Bisa dibilang ia adalah milyarder di dunia yang paling misterius, sukar dipahami, dan aneh yang pernah dikenal, Howard Hughes dikenal sebagai penyendiri yang eksentrik yang ketakutan akan kuman dan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya terbungkus dalam rahasia dan rumor. Namun sebelum terlahap dalam ke-eksentrikannya, Hughes adalah wirausaha jenius yang telah mencapai banyak hal sebagai produser film, seorang pilot dan industriawan. Dia mewariskan kekayaan, dan selama beberapa dekade, ditransformasikannya menjadi salah satu kerajaan bisnis paling beragam dalam sejarah bisnis Amerika.
Hughes dilahirkan dalam kekayaan pada 24 Desember 1905. Ayahnya, seorang pengusaha pengebor minyak, mengembangkan pengeboran revolusioner untuk industri minyak yang dihasilkan dan digunakan untuk membangun Hughes Tool Co. Tragisnya, Hughes telah menjadi yatim piatu pada usia muda. Ibunya meninggal ketika dia 16, dan ayahnya dua tahun kemudian, dengan meninggalkan bagi Hughes sebuah estate senilai hampir $ 1 juta. Hughes tidak menyukai sisi administrasi bisnis dan mempekerjakan akuntan muda bernama Noah Dietrich untuk menjalankan Hughes Tool Co. pada tahun 1925. Selama lima tahun, Dietrich membalikkan warisan Hughes yang senilai $1 juta menjadi $ 75 juta.
Dengan Dietrich bertanggung-jawab pada perusahaannya, Hughes bebas untuk mengejar mimpinya yang lain. Pada usia 21, ia menjadi produser film. Film pertamanya, "Swell Hogan," sangatlah buruk sehingga tidak pernah dirilis, tetapi ia melakukan yang lebih baik pada dua film selanjutnya, "Everybody’s Acting" dan "Two Arabian Knights," yang memenangkan Academy Award. Ia pun terus melanjutkan dengan membuat film klasik yang terkenal seperti epik penerbangan Perang Dunia I "Hell Angels," "The Front Page" dan "Scarface."
Howard HughesHughes untuk sementara meninggalkan industri perfilman pada 1932 untuk bergerak dalam gairahnya yang lain – penerbangan. Hughes bermimpi untuk mematahkan record paling cepat sedunia, dan ia mendirikan Hughes Aircraft Co. untuk mendesain dan membangun sebuah pesawat yang khususnya untuk tujuan itu. Hasilnya adalah pembalap Hughes H-1 yang revolusioner, sebuah gebrakan dalam aerodinamik yang sebenarnya membuat record penerbangan paling cepat sedunia dari 353 mph yang mencengangkan pada tahun 1935. Enam bulan kemudian, Hughes menyiapkan record baru yang lain ketika ia menerbangkan H-1 yang baru tanpa henti dari Burbank, California, ke Newark, New Jersey, dalam hanya tujuh jam dan 28 menit.
Hughes kemudian menyiapkan tempat-tempat perhentiannya untuk menaklukkan dunia. Pada 1938, ia dan kru-nya yang beranggotakan empat orang mengawaki Lockheed Model 14 ke seluruh dunia dalam tiga hari, 19 jam dan 8 menit. Penerbangan tersebut tidak hanya membuat sebuah record baru, tetapi juga menolong untuk menyiapkan jalan untuk industri penerbangan komersial.
Setelah penerbangan seluruh dunianya, Hughes mulai kuatir bahwa perusahaan-perusahaan perakitan pesawat yang lain melewati Hughes Aircraft. Untuk mengatasi ini, ia membeli hak kendali dalam TWA dan mulai mendesain perakitan pesawat eksperimental untuk militer.
Ia juga kembali ke dalam pembuatan film dengan sebuah film yang kontroversial "The Outlaw." Dibintangi oleh gadis 19 tahun yang berpakaian minim, pendatang baru Jane Russell, sensor-sensor pun mengawali film ini. Ketika Hughes akhirnya mendapatkan ijin untuk menunjukkan ke publik, ia menunggu hingga dua tahun, membuat rasa penasaran publik terbangun. Meskipun dikutuk sebagai film yang sangat buruk, "The Outlaw" bagaimanapun telah meraup jutaan dolar.
Selama Perang Dunia II, Hughes satu tim dengan Henry Kaiser dan memenangkan sebuah kontrak pemerintah untuk membangun tiga "kapal terbang" besar, yang diharapkan berfungsi sebagai pengangkut tentara. Hanya satu yang selesai, Spruce Goose yang terkenal. Pemerintah membatalkan kontrak tersebut ketika jelas sudah bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan waktu yang didapat selama masa perang.
Pada 1946, kehidupan Hughes menjadi mengenaskan dan berbelok. Selagi uji coba sebuah pesawat baru di langit-langit Los Angeles, pesawatnya kehilangan tenaga dan menabrak rumah-rumah Beverly Hills. Hughes dibawa keluar dari puing-puing terbakar oleh pemuda AL yang sedang lewat, dan selanjutnya diketahui bahwa hampir di setiap tulang di tubuhnya telah patah. Hughes memang menjadi pulih secara fisik, tetapi semangatnya tidak pernah sama lagi. Selama masa pemulihannya, ia membutuhkan banyak kodein untuk mengatasi rasa sakitnya yang akhirnya ia menjadi kecanduan akan pembunuh rasa sakit dan akhirnya begitu terus hingga sisa hidupnya.
Howard HughesSetelah kecelakaan tersebut, perilaku Hughes menjadi semakin aneh lagi. Begitu banyak hal aneh sehingga ketika pesawat Spruce Goose-nya akhirnya keluar dari perakitan pada 1947, militer menolak untuk mempercayai bahwa raksasa tersebut bisa terbang, dan Senat AS menuduh Hughes membuat lelucon untuk hiburan sendiri Untuk membuktikan bahwa Spruce Goose tidaklah bohong, Hughes sendiri masuk dalam uji coba penerbangan pesawat besar tersebut pada 2 November 1947. Itu menjadi penampilan publik terbesar terakhirnya dan karya seni terakhir sebagai penerbang. Lima tahun kemudian, Hughes menghentikan divisi perakitan pesawatnya dari Hughes Tools dan menggunakan uang tersebut untuk membangun Howard Hughes Institute di Florida.
Selalu penyendiri, Hughes menjadi semakin misterius. Pada 1963, ia begitu tak berkeinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik ketika 78 persen saham di TWA menyulut sebuah pengajuan pengadilan antitrust, Hughes menolak untuk hadir di pengadilan atau bahkan memberikan sebuah pernyataan. Kegagalannya untuk tampil pada peraturan yang melawan dirinya, dan ia akhirnya dipaksa untuk menjual saham TWA miliknya untuk $546 juta.
Untuk menghindari membayar pajak-pajak di California, Hughes berpindah ke Las Vegas dan menggunakan uang yang dari penjualan saham TWA-nya untuk membeli Desert Inn dan Casino, dimana akhirnya menjadi rumah dan markasnya. Empat tahun selanjutnya, ia membeli beberapa hotel dan kasino lain, sebuah stasiun televisi lokal, Alamo Airlines dan nyaris 25.000 hektar properti mengeliling Las Vegas. Properti-properti baru tersebut, dikombinasikan dengan Hughes Tool dan saham real estate di Arizona dan California, memberikan Hughes keuntungan bersih kira-kira $1 juta.
Howard HughesPada November 1970, Hughes pindah ke Bahamas, lagi-lagi untuk menghindari pajak. Ia tidak pernah kembali ke Amerika Serikat. Kecanduan obat-obatan dan kesehatan mental serta fisik yang menurun mendorong dirinya untuk memisahkan diri. Selama tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, pertapa yang kaya raya tenggelam antara peristirahatan-peristirahatan rahasia di Nikaragua, Kanada, dan Inggris sebelum akhirnya menetap di Acapulco, Meksiko. Tahun-tahun akan penggunaan narkoba dan diet miskin akhirnya merenggut apa yang selama ini mereka gerogoti pada 1976, ketika Hughes, yang kurus lemah berisi 94 pon, meninggal karena gagal ginjal selagi dalam penerbangan dari Acapulco ke Houston, dimana ia dibawa untuk perawatan medis.
Howard Hughes bisa dibilang memiliki semua mimpi ala Amerika. Ia adalah pahlawan dan inovator Amerika sejati. Tetapi juga ia diingat tidak hanya karena pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa, tetapi juga tragedi kehidupannya. Tampaknya Howard Hughes adalah bukti nyata dari kalimat tua, "Uang tidak bisa membelik kebahagiaan."
Meski ditempa beragam kasus, industri TV berbayar di Asia terus tumbuh. Sebab, hingga kini permintaan konsumen masih tinggi. Karena itu, Ricky Ow tetap optimis menyetir industri ini.
Sebagai Senior Vice President dan General Manager SPE Networks-Asia (SPENA), Ricky Ow mengembangkan porfolio SPENA dari dua hingga enam merk kanal, menawarkan paket TV hiburan yang komplit untuk rumah tangga pengguna TV satelit dan kabel di Asia.
Ia mencontohkan, menonton kanal di TV berbayar seperti pergi ke restoran. "Anda memesan makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, atau kue-kue dan membayarnya. Setelah selesai, Anda tinggalkan tempat itu," kata Ricky Ow dalam sebuah perbincangan.
Kiprah Ricky Ow di SPENA dimulai tahun 1999 sebagai Kepala Sales dan Marketing untuk merk tunggal, AXN Asia. Tidak main-main, merk itu berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu merk TV internasional yang terkenal di Asia. Merk tersebut juga menjadi pilihan pengiklan dan pembeli.
Ricky kemudian mengembangkan perannya untuk memasukkan program, secara efektif mengambil alih manajemen secara keseluruhan dari merk kanal ini. Alhasil, AXN menjadi kanal berbahasa Inggris nomor satu di Asia, yang menjangkau 80 juta rumah tangga dan menarik lebih dari 107 juta penonton setiap tahun.
Tahun 2004 , Ricky meluncurkan Animax Asia untuk segmen remaja. Kanal kabel ini memiliki spesialisasi di animasi Jepang dan program remaja, seperti game, musik, fesyen dan seni.
Kini, Animax menjangkau 29 juta rumah tangga dengan daya tonton lebih dari 50 juta. Di bawah kepemimpinan Ricky, SPENA berkembang cepat. Singkatnya, empat merk kanal baru di dalam anak kelompok Sony ini bertambah, seperti AXN Beyond, Sony Entertainment Television, PIX, dan PIX Thriller.
Ricky OwRicky juga memimpin SPENA menjadi pengusung hiburan berkelas, dengan melakukan langkah AXN memproduksi program hiburan berbahasa Inggris di Asia, untuk Asia. Usahanya terbayar ketika AXN memenangkan Best Entertainment Programme pada tahun 2006 dalam Asian Television Awards untuk The Man’s World Show, sebuah program realitas yang didisain untuk laki-laki.
Dengan kesuksesan ini, Ricky merambah ke produksi TV di Asia, The Amazing Race Asia, edisi Asia dari The Amazing Race yang memperoleh Emmy Award untuk format reality show kompetisi. Proyek jutaan dolar ini tidak hanya membawa AXN ke lapisan lebih tinggi di mata penonton dan pengiklan karena program ini membawa record rating untuk kanal ini.Program ini juga membuat posisi AXN sebagai pemimpin di hiburan berkelas di industri media.
Terganjal pembajakan
Kiprah Ricky memasarkan TV berbayar bukan tanpa hambatan. Ia menyebut, salah satu hambatannya adalah maraknya pembajakan di wilayah Asia, terutama Indonesia. "Maksudnya bukan pembajakan seperti DVD. Tetapi ada kebocoran. Jadi yang bayar satu tetapi yang memakai rame-rame," ujarnya.
Kebocoran ini dinilai merugikan dan mematikan industri TV berbayar. Lebih jauh ia mengatakan, pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar, karena memiliki populasi yang banyak dibandingkan negara lainnya di Asia.
Meski perolehan labanya bukan yang paling tinggi, pertumbuhan TV berbayar di Indonesia terbilang cepat di antara lima pasar teratas.
Ia memprediksi, Indonesia akan berkembang dalam waktu 10 tahun mendatang karena ukuran pasarnya yang besar. "Indonesia akan tumbuh terutama bila pembajakan dapat ditangani," tuturnya.
Runi Palar, bernama lengkap Sotjawaruni Kumala Palar lahir di Pujokusuman, Yogyakarta 26 Mei 1946. Dia dapat disebut sebagai ikon generasi baru disainer perak Indonesia. Memulai karier sebagai disainer perhiasan perak dan emas pada 1968. Dia membuat perhiasan dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam.
Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree (trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian dilas, dan ketokan. Runi memasarkan produknya terutama ke Jepang, Eropa dan Amerika, selain Indonesia. Sehingga namanya menempati posisi tersendiri dalam perkembangan perak Indonesia.
Ayahnya RS Tjokrosoeroso (almarhum) adalah ahli kerajinan perak bakar dan merupakan orang Indonesia pertama yang memamerkan silverwork dan cara pembuatannya di San Fransisco, USA selama 14 bulan pada tahun 1938. Alat transportasi yang digunakan pada waktu itu adalah kapal laut. Ibunya R Ngt. Sumiyati Soenandar (almarhumah) berasal dari Surabaya.
Suaminya Drs. Adriaan Palar, keturunan Minahasa, lahir di Bandung 14 November 1936. Seorang Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966 , jurusan Interior Design. Runi dan Adriaan pertama kali bertemu di New York, USA pada tahun 1964. Mereka menikah pada tanggal 29 Oktober 1967. Adriaan yang mendorong Runi dalam berkarya dan menekuni bidang seni pakai gapplied arts-design, khususnya fashion dan perhiasan.
Mereka dikaruniai tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM. Sarjana Hukum jurusan Hukum Tata Negara Universitas Pajajaran (UNPAD), Bandung. Telah menikah, dikaruniai 3(tiga) orang anak. Saat ini bekerja sebagai staff pengajar Fakultas Hukum UNPAD, Bandung. Ia memperoleh bea siswa dari Aus-Aids untuk melanjutkan program S2 pada akhir tahun 2001 ke Sydney, Australia dan telah mendapatkan gelar Master dalam Intellectual Property Rights.
Anak kedua, Alvin Daniel Dipodi Palar, SSn. Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Grafis, mengikuti program S2 bidang Magister Management di Universitas Pajajaran, Bandung. Telah menikah dan dikaruniai 2(dua) orang putra.
Anak ketiga, Xenia Dani Tajiati Palar, lulusan Seni Rupa, Institut Tehnologi Bandung (ITB), jurusan Desain Tekstil. Belum menikah.
Runi Palar menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) di Yogyakarta. Kemudian, dia hijrah ke Bandung, kuliah di Institut Teknologi Tekstil (ITT) selama 2 tahun, namun tidak sampai selesai karena segera menikah.
Kemudian Runi masuk Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwenda (1970) dan Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, Spsi (1974-1977) dan kursus-kursus bahasa serta ketrampilan lainnya.
Runi PalarDia menggumuli perhiasan perak mulai dari hobby hingga ke Profesi Designer. Bermula dari hobby mendesain busana sendiri dan membuat perhiasan dari kuningan dan perak, serta sering mengikuti berbagai fashion show dan pameran kerajinan, pada tahun 1976, Runi bersama suaminya Adriaan Palar mendirikan CV RUNA.
Nama RUNA diambil dari singkatan nama RUNI dan ADRIAAN. RUNA dengan kekhususan tersendiri, bergerak di bidang desain, produksi perhiasan emas dan perak dengan logo RUNA Jewelry.
Berdedikasi tinggi dan kerja keras menghasilkan kreasi Runi banyak digemari tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.
Dalam mengembangankan usaha selain bidang perak & emas, Runi dan Adriaan melihat adanya potensi dan ketertarikan anak-anaknya, Xenia dan Alvin pada bidang desain, khususnya desain tekstil (textile design).
Pada tahun 1996, Runi dan Adriaan beserta kedua anak mereka, mendirikan Kirta Kaloka (anak perusahaan CV RUNA) yang merupakan usaha baru di bidang Textile Arts of Indonesia. Di samping mendesain dan membuat busana batik eksklusif dan household textiles dengan logo KIRITA Batik, Kirta Kaloka juga membuat perhiasan yang terbuat dari bahan-bahan lainnya (kayu, kulit, keramik, kuningan, dll.)
Dalam mengembangkan usahanya, Runi sering melakukan studi banding dan praktek kerja. Di antaranya, Januari 1988, Studi Banding ke Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Hongkong dan Taipei, Taiwan. Maret 1988, studi banding ke Paris (Perancis) dan Arezzo & Vicenza (Italia). Kemudian Juni 2001 ke Vicenza-Oro, Italia. Juga kunjungan studi banding atas undangan World Gold Council International (Pameran dan Seminar tentang Perhiasan Emas).
Sementara praktek kerja, antara lain dilakukan pada September 1982 di London & Scotland, Inggris mengennai Teknik Desain & Casting. Pada Maret 1996 mengikuti Kursus Teknik Kerajinan yang Eksklusif di Kyoto, Jepang.
Runi Palar juga aktif di berbagai organisasi sosial dan profesi. Organisasi Sosial yang diikutinya adalah Women International Club (WIC) sebagai member (anggota biasa).
Sementara Organisasi Profesi yang diikuti sebagai member, di antaranya: Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional/Indonesian Craft Council), Bandung; Kadin (Kamar Dagang Indonesia/Indonesian Chambers of Commerce), Bandung; HIMPI (Indonesian Craft Association for Small Scale Industry); ASEPHI (Indonesian Craft Exporter Association); American Craft Council, New York; WIPI (Wanita Insan Pariwisata Indonesia), Jawa Barat.
Organisasi Profesi dimana Runi duduk sebagai Board of Director (Pengurus), antara lain: MBI (Indonesian Society of Gemstone), Bandung; Dewan Penyantun Yayasan Fashion Indonesia, Jakarta; IPAPI (Indonesian Jewelry Designer Association), Jakarta, selaku Ketua.
Runi Palar & Runa Jewelry
Sejak semula didirikan CV RUNA pada tahun 1976, Runi Palar memimpin sendiri RUNA Jewelry dibantu oleh suami, Adriaan Palar. Pada 5 (lima) tahun terakhir, dibantu oleh anak-anak Alvin & Xenia dalam bidang desain dan artistik serta staff administrasi dan teknik di kedua galeri/kantor di Bandung dan Bali.
CV. RUNA hingga saat ini masih merupakan perusahaan keluarga berskala usaha kecil menengah dengan prospek perluasan pemasaran ke luar negeri.
Bentuk Pemasaran
Produk RUNA dijual/dipasarkan secara retail, maupun wholesale, melalui toko-toko retail RUNA sendiri dan di luar negeri melalui boutique-boutique pelanggan RUNA Jewelry, mail order company di luar negeri.
Penjualan secara wholesale untuk ekspor dilakukan hanya melalui kantor/galeri RUNA di Bandung & Bali. Juga melayani pemesanan khusus berupa corporate gifts untuk hotel-hotel berbintang di dalam negeri maupun luar negeri, kantor-kantor, untuk keperluan konggres, cinderamata yang diperlukan oleh Istana Negara, Jakarta, juga untuk museum shop di luar negeri.
Selain itu pula, produk RUNA diekspor secara rutin ke manca negara seperti: Singapore, Hongkong, Jepang & Amerika.
Salah satu tanda dari pengusaha sejati adalah kemampuan untuk memperkirakan kesempatan berbisnis yang orang lain bisa saja tak perhatikan bahwa kesempatan itu ada. Kemampuan tersebut, bersama dengan ketertarikan yang tak ada habisnya, cinta kepada jalan-jalan keluar atau solusi dan kecenderungan untuk mengambil resiko, yang memampukan pionir makanan-beku Clarence Birdsey untuk mengubah tradisi ratusan tahun menjadi proses revolusioner yang menciptakan industri jutaan dolar dan membuat Birdseye sebagai pria sangat kaya.
Lahir di Brooklyn, New York, pada 1886, Clarence Birdseye, seperti banyak pengusaha sukses lainnya, naik ke jalur perniagaan bebas di usia muda. Ketika ia baru berusia 10 tahun, ia mendengar mengenai seorang tuan tanah Inggris mencari permainan berburu untuk tanah miliknya, maka Birdseye muda mengepak lusinan tikus air yang telah ia tangkap di Long Island. Usaha pertamanya memberikan ia keuntungan bersih $9, yang ia gunakan untuk membeli senapan berburu.
Terbakar oleh ketertarikan membakar pada tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, Birdseye memasuki Amherst College untuk mempelajari biologi. Ia membayar biaya perkuliahannya melalui beberapa usaha yang unik, termasuk menjul bayi-bayi kodok ke Kebun Binatang Bronx untuk makanan ular dan menangkap tikus-tikus hitam yang jarang di toko daging lokal untuk professor genetic. Tetapi dana-dana yang dihasilkan dari bisnis-bisnis tersebut serta sampingan lainnya tidaklah mencukupi untuk memenuhi biaya-biaya perkuliahan yang meningkat, maka Birdseye keluar dari Amherst setelah dua tahun untuk menaruh tangannya di bisnis perdagangan bulu.
Mendapatkan dana dari rumah bulu di New York, Birdseye berkeliling oleh pimpinan anjing-anjing (dogsled, red) ke Labrador, Newfoundland, dimana ia mampu untuk mengubah keuntungan kecil dari jual-beli bulu-bulu untuk uang. Selagi di Arctic, ia diperkenalkan kepada praktik Inuit Indian untuk "membekukan cepat" ikan yang mereka tangkap. Sang nelayan cukup menaruh ikan tersebut di es, dan kombinasi es, angin, dan temperatur membekukan ikan nyaris secara instan. Bahkan yang lebih mengagumkan, Birdseye memperhatikan bahwa ketika ikan dimasak dan dimakan, begitu empuk dan mudah dibelah, dan rasanya sama bagusnya ketika ditangkap dengan segar. Birdseye juga memperhatikan hal yang sama juga terjadi pada karibu, angsa, dan kepala kubis yang ia simpan di luar kabinnya sepanjang musim dingin Kanada yang panjang.
Clarence BirdseyeBirdseye mengetahui bahwa usaha-usaha untuk membekukan daging dan sayur-sayuran secara komersial di Amerika Serikat telah gagal, sebagian besar dikarenakan makanan-makanan tidak terjaga rasanya ataupun teksturnya. Tetapi pada waktu itu, metode-metode pembekuan menghabiskan waktu sekitar 18 jam atau lebih. Birdseye menyimpulkan bahwa metode cepat-beku Inuit menjaga kristal-kristal es besar dari terbentuk di makanan, menjaga dari bahaya struktur sel sehingga menjaga kualitas "segar" makanan. Ia juga beranggapan bahwa masyarakat daerah asalnya akan dengan senang hati membayar untuk makanan-makanan beku yang enak, jika ia bisa membawakannya.
Dilengkapi dengan pengetahuan ini, Birdseye kembali ke New York pada September 1922. Ia mengorganisasikan perusahaannya sendiri, Birdseye Seafood Inc., dan mulai mengembangkan mesin cepat-beku dengan mata yang melirik ke pembeli-pembeli ritel. Dimana usaha-usaha awalnya adalah kesuksesan dari sudut pandang teknologikal, tetapi secara komersil gagal. Para pembelinya skeptis, dan Birdseye tidak mampu untuk meyakinkan para penjual grosir dan ibu-ibu rumah tangga bahwa ikan cepat-bekunya berbeda dari makanan kering, tanpa rasa yang diciptakan dari teknik-teknik pembekuan tradisional yang lambat. Perusahaan itu pun dengan cepat menjadi bangkrut.
Tak kenal takut dengan kegagalan ini, Birdseye terus melanjutkan bekerja untuk menyempurnakan mesin cepat-bekunya. Pada 1924, ia mengembangkan sebuah paket untuk ikan atau makanan lainnya dalam karton, lalu membekukan-cepat isi-isinya antara dua penekan yang berpermukaan rata dan beku. Menyadari bahwa ia telah menemukan dasar dari operasi pembekuan yang tipenya sama sekali baru, Birdseye memutuskan untuk membentuk sebuah perusahaan baru untuk menghasilkan uang dari penemuannya.
Dengan pertolongan perbankan keuangan dari beberapa pebisnis New York yang kaya raya, Birdseye mengorganisasikan General Seafood Corp., dan industri makanan beku pun lahir. Kendatipun peningkatan-peningkatan revolusioner telah Birdseye buat, ia tetap tidak bisa mengalahkan ketidakpercayaan publik akan makanan beku. Meskipun itu tidak langsung diterima luas, makanan cepat beku Birdseye tetaplah menjadikan ia sebagai pria kaya-raya. Dengan penjualan yang tertahan, General Seafood menjual aset-asetnya, termasuk paten-paten Birdseye, ke Postum Co. pada 1929 untuk $22 juta yang mengejutkan di masa itu.
Food Frozen Industry – Clarence BirdseyePostum mengorganisasikan kembali dirinya sebagai General Foods Corp. dan menyetujui Clarence Birdseye sebagai presiden dari divisi Birds Eye Frosted Foods yang baru. Pada 1930, perusahaan meluncurkan sebuah kampanye besar untuk memenangkan penerimaan akan bentuk baru dari "makanan beku." Kampanye tersebut pun sukses, dan pemilihan makanan-makanan Birdseye pun dengan cepat bervariasi dari kacang polong, bayam, dan ceri-ceri ke ikan dan beberapa jenis daging. Setelah dua kali usaha-usaha pertama gagal, mimpi Clarence Birdseye untuk menjadikan makanan cepat-beku tersedia untuk masyarakat umum telah menjadi kenyataan.
Tak pernah istirahat seperti sebelumnya, Clarence Birdseye membelanjakan 25 tahun selanjutnya bekerja pada penemuan-penemuan baru, termasuk bayangan lampu-lampu bohlam, sebuah putaran ikan elektrik dan sebuah seruit penjaga untuk pemburu-pemburu ikan paus. Bekerja di dapurnya dengan sebuah kipas angin, panas dari coffee maker elektriknya, dan setumpuk roti kubus, ia mengembangkan sebuah proses untuk makanan-makanan kering. Ia bahkan menulis sebuah buku mengenai bunga-bunga liar dengan istrinya. Di waktu hari kematiannya pada Oktober 1956, ia telah memegang nyaris 300 paten. Tak lama sebelum kematiannya, Birdseye menawarkan sarannya bagi para lulusan kuliah untuk mencari lebih lagi di dunia: "Saya bisa pergi berkeliling bertanya banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh dan mengambil pilihan-pilihan yang ada."
Liem Swie King, pahlawan bulutangkis Indonesia, lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. Dia legendaris bulutangkis Indonesia setelah Rudy Hartono. Dia telah puluhan kali mengharumkan nama Indonesia di pentas olahraga (bulutangkis) dunia. Ia terkenal dengan pukulan jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.
Sejak kecil Swie King sudah bermain bulu tangkis atas dorongan orangtuanya di Kudus, kota kelahirannya. Kepiawaiannya bermain bulutangkis makin terasah ketika ia masuk ke dalam klub PB Djarum yang telah banyak melahirkan para pemain nasional.
Dalam catatan Pusat Data Tokoh Indonesia, Liem Swie King meraih berbagai prestasi selama 15 tahun berkiprah di bulutangkis. Pertama kali, Swie King meraih Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972). Pada usia 17 tahun (1973), ia menjuarai (II) Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Ia pun meraih Juara Kejurnas 1974 dan 1975.
Liem Swie KingKemudian berkiprah di kejuaraan internasional, meraih Juara II All England (1976 & 1977). Kemudian tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, 1981), kejuaraan paling bergengsi kala itu. Selain itu, puluhan medali grand prix lainya, medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan tiga medali emas Piala Thomas (1976, 1979, 1984) dari enam kali membela tim Piala Thomas. Ketika menantang Sang Legendaris Rudy Hartono di final All England tahun 1976, usianya masih 20 tahun. Setelah itu, Liem Swie King menjadi penerus kejayaan Rudy.
Demi Masa Depan
Demi menjamin masa depan, ia pun mengundurkan diri sebagai pemain nasional bulutangkis tahun 1988. Kendati ia tidak langsung bisa menemukan kegiatan usaha untuk mencapai cita-citanya. Setahun setelah berhenti itu, King nyaris dapat dikatakan menganggur. Sebab keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis.
Kemudian ia mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Kini usahanya telah mempekerjakan lebih dari 400 karyawan. Berkantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan.
Bagaimana King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan? Rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus.
Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang. Dalam mengelola usahanya, ia pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya.
Liem Swie KingHasilnya, selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta, banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.
Menurut informasi dari kerabat dekatnya, Liem Swie King sebenarnya dari marga Oei bukan marga Liem. Pergantian marga seperti ini pada masa dahulu zaman Hindia Belanda biasa terjadi, pada masa itu seorang anak dibawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yg menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada "orang tua" yg lain, "orang tua" ini bisa saja bermarga sama atau lain dari aslinya.
Pebulutangkis yang pernah terjun ke dunia film sebagai bintang film Sakura dalam Pelukan, ini kini hidup bahagia bersama isteri dan tiga orang anaknya Alexander King, Stevani King dan Michele King. Ternyata, anak-anaknya tidak tahu bahwa King seorang pahlawan bulutangkis Indonesia.
Belakangan, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, mernjadikan kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulutangkis Indonesia sebagai inspirasi untuk membuat film tentang bulutangkis. Film itu memang bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King.
Bisa dibilang ia adalah milyarder di dunia yang paling misterius, sukar dipahami, dan aneh yang pernah dikenal, Howard Hughes dikenal sebagai penyendiri yang eksentrik yang ketakutan akan kuman dan menghabiskan tahun-tahun terakhir hidupnya terbungkus dalam rahasia dan rumor. Namun sebelum terlahap dalam ke-eksentrikannya, Hughes adalah wirausaha jenius yang telah mencapai banyak hal sebagai produser film, seorang pilot dan industriawan. Dia mewariskan kekayaan, dan selama beberapa dekade, ditransformasikannya menjadi salah satu kerajaan bisnis paling beragam dalam sejarah bisnis Amerika.
Hughes dilahirkan dalam kekayaan pada 24 Desember 1905. Ayahnya, seorang pengusaha pengebor minyak, mengembangkan pengeboran revolusioner untuk industri minyak yang dihasilkan dan digunakan untuk membangun Hughes Tool Co. Tragisnya, Hughes telah menjadi yatim piatu pada usia muda. Ibunya meninggal ketika dia 16, dan ayahnya dua tahun kemudian, dengan meninggalkan bagi Hughes sebuah estate senilai hampir $ 1 juta. Hughes tidak menyukai sisi administrasi bisnis dan mempekerjakan akuntan muda bernama Noah Dietrich untuk menjalankan Hughes Tool Co. pada tahun 1925. Selama lima tahun, Dietrich membalikkan warisan Hughes yang senilai $1 juta menjadi $ 75 juta.
Dengan Dietrich bertanggung-jawab pada perusahaannya, Hughes bebas untuk mengejar mimpinya yang lain. Pada usia 21, ia menjadi produser film. Film pertamanya, "Swell Hogan," sangatlah buruk sehingga tidak pernah dirilis, tetapi ia melakukan yang lebih baik pada dua film selanjutnya, "Everybody’s Acting" dan "Two Arabian Knights," yang memenangkan Academy Award. Ia pun terus melanjutkan dengan membuat film klasik yang terkenal seperti epik penerbangan Perang Dunia I "Hell Angels," "The Front Page" dan "Scarface."
Howard HughesHughes untuk sementara meninggalkan industri perfilman pada 1932 untuk bergerak dalam gairahnya yang lain – penerbangan. Hughes bermimpi untuk mematahkan record paling cepat sedunia, dan ia mendirikan Hughes Aircraft Co. untuk mendesain dan membangun sebuah pesawat yang khususnya untuk tujuan itu. Hasilnya adalah pembalap Hughes H-1 yang revolusioner, sebuah gebrakan dalam aerodinamik yang sebenarnya membuat record penerbangan paling cepat sedunia dari 353 mph yang mencengangkan pada tahun 1935. Enam bulan kemudian, Hughes menyiapkan record baru yang lain ketika ia menerbangkan H-1 yang baru tanpa henti dari Burbank, California, ke Newark, New Jersey, dalam hanya tujuh jam dan 28 menit.
Hughes kemudian menyiapkan tempat-tempat perhentiannya untuk menaklukkan dunia. Pada 1938, ia dan kru-nya yang beranggotakan empat orang mengawaki Lockheed Model 14 ke seluruh dunia dalam tiga hari, 19 jam dan 8 menit. Penerbangan tersebut tidak hanya membuat sebuah record baru, tetapi juga menolong untuk menyiapkan jalan untuk industri penerbangan komersial.
Setelah penerbangan seluruh dunianya, Hughes mulai kuatir bahwa perusahaan-perusahaan perakitan pesawat yang lain melewati Hughes Aircraft. Untuk mengatasi ini, ia membeli hak kendali dalam TWA dan mulai mendesain perakitan pesawat eksperimental untuk militer.
Ia juga kembali ke dalam pembuatan film dengan sebuah film yang kontroversial "The Outlaw." Dibintangi oleh gadis 19 tahun yang berpakaian minim, pendatang baru Jane Russell, sensor-sensor pun mengawali film ini. Ketika Hughes akhirnya mendapatkan ijin untuk menunjukkan ke publik, ia menunggu hingga dua tahun, membuat rasa penasaran publik terbangun. Meskipun dikutuk sebagai film yang sangat buruk, "The Outlaw" bagaimanapun telah meraup jutaan dolar.
Selama Perang Dunia II, Hughes satu tim dengan Henry Kaiser dan memenangkan sebuah kontrak pemerintah untuk membangun tiga "kapal terbang" besar, yang diharapkan berfungsi sebagai pengangkut tentara. Hanya satu yang selesai, Spruce Goose yang terkenal. Pemerintah membatalkan kontrak tersebut ketika jelas sudah bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan waktu yang didapat selama masa perang.
Pada 1946, kehidupan Hughes menjadi mengenaskan dan berbelok. Selagi uji coba sebuah pesawat baru di langit-langit Los Angeles, pesawatnya kehilangan tenaga dan menabrak rumah-rumah Beverly Hills. Hughes dibawa keluar dari puing-puing terbakar oleh pemuda AL yang sedang lewat, dan selanjutnya diketahui bahwa hampir di setiap tulang di tubuhnya telah patah. Hughes memang menjadi pulih secara fisik, tetapi semangatnya tidak pernah sama lagi. Selama masa pemulihannya, ia membutuhkan banyak kodein untuk mengatasi rasa sakitnya yang akhirnya ia menjadi kecanduan akan pembunuh rasa sakit dan akhirnya begitu terus hingga sisa hidupnya.
Howard HughesSetelah kecelakaan tersebut, perilaku Hughes menjadi semakin aneh lagi. Begitu banyak hal aneh sehingga ketika pesawat Spruce Goose-nya akhirnya keluar dari perakitan pada 1947, militer menolak untuk mempercayai bahwa raksasa tersebut bisa terbang, dan Senat AS menuduh Hughes membuat lelucon untuk hiburan sendiri Untuk membuktikan bahwa Spruce Goose tidaklah bohong, Hughes sendiri masuk dalam uji coba penerbangan pesawat besar tersebut pada 2 November 1947. Itu menjadi penampilan publik terbesar terakhirnya dan karya seni terakhir sebagai penerbang. Lima tahun kemudian, Hughes menghentikan divisi perakitan pesawatnya dari Hughes Tools dan menggunakan uang tersebut untuk membangun Howard Hughes Institute di Florida.
Selalu penyendiri, Hughes menjadi semakin misterius. Pada 1963, ia begitu tak berkeinginan untuk menunjukkan dirinya kepada publik ketika 78 persen saham di TWA menyulut sebuah pengajuan pengadilan antitrust, Hughes menolak untuk hadir di pengadilan atau bahkan memberikan sebuah pernyataan. Kegagalannya untuk tampil pada peraturan yang melawan dirinya, dan ia akhirnya dipaksa untuk menjual saham TWA miliknya untuk $546 juta.
Untuk menghindari membayar pajak-pajak di California, Hughes berpindah ke Las Vegas dan menggunakan uang yang dari penjualan saham TWA-nya untuk membeli Desert Inn dan Casino, dimana akhirnya menjadi rumah dan markasnya. Empat tahun selanjutnya, ia membeli beberapa hotel dan kasino lain, sebuah stasiun televisi lokal, Alamo Airlines dan nyaris 25.000 hektar properti mengeliling Las Vegas. Properti-properti baru tersebut, dikombinasikan dengan Hughes Tool dan saham real estate di Arizona dan California, memberikan Hughes keuntungan bersih kira-kira $1 juta.
Howard HughesPada November 1970, Hughes pindah ke Bahamas, lagi-lagi untuk menghindari pajak. Ia tidak pernah kembali ke Amerika Serikat. Kecanduan obat-obatan dan kesehatan mental serta fisik yang menurun mendorong dirinya untuk memisahkan diri. Selama tahun-tahun terakhir dalam hidupnya, pertapa yang kaya raya tenggelam antara peristirahatan-peristirahatan rahasia di Nikaragua, Kanada, dan Inggris sebelum akhirnya menetap di Acapulco, Meksiko. Tahun-tahun akan penggunaan narkoba dan diet miskin akhirnya merenggut apa yang selama ini mereka gerogoti pada 1976, ketika Hughes, yang kurus lemah berisi 94 pon, meninggal karena gagal ginjal selagi dalam penerbangan dari Acapulco ke Houston, dimana ia dibawa untuk perawatan medis.
Howard Hughes bisa dibilang memiliki semua mimpi ala Amerika. Ia adalah pahlawan dan inovator Amerika sejati. Tetapi juga ia diingat tidak hanya karena pencapaian-pencapaiannya yang luar biasa, tetapi juga tragedi kehidupannya. Tampaknya Howard Hughes adalah bukti nyata dari kalimat tua, "Uang tidak bisa membelik kebahagiaan."
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com
Meski ditempa beragam kasus, industri TV berbayar di Asia terus tumbuh. Sebab, hingga kini permintaan konsumen masih tinggi. Karena itu, Ricky Ow tetap optimis menyetir industri ini.
Sebagai Senior Vice President dan General Manager SPE Networks-Asia (SPENA), Ricky Ow mengembangkan porfolio SPENA dari dua hingga enam merk kanal, menawarkan paket TV hiburan yang komplit untuk rumah tangga pengguna TV satelit dan kabel di Asia.
Ia mencontohkan, menonton kanal di TV berbayar seperti pergi ke restoran. "Anda memesan makanan pembuka, menu utama, makanan penutup, atau kue-kue dan membayarnya. Setelah selesai, Anda tinggalkan tempat itu," kata Ricky Ow dalam sebuah perbincangan.
Kiprah Ricky Ow di SPENA dimulai tahun 1999 sebagai Kepala Sales dan Marketing untuk merk tunggal, AXN Asia. Tidak main-main, merk itu berkembang dengan pesat dan menjadi salah satu merk TV internasional yang terkenal di Asia. Merk tersebut juga menjadi pilihan pengiklan dan pembeli.
Ricky kemudian mengembangkan perannya untuk memasukkan program, secara efektif mengambil alih manajemen secara keseluruhan dari merk kanal ini. Alhasil, AXN menjadi kanal berbahasa Inggris nomor satu di Asia, yang menjangkau 80 juta rumah tangga dan menarik lebih dari 107 juta penonton setiap tahun.
Tahun 2004 , Ricky meluncurkan Animax Asia untuk segmen remaja. Kanal kabel ini memiliki spesialisasi di animasi Jepang dan program remaja, seperti game, musik, fesyen dan seni.
Kini, Animax menjangkau 29 juta rumah tangga dengan daya tonton lebih dari 50 juta. Di bawah kepemimpinan Ricky, SPENA berkembang cepat. Singkatnya, empat merk kanal baru di dalam anak kelompok Sony ini bertambah, seperti AXN Beyond, Sony Entertainment Television, PIX, dan PIX Thriller.
Ricky OwRicky juga memimpin SPENA menjadi pengusung hiburan berkelas, dengan melakukan langkah AXN memproduksi program hiburan berbahasa Inggris di Asia, untuk Asia. Usahanya terbayar ketika AXN memenangkan Best Entertainment Programme pada tahun 2006 dalam Asian Television Awards untuk The Man’s World Show, sebuah program realitas yang didisain untuk laki-laki.
Dengan kesuksesan ini, Ricky merambah ke produksi TV di Asia, The Amazing Race Asia, edisi Asia dari The Amazing Race yang memperoleh Emmy Award untuk format reality show kompetisi. Proyek jutaan dolar ini tidak hanya membawa AXN ke lapisan lebih tinggi di mata penonton dan pengiklan karena program ini membawa record rating untuk kanal ini.Program ini juga membuat posisi AXN sebagai pemimpin di hiburan berkelas di industri media.
Terganjal pembajakan
Kiprah Ricky memasarkan TV berbayar bukan tanpa hambatan. Ia menyebut, salah satu hambatannya adalah maraknya pembajakan di wilayah Asia, terutama Indonesia. "Maksudnya bukan pembajakan seperti DVD. Tetapi ada kebocoran. Jadi yang bayar satu tetapi yang memakai rame-rame," ujarnya.
Kebocoran ini dinilai merugikan dan mematikan industri TV berbayar. Lebih jauh ia mengatakan, pasar TV berbayar di Indonesia sangat besar, karena memiliki populasi yang banyak dibandingkan negara lainnya di Asia.
Meski perolehan labanya bukan yang paling tinggi, pertumbuhan TV berbayar di Indonesia terbilang cepat di antara lima pasar teratas.
Ia memprediksi, Indonesia akan berkembang dalam waktu 10 tahun mendatang karena ukuran pasarnya yang besar. "Indonesia akan tumbuh terutama bila pembajakan dapat ditangani," tuturnya.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : kompas.com
Runi Palar, bernama lengkap Sotjawaruni Kumala Palar lahir di Pujokusuman, Yogyakarta 26 Mei 1946. Dia dapat disebut sebagai ikon generasi baru disainer perak Indonesia. Memulai karier sebagai disainer perhiasan perak dan emas pada 1968. Dia membuat perhiasan dalam gaya yang lebih modern, terutama mengambil bentuk abstrak dan benda-benda alam.
Dia menggunakan teknik antara lain granulasi, feligree (trap-trapan, Jawa) yang seperti benang disusun bertingkat dan kemudian dilas, dan ketokan. Runi memasarkan produknya terutama ke Jepang, Eropa dan Amerika, selain Indonesia. Sehingga namanya menempati posisi tersendiri dalam perkembangan perak Indonesia.
Ayahnya RS Tjokrosoeroso (almarhum) adalah ahli kerajinan perak bakar dan merupakan orang Indonesia pertama yang memamerkan silverwork dan cara pembuatannya di San Fransisco, USA selama 14 bulan pada tahun 1938. Alat transportasi yang digunakan pada waktu itu adalah kapal laut. Ibunya R Ngt. Sumiyati Soenandar (almarhumah) berasal dari Surabaya.
Suaminya Drs. Adriaan Palar, keturunan Minahasa, lahir di Bandung 14 November 1936. Seorang Sarjana Seni Rupa ITB lulusan 1966 , jurusan Interior Design. Runi dan Adriaan pertama kali bertemu di New York, USA pada tahun 1964. Mereka menikah pada tanggal 29 Oktober 1967. Adriaan yang mendorong Runi dalam berkarya dan menekuni bidang seni pakai gapplied arts-design, khususnya fashion dan perhiasan.
Mereka dikaruniai tiga anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anak pertama Miranda Risang Ayu Palar, SH, LLM. Sarjana Hukum jurusan Hukum Tata Negara Universitas Pajajaran (UNPAD), Bandung. Telah menikah, dikaruniai 3(tiga) orang anak. Saat ini bekerja sebagai staff pengajar Fakultas Hukum UNPAD, Bandung. Ia memperoleh bea siswa dari Aus-Aids untuk melanjutkan program S2 pada akhir tahun 2001 ke Sydney, Australia dan telah mendapatkan gelar Master dalam Intellectual Property Rights.
Anak kedua, Alvin Daniel Dipodi Palar, SSn. Sarjana Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, jurusan Desain Grafis, mengikuti program S2 bidang Magister Management di Universitas Pajajaran, Bandung. Telah menikah dan dikaruniai 2(dua) orang putra.
Anak ketiga, Xenia Dani Tajiati Palar, lulusan Seni Rupa, Institut Tehnologi Bandung (ITB), jurusan Desain Tekstil. Belum menikah.
Runi Palar menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Teknologi Menengah Atas (STMA) di Yogyakarta. Kemudian, dia hijrah ke Bandung, kuliah di Institut Teknologi Tekstil (ITT) selama 2 tahun, namun tidak sampai selesai karena segera menikah.
Kemudian Runi masuk Sekolah Keluwesan dan Kepribadian Wanita Sriwenda (1970) dan Sekolah Istri Bijaksana (SIB) di bawah bimbingan Prof. DR. Sikoen Pribadi, Spsi (1974-1977) dan kursus-kursus bahasa serta ketrampilan lainnya.
Runi PalarDia menggumuli perhiasan perak mulai dari hobby hingga ke Profesi Designer. Bermula dari hobby mendesain busana sendiri dan membuat perhiasan dari kuningan dan perak, serta sering mengikuti berbagai fashion show dan pameran kerajinan, pada tahun 1976, Runi bersama suaminya Adriaan Palar mendirikan CV RUNA.
Nama RUNA diambil dari singkatan nama RUNI dan ADRIAAN. RUNA dengan kekhususan tersendiri, bergerak di bidang desain, produksi perhiasan emas dan perak dengan logo RUNA Jewelry.
Berdedikasi tinggi dan kerja keras menghasilkan kreasi Runi banyak digemari tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di luar negeri.
Dalam mengembangankan usaha selain bidang perak & emas, Runi dan Adriaan melihat adanya potensi dan ketertarikan anak-anaknya, Xenia dan Alvin pada bidang desain, khususnya desain tekstil (textile design).
Pada tahun 1996, Runi dan Adriaan beserta kedua anak mereka, mendirikan Kirta Kaloka (anak perusahaan CV RUNA) yang merupakan usaha baru di bidang Textile Arts of Indonesia. Di samping mendesain dan membuat busana batik eksklusif dan household textiles dengan logo KIRITA Batik, Kirta Kaloka juga membuat perhiasan yang terbuat dari bahan-bahan lainnya (kayu, kulit, keramik, kuningan, dll.)
Dalam mengembangkan usahanya, Runi sering melakukan studi banding dan praktek kerja. Di antaranya, Januari 1988, Studi Banding ke Kuala Lumpur, Bangkok, Tokyo, Hongkong dan Taipei, Taiwan. Maret 1988, studi banding ke Paris (Perancis) dan Arezzo & Vicenza (Italia). Kemudian Juni 2001 ke Vicenza-Oro, Italia. Juga kunjungan studi banding atas undangan World Gold Council International (Pameran dan Seminar tentang Perhiasan Emas).
Sementara praktek kerja, antara lain dilakukan pada September 1982 di London & Scotland, Inggris mengennai Teknik Desain & Casting. Pada Maret 1996 mengikuti Kursus Teknik Kerajinan yang Eksklusif di Kyoto, Jepang.
Runi Palar juga aktif di berbagai organisasi sosial dan profesi. Organisasi Sosial yang diikutinya adalah Women International Club (WIC) sebagai member (anggota biasa).
Sementara Organisasi Profesi yang diikuti sebagai member, di antaranya: Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional/Indonesian Craft Council), Bandung; Kadin (Kamar Dagang Indonesia/Indonesian Chambers of Commerce), Bandung; HIMPI (Indonesian Craft Association for Small Scale Industry); ASEPHI (Indonesian Craft Exporter Association); American Craft Council, New York; WIPI (Wanita Insan Pariwisata Indonesia), Jawa Barat.
Organisasi Profesi dimana Runi duduk sebagai Board of Director (Pengurus), antara lain: MBI (Indonesian Society of Gemstone), Bandung; Dewan Penyantun Yayasan Fashion Indonesia, Jakarta; IPAPI (Indonesian Jewelry Designer Association), Jakarta, selaku Ketua.
Runi Palar & Runa Jewelry
Sejak semula didirikan CV RUNA pada tahun 1976, Runi Palar memimpin sendiri RUNA Jewelry dibantu oleh suami, Adriaan Palar. Pada 5 (lima) tahun terakhir, dibantu oleh anak-anak Alvin & Xenia dalam bidang desain dan artistik serta staff administrasi dan teknik di kedua galeri/kantor di Bandung dan Bali.
CV. RUNA hingga saat ini masih merupakan perusahaan keluarga berskala usaha kecil menengah dengan prospek perluasan pemasaran ke luar negeri.
Bentuk Pemasaran
Produk RUNA dijual/dipasarkan secara retail, maupun wholesale, melalui toko-toko retail RUNA sendiri dan di luar negeri melalui boutique-boutique pelanggan RUNA Jewelry, mail order company di luar negeri.
Penjualan secara wholesale untuk ekspor dilakukan hanya melalui kantor/galeri RUNA di Bandung & Bali. Juga melayani pemesanan khusus berupa corporate gifts untuk hotel-hotel berbintang di dalam negeri maupun luar negeri, kantor-kantor, untuk keperluan konggres, cinderamata yang diperlukan oleh Istana Negara, Jakarta, juga untuk museum shop di luar negeri.
Selain itu pula, produk RUNA diekspor secara rutin ke manca negara seperti: Singapore, Hongkong, Jepang & Amerika.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : tokohindonesia.com
Salah satu tanda dari pengusaha sejati adalah kemampuan untuk memperkirakan kesempatan berbisnis yang orang lain bisa saja tak perhatikan bahwa kesempatan itu ada. Kemampuan tersebut, bersama dengan ketertarikan yang tak ada habisnya, cinta kepada jalan-jalan keluar atau solusi dan kecenderungan untuk mengambil resiko, yang memampukan pionir makanan-beku Clarence Birdsey untuk mengubah tradisi ratusan tahun menjadi proses revolusioner yang menciptakan industri jutaan dolar dan membuat Birdseye sebagai pria sangat kaya.
Lahir di Brooklyn, New York, pada 1886, Clarence Birdseye, seperti banyak pengusaha sukses lainnya, naik ke jalur perniagaan bebas di usia muda. Ketika ia baru berusia 10 tahun, ia mendengar mengenai seorang tuan tanah Inggris mencari permainan berburu untuk tanah miliknya, maka Birdseye muda mengepak lusinan tikus air yang telah ia tangkap di Long Island. Usaha pertamanya memberikan ia keuntungan bersih $9, yang ia gunakan untuk membeli senapan berburu.
Terbakar oleh ketertarikan membakar pada tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, Birdseye memasuki Amherst College untuk mempelajari biologi. Ia membayar biaya perkuliahannya melalui beberapa usaha yang unik, termasuk menjul bayi-bayi kodok ke Kebun Binatang Bronx untuk makanan ular dan menangkap tikus-tikus hitam yang jarang di toko daging lokal untuk professor genetic. Tetapi dana-dana yang dihasilkan dari bisnis-bisnis tersebut serta sampingan lainnya tidaklah mencukupi untuk memenuhi biaya-biaya perkuliahan yang meningkat, maka Birdseye keluar dari Amherst setelah dua tahun untuk menaruh tangannya di bisnis perdagangan bulu.
Mendapatkan dana dari rumah bulu di New York, Birdseye berkeliling oleh pimpinan anjing-anjing (dogsled, red) ke Labrador, Newfoundland, dimana ia mampu untuk mengubah keuntungan kecil dari jual-beli bulu-bulu untuk uang. Selagi di Arctic, ia diperkenalkan kepada praktik Inuit Indian untuk "membekukan cepat" ikan yang mereka tangkap. Sang nelayan cukup menaruh ikan tersebut di es, dan kombinasi es, angin, dan temperatur membekukan ikan nyaris secara instan. Bahkan yang lebih mengagumkan, Birdseye memperhatikan bahwa ketika ikan dimasak dan dimakan, begitu empuk dan mudah dibelah, dan rasanya sama bagusnya ketika ditangkap dengan segar. Birdseye juga memperhatikan hal yang sama juga terjadi pada karibu, angsa, dan kepala kubis yang ia simpan di luar kabinnya sepanjang musim dingin Kanada yang panjang.
Clarence BirdseyeBirdseye mengetahui bahwa usaha-usaha untuk membekukan daging dan sayur-sayuran secara komersial di Amerika Serikat telah gagal, sebagian besar dikarenakan makanan-makanan tidak terjaga rasanya ataupun teksturnya. Tetapi pada waktu itu, metode-metode pembekuan menghabiskan waktu sekitar 18 jam atau lebih. Birdseye menyimpulkan bahwa metode cepat-beku Inuit menjaga kristal-kristal es besar dari terbentuk di makanan, menjaga dari bahaya struktur sel sehingga menjaga kualitas "segar" makanan. Ia juga beranggapan bahwa masyarakat daerah asalnya akan dengan senang hati membayar untuk makanan-makanan beku yang enak, jika ia bisa membawakannya.
Dilengkapi dengan pengetahuan ini, Birdseye kembali ke New York pada September 1922. Ia mengorganisasikan perusahaannya sendiri, Birdseye Seafood Inc., dan mulai mengembangkan mesin cepat-beku dengan mata yang melirik ke pembeli-pembeli ritel. Dimana usaha-usaha awalnya adalah kesuksesan dari sudut pandang teknologikal, tetapi secara komersil gagal. Para pembelinya skeptis, dan Birdseye tidak mampu untuk meyakinkan para penjual grosir dan ibu-ibu rumah tangga bahwa ikan cepat-bekunya berbeda dari makanan kering, tanpa rasa yang diciptakan dari teknik-teknik pembekuan tradisional yang lambat. Perusahaan itu pun dengan cepat menjadi bangkrut.
Tak kenal takut dengan kegagalan ini, Birdseye terus melanjutkan bekerja untuk menyempurnakan mesin cepat-bekunya. Pada 1924, ia mengembangkan sebuah paket untuk ikan atau makanan lainnya dalam karton, lalu membekukan-cepat isi-isinya antara dua penekan yang berpermukaan rata dan beku. Menyadari bahwa ia telah menemukan dasar dari operasi pembekuan yang tipenya sama sekali baru, Birdseye memutuskan untuk membentuk sebuah perusahaan baru untuk menghasilkan uang dari penemuannya.
Dengan pertolongan perbankan keuangan dari beberapa pebisnis New York yang kaya raya, Birdseye mengorganisasikan General Seafood Corp., dan industri makanan beku pun lahir. Kendatipun peningkatan-peningkatan revolusioner telah Birdseye buat, ia tetap tidak bisa mengalahkan ketidakpercayaan publik akan makanan beku. Meskipun itu tidak langsung diterima luas, makanan cepat beku Birdseye tetaplah menjadikan ia sebagai pria kaya-raya. Dengan penjualan yang tertahan, General Seafood menjual aset-asetnya, termasuk paten-paten Birdseye, ke Postum Co. pada 1929 untuk $22 juta yang mengejutkan di masa itu.
Food Frozen Industry – Clarence BirdseyePostum mengorganisasikan kembali dirinya sebagai General Foods Corp. dan menyetujui Clarence Birdseye sebagai presiden dari divisi Birds Eye Frosted Foods yang baru. Pada 1930, perusahaan meluncurkan sebuah kampanye besar untuk memenangkan penerimaan akan bentuk baru dari "makanan beku." Kampanye tersebut pun sukses, dan pemilihan makanan-makanan Birdseye pun dengan cepat bervariasi dari kacang polong, bayam, dan ceri-ceri ke ikan dan beberapa jenis daging. Setelah dua kali usaha-usaha pertama gagal, mimpi Clarence Birdseye untuk menjadikan makanan cepat-beku tersedia untuk masyarakat umum telah menjadi kenyataan.
Tak pernah istirahat seperti sebelumnya, Clarence Birdseye membelanjakan 25 tahun selanjutnya bekerja pada penemuan-penemuan baru, termasuk bayangan lampu-lampu bohlam, sebuah putaran ikan elektrik dan sebuah seruit penjaga untuk pemburu-pemburu ikan paus. Bekerja di dapurnya dengan sebuah kipas angin, panas dari coffee maker elektriknya, dan setumpuk roti kubus, ia mengembangkan sebuah proses untuk makanan-makanan kering. Ia bahkan menulis sebuah buku mengenai bunga-bunga liar dengan istrinya. Di waktu hari kematiannya pada Oktober 1956, ia telah memegang nyaris 300 paten. Tak lama sebelum kematiannya, Birdseye menawarkan sarannya bagi para lulusan kuliah untuk mencari lebih lagi di dunia: "Saya bisa pergi berkeliling bertanya banyak pertanyaan-pertanyaan bodoh dan mengambil pilihan-pilihan yang ada."
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com
Liem Swie King, pahlawan bulutangkis Indonesia, lahir di Kudus, Jawa Tengah, 28 Februari 1956. Dia legendaris bulutangkis Indonesia setelah Rudy Hartono. Dia telah puluhan kali mengharumkan nama Indonesia di pentas olahraga (bulutangkis) dunia. Ia terkenal dengan pukulan jumping smash, yang dijuluki sebagai King Smash.
Sejak kecil Swie King sudah bermain bulu tangkis atas dorongan orangtuanya di Kudus, kota kelahirannya. Kepiawaiannya bermain bulutangkis makin terasah ketika ia masuk ke dalam klub PB Djarum yang telah banyak melahirkan para pemain nasional.
Dalam catatan Pusat Data Tokoh Indonesia, Liem Swie King meraih berbagai prestasi selama 15 tahun berkiprah di bulutangkis. Pertama kali, Swie King meraih Juara I Yunior se-Jawa Tengah (1972). Pada usia 17 tahun (1973), ia menjuarai (II) Pekan Olahraga Nasional. Setelah itu, Liem Swie King direkrut masuk pelatnas yang bermarkas di Hall C Senayan. Ia pun meraih Juara Kejurnas 1974 dan 1975.
Liem Swie KingKemudian berkiprah di kejuaraan internasional, meraih Juara II All England (1976 & 1977). Kemudian tiga kali menjadi juara All England (1978, 1979, 1981), kejuaraan paling bergengsi kala itu. Selain itu, puluhan medali grand prix lainya, medali emas Asian Games di Bangkok 1978, dan tiga medali emas Piala Thomas (1976, 1979, 1984) dari enam kali membela tim Piala Thomas. Ketika menantang Sang Legendaris Rudy Hartono di final All England tahun 1976, usianya masih 20 tahun. Setelah itu, Liem Swie King menjadi penerus kejayaan Rudy.
Demi Masa Depan
Demi menjamin masa depan, ia pun mengundurkan diri sebagai pemain nasional bulutangkis tahun 1988. Kendati ia tidak langsung bisa menemukan kegiatan usaha untuk mencapai cita-citanya. Setahun setelah berhenti itu, King nyaris dapat dikatakan menganggur. Sebab keahlian dan pengetahuan yang dia miliki hanyalah olahraga bulu tangkis.
Kemudian ia mulai ikut mengelola sebuah hotel di Jalan Melawai Jakarta Selatan milik mertuanya. Setelah itu, ia melebarkan sayap dengan membuka usaha griya pijat kesehatan. Kini usahanya telah mempekerjakan lebih dari 400 karyawan. Berkantornya di Kompleks Perkantoran Grand Wijaya Centre Jakarta Selatan.
Bagaimana King bisa tertarik pada bisnis perhotelan dan pijat kesehatan? Rupanya sebagai pemain bulu tangkis yang sering menginap di hotel berbintang, King tertarik dengan keindahan penataan hotel dan keramahan para pekerjanya. Begitu pula soal griya pijat. Saat menjadi atlet, King selalu membutuhkan terapi pijat setelah lelah berlatih dan bertanding. Kala itu, ia kerap mengunjungi griya pijat kesehatan di kawasan Mayestik Jakarta Selatan yang penataan ruangannya begitu bagus.
Ia pun berpikir bahwa usaha pijat kesehatan (spa) ini sangat prospektif. Kalangan eksekutif dan pengusaha Jakarta yang gila kerja butuh kesegaran fisik dan relaksasi. Maka dia membuka usaha griya pijat kesehatan Sari Mustika. Kini, dia telah membukanya di tiga lokasi, Grand Wijaya Centre, Jalan Fatmawati Jakarta Selatan, dan Kelapa Gading Jakarta Utara dengan total karyawan sekitar 200 orang. Dalam mengelola usahanya, ia pun tidak sungkan-sungkan menyambut sendiri tamu hotel atau griya pijatnya.
Liem Swie KingHasilnya, selain usahawan dan eksekutif lokal, serta keluarga-keluarga menengah atas Jakarta, banyak ekspatriat menjadi pelanggan griyanya. Ia pun merasa bahagia karena bisa membuktikan griya pijat tidak selalu berkonotasi jelek seperti yang dibayangkan kebanyakan orang.
Menurut informasi dari kerabat dekatnya, Liem Swie King sebenarnya dari marga Oei bukan marga Liem. Pergantian marga seperti ini pada masa dahulu zaman Hindia Belanda biasa terjadi, pada masa itu seorang anak dibawah usia ketika memasuki wilayah Hindia Belanda (Indonesia sekarang) harus ada orang tua yg menyertainya, bila anak itu tidak beserta orang tua aslinya, maka oleh orang tuanya akan dititipkan kepada "orang tua" yg lain, "orang tua" ini bisa saja bermarga sama atau lain dari aslinya.
Pebulutangkis yang pernah terjun ke dunia film sebagai bintang film Sakura dalam Pelukan, ini kini hidup bahagia bersama isteri dan tiga orang anaknya Alexander King, Stevani King dan Michele King. Ternyata, anak-anaknya tidak tahu bahwa King seorang pahlawan bulutangkis Indonesia.
Belakangan, Nia Zulkarnaen dan Ari Sihasale, pemilik rumah produksi Alenia, mernjadikan kehebatan Liem Swie King dalam dunia bulutangkis Indonesia sebagai inspirasi untuk membuat film tentang bulutangkis. Film itu memang bukan bercerita tentang kisah kehidupan King. Akan tetapi, dalam film itu, King menjadi inspirasi bagi seorang ayah yang kagum pada King, lalu memotivasi putranya untuk bisa menjadi juara seperti King.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : tokohindonesia.com