa modal untuk dikerjakan, Hall mulai bereksperimen dengan konsep-konsep kartu lainnya. Pada waktu tersebut, kebanyakan dari kartu-kartu ucapan yang dijual di Amerika Serikat diukir import dari Inggris dan Jerman, dibuat hanya untuk pada Natal dan Valentine. Tetapi Hall mempercayai warga Amerika, yang lebih kasual dari warga Eropa, dapat mengambil ide kartu ucapan "setiap hari" yang tak mahal yang bisa mereka kirim kepada teman-teman dan keluarga tidak hanya di hari-hari khusus, tetapi di sepanjang tahun. Visinya akan kartu-kartu ilustrasi penuh warna mengekspresikan perasaan-perasaan, pertemanan, dan bahkan simpati yang dapat menciptakan sebuah pasar baru untuk kartu-kartu ucapan di Amerika.

    Yakin bahwa mengirimkan pesan-pesan kasual "me to you" dapat akhirnya menangkap perhatian dalam pergaulan sehari-hari, Hall memperkenalkan kartu setiap-hari pertamanya pada 1919. Itu berisikan sebuah kata dari penyair Amerika Edgar Guest: "Saya ingin menjadi teman yang begitu baik sebagaimana begitulah kamu pada saya." Bait sederhana dan juga penuh perasaan ini menangkap sebuah perasaan bahwa banyak orang ingin untuk berbagi, dan itu menjadi laris dengan cepatnya.

    Didorong oleh keberhasilan dari usaha awal ini, Hall bersaudara memperluas tema kartu ulang tahun mereka termasuk ucapan ulang tahun, perayaan, ucapan inspirasi dan pesan lekas sembuh. Perang Dunia I menambahkan keberhasilan mereka, karena orang-orang yang berada di kampong halaman ingin untuk mengirim kartu "missing you" bagi yang tercinta yang ditugaskan di seberang lautan.

    Pada awal tahun 1920an, kartu-kartu semua-peristiwa khusus telah terjual di toko-toko sepanjang East dan Midwest, dan Hall bersaudara pindah ke lokasi Kansas City yang baru yang memperkerjakan 120 pekerja. Hingga pada masa tersebut, mengirim kartu-kartu "me to you" telah menjadi sesuatu yang lumrah dalam pergaulan sehari-hari, sesuatu yang sebelumnya dilewatkan oleh kompetitor utama, American Greetings, yang juga telah mulai menjual kartu-kartu semua-peristiwa. Sebagai respon pada kompetisi yang telah meningkat dan untuk lebih cepat memperlebar dan menghimpun perhatian nasional, Hall kembali mengubah nama perusahaan menjadi Hallmark – sebuah nama yang disarankan kualitas tertinggi.

    Hallmark CardBeberapa dekade yang mengikuti, Hall mulai melanjutkan untuk berjuang untuk menjadikan nama Hallmark sama dengan kesempurnaan. Pada 1944, eksekutif Hallmark C.E. Goodman membakukan slogan iklan Hallmark yang sekarang legendaris, "Ketika Anda begitu peduli untuk mengirimkan yang terbaik." Untuk memastikan kartu-kartunya menghidupi janji ini, Hall memanggil di antara talenta-talenta dari artis-artis popular dan penulis-penulis masa tersebut, seperti Norman Rockwell, Grandma Moses, Ogden Nash dan Pearl Buck. Ia bahkan menjual kartu-kartu yang didesain oleh Winston Churchill dan Jacqueline Kennedy Onassis.

    Selalu mencari cara-cara baru untuk menjual kartu-kartunya, Hall mulai mempelajari kebiasaan-kebiasaan berbelanja warga Amerika dan menemukan sebuah pasar potensial yang besar menjual kartu-kartu melalui rantaian peritel obat, makanan, dan diskon. Pada 1959, ia memperkenalkan Ambassador Cards, sebuah dasar yang diciptakan khusus untuk dijual melalui saluran-saluran ritel yang bertumbuh dengan cepat.

    Seorang otokrat keras dan perfeksionis yang kukuh, Hall mengharuskan untuk memberikan tanda persetujuannya untuk setiap desain kartu ucapan dan baris kata sebelum itu ditambahkan pada produk. Bahkan setelah hari pensiunnya pada 1966, ketika putranya, Donald, mengambil alih helm, Hall melanjutkan untuk mengambil hari-hari penuh di kantor ketika ia tidak sedang berlibur. Pada waktu kematian Hall pada 1982, perusahaan yang ia bangun lebih dari 70 tahun seblumnya berbalik menjadi 8 juta kartu ucapan setiap harinya, termasuk kartu yang memulai itu semua – bait persahabatan Edgar Guest, yang tetap diingat sebagai salah satu penjualan terkuat Hallmark sekarang ini.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

  2. Bisa dibilang ia adalah milyarder di dunia yang paling misterius, sukar dipahami, dan aneh yang pernah dikenal, Howard Hughes dikenal sebagai penyendiri yang eksentrik yang ketakutan akan kuman dan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya terbungkus dalam rahasia dan rumor. Namun sebelum terlahap dalam ke-eksentrikannya, Hughes adalah wirausaha jenius yang telah mencapai banyak hal sebagai produser film, seorang pilot dan industriawan. Dia mewariskan kekayaan, dan selama beberapa dekade, ditransformasikannya menjadi salah satu kerajaan bisnis paling beragam dalam sejarah bisnis Amerika.

    Hughes dilahirkan dalam kekayaan pada 24 Desember 1905. Ayahnya, seorang pengusaha pengebor minyak, mengembangkan pengeboran revolusioner untuk industri minyak yang dihasilkan dan digunakan untuk membangun Hughes Tool Co. Tragisnya, Hughes telah menjadi yatim piatu pada usia muda. Ibunya meninggal ketika dia 16, dan ayahnya dua tahun kemudian, dengan meninggalkan bagi Hughes sebuah estate senilai hampir $ 1 juta. Hughes tidak menyukai sisi administrasi bisnis dan mempekerjakan akuntan muda bernama Noah Dietrich untuk menjalankan Hughes Tool Co. pada tahun 1925. Selama lima tahun, Dietrich membalikkan warisan Hughes yang senilai $1 juta menjadi $ 75 juta.

    Dengan Dietrich bertanggung-jawab pada perusahaannya, Hughes bebas untuk mengejar mimpinya yang lain. Pada usia 21, ia menjadi produser film. Film pertamanya, "Swell Hogan," sangatlah buruk sehingga tidak pernah dirilis, tetapi ia melakukan yang lebih baik pada dua film selanjutnya, "Everybody’s Acting" dan "Two Arabian Knights," yang memenangkan Academy Award. Ia pun terus melanjutkan dengan membuat film klasik yang terkenal seperti epik penerbangan Perang Dunia I "Hell Angels," "The Front Page" dan "Scarface."

    Howard HughesHughes untuk sementara meninggalkan industri perfilman pada 1932 untuk bergerak dalam gairahnya yang lain – penerbangan. Hughes bermimpi untuk mematahkan record paling cepat sedunia, dan ia mendirikan Hughes Aircraft Co. untuk mendesain dan membangun sebuah pesawat yang khususnya untuk tujuan itu. Hasilnya adalah pembalap Hughes H-1 yang revolusioner, sebuah gebrakan dalam aerodinamik yang sebenarnya membuat record penerbangan paling cepat sedunia dari 353 mph yang mencengangkan pada tahun 1935. Enam bulan kemudian, Hughes menyiapkan record baru yang lain ketika ia menerbangkan H-1 yang baru tanpa henti dari Burbank, California, ke Newark, New Jersey, dalam hanya tujuh jam dan 28 menit.

    Hughes kemudian menyiapkan tempat-tempat perhentiannya untuk menaklukkan dunia. Pada 1938, ia dan kru-nya yang beranggotakan empat orang mengawaki Lockheed Model 14 ke seluruh dunia dalam tiga hari, 19 jam dan 8 menit. Penerbangan tersebut tidak hanya membuat sebuah record baru, tetapi juga menolong untuk menyiapkan jalan untuk industri penerbangan komersial.

    Setelah penerbangan seluruh dunianya, Hughes mulai kuatir bahwa perusahaan-perusahaan perakitan pesawat yang lain melewati Hughes Aircraft. Untuk mengatasi ini, ia membeli hak kendali dalam TWA dan mulai mendesain perakitan pesawat eksperimental untuk militer.

    Ia juga kembali ke dalam pembuatan film dengan sebuah film yang kontroversial "The Outlaw." Dibintangi oleh gadis 19 tahun yang berpakaian minim, pendatang baru Jane Russell, sensor-sensor pun mengawali film ini. Ketika Hughes akhirnya mendapatkan ijin untuk menunjukkan ke publik, ia menunggu hingga dua tahun, membuat rasa penasaran publik terbangun. Meskipun dikutuk sebagai film yang sangat buruk, "The Outlaw" bagaimanapun telah meraup jutaan dolar.

    Selama Perang Dunia II, Hughes satu tim dengan Henry Kaiser dan memenangkan sebuah kontrak pemerintah untuk membangun tiga "kapal terbang" besar, yang diharapkan berfungsi sebagai pengangkut tentara. Hanya satu yang selesai, Spruce Goose yang terkenal. Pemerintah membatalkan kontrak tersebut ketika jelas sudah bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan waktu yang didapat selama masa perang.

    Pada 1946, kehidupan Hughes menjadi mengenaskan dan berbelok. Selagi uji coba sebuah pesawat baru di langit-langit Los Angeles, pesawatnya kehilangan tenaga dan menabrak rumah-rumah Beverly Hills. Hughes dibawa keluar dari puing-puing terbakar oleh pemuda AL yang sedang lewat, dan selanjutnya diketahui bahwa hampir di setiap tulang di tubuhnya telah patah. Hughes memang menjadi pulih secara fisik, tetapi semangatnya tidak pernah sama lagi. Selama masa pemulihannya, ia membutuhkan banyak kodein untuk mengatasi rasa sakitnya yang akhirnya ia menjadi kecanduan akan pembunuh rasa sakit dan akhirnya begitu terus hingga sisa hidupnya.

    Howard HughesSetelah kecelakaan tersebut, perilaku Hughes menjadi semakin aneh lagi. Begitu banyak hal aneh sehingga ketika pesawat Spruce Goose-nya akhirnya keluar dari perakitan pada 1947, militer menolak untuk mempercayai bahwa raksasa tersebut bisa terbang, dan Senat AS menuduh Hughes membuat lelucon untuk hiburan sendiri Untuk membuktikan bahwa Spruce Goose tidaklah bohong, Hughes sendiri masuk dalam uji coba penerbangan pesawat besar tersebut pada 2 November 1947. Itu menjadi penampilan publik terbesar terakhirnya dan karya seni terakhir sebagai penerbang. Lima tahun kemudian, Hughes menghentikan divisi perakitan pesawatnya dari Hughes Tools dan menggunakan uang tersebut untuk membangun Howard Hughes Institute di Florida.

    Selalu penyendiri, Hughes menjadi semakin misterius. Pada 1963, ia begitu tak berkeinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik ketika 78 persen saham di TWA menyulut sebuah pengajuan pengadilan antitrust, Hughes menolak untuk hadir di pengadilan atau bahkan memberikan sebuah pernyataan. Kegagalannya untuk tampil pada peraturan yang melawan dirinya, dan ia akhirnya dipaksa untuk menjual saham TWA miliknya untuk $546 juta.

    Untuk menghindari membayar pajak-pajak di California, Hughes berpindah ke Las Vegas dan menggunakan uang yang dari penjualan saham TWA-nya untuk membeli Desert Inn dan Casino, dimana akhirnya menjadi rumah dan markasnya. Empat tahun selanjutnya, ia membeli beberapa hotel dan kasino lain, sebuah stasiun televisi lokal, Alamo Airlines dan nyaris 25.000 hektar properti mengeliling Las Vegas. Properti-properti baru tersebut, dikombinasikan dengan Hughes Tool dan saham real estate di Arizona dan California, memberikan Hughes keuntungan bersih kira-kira $1 juta.

    Howard HughesPada November 1970, Hughes pindah ke Bahamas, lagi-lagi untuk menghindari pajak. Ia tidak pernah kembali ke Amerika Serikat. Kecanduan obat-obatan dan kesehatan mental serta fisik yang menurun mendorong dirinya untuk memisahkan diri. Selama tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, pertapa yang kaya raya tenggelam antara peristirahatan-peristirahatan rahasia di Nikaragua, Kanada, dan Inggris sebelum akhirnya menetap di Acapulco, Meksiko. Tahun-tahun akan penggunaan narkoba dan diet miskin akhirnya merenggut apa yang selama ini mereka gerogoti pada 1976, ketika Hughes, yang kurus lemah berisi 94 pon, meninggal karena gagal ginjal selagi dalam penerbangan dari Acapulco ke Houston, dimana ia dibawa untuk perawatan medis.

    Howard Hughes bisa dibilang memiliki semua mimpi ala Amerika. Ia adalah pahlawan dan inovator Amerika sejati. Tetapi juga ia diingat tidak hanya karena pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa, tetapi juga tragedi kehidupannya. Tampaknya Howard Hughes adalah bukti nyata dari kalimat tua, "Uang tidak bisa membelik kebahagiaan."

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : entrepreneur.com

  3. Ricky Ow Meski ditempa beragam kasus, industri TV berbayar di Asia terus tumbuh. Sebab, hingga kini permintaan konsumen masih tinggi. Karena itu, Ricky Ow tetap optimis menyetir industri ini.

    Sebagai Senior Vice President dan General Manager SPE Networks-Asia (SPENA), Ricky Ow mengembangkan porfolio SPENA dari dua hingga enam merk kanal, menawarkan paket TV hiburan yang komplit untuk rumah tangga pengguna TV satelit dan kabel di Asia.

    Ia mencontohkan, menonton kanal di TV berbayar seperti pergi ke restoran. "Anda memesan makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, atau kue-kue dan membayarnya. Setelah selesai, Anda tinggalkan tempat itu," kata Ricky Ow dalam sebuah perbincangan.

    Kiprah Ricky Ow di SPENA dimulai tahun 1999 sebagai Kepala Sales dan Marketing untuk merk tunggal, AXN Asia. Tidak main-main, merk itu berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu merk TV internasional yang terkenal di Asia. Merk tersebut juga menjadi pilihan pengiklan dan pembeli.

    Ricky kemudian mengembangkan perannya untuk memasukkan program, secara efektif mengambil alih manajemen secara keseluruhan dari merk kanal ini. Alhasil, AXN menjadi kanal berbahasa Inggris nomor satu di Asia, yang menjangkau 80 juta rumah tangga dan menarik lebih dari 107 juta penonton setiap tahun.

    Tahun 2004 , Ricky meluncurkan Animax Asia untuk segmen remaja. Kanal kabel ini memiliki spesialisasi di animasi Jepang dan program remaja, seperti game, musik, fesyen dan seni.

    Kini, Animax menjangkau 29 juta rumah tangga dengan daya tonton lebih dari 50 juta. Di bawah kepemimpinan Ricky, SPENA berkembang cepat. Singkatnya, empat merk kanal baru di dalam anak kelompok Sony ini bertambah, seperti AXN Beyond, Sony Entertainment Television, PIX, dan PIX Thriller.

    Ricky juga memimpin SPENA menjadi pengusung hiburan berkelas, dengan melakukan langkah AXN memproduksi program hiburan berbahasa Inggris di Asia, untuk Asia. Usahanya terbayar ketika AXN memenangkan Best Entertainment Programme pada tahun 2006 dalam Asian Television Awards untuk The Man’s World Show, sebuah program realitas yang didisain untuk laki-laki.

    Dengan kesuksesan ini, Ricky merambah ke produksi TV di Asia, The Amazing Race Asia, edisi Asia dari The Amazing Race yang memperoleh Emmy Award untuk format reality show kompetisi. Proyek jutaan dolar ini tidak hanya membawa AXN ke lapisan lebih tinggi di mata penonton dan pengiklan karena program ini membawa record rating untuk kanal ini.Program ini juga membuat posisi AXN sebagai pemimpin di hiburan berkelas di industri media.

    Terganjal pembajakan

    Kiprah Ricky memasarkan TV berbayar bukan tanpa hambatan. Ia menyebut, salah satu hambatannya adalah maraknya pembajakan di wilayah Asia, terutama Indonesia. "Maksudnya bukan pembajakan seperti DVD. Tetapi ada kebocoran. Jadi yang bayar satu tetapi yang memakai rame-rame," ujarnya.

    Kebocoran ini dinilai merugikan dan mematikan industri TV berbayar. Lebih jauh ia mengatakan, pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar, karena memiliki populasi yang banyak dibandingkan negara lainnya di Asia.

    Meski perolehan labanya bukan yang paling tinggi, pertumbuhan TV berbayar di Indonesia terbilang cepat di antara lima pasar teratas.

    Ia memprediksi, Indonesia akan berkembang dalam waktu 10 tahun mendatang karena ukuran pasarnya yang besar. "Indonesia akan tumbuh terutama bila pembajakan dapat ditangani," tuturnya.

    Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

    Sumber : kompas.com

Powered by ExtJS Theme flavored Wordpress.