Russell Simmons bukan pencipta rap. Tetapi ia memainkan sebuah peranan penting dalam kesuksesan genre musik ini. Seperti pendiri Motown Records Berry Gordy, yang membawa musik black soul ke rancah mainstream (dan juga yang sering Simmons dibandingkan dengannya), Simmons dipuji atas pergerakan rap – atau hip-hop, sebagaimana pecintanya menyebutnya – dari jalanan-jalanan pusat kota ke budaya pop Amerika mainstream.
Tetapi tetap ada perbedaan besar antara Gordy dan Simmons. Tidak seperti Gordy, yang mencoba mengembangkan kerajaan Motown-nya melebihi musik tetapi gagal, Simmons telah mampu mempertaruhkan kesuksesannya dalam industri musik ke dalam bisnis lain yang sama suksesnya. Kurang dari satu dekade, Rush Communications milik Simmons telah bertumbuh menjadi penerbitan, fesyen, televisi, pembuatan film, periklanan, dan Internet – menjadi perusahaan hiburan kedua terbesar yang dimiliki kulit hitam di Amerika Serikat.
Meskipun ia mendapatkan ketenarannya dari mempromosikan musik yang merayakan gaya hidup jalanan yang keras, Simmons bertumbuh di sebuah rumah kelas menengah yang nyaman di Queens, New York. Ia pertama kali mendengar musik rap selagi bekerja untuk sarjana sosiologinya di City College di Harlem, New York. Pada tahun 1977, ia mulai mempromosikan pesta-pesta rapnya di Harlem dan Queens dengan temannya Curtis Walker. Seperti rock ‘n’ roll, rap pada awalnya diperkirakan hanya sebagai tren sesaat saja. Tetapi Simmons mengetahui perbedaannya. Pada pesta-pestanya, ia melihat kultur baru muncul dan akan bertahan lama. Di tahun selanjutnya, Walker sendiri menjadi rapper, mengubah namanya menjadi Kurtis Blow, dan ia dan Simmons bekerjasama menulis hit kecil berjudul "Christmas Rappin."
Russell SimmonsSetelah sukses kecilnya dengan Blow, Simmons meninggalkan studinya di City College. Pada 1979, ia membentuk Rush Communications dan mulai mengelola event-event rap lokal lainnya. Salah satu aksi terbaik dari Simmons adalah adik prianya, Joey, yang mengganti nama menjadi Run. Menyatukan saudara prianya bersama dengan MC Darryl McDaniels dan DJ Jason Mizell, ia membentuk grup Run DMC, memakaikan mereka setelah kulit hitam dan mengatakan kepada mereka apa yang harus direkam. Pada tingkat jalanan, dua rekaman pertama dari kelompok ini dengan menjadi hits.
Pada 1984, Simmons bertemu Rick Rubin, seorang pelajar NYU yang juga menginginkan untuk mempromosikan musik rap. Keduanya memohon untuk $8000 dan mendirikan Def Jam. Rubin adalah seorang pemroduksi jenius yang mencintai musik keras pemberontak. Simmons adalah seorang pebisnis yang antusias dan cerdik.
Kombinasi dari kepribadian dan talenta Rubin dan Simmons terbukti sebagai perpaduan yang luar biasa. Hanya dua tahun mereka beroperasi, Columbia Records mendekati Def Jam dengan sebuah penawaran untuk promosi, memasarkan, dan distribusi rekaman-rekaman rap Def Jam terbaru untuk berbagi keuntungan. Tetapi Def Jam dan Run DMC intinya membuat black music untuk orang kulit hitam. Pergerakan kedua label tersebut, bagaimanapun, mengubah hal itu.
Pertama, Def Jam se-tim dengan Run DMC dengan Aerosmith untuk merekam versi rap dari hit band rock tersebut yang berjudul "Walk This Way." Lagu ini meledak dan mendaratkan Run DMC di MTV, yang sebelum itu memasang musik rap ogah-ogahan. Ketika lagu tersebut menjangkau audiens kulit putih baru, Run DMC dan Simmons menemukan lagu mereka sebagai lagu rap pertama yang mencapai No. 4 Billboard yang memecahkan lima besarnya. Lagu tersebut juga menolong album ketiga band tersebut, "Raising Hell," terjual hingga 4 juta kopi.
Selanjutnya Def Jam menandatangani rapper kulit putih pertama, Beastie Boys. Lirik yang nakal dan riff berbasis rock ‘n’ roll dibawakan lagi kepada audiens kulit putih yang lebih luas, dan album pertama band, "License to III," terjual sebanyak 8 juta kopi. Sukses dari album-album tersebut membawakan Def Jam untuk menandatangani aksi-aksi tambahan, termasuk Public Enemy, Oran "Juice" Jones, dan duo rap D.J. Jazzy Jeff dan the Fresh Prince (Will Smith). Luar biasanya, setiap rekaman yang label rilis sepanjang 1990 menjadi emas.
Di waktu yang sama Simmons mengembangkan Def Jam dengan Rubin, ia juga menjadi terlibat dalam media lain. Pada 1985, dalam kerjasama dengan Warner Brothers, Def Pictures miliknya memproduksi film pertamanya, "Krush Groove," musikal rap berdasarkan kehidupan Simmons. Film ini, yang berbiaya hanya $2,2 juta untuk produksi, berpenghasilan kotor nyaris $20 dolar pada box office. Film kedua Simmons, "Tougher Than Leather," sebuah aksi komedi yang dibintangi Run DMC, meraih kesuksesan yang sama. Selanjutnya film-film Def Picture termasuk "The Addiction" (1995) dan "The Funeral" (1996) – keduanya disutradarai oleh Abel Ferrara dan dibintangi Christopher Walken dan "The Nutty Professor" (1996) yang dibintangi Eddie Murphy.
Rubin meninggalkan Def Jam pada 1988 untuk membentuk perusahaannya sendiri, dan Simmons melanjutkan untuk mengatur label Def Jam dan Def Pictures sebagai anak-anak perusahaan dari Rush Communications. Selanjutnya, Simmons memulai usaha dalam pertelevisian dengan "Def Comedy Jam." Co-produce oleh Simmons dan partner-partner TV-nya, Bernie Brillstein dan Brad Grey, show ini, yang menampilkan komedian-komedian hitam yang luar biasa, dengan cepat menjadi sensasi instan.
Russell SimmonsSimmons selanjutnya memperlebar kerajaan komunikasinya pada 1992 seperti majalah Oneworld, yang mempublikasikan artikel-artikel musik, fesyen, dan personalitas hip-hop. Di tahun yang sama, Simmons meluncurkan sebuah clothing line yang disebut Phat Farm, dimana pada tahun 1998 berpenghasilan kotor nyaris $22 setiap tahunnya diproyeksikan untuk mencapai $100 juta pada tahun 2000. Setahun kemudian, Simmons memulai SLBG Entertainment, yang melayani sebagai agen bagi aktor-aktor dan entertainer lainnya.
Salah satu cabang dari Rush Communications yang menggebrak baru-baru ini adalah Rush Media Company, sebuah agensi marketing dan periklanan yang memproduksi iklan-iklan pemenang award untuk Coca-Cola pada tahun 1996.
Kunci dari kesuksesan Simmons, lebih dari segalanya, adalah kegigihannya untuk berpromosi. Di saat industri rekaman mencari one-hit-disco-wonder selanjutnya, Simmons dengan aktif mencari-cari artis-artis yang bisa memiliki karir, lalu mempromosikan mereka dan labelnya di waktu yang sama. Ketika meninjau kembali, Simmons sudah melakukan branding di saat orang lain masih marketing. Sebagaimana label tersebut telah lepas landas, Simmons, seperti guru promosi lainnya, Richard Branson dari Virgin Group, melirik tempat-tempat lain untuk menaruh namanya dan nama perusahaannya untuk menjual produk-produk baru. Dan disitulah setiap indikasinya bahwa Simmons bisa dan akan berangkat untuk menciptakan ekspansi, jenis konglomerat seperti Virgin.
Terima kasih kepada Russell Simmons, hip-hip tidak lagi menjadi bagian kultur kulit hitam atau bahkan kultur urban – itu adalah kultur Amerika.
Pendiri dari Bantam Books Inc . dan Ballantine Books , Ian Ballantine telah disebut sebagai "bapa dari pasar paperback ." Seorang visioner sastra, tidak takut untuk mengambil peluang pada penulis-penulis baru, ia dipuji dengan diluncurkannya peluncuran karir-karir dari penulis-penulis bestseller seperti Arthur C. Clarke, Frederik Pohl, dan Tom Robbins. Strategi revolusioner Ballantine untuk menawarkan buku-buku yang terjangkau kepada masyarakat umum membuat Ballantine Books adalah salah satu penerbit Amerika terbesar dan menaruh dasar bagi industri paperback modern.
Putra dari pasangan aktor dan pematung Skotlandia Edward James Ballantine dan pemublik teater Stella (Commins) Ballantine, Ian awalnya tidak memiliki ketertarikan khusus dalam karir berbisnis. Dan itu pun berubah, bagaimanapun, ketika thesis Ballantine yang menulis mengenai penjualan buku di Amerika Serikat ketika belajar di London School of Economics and Political Science menangkap perhatian pendiri Penguin Books Ltd . Allen Lane. Dalam thesis tersebut, Ballantine menunjukkan jalan keluar untuk hukum hak cipta yang mengijinkan import harga rendah buku-buku kertas asal Inggris ke Amerika Serikat, sesuatu yang tak ada seorang penerbit lakukan pada saat itu.
Merasa ingin tahu dengan potensial pendapatan yang luar biasa dari kesempatan pasar baru ini, Lane mempekerjakan Ballantine yang berusia 23 tahun untuk mengorganisasi dan membuka sebuah kantor Penguin Books di New York dengan satu-satunya kepentingan untuk mengimport dan mendistribusikan buku-buku British. Ballantine mengepalai kantor tersebut dari tahun 1939 hingga 1945. Sepanjang masa itu, dia menyadari bahwa ada potensi pasar besar untuk mencetak kertas-kertas buku dari penulis-penulis Amerika juga. Lane menolak keras pada ide tersebut, tetapi Ballantine meyakinkan bahwa itu akan bekerja. Maka pada tahun 1945, ia meninggalkan Penguin dan mendirikan Bantam Books Inc . untuk mencetak ulang buku-buku berukuran kantong pada pasar novel-novel hardcover . Awalnya judul-judul Bantam termasuk buku-buku dari penulis-penulis Amerika yang luar biasa seperti F. Scott Fitzgerald, John Steinbeck, Zane Grey, Mark Twain dan James Thurner.
Selagi ia adalah presiden dan direktur dari Bantam, Ballantine mulai mempelajari tren-tren selera membaca masyarakat luas, dan menemukan pasar yang secara virtual belum dimanfaatkan dengan kertas-kertas murah yang seorang pembelum tidak bisa jangkau karena harga kertas yang mahal. Pada masa itu, sedikit penerbit yang memproduksi kertas paperbacks yang asli. Kebanyakan paperbacks di pasaran umumnya cetakan ulang dari buku-buku yang aslinya dicetak dalam versi hardcover . Untuk mendapatkan model dari pasar baru yang Ballantine ungkapkan, Bantam mulai memproduksi sebuah dasar buku-buku original yang ditulis yang semata-mata dipublikasikan sebagai paperbacks yang murah. Paperbacks seharga 25 sen ini dengan cepat menjadi hit bagi para pembaca dari kelas menengah dan pekerja. Dan meskipun kebanyakan penjualan dari Bantam dari dasarnya akan buku-buku fiksi – sains fiksi, judul-judul barat dan horror dengan cover seram yang sering digambarkan dengan wanita berpakaian minim dengan pose ketakutan – juga ada beberapa bestseller di antara judul-judul non-fiksi Bantam.
Ditentukan untuk mencari tahu bagaimana akuratnya ia memprediksikan buku mana yang akan menarik perhatian publik pembaca Amerika, Ballantine menciptakan sebuah teknik riset pasar yang unik yang akhirnya akan menjadi standar industri. Ia mengirim orang langsung ke dealer-dealer buku untuk mencari tahu berapa banyak kopi dari masing-masing setiap judul Bantam yang terjual di kota-kota kunci sepanjang periode masa tertentu. Hasilnya dari survei berkesinambungan ini membuktikan bahwa memang Ballantine memiliki kecerdasan untuk memilih bestsellers . Antara tahun 1945 dan 1948, perusahaannya rata-rata kurang dari 1 persen buku-bukunya kembali, sebuah tingkat yang jarang terdengar di industri tersebut. Disemangatkan oleh hasil-hasilnya, Ballantine mengumumkan bahwa Bantam akan memulai sebuah program pemasaran baru untuk setiap penjualan terbaik dan akan mempublikasikan daftar bulanan dari delapan judul cetak ulang yang memimpin paling banyak. Daftar penjualan terbaik ini, merupakan yang pertama kalinya dalam industri seperti ini, dengan hebatnya meningkatkan penjualan dari buku-buku Bantam sebagai kegemaran publik yang sampai di tangannya sebagai buku yang "semua orang membacanya."
Inovasi pertama Ballantine selanjutnya akan datang, secara hurufiah, sebagai hasil dari sebuah kecelakaan. Sewaktu dalam liburan pada tahun 1950, kaki patah Ballantine patah sewaktu ski. Dipaksa untuk absen dari Bantam selagi ia memulihkan diri, Ballantine menggunakan waktu tersebut untuk memformulasikan apa yang David Dempsey dari The New York Times Book Review sebut "pengembangan paling mutakhir untuk Publisher’s Row untuk selama ini." Dempsey memprediksikan bahwa jika itu sukses, rencana Ballantine "secara radikal bisa mentransformasikan keseluruhan aturan penerbitan konvensional."
Rencana yang Ballantine formulasikan adalah untuk mendirikan Ballantine Books , sebuah rumah penerbit yang akan memproduksi cerita fiksi dan non-fiksi asli dalam edisi-edisi hardbound dimulai dari harga $1.50, selagi secara simultan merilis edisi paperbound seharga 35 sen. Edisi-edisi hardbound , didesain untuk menarik pasar "literer" yang lebih kecil, akan ditawarkan melalui toko buku-toko buku, selagi paperback Ballantine akan dijual melalui kios-kios koran, dimana mereka bisa menjangkau audiens lebih besar dan tidak akan berkompetisi dengan edisi-edisi hardcover yang lebih tinggi harganya.
Pada saat itu adalah ide-ide revolusioner. Pada masa itu, versi-versi paperback hanyalah dipublikasikan setelah sebuah buku secara komplet kehilangan momentumnya yang versi hardcover . Rencana kontroversial ini dengan cepat menyebabkan perselisihan antara para penerbit yang takut tidak hanya karena tak seorang pun akan membeli edisi-edisi hardbound yang berharga tinggi, dengan demikian mengarahkan toko-toko buku keluar dari bisnis, tetapi juga para penulis bisa saja akan menurunkan kualitas dari penulisan mereka demi produksi masal.
Tetapi Ballantine adalah seorang pembelajar alami yang berdedikasi, tidak hanya seorang pemasar brilian, dan ia telah menemukan bagaimana untuk menangani keberatan-keberatan seperti itu. Pertama, ia menawarkan untuk menerbitkan bersama dengan penerbit manapun untuk buku-buku hardbound yang menginginkan untuk memasukkan buku-buku ke dalam basis judul sendiri. Ia menjelaskan kepada sesama penerbit buku-buku hardbound bahwa dengan penambahan kapital yang didapatkan dari edisi-edisi paperbound yang lebih murah akan memampukan mereka untuk mempublikasikan jumlah yang lebih besar dari buku-buku hardcover setiap tahunnya, dengan demikian meningkatkan keseluruhan penjualan mereka.
Kedua, untuk menenangkan ketakutan bahwa kualitas-kualitas buku mungkin akan sengsara, Ballantine mendekati Author’s Guild Council of the Author’s League of America dengan sebuah proposal yang unik. Ia menawarkan untuk membayar penulis-penulis sebuah royalti sebanyak 10 persen untuk edisi hardcover dan 8 persen untuk edisi paperbound , dengan garansi minimal sebanyak $5000 dalam tiga bulan setelah publikasi. Ini merepresentasikan peningkatan yang besar untuk royalti yang secara umum dibayar dalam cetak ulang paperback , dan, Ballantine mengklaim, itu akan membuatnya menjadi memungkinkan bagi para penulis rata-rata untuk memberikan sepenuh waktu untuk penulisannnya daripada menulis dalam jam-jam yang terhabiskan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih menguntungkan.
Beberapa kritikus masih mencerca rencana Ballantine, tetapi mereka dengan cepat terdiam ketika, kontras dengan apa yang mereka prediksikan, pasar buku hardbound tidaklah terjatuh hingga dasar. Melainkan, penjualan keduanya baik buku paperback dan hardbound meledak.
Tersemangatkan oleh kesuksesan dari rencananya, Ballantine menyiapkan untuk mempublikasikan banyak paperbound asli sebanyak memungkinkan. Pada dasarnya, ia berencana untuk mempublikasikan 30 judul setiap tahunnya, tetapi pada 1963, penjualan begitu ramai hingga ia melipat-gandakan output hingga 60, atau lima per bulan. Meskipun pada awalnya Ballantine berfokus pada fiksi-sains, mempublikasikan buku-buku asli dari para penulis ternama seperti Ray Bradbury (Fahrenheit 451), Philip K. Dick (Martian Time-Slip), Theodore Sturgeon (More Than Human), dan Anthony Burgess (A Clockwork Orange), ia selanjutnya bercabang keluar hingga genre-genre lain, termasuk kisah-kisah fantasi, barat, dan misteri.
Ballantine juga mematahkan dasar dengan mempublikasikan buku-buku yang pada masa itu dianggap terlalu sastra untuk pasar paperbound , termasuk koleksi-koleksi review yang menguntungkan New Poems by American Poets , New Short Novels (yang memasukkan karya-karya oleh Jean Stafford, Elizabeth Etnier, Clyde Miller dan Shelby Foote) dan penjualan terbaik The Best American Short Stories .
Dengan Ballantine sebagai kepala, Ballantine Books berlanjut berkembang sepanjang 1960an dan 1970an, menjadi penerbit terbesar Amerika untuk pasar buku paperback . Setelah menjual Ballantine Books ke Random House pada tahun 1973, Ballantine melanjutkan bekerja dengan para penulis terpilih di Bantam. Pada tahun 1981, Ballantine dan istrinya, Betty, bersama-sama mendirikan Rufus Publications, yang telah mempublikasikan buku-buku ilustrasi seni dan fantasi edisi terbatas dengan harga tinggi, seperti Frank McCarthy’s The Old West, Brian Froud’s Faeries dan James Gurney’s Dinotopia.
Setelah hampir 43 tahun Ian Ballantine membuka kendi emas penerbitan dengan memulai industri pasar besar paperback , ia meninggal pada tahun 1995 di rumahnya di Bearsville, New York, meninggalkan warisan literatur yang hidup yang masih menceritakan namanya. Setelah kematian Ballantine, penulis bestseller Tom Robbins berkomentar," Ian Ballantine mengambil kesempatan pada Another Roadside Attraction [novel Robbins pertama yang dipublikasikan] ketika tak seorang pun peduli atau berani. Ia adalah seorang pria yang pendek. Tetapi ia seorang raksasa."
Dibesarkan di tengah-tengah keluarga yang moderat mungkin saja menjadi salah satu anugrah yang didapatnya dari Tuhan. Karena berkat hal itu pula, perempuan cantik kelahiran 20 Oktober 1973 ini bisa meraih apa yang ia inginkan dalam menjalani kehidupannya. Salah satunya mungkin mendapatkan peluang bekerja di berbagai perusahaan hingga ia bisa berlabuh di Dura Skin Health Group sebagai salah satu perusahaan di bidang kecantikan kulit dengan jabatan Network Marketing Direktor.
Sebelum bergabung dengan Dura Skin, ibu dua orang buah hati ini sempat bekerja di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang multifinance dan sekuritas. Saat ditanya mengapa pindah ke dunia marketing yang nota bene berlainan dengan bidang multifinance , perempuan yang akrab dipanggil Diana ini menjelaskan, bahwa sebenarnya ia memang senang berinteraksi dengan banyak orang. "Saya memang suka bidang finance , tetapi saya juga senang berhubungan dengan banyak orang, jadi ketika ada tawaran untuk jabatan marketing, saya langsung tertarik," ungkap perempuan berhidung bangir ini.
Diakui Diana, keberhasilannya menapaki karir berkat kerja kerasnya, bukan saja saat ia sudah bekerja tetapi juga saat ia masih duduk di bangku sekolah. "Saat sekolah dulu saya suka sekali mengikuti beberapa aktifitas, termasuk di organisasi-organisasi yang ada di lingkungan sekolah, mungkin dari situlah mental saya terbentuk, terutama dalam menghadapi banyak orang," jelas Diana
Diana juga tak memungkiri bahwa kedua orang tuanya banyak berperan dalam membentuk dirinya hingga ia menjadi perempuan yang terbiasa dengan kerja keras. "Orangtua saya mengajarkan saya agar tidak takut untuk berkompetisi dengan orang lain, mereka juga mengajarkan saya untuk memiliki semangat hidup dan kerja keras, karena dengan kerja keras semua keinginan pasti bisa dicapai," tutur Diana.
Selain hal di atas, Diana juga mengakui bahwa keberhasilannya itu berkat dukungan dari suami dan anak-anaknya. Dukungan itu menurut Diana bisa dalam berbagai bentuk. "Saat saya sedang down misalnya, suami selalu memberikan support dengan mengajak saya untuk rileks ke berbagai tempat, kalo anak saya sering mengingatkan saya untuk tak lupa makan atau memberikan semangat dengan kata-kata ’sukses ya mam’," imbuh Diana.
Walau telah berhasil dalam meniti karir, perempuan yang memiliki senyum manis ini mengaku tetap menomorsatukan keluarga. Saat-saat senggang selalu ia habiskan bersama suami dan kedua anaknya. "Walau bagaimanapun, keluarga adalah prioritas hidup saya, saya bekerja kan untuk mereka, bukan untuk diri saya sendiri, jadi ketika saya memiliki kesempatan untuk bersama mereka, pasti saya gunakan sebaik-baiknya untuk berkomunikasi dengan mereka," beber lulusan S1 Management Universitas Trisakti ini.
Ketika dimintai pendapatnya tentang perkembangan perempuan, Diana dengan antusias menjelaskan, bahwa pendidikan menjadi faktor utama yang memicu kemampuan para perempuan sehingga bisa berkembang seperti saat ini. "Selain itu kesempatan juga sudah terbuka demikian luas buat para perempuan, himpitan ekonomi juga bisa memicu para perempuan untuk terus berusaha membantu perekonomian keluarga sehingga tanpa disadari kemampuan mereka menjadi berkembang," papar penghobi baca dan musik ini.
Sebagai perempuan, Diana juga berpendapat bahwa sebaiknnya perempuan tidak terlalu bergantung pada orang lain. "Kita harus bisa mandiri, sehingga kita memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai masalah," kata Diana sambil menambahkakan bahwa pemerintah sepertinya sudah cukup memberi peluang yang sama antara laki-laki dan perempuan. "Tinggal bagaimana para perempuan bisa menyingkapi dan memperjuangkan peluang yang sudah ada," tambah Diana.
Diminta pendapatnya tentang perempuan cantik, Diana menjawab bahwa untuk melihat perempuan itu cantik atau tidak harus dilihat dari dua sisi, yaitu dari inner beauty juga outer beauty . "Agar terlihat cantik dari luar, perempuan harus bisa menjaga penampilan fisiknya, tampil bersih, segar dan rapi sesuai dengan lingkungannya, sementara dari dalam perempuan harus bisa memiliki wawasan yang luas tentang segala hal, dengan begitu mereka jadi memiliki prilaku dan sikap yang baik ," ujar Diana saat ditemui disela-sela aktifitasnya.
Dalam kesempatan ini, Diana juga memberikan pesan buat para perempuan yang memiliki dan yang ingin memiliki karir yang bagus, agar tak mengabaikan kodratnya sebagai perempuan, menjadi ibu rumah tangga. "Setinggi apapun karir yang bisa kita capai, jadikan keluarga sebagai prioritas utama, atur waktu sebaik mungkin sehingga karir dan rumah tangga bisa berjalan dengan baik," tutup Diana mengakhiri perbincangan.
Mungkin terdengar aneh di masa sekarang, dimana banyak bank yang bisa kita temukan di setiap sudut dan para pemberi pinjaman tak putus-putusnya menjajakan pinjaman bunga rendah pada TV dan radio, tetapi dalam putaran abad ke masa lampau, bank-bank hanya tertarik untuk meminjamkan uang kepada orang-orang yang kaya. Faktanya, banyak hal yang dilakukan para nasabah bank sekarang, seperti men-cek akun, menyimpan uang, pinjaman KPR, pinjaman otomotif, dan cicilan kredit lainnya tidaklah ada… setidaknya tidak bagi pekerja. Mereka lebih suka menyimpan tabungan mereka di bawah kasur dan meminjam dari lintah darat dengan pertimbangan astronomis. Tetapi Amadeo Peter "A.P." Giannini mengubah itu semua. Melalui pertimbangannya yang mantap dan fokus yang jarang dimiliki orang lain kepada "wong cilik," Giannini telah membangun pada waktu kematiannya sebuah bank terbesar di negerinya, dan menciptakan sebuah model bagi perbankan internasional modern.
Putra dari imigran Italia yang miskin ini, lahir di San Jose, California, pada 1870. Pada usia 14, ia keluar dari sekolahnya untuk membantu ayah angkatnya berbisnis. Pada usia 19, pemuda penuh pesona yang baik hati ini adalah partner bagi perusahaan yang berkembang, dibangun dengan besar atas reputasinya akan keadilan dan integritas.
Pada 1892, Giannini menikahi Clorinda Cuneo, putrid dari seorang imigran Italia yang kaya raya dari bisnis real estate. Pada masa itu, Giannini memiliki penghasilan dari investasi sekitar $250 per bulan, ditambah dari saham modalnya di firma ayah angkatnya. Ia memutuskan bahwa itu cukup. "Saya tidak menginginkan untuk menjadi kaya," ujarnya. "Tak seorang pria pun yang sebenarnya memiliki kekayaan; kekayaan itu yang menguasai dirinya." Maka ia menjual sahamnya dari bisnis keluarga ke karyawan-karyawannya untuk harga $100,000 dan "pensiun" pada usia tua yang matang yakni usia 31. Tetapi takdir memiliki rencana-rencana lain, dan tanpa diketahui oleh Giannini, karirnya yang sebenarnya baru saja dimulai.
Kurang dari setahun setelah Giannini pensiun, ayah angkatnya meninggal, dan Giannini mengambil alih kursinya di jajaran dewan dari Columbus Savings and Loan Society, sebuah bank kecil di area "Little Italy" North Beach di San Fransisco. Tetapi Giannini dengan cepat menemukan dirinya merasa janggal dengan direktur-direktur lainnya, yang memiliki sedikit ketertarikan untuk meminjamkan uang bagi para imigran pekerja keras. Seperti kebanyakan bank di masa tersebut, Columbus S&L membuat deal hanya dengan pebisnis dan yang kaya. Giannini mencoba dengan keras untuk meyakinkan jajaran dewan bahwa itu akan lebih menguntungkan untuk memberi pinjaman kepada kelas pekerja, dimana ia sendiri mengetahui dari pengalaman pribadinya menjadi pekerja keras dan sangat bisa dipercayai. Tetapi jajaran dewan menutup telinga dengan hal tersebut, maka pengusaha yang tekun ini memutuskan untuk menciptakan jalannya sendiri.
Bank of AmericaPada tahun 1904, Giannini mengumpulkan sejumlah $150,000 dari ayah angkatnya dan 10 temannya, dan membuka Bank of Italy di sebuah bar yang disulap menjadi bank tepat di jalan yang sama dengan Columbus S&L. Itu adalah pertama kalinya berdiri apa yang dikenal pada masa sekarang sebagai bank full-service, memiliki layanan baik tabungan dan akun komersial, selagi juga menawarkan pinjaman-pinjaman kecil. Dari awalnya, Giannini menginginkan bank-nya menjadi "sahabat kecil," dan ia dengan rutin meminjamkan uang pada para petani, pedagang, dan buruh, yang kebanyakan dari mereka adalah imigran. Ia juga mendorong para imigran tersebut untuk memindahkan pinjaman-pinjaman kecil mereka dari bawah kasur ke bank-nya.
Bank of Italy berlanjut bertumbuh dan makmur hingga satu pagi hari pada 18 April 1906, ketika, seperti kebanyakan orang di Bay Area, Giannini terjatuh dari tempat tidurnya sewaktu terjadi gempa bumi Great San Francisco mengubah kota tersebut menjadi puing. Setelah memastikan keselamatan keluarganya, Giannini mengebut ke North Beach dengan truk sayur, tiba di bank-nya hanya sedikit saja lagi api sudah menyapu area pusat kota. Memasuki gedung yang sudah berserakan, ia mengeluarkan emas, koin, dan surat-surat yang total senilai $80.000 ke dalam truk dan, mewaspadai perampok, menutupi semuanya dengan buah-buah dan sayur-sayuran.
Beberapa hati setelah bencana, kebanyakan banker San Fransisco mengingin area bank untuk ditutup hingga segala kerusakan dibereskan. Tetapi Giannini memiliki sebuah rencana berbeda. Ia membuka toko di dermaga dekat North Beach. Dengan sebuah papan kayu yang disangga dua tong sebagai meja, ia menawarkan kredit "langsung berhadapan dan sebuah tanda-tangan" untuk bisnis-bisnis kecil dan setiap orang yang membutuhkan uang untuk membangun hidup mereka kembali. Giannini menjadi seorang pahlawan, dan tindakannya memacu pembangunan kembali kotanya.
Pengalaman Giannini di tahun 1906 tersebut membuatnya menjadi pria yang baru. "Sewaktu dikelilingi api, saya mencoba membuat uang untuk diri saya sendiri. Tetapi api menyembuhkan saya dari pemikiran itu," ingatnya. Ia melihat bagaiamana kekuatan perbankan bisa meningkatkan kehidupan banyak orang dan membuat itu sebagai misi hidupnya. Ia datang dengan sebuah ide sistem Negara bagian dari setiap cabang bank yang bisa membawa sumber moneter bagi komunitas-komunitas yang jauh sekali. "Dengan membuka cabang-cabang, saya melihat lebih jauh lagi kita bisa memberi pelayanan yang lebih baik setiap orang," jelasnya.
Amadeo Peter GianniniPada masa tersebut, tak ada bank lain di Amerika yang memiliki sistem seperti itu, yang kebanyakan dalam bisnis tersebut mencemooh mimpi Giannini sebagai sesuatu yang bodoh. Tetapi pada 1909, Giannini membuka cabang pertamanya yang bukan di perkotaan di San Jose, dan pada 1913, ia memperluasnya ke California Selatan. Kurang dari 10 tahun, Bank of Italy telah memiliki 24 cabang di sepanjang California dan menajdi bank terbesar keempat di Negara bagian tersebut. Lalu pada tahun 1928, Giannini mendirikan TransAmerica Corp. untuk bertindak sebagai sebuah perusahaan manajemen untuk perluasan bisnis-bisnisnya, dimana sekarang termasuk industri-industri yang tidak hanya perbankan. Di tahun selanjutnya, ia mengkombinasikan Bank of Italy dengan bank-bank lain yang ia akuisis, dibawah nama Bank of America. Di sekitar akhir tahun 1920an, Bank of America telah menjadi salah satu bank terbesar di Negara tersebut.
Giannini pensiun untuk kedua kalinya pada tahun 1930, yakin bahwa para penerusnya akan membawa semangatnya. Tetapi sepanjang masa Great Depression, manajemen TransAmerica berganti fokus dan mencoba untuk menjual beberapa cabang Bank of America. Merasa dikhianati, Giannini kembali ke Amerika melancarkan perselisihan atas perwalian yang sukses untuk meraih kontrol. Sekali lagi menjalankan show, Giannini dengan sukses menyuntik bank tercintanya sepanjang krisis bank pada Maret 1933 dan melipatgandakan asset-asetnya dalam waktu enam tahun selanjutnya. Pada saat Giannini pensiun sebagai kepala yang aktif di tahun 1945, Bank of America telah menjadi bank terbesar di Amerika Serikat.
Mengejutkannya, ketika Giannini meninggal pada tahun 1949, ia meninggalkan sebuah estate yang relatif kecil hanya sebesar $500.000. Tetapi itu semua murni berdasarkan pilihan. Ia bisa saja menjadi seorang bilyuner, tetapi meremehkan kekayaan yang luar biasa, takut itu akan menyebabkan dirinya kehilangan sentuhan dengan orang-orang yang ingin ia layani. Dalam analisis akhir ini, kebesaran Giannini tidaklah terletak pada uang yang ia tinggalkan, tetapi pada bank yang ia ciptakan – sebuah bank yang telah bertumbuh untuk kepentingan akan cita-cita radikal untuk melayani warga biasa.
Ia mengetahui Rahasia dari Victoria (Victoria’s Secret, red ). Menekan batasan-batasan (the limits, red ) dengan The Limited. Mengendarai The Express untuk mengenakan ketenaran. Pionir sejati dari toko-toko pakaian spesial, lusinan dari konsep ritel Leslie Wexner telah digodok lebih dari 40 tahun terakhir tidak hanya menjadikan dirinya pria yang sangat kaya, tetapi juga telah menolong menciptakan sebuah ceruk pemasaran baru yang membuka jalur untuk usaha-usaha pemula berorientasi brand seperti Talbot’s, The Gap, J Crew dan lainnya yang tak terhitung.
Wexner tampaknya memang terlahirkan untuk sebuah karir di "perdagangan khusus wanita." Setelah berimigrasi keluar dari Rusia, orang tua Wexner bekerja di beragam posisi industri garmen sebelum membuka toko pakaian wanita mereka sendiri di Columbus, Ohio, pada tahun 1951. Mereka menamakan toko tersebut dengan nama Leslie seperti nama putra mereka.
Awalnya, Wexner tidak terpikir untuk berkarir di ritel. Salah satu ambisi awalnya adalah menjadi seorang arsitek. Lalu ia pun bertumbuh dewasa, setidaknya sebagian adalah hasil dari tekanan ayahnya, Wexner menjadi sangat tertarik untuk menjalankan bisnisnya sendiri. Setelah lulus dari The Ohio State University dengan sarjana dalam administrasi bisnis, ia mulai menolong orang tuanya menjalankan toko keluarga. Pada waktu itu, toko Leslie menjalankan operasi bisnis yang sukses menjual segala tipe dari pakaian wanita. Tetapi Wexner mempercayai bahwa toko tersebut bisa lebih menguntungkan jika menspesialisasikan hanya berjualan pakaian olahraga. "Meskipun saya tidak mengerti fesyen, saya mengerti bahwa [pakaian olahraga] sering dipakai oleh teman-teman wanita saya," Wexner menjelaskan. [Pakaian olahraga] adalah jenis pakaian kami yang paling menguntungkan, dan perasaan saya bagaimana jika kamu mendapatkan uang dari menjual es krim coklat, mengapa menjual rasa lainnya?"
Setelah beberapa percobaan tak sukses untuk berbicara dengan ayahnya untuk men-stok pakaian olahraga, Wexner memutuskan untuk melakukannya sendiri. Dengan pinjaman $5.000 dari tantenya, ia membuka tokonya sendiri di Columbus pada tahun 1963, diberi nama "The Limited" karena ia membatasi stoknya untuk pakaian-pakaian wanita saja. Memutuskan untuk menjadikan usahanya sukses, Wexner menjalankan jadwal kerja yang melelahkan – sering tiba di toko pada pukul 7 pagi dan pulang di tengah malam.
Itu tidaklah berjalan lama hingga kerja keras Wexner dan strategi ritel uniknya mulai terbayar. Di tahun pertamanya, The Limited mencapai puncak penjualan pada $160.000, dan di akhir tahun keduanya, Wexner telah membuka lagi dua toko. Pada tahun 1965, Milton Petrie, ketua dari jaringan usaha besar toko-toko khusus wanita , terkesan dengan operasi milik Wexner yang ia tawarkan untuk membeli 49,5 persen dari operasinya. Tetapi Wexner ingin untuk menjalankan bisnisnya sendiri, dan tak ragu-ragu melemahkan tawaran Petrie. Tetap saja, Wexner memuji Petrie dengan menolong mengalahkan "mental penjaga toko"-nya dan mulai berpikir seperti seorang pengusaha untuk membangun jaringan beragam toko.
Sepanjang 1960an, The Limited mulai bertumbuh. Melirik untuk memperlebar operasinya di Ohio, Wexner menjadikan The Limited publik pada tahun 1969 untuk menghimpun uang untuk memperlebar usaha lebih lagi. Sepanjang masa itu, ia menjalin pertemanan dengan Alfred A. Taubman, seorang pengembang real estate yang spesialisasi di mall, yang selanjutnya terbukti menjadi kunci dari kesuksesan Wexner. Taubman mengajari Wexner pentingnya desain toko yang menarik dan menemukan lokasi-lokasi yang tepat untuk toko-tokonya. Terima kasih kepada pertolongan dan saran Taubman, pada tahun 1980an, toko-toko Wexner diperhitungkan sebagai pemimpin industri untuk tampilan toko.
Sebagaimana waktu dan selera berganti, kemampuan Wexner untuk selalu up-to-date dan mempertemukan memenuhi kebutuhan para kustomer-nya menjadikan dirinya satu langkah lebih maju dalam persaingan. Pada tahun 1980, banyak baby boomers yang masih remaja yang sangat menyukai pakaian olahraga yang telah menginspirasi toko-toko pertama Wexner mulai menaiki tangga perusahaan. Mereka masih menginginkan pakaian-pakaian nyaman dengan harga-harga beralasan, tetapi mereka juga menginginkan pakaian-pakaian berkualitas tinggi dan sebuah gaya yang merefleksikan tingkat kemapanan mereka yang baru.
Menyadari pentingnya untuk menjembatani desain-desain tersebut ke pasaran secepatnya yang memungkinkan, Wexner membeli Mast Industries untuk memproduksi line fesyennya, dan menyiapkan jaringan distribusi terkomputerisasi yang memampukan The Limited untuk mempabrikkan garmen-garmennya sendiri dan menaruh mereka di rak penjualan hanya dalam hitungan minggu. Sebagai hasilnya, The Limited bisa mengirimkan desain-desain baru ke toko-tokonya setiap beberapa minggu daripada bukannya secara musiman, sebagaimana standar industri pada masa itu.
Dengan The Limited berkembang sukses, Wexner mengubah perhatiannya ke jalur ritel yang lain. Pada tahun 1982, ia membeli dan mengembangkan baik jaringan usaha Lane Bryant dan Victoria’s Secret; memulai sebuah jaringan toko pada tahun 1983, disebut Express untuk merangkul para pembeli muda, mengambil alih jaringan usaha 796-store Lerner yang nyaris bangkrut dan toko-toko Henry Bendel pada tahun 1985; juga membeli Bath & Body Works pada tahun 1985 untuk berkompetisi dengan The Body Shop milik Anita Roddick; meluncurkan baik The Limited Too untuk menjual pakaian anak-anak dan pakaian pria Structure pada tahun 1987, dan membeli Abercrombie & Fitch pada tahun 1988.
Di akhir era 1980an, Wexner tampaknya tak terhentikan. Tetapi terjadi pertemuan awan hitam. Resesi pada tahun 1990an menyebabkan penjualan menjadi datar. Lebih parahnya, selagi bisnis-bisnis intinya mulai mengendur, Wexner menjadi terpecah oleh mengejar hal-hal luar dari real estate hingga desain interior. Harga-harga saham plummeted dan para investor menaruh kambing hitam tentu saja di kaki Wexner.
Menyadari bahwa ia telah terlalu memaksakan dirinya sendiri, Wexner mulai membalikkan usaha-usaha bukan intinya untuk berkonsentrasi pada pakaian wanita, dan ia mengambil serangkaian saham buyback untuk meningkatkan nilainya. Pada tahun 1999, strategi-strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Pada bulan Juni di tahun tersebut, The Limited Inc. dinyatakan sebagai salah satu firma yang paling bertumbuh cepat di Ohio oleh The Plain Dealer, dan pada bulan Agustus, harga-harga stok bangkit 11 persen.
Baik Wexner dan The Limited bisa mengembalikan kejayaan mereka kembali bisa dilihat. Tetapi faktanya – Wexner dengan sangat luar biasa mempengaruhi industri fesyen dan menunjukkan dunia korporat bagaimana kesuksesan bisa diraih dengan menaruh perhatian pada faktor-faktor pasar dan mengerti apa yang mendorong para pembeli untuk membeli produk-produk. Salah satunya yang pertama untuk menyadari ketertarikan pakaian olahraga yang terlihat smart, Leslie Wexner menolong menciptakan pakaian kasual yang gaya, terjangkau yang sekarang mendominasi pasar fesyen.
"Anda harus mengerti bahwa tak seorang pun harus membeli sesuatu… Setiap orang memiliki pakaian yang cukup di lemari pakaian mereka bahkan untuk 100 tahun ke depan. Maka masalahnya adalah untuk menciptakan sebuah permintaan untuk menstimulasi orang untuk membeli."- Leslie Wexner
"Anda tidak harus menjadi seorang yang jenius atau seorang visionaris atau bahkan seorang lulusan perkuliahan untuk menjadi sukses. Anda hanya membutuhkan sebuah framework dan sebuah mimpi."- Michael Dell
Kutipan kata-kata diatas benar-benar perwujudan dari slogan Stop Dreaming Start Action , yang artinya tidak ada yang bisa menghalangi anda untuk bermimpi dan mewujudkannya. Semuanya tergantung anda.
Michael Dell bukanlah satu-satunya pengusaha muda yang mengendarai booming komputer di akhir tahun 1980an dan awal 1990an dari keusangan menuju kejayaan. Seperti Rod Canion dari Compaq dan Steve Jobs dari Apple, Michael mengubah bisnis muda yang belum banyak pengalaman menjadi kerajaan komputer milyaran dolar. Tetapi tidak seperti Canion dan Jobs yang mengalami nasib buruk, yang kehilangan kendali atas ciptaan mereka ketika mereka bertumbuh, Michael telah menangani untuk tetap memegang kendali atas usaha maverick -nya dan menerima pengakuan unik untuk menjadi CEO terlama dalam industri komputer.
Mengikuti ide sederhana dengan menjual sistem-sistem komputer personal yang terkustomisasi langsung ke para kustomer ia dapat sangat mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka dan menyediakan solusi-solusi komputer paling efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, Michael telah menjadikan Dell Computer Corp. Sebagai perusahaan pemimpin penjualan langsung sistem-sistem komputer.
Orang-tua Michael menginginkan ia menjadi seorang dokter. Tetapi sewaktu ia berada di masa sekolah menengah pertama, Michael terpaku pada komputer-komputer. Selagi kebanyakan teman-teman seangkatannya terpaku di bawah atap-atap mobil tua, Michael menyukai terpaku dengan Apple IIe-nya.
Untuk menyenangkan orang-tuanya, Michael terdaftar sebagai pra-mahasiswa kedokteran di Universitas Texas pada tahun 1983, tetapi tetap saja yang menjadi kegemarannya adalah komputer-komputer. Sepanjang semester pertamanya, Michael menghabiskan waktu luangnya membeli PC-PC lama yang perlu dibetulkan dari ritel-ritel lokal, lalu meng-upgradenya dan menjualnya dari kamar asramanya. Usahanya itu sukses, hingga akhirnya satu hari teman sekamarnya menumpuk inventarisnya yang semakin banyak dekat pintu kamar asrama mereka.
Michael menganggap itu sebagai satu tanda sudah waktunya untuk memindahkan bisnisnya yang berkembang dari kampus. Kedua orang-tuanya geram ketika ia mengatakan kepada mereka bahwa ia ingin drop out dari kampus, maka untuk menenangkan mereka, Michael setuju untuk kembali ke sekolah jika penjualan musim panas terbukti mengecewakan. Di bulan pertama bisnisnya, Michael menjual beberapa PC seharga $180.000. Ia pun tak pernah kembali lagi masa senior sekolahnya.
Selagi mencari jalan untuk memperlebar bisnis awalnya yang sedang bertumbuh, Michael menyimpulkan bahwa komputer dengan cepat akan menjadi sebuah komoditas, dan dengan komoditas-komoditas, apa yang paling penting adalah harga dan pengantarannya. Michael melihat bahwa cara tercepat untuk menerima kedua gol tersebut adalah dengan memotong perantara. Ia menyadari bahwa ia bisa membeli komponen-komponen dan merakit keseluruhan PC sendiri dengan harga lebih murah. Lalu ia bisa menjual setiap mesinnya melalui telepon langsung ke para pelanggan dengan 15 persen untuk membangun brand-nya. Teknik ini, yang selanjutnya dikenal sebagai "model penjualan langsung," dapat merevolusi industri dan menjadikan Michael Dell sebagai multi-milyuner dalam prosesnya.
Michael Dell yang berusia 19 tahun memakukan usaha bisnisnya PCs Ltd., dan perusahaan yang berbasis di Austin ini dengan cepat menjadi salah satu perusahaan yang bertumbuh paling cepat di negerinya. Daripada membanjiri pasaran dengan ratusan dari ribuan komputer "berkulit coklat yang tawar," perusahaan dapat berfokus pada apa yang terbaik – menciptakan mesin-mesin yang terkustomisasi untuk meng-order.
Strategi ini bekerja. Dalam operasinya di tahun pertama, PCs Limited menarik hingga lebih dari $6 juta dari penjualan, dan Michael dengan cepat mendapat reputasi sebagai "pria muda ajaib." Untuk membayar namanya yang semakin tenar, ia mengubah nama perusahaan menjadi Dell Computer Corp. pada tahun 1987. Penjualan terus berlanjut mengembang, mencapai puncak $159 juta pada akhir tahun 1988. Di tahun yang sama, Dell membuat sebuah penawaran awal publik yang meraup $30 juta, dan sekitar $18 juta-nya masuk langsung ke kantong Michael.
Bagi banyak pengusaha awal, itu bisa menjadi sinyal puncak bahwa sudah waktunya untuk berpindah ke petualangan selanjutnya yang menjanjikan. Tetapi dalam pikiran Michael ia baru saja mulai. Ia sekarang mengatur pandangannya untuk mengambil alih pemimpin industri IBM, mengatakan kepada para stafnya bahwa kata pertama dari putrinya yang baru lahir adalah "Daddy, kill IBM." Teknik ini mendapat responm dan penjualan Dell melompat pada lebih dari $800 juta pada tahun 1991. Pada tahun 1992, Michael menyiapkan sebuah gol untuk melewati $1,5 milyar di akhir tahun tersebut. Selalu melewati pencapaiannya, Michaell mendapatkan gol-nya dan lalu, penjualan pun meroket hingga $2juta milyar. Tetapi di tengah kesuksesannya, ada awan-awan mendung yang bertemu di langit-langit.
Pertumbuhan perusahaan melangkah terlalu cepat bagi si pengusaha muda untuk menanganinya. Pada pertengahan 1993, Dell Computer Corp. terlihat berada di luar kendali. Harga-harga saham terpantul dari $49 pada Januari 1993 menuju sekitar $16 pada bulan Juli. CFO dari Dell pun resign , meninggalkan kekosongan manajemen. Dan yang terburuknya, Michael membongkar semua merek baru dari komputer-komputer notebook dikarenakan produksi yang miskin dan dipaksa untuk duduk di atas sisi dari segmen yang bertumbuh cepat dari pasar PC untuk lebih dari 12 bulan.
Michael menyadari bahwa ia perlu untuk melakukan sesuatu – dan melakukannya dengan cepat. Solusinya adalah mencari para manajer yang lebih tua berpengalaman untuk menolongnya mengambil kendali dari juggernaut-nya yang berusia 9 tahun. Pertama ia membawa Mort Topfer, eksekutif musiman dari Motorola, untuk menangani operasi sehari-hari. Selanjutnya ia memanfaatkan talenta-talenta Kevin Rollins, sebuah pakar organisasi dari Bain and Co., untuk menjalankan operasi-operasi pekerja Amerikanya. Dan, mungkin saja kudetanya yang paling penting, Michaell mencuri desainer Apple Powerbook yakni John Medica.
Dalam 12 bulan penyusunan perusahaan sangatlah benar, dan di tahun selanjutnya keuntungan-keuntungan pun mendaki hingga $149 juta. Tetapi bahkan dengan perubahan haluan yang luar biasa ini, Michael mengetahui tempat perusahaannya di persaingan industri PC yang terus meningkat biar bagaimanapun tak ada jaminannya. Untuk memastikan agar terus berlanjut sukses, Michael dan para eksekutif top-nya membuat sepasang keputusan strategi kontroversial yang menjalankan penghitungan tren industri yang sedang terjadi. Pertama, bukannya mengawali perang harga untuk mengejar penjualan unit-unit yang luar biasa, Michael memutuskan untuk berfokus pada para pelanggan bisnis yang bermargin tinggi. Kedua, perusahaan memandang untuk bersandar secara eksklusif pada pasar langsung daripada ritel.
Para pengamat industri mempertanyakan gerakan yang kedua, menunjuk bahwa dengan menjual langsung Dell merendahkan pasar home PC. Tetapi Michael mengetahui lebih baik. Dalam penyelidikan awal ke toko-toko ritel, Michael menemukan bahwa ia tidak bisa berkompetisi dengan nama brand Compaq yang kuat dan harga Packard Bell yang mematikan. Menjual melalui toko-toko ritel sudah pasti di luar rencana. Tetapi Michael tidak menyerahkan pasar konsumen yang menguntungkan begitu saja. Melainkan, ia memutuskan untuk menjual PC-PC yang terkustomisasi penuh melalui telepon, fax, dan penjualan langsung untuk para pembeli komputer rumah yang lebih mutakhir.
Sekali lagi, Michael memutuskan para pengkritiknya bahwa mereka salah. Pendekatan baru perusahaannya telah memiliki penjualan yang mencapai puncak $5,5 milyar pada akhir tahun 1996. Tetapi Michael memiliki kartu as yang lain di balik lengan bajunya. Pada Juli 1996, Dell meluncurkan salah satu website penjualan komputer langsung pertama, dan hanya dalam dua bulan, telah meratakan penjualan internet dengan kelebihan dari $2 juta sehari (sebuah angka yang dapat terus naik hingga $6 juta sehari pada 1998). Kombinasi dari penjualan langsung via telepon dan Internet mendorong penjualan Dell hingga $7.7 juta pada Februari 1997.
Hingga saat ini, para pakar industri dan tiga lawan utama Dell yakni, Compaq, IBM, dan Hewlett-Packard, teryakinkan bahwa penjualan langsung hanya dapat memberi sebuah ceruk pasar. Tetapi sebagaimana serangan langsung Dell mulai meningkatkan potongan ke pembagian pasar mereka, semua ketiga kompetitornya mengadopsi model penjualan langsung itu, tetapi tidak seperti Dell, melanjutkan untuk menawarkan mesin-mesin mereka melalui toko-toko ritel juga.
Baik ya tidaknya Compaq, IBM dan Hewlett Packard merubah strategi mereka sebenarnya selanjutnya akan menangkap kembali pembagian pasar yang terhilang akan hadirnya Dell. Tetapi dengan menjadi yang pertama kali, Dell tentu saja memiliki keuntungan, sebagaimana ketika angka-angka dengan jelas bermunculan. Selagi industri PC bertumbuh dengan 5 persen yang diremehkan pada tahun 1998, Dell bertumbuh dalam jalur yang luar biasa dengan lebih dari 50 persen, mencapai penjualan $12.3 milyar. Pada Januari 1999, Dell habis terjual baik IBM dan Hewlett-Packard pun seimbang untuk mengambil ali sebagai pembuat komputer nomor satu, meninggalkan Compaq.
Selagi ia telah benar-benar mendiamkan para pengkritiknya, Michael Dell telah membuktikan bahwa ia memiliki fleksibilitas, stamina, dan visi untuk berada di puncak dari bisnis paling kompetitif di negeri itu, bahkan dengan melalui waktu-waktu yang bergelombang. Sebagai roketer penjualan internet ($30 juta sehari pada Juli 1999), Dell melanjutkan untuk mengherankan para kompetitornya, mencengangkan para analis, dan mempesona para pemegang saham.
Hari ini pertama kali saya membaca tentang kontes Stop Dreaming Start Action yang diadakan oleh Joko Susilo . Terus terang ini adalah suatu tantangan tersendiri buat saya karena saya memang sedang mendalami dunia SEO . Jika anda juga merasa tertantang, dan ingin bergabung dengan kontes ini silahkan join di kontes SEO Joko Susilo .
Jika mendengar kata Joko Susilo, memang sedang menjadi fenomena saat ini. Pak Joko Susilo ini adalah salah satu jagoan Internet Marketer di Indonesia, sekarang penghasilannya sudah mencapai milyaran rupiah. Itulah bukti nyata dari Stop Dreaming Start Action . Seorang insinyur menjadi seorang Internet Marketer.
Memang luar biasa jika membaca kesaksian Pak Joko Susilo yang berani meninggalkan pekerjaannya dan mendalami dunia Internet Marketing, dia benar-benar sudah Stop Dreaming dan sudah mulai Start Action . Saat ini saya saja masih berpikir berulang kali untuk meninggalkan pekerjaan saya yang sekarang walau saya tidak pernah Stop Dreaming tapi untuk Start Action nya itu yang susah.
Saya sendiri memang memiliki keinginan kuat untuk berhenti bekerja dan memulai usaha sendiri akan tetapi banyak sekali halangan-halangan yang membendung keinginan saya ini. Pernah suatu kali saya berhenti bekerja dan memulai usaha sendiri karena slogan Stop Dreaming Start Action yang memang selalu meledak-ledak di otak saya. Akan tetapi hanya bertahan 2 tahun lalu saya kembali lagi bekerja karena ada tawaran pekerjaan yang gajinya terlalu besar untuk ditolak. Akhirnya saya menjadi terbalik, kembali seperti dulu Stop Action Start Dreaming .
Sekarang saya sedang mengumpulkan tenaga untuk bangkit kembali, untuk membangun usaha dengan skala yang lebih besar lagi dengan modal yang saya dapatkan selama saya bekerja saat ini. Menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan mimpi yang sudah sangat lama ditunda-tunda terus. Untuk mewujudkan mimpi haruslah dipersiapkan secara matang, harus dipikirkan segala aspek agar perencanaan benar-benar matang.
Sebetulnya saya sedikit mengambil resiko dalam mengikuti kontes Stop Dreaming Start Action ini karena saya membangun blog baru yang sama sekali tidak memiliki pagerank . Jika saya menggunakan salah satu blog saya yang sudah ada pageranknya, pastilah akan lebih mudah untuk meraih posisi yang tinggi dalam waktu sekejap. Apa yang ingin saya raih disini? Saya ingin mengunakan kesempatan ini tidak hanya untuk memenangi kontes tapi juga untuk menantang diri saya sendiri dalam dunia SEO .
Saya sendiri sudah mulai belajar Internet Marketer dari tahun 2002. Waktu dulu belom ada ilmu SEO belum secanggih sekarang, dimana tools-tools pembantu sudah sangat banyak. Mulai aktif menjadi internet marketer sewaktu ikutan Anne Ahira dengan bisnis FFSI (singkatanya saya lupa). Dari situ saya belajar bagaimana mempromosikan website lewat adwords, menggunakan autoresponders untuk memfollow-up leads, dan lainnya. Sayang bisnis tersebut tidak berlangsung lama karena FFSI tidak lagi menerima anggota dari Indonesia. Seketika bisnis tersebut langsung bubar.
Dari situ saya belajar, untuk memiliki bisnis online yang kuat janganlah kita menggantungkan diri pada orang lain. Belajarlah intinya lalu buat sendiri. Maka dari itu saat ini tidak ada satu haripun saya lewatkan untuk belajar. Semua informasi tentang bisnis internet terus saya ikuti. Mulai dari mencari uang lewat blog, affiliate, dropshipping dan metode-metode lainnya.
Jika saya menang, saya akan benar-benar Stop Dreaming dan akan benar-benar Start Action . Itu tandanya saya sudah bisa mendalami dunia SEO, yang artinya saya bisa menjadi seperti Pak Joko Susilo yang sudah sukses menjadi Internet Marketer dengan penghasilan milyaran rupiah.
Mohon dukungan dari teman-teman sekalian untuk mendukung saya dalam kontes ini. Dukungan bisa dilakukan dengan cara menulis artikel lalu menyertakan kata kunci Stop Dreaming Start Action yang dilink ke artikel ini, atau bisa juga dengan menambahkan link di blog / website anda dengan kata kunci yang sama lalu di link ke artikel ini.
Akhir kata, Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mendukung saya dalam kontes ini. Uang yang saya menangkan akan saya sumbangkan seluruhnya ke organisasi GREENPEACE Indonesia , agar Indonesia menjadi lebih hijau dan anak-anak kita di masa depan tetap bisa melihat hijaunya hutan Indonesia.
Russell Simmons bukan pencipta rap. Tetapi ia memainkan sebuah peranan penting dalam kesuksesan genre musik ini. Seperti pendiri Motown Records Berry Gordy, yang membawa musik black soul ke rancah mainstream (dan juga yang sering Simmons dibandingkan dengannya), Simmons dipuji atas pergerakan rap – atau hip-hop, sebagaimana pecintanya menyebutnya – dari jalanan-jalanan pusat kota ke budaya pop Amerika mainstream.
Tetapi tetap ada perbedaan besar antara Gordy dan Simmons. Tidak seperti Gordy, yang mencoba mengembangkan kerajaan Motown-nya melebihi musik tetapi gagal, Simmons telah mampu mempertaruhkan kesuksesannya dalam industri musik ke dalam bisnis lain yang sama suksesnya. Kurang dari satu dekade, Rush Communications milik Simmons telah bertumbuh menjadi penerbitan, fesyen, televisi, pembuatan film, periklanan, dan Internet – menjadi perusahaan hiburan kedua terbesar yang dimiliki kulit hitam di Amerika Serikat.
Meskipun ia mendapatkan ketenarannya dari mempromosikan musik yang merayakan gaya hidup jalanan yang keras, Simmons bertumbuh di sebuah rumah kelas menengah yang nyaman di Queens, New York. Ia pertama kali mendengar musik rap selagi bekerja untuk sarjana sosiologinya di City College di Harlem, New York. Pada tahun 1977, ia mulai mempromosikan pesta-pesta rapnya di Harlem dan Queens dengan temannya Curtis Walker. Seperti rock ‘n’ roll, rap pada awalnya diperkirakan hanya sebagai tren sesaat saja. Tetapi Simmons mengetahui perbedaannya. Pada pesta-pestanya, ia melihat kultur baru muncul dan akan bertahan lama. Di tahun selanjutnya, Walker sendiri menjadi rapper, mengubah namanya menjadi Kurtis Blow, dan ia dan Simmons bekerjasama menulis hit kecil berjudul "Christmas Rappin."
Russell SimmonsSetelah sukses kecilnya dengan Blow, Simmons meninggalkan studinya di City College. Pada 1979, ia membentuk Rush Communications dan mulai mengelola event-event rap lokal lainnya. Salah satu aksi terbaik dari Simmons adalah adik prianya, Joey, yang mengganti nama menjadi Run. Menyatukan saudara prianya bersama dengan MC Darryl McDaniels dan DJ Jason Mizell, ia membentuk grup Run DMC, memakaikan mereka setelah kulit hitam dan mengatakan kepada mereka apa yang harus direkam. Pada tingkat jalanan, dua rekaman pertama dari kelompok ini dengan menjadi hits.
Pada 1984, Simmons bertemu Rick Rubin, seorang pelajar NYU yang juga menginginkan untuk mempromosikan musik rap. Keduanya memohon untuk $8000 dan mendirikan Def Jam. Rubin adalah seorang pemroduksi jenius yang mencintai musik keras pemberontak. Simmons adalah seorang pebisnis yang antusias dan cerdik.
Kombinasi dari kepribadian dan talenta Rubin dan Simmons terbukti sebagai perpaduan yang luar biasa. Hanya dua tahun mereka beroperasi, Columbia Records mendekati Def Jam dengan sebuah penawaran untuk promosi, memasarkan, dan distribusi rekaman-rekaman rap Def Jam terbaru untuk berbagi keuntungan. Tetapi Def Jam dan Run DMC intinya membuat black music untuk orang kulit hitam. Pergerakan kedua label tersebut, bagaimanapun, mengubah hal itu.
Pertama, Def Jam se-tim dengan Run DMC dengan Aerosmith untuk merekam versi rap dari hit band rock tersebut yang berjudul "Walk This Way." Lagu ini meledak dan mendaratkan Run DMC di MTV, yang sebelum itu memasang musik rap ogah-ogahan. Ketika lagu tersebut menjangkau audiens kulit putih baru, Run DMC dan Simmons menemukan lagu mereka sebagai lagu rap pertama yang mencapai No. 4 Billboard yang memecahkan lima besarnya. Lagu tersebut juga menolong album ketiga band tersebut, "Raising Hell," terjual hingga 4 juta kopi.
Selanjutnya Def Jam menandatangani rapper kulit putih pertama, Beastie Boys. Lirik yang nakal dan riff berbasis rock ‘n’ roll dibawakan lagi kepada audiens kulit putih yang lebih luas, dan album pertama band, "License to III," terjual sebanyak 8 juta kopi. Sukses dari album-album tersebut membawakan Def Jam untuk menandatangani aksi-aksi tambahan, termasuk Public Enemy, Oran "Juice" Jones, dan duo rap D.J. Jazzy Jeff dan the Fresh Prince (Will Smith). Luar biasanya, setiap rekaman yang label rilis sepanjang 1990 menjadi emas.
Di waktu yang sama Simmons mengembangkan Def Jam dengan Rubin, ia juga menjadi terlibat dalam media lain. Pada 1985, dalam kerjasama dengan Warner Brothers, Def Pictures miliknya memproduksi film pertamanya, "Krush Groove," musikal rap berdasarkan kehidupan Simmons. Film ini, yang berbiaya hanya $2,2 juta untuk produksi, berpenghasilan kotor nyaris $20 dolar pada box office. Film kedua Simmons, "Tougher Than Leather," sebuah aksi komedi yang dibintangi Run DMC, meraih kesuksesan yang sama. Selanjutnya film-film Def Picture termasuk "The Addiction" (1995) dan "The Funeral" (1996) – keduanya disutradarai oleh Abel Ferrara dan dibintangi Christopher Walken dan "The Nutty Professor" (1996) yang dibintangi Eddie Murphy.
Rubin meninggalkan Def Jam pada 1988 untuk membentuk perusahaannya sendiri, dan Simmons melanjutkan untuk mengatur label Def Jam dan Def Pictures sebagai anak-anak perusahaan dari Rush Communications. Selanjutnya, Simmons memulai usaha dalam pertelevisian dengan "Def Comedy Jam." Co-produce oleh Simmons dan partner-partner TV-nya, Bernie Brillstein dan Brad Grey, show ini, yang menampilkan komedian-komedian hitam yang luar biasa, dengan cepat menjadi sensasi instan.
Russell SimmonsSimmons selanjutnya memperlebar kerajaan komunikasinya pada 1992 seperti majalah Oneworld, yang mempublikasikan artikel-artikel musik, fesyen, dan personalitas hip-hop. Di tahun yang sama, Simmons meluncurkan sebuah clothing line yang disebut Phat Farm, dimana pada tahun 1998 berpenghasilan kotor nyaris $22 setiap tahunnya diproyeksikan untuk mencapai $100 juta pada tahun 2000. Setahun kemudian, Simmons memulai SLBG Entertainment, yang melayani sebagai agen bagi aktor-aktor dan entertainer lainnya.
Salah satu cabang dari Rush Communications yang menggebrak baru-baru ini adalah Rush Media Company, sebuah agensi marketing dan periklanan yang memproduksi iklan-iklan pemenang award untuk Coca-Cola pada tahun 1996.
Kunci dari kesuksesan Simmons, lebih dari segalanya, adalah kegigihannya untuk berpromosi. Di saat industri rekaman mencari one-hit-disco-wonder selanjutnya, Simmons dengan aktif mencari-cari artis-artis yang bisa memiliki karir, lalu mempromosikan mereka dan labelnya di waktu yang sama. Ketika meninjau kembali, Simmons sudah melakukan branding di saat orang lain masih marketing. Sebagaimana label tersebut telah lepas landas, Simmons, seperti guru promosi lainnya, Richard Branson dari Virgin Group, melirik tempat-tempat lain untuk menaruh namanya dan nama perusahaannya untuk menjual produk-produk baru. Dan disitulah setiap indikasinya bahwa Simmons bisa dan akan berangkat untuk menciptakan ekspansi, jenis konglomerat seperti Virgin.
Terima kasih kepada Russell Simmons, hip-hip tidak lagi menjadi bagian kultur kulit hitam atau bahkan kultur urban – itu adalah kultur Amerika.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entreprenur.com
Putra dari pasangan aktor dan pematung Skotlandia Edward James Ballantine dan pemublik teater Stella (Commins) Ballantine, Ian awalnya tidak memiliki ketertarikan khusus dalam karir berbisnis. Dan itu pun berubah, bagaimanapun, ketika thesis Ballantine yang menulis mengenai penjualan buku di Amerika Serikat ketika belajar di London School of Economics and Political Science menangkap perhatian pendiri Penguin Books Ltd . Allen Lane. Dalam thesis tersebut, Ballantine menunjukkan jalan keluar untuk hukum hak cipta yang mengijinkan import harga rendah buku-buku kertas asal Inggris ke Amerika Serikat, sesuatu yang tak ada seorang penerbit lakukan pada saat itu.
Merasa ingin tahu dengan potensial pendapatan yang luar biasa dari kesempatan pasar baru ini, Lane mempekerjakan Ballantine yang berusia 23 tahun untuk mengorganisasi dan membuka sebuah kantor Penguin Books di New York dengan satu-satunya kepentingan untuk mengimport dan mendistribusikan buku-buku British. Ballantine mengepalai kantor tersebut dari tahun 1939 hingga 1945. Sepanjang masa itu, dia menyadari bahwa ada potensi pasar besar untuk mencetak kertas-kertas buku dari penulis-penulis Amerika juga. Lane menolak keras pada ide tersebut, tetapi Ballantine meyakinkan bahwa itu akan bekerja. Maka pada tahun 1945, ia meninggalkan Penguin dan mendirikan Bantam Books Inc . untuk mencetak ulang buku-buku berukuran kantong pada pasar novel-novel hardcover . Awalnya judul-judul Bantam termasuk buku-buku dari penulis-penulis Amerika yang luar biasa seperti F. Scott Fitzgerald, John Steinbeck, Zane Grey, Mark Twain dan James Thurner.
Selagi ia adalah presiden dan direktur dari Bantam, Ballantine mulai mempelajari tren-tren selera membaca masyarakat luas, dan menemukan pasar yang secara virtual belum dimanfaatkan dengan kertas-kertas murah yang seorang pembelum tidak bisa jangkau karena harga kertas yang mahal. Pada masa itu, sedikit penerbit yang memproduksi kertas paperbacks yang asli. Kebanyakan paperbacks di pasaran umumnya cetakan ulang dari buku-buku yang aslinya dicetak dalam versi hardcover . Untuk mendapatkan model dari pasar baru yang Ballantine ungkapkan, Bantam mulai memproduksi sebuah dasar buku-buku original yang ditulis yang semata-mata dipublikasikan sebagai paperbacks yang murah. Paperbacks seharga 25 sen ini dengan cepat menjadi hit bagi para pembaca dari kelas menengah dan pekerja. Dan meskipun kebanyakan penjualan dari Bantam dari dasarnya akan buku-buku fiksi – sains fiksi, judul-judul barat dan horror dengan cover seram yang sering digambarkan dengan wanita berpakaian minim dengan pose ketakutan – juga ada beberapa bestseller di antara judul-judul non-fiksi Bantam.
Ditentukan untuk mencari tahu bagaimana akuratnya ia memprediksikan buku mana yang akan menarik perhatian publik pembaca Amerika, Ballantine menciptakan sebuah teknik riset pasar yang unik yang akhirnya akan menjadi standar industri. Ia mengirim orang langsung ke dealer-dealer buku untuk mencari tahu berapa banyak kopi dari masing-masing setiap judul Bantam yang terjual di kota-kota kunci sepanjang periode masa tertentu. Hasilnya dari survei berkesinambungan ini membuktikan bahwa memang Ballantine memiliki kecerdasan untuk memilih bestsellers . Antara tahun 1945 dan 1948, perusahaannya rata-rata kurang dari 1 persen buku-bukunya kembali, sebuah tingkat yang jarang terdengar di industri tersebut. Disemangatkan oleh hasil-hasilnya, Ballantine mengumumkan bahwa Bantam akan memulai sebuah program pemasaran baru untuk setiap penjualan terbaik dan akan mempublikasikan daftar bulanan dari delapan judul cetak ulang yang memimpin paling banyak. Daftar penjualan terbaik ini, merupakan yang pertama kalinya dalam industri seperti ini, dengan hebatnya meningkatkan penjualan dari buku-buku Bantam sebagai kegemaran publik yang sampai di tangannya sebagai buku yang "semua orang membacanya."
Inovasi pertama Ballantine selanjutnya akan datang, secara hurufiah, sebagai hasil dari sebuah kecelakaan. Sewaktu dalam liburan pada tahun 1950, kaki patah Ballantine patah sewaktu ski. Dipaksa untuk absen dari Bantam selagi ia memulihkan diri, Ballantine menggunakan waktu tersebut untuk memformulasikan apa yang David Dempsey dari The New York Times Book Review sebut "pengembangan paling mutakhir untuk Publisher’s Row untuk selama ini." Dempsey memprediksikan bahwa jika itu sukses, rencana Ballantine "secara radikal bisa mentransformasikan keseluruhan aturan penerbitan konvensional."
Rencana yang Ballantine formulasikan adalah untuk mendirikan Ballantine Books , sebuah rumah penerbit yang akan memproduksi cerita fiksi dan non-fiksi asli dalam edisi-edisi hardbound dimulai dari harga $1.50, selagi secara simultan merilis edisi paperbound seharga 35 sen. Edisi-edisi hardbound , didesain untuk menarik pasar "literer" yang lebih kecil, akan ditawarkan melalui toko buku-toko buku, selagi paperback Ballantine akan dijual melalui kios-kios koran, dimana mereka bisa menjangkau audiens lebih besar dan tidak akan berkompetisi dengan edisi-edisi hardcover yang lebih tinggi harganya.
Pada saat itu adalah ide-ide revolusioner. Pada masa itu, versi-versi paperback hanyalah dipublikasikan setelah sebuah buku secara komplet kehilangan momentumnya yang versi hardcover . Rencana kontroversial ini dengan cepat menyebabkan perselisihan antara para penerbit yang takut tidak hanya karena tak seorang pun akan membeli edisi-edisi hardbound yang berharga tinggi, dengan demikian mengarahkan toko-toko buku keluar dari bisnis, tetapi juga para penulis bisa saja akan menurunkan kualitas dari penulisan mereka demi produksi masal.
Tetapi Ballantine adalah seorang pembelajar alami yang berdedikasi, tidak hanya seorang pemasar brilian, dan ia telah menemukan bagaimana untuk menangani keberatan-keberatan seperti itu. Pertama, ia menawarkan untuk menerbitkan bersama dengan penerbit manapun untuk buku-buku hardbound yang menginginkan untuk memasukkan buku-buku ke dalam basis judul sendiri. Ia menjelaskan kepada sesama penerbit buku-buku hardbound bahwa dengan penambahan kapital yang didapatkan dari edisi-edisi paperbound yang lebih murah akan memampukan mereka untuk mempublikasikan jumlah yang lebih besar dari buku-buku hardcover setiap tahunnya, dengan demikian meningkatkan keseluruhan penjualan mereka.
Kedua, untuk menenangkan ketakutan bahwa kualitas-kualitas buku mungkin akan sengsara, Ballantine mendekati Author’s Guild Council of the Author’s League of America dengan sebuah proposal yang unik. Ia menawarkan untuk membayar penulis-penulis sebuah royalti sebanyak 10 persen untuk edisi hardcover dan 8 persen untuk edisi paperbound , dengan garansi minimal sebanyak $5000 dalam tiga bulan setelah publikasi. Ini merepresentasikan peningkatan yang besar untuk royalti yang secara umum dibayar dalam cetak ulang paperback , dan, Ballantine mengklaim, itu akan membuatnya menjadi memungkinkan bagi para penulis rata-rata untuk memberikan sepenuh waktu untuk penulisannnya daripada menulis dalam jam-jam yang terhabiskan untuk pekerjaan-pekerjaan yang lebih menguntungkan.
Beberapa kritikus masih mencerca rencana Ballantine, tetapi mereka dengan cepat terdiam ketika, kontras dengan apa yang mereka prediksikan, pasar buku hardbound tidaklah terjatuh hingga dasar. Melainkan, penjualan keduanya baik buku paperback dan hardbound meledak.
Tersemangatkan oleh kesuksesan dari rencananya, Ballantine menyiapkan untuk mempublikasikan banyak paperbound asli sebanyak memungkinkan. Pada dasarnya, ia berencana untuk mempublikasikan 30 judul setiap tahunnya, tetapi pada 1963, penjualan begitu ramai hingga ia melipat-gandakan output hingga 60, atau lima per bulan. Meskipun pada awalnya Ballantine berfokus pada fiksi-sains, mempublikasikan buku-buku asli dari para penulis ternama seperti Ray Bradbury (Fahrenheit 451), Philip K. Dick (Martian Time-Slip), Theodore Sturgeon (More Than Human), dan Anthony Burgess (A Clockwork Orange), ia selanjutnya bercabang keluar hingga genre-genre lain, termasuk kisah-kisah fantasi, barat, dan misteri.
Ballantine juga mematahkan dasar dengan mempublikasikan buku-buku yang pada masa itu dianggap terlalu sastra untuk pasar paperbound , termasuk koleksi-koleksi review yang menguntungkan New Poems by American Poets , New Short Novels (yang memasukkan karya-karya oleh Jean Stafford, Elizabeth Etnier, Clyde Miller dan Shelby Foote) dan penjualan terbaik The Best American Short Stories .
Dengan Ballantine sebagai kepala, Ballantine Books berlanjut berkembang sepanjang 1960an dan 1970an, menjadi penerbit terbesar Amerika untuk pasar buku paperback . Setelah menjual Ballantine Books ke Random House pada tahun 1973, Ballantine melanjutkan bekerja dengan para penulis terpilih di Bantam. Pada tahun 1981, Ballantine dan istrinya, Betty, bersama-sama mendirikan Rufus Publications, yang telah mempublikasikan buku-buku ilustrasi seni dan fantasi edisi terbatas dengan harga tinggi, seperti Frank McCarthy’s The Old West, Brian Froud’s Faeries dan James Gurney’s Dinotopia.
Setelah hampir 43 tahun Ian Ballantine membuka kendi emas penerbitan dengan memulai industri pasar besar paperback , ia meninggal pada tahun 1995 di rumahnya di Bearsville, New York, meninggalkan warisan literatur yang hidup yang masih menceritakan namanya. Setelah kematian Ballantine, penulis bestseller Tom Robbins berkomentar," Ian Ballantine mengambil kesempatan pada Another Roadside Attraction [novel Robbins pertama yang dipublikasikan] ketika tak seorang pun peduli atau berani. Ia adalah seorang pria yang pendek. Tetapi ia seorang raksasa."
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com
Sebelum bergabung dengan Dura Skin, ibu dua orang buah hati ini sempat bekerja di beberapa perusahaan yang bergerak di bidang multifinance dan sekuritas. Saat ditanya mengapa pindah ke dunia marketing yang nota bene berlainan dengan bidang multifinance , perempuan yang akrab dipanggil Diana ini menjelaskan, bahwa sebenarnya ia memang senang berinteraksi dengan banyak orang. "Saya memang suka bidang finance , tetapi saya juga senang berhubungan dengan banyak orang, jadi ketika ada tawaran untuk jabatan marketing, saya langsung tertarik," ungkap perempuan berhidung bangir ini.
Diakui Diana, keberhasilannya menapaki karir berkat kerja kerasnya, bukan saja saat ia sudah bekerja tetapi juga saat ia masih duduk di bangku sekolah. "Saat sekolah dulu saya suka sekali mengikuti beberapa aktifitas, termasuk di organisasi-organisasi yang ada di lingkungan sekolah, mungkin dari situlah mental saya terbentuk, terutama dalam menghadapi banyak orang," jelas Diana
Diana juga tak memungkiri bahwa kedua orang tuanya banyak berperan dalam membentuk dirinya hingga ia menjadi perempuan yang terbiasa dengan kerja keras. "Orangtua saya mengajarkan saya agar tidak takut untuk berkompetisi dengan orang lain, mereka juga mengajarkan saya untuk memiliki semangat hidup dan kerja keras, karena dengan kerja keras semua keinginan pasti bisa dicapai," tutur Diana.
Selain hal di atas, Diana juga mengakui bahwa keberhasilannya itu berkat dukungan dari suami dan anak-anaknya. Dukungan itu menurut Diana bisa dalam berbagai bentuk. "Saat saya sedang down misalnya, suami selalu memberikan support dengan mengajak saya untuk rileks ke berbagai tempat, kalo anak saya sering mengingatkan saya untuk tak lupa makan atau memberikan semangat dengan kata-kata ’sukses ya mam’," imbuh Diana.
Walau telah berhasil dalam meniti karir, perempuan yang memiliki senyum manis ini mengaku tetap menomorsatukan keluarga. Saat-saat senggang selalu ia habiskan bersama suami dan kedua anaknya. "Walau bagaimanapun, keluarga adalah prioritas hidup saya, saya bekerja kan untuk mereka, bukan untuk diri saya sendiri, jadi ketika saya memiliki kesempatan untuk bersama mereka, pasti saya gunakan sebaik-baiknya untuk berkomunikasi dengan mereka," beber lulusan S1 Management Universitas Trisakti ini.
Sebagai perempuan, Diana juga berpendapat bahwa sebaiknnya perempuan tidak terlalu bergantung pada orang lain. "Kita harus bisa mandiri, sehingga kita memiliki daya tahan yang kuat terhadap berbagai masalah," kata Diana sambil menambahkakan bahwa pemerintah sepertinya sudah cukup memberi peluang yang sama antara laki-laki dan perempuan. "Tinggal bagaimana para perempuan bisa menyingkapi dan memperjuangkan peluang yang sudah ada," tambah Diana.
Diminta pendapatnya tentang perempuan cantik, Diana menjawab bahwa untuk melihat perempuan itu cantik atau tidak harus dilihat dari dua sisi, yaitu dari inner beauty juga outer beauty . "Agar terlihat cantik dari luar, perempuan harus bisa menjaga penampilan fisiknya, tampil bersih, segar dan rapi sesuai dengan lingkungannya, sementara dari dalam perempuan harus bisa memiliki wawasan yang luas tentang segala hal, dengan begitu mereka jadi memiliki prilaku dan sikap yang baik ," ujar Diana saat ditemui disela-sela aktifitasnya.
Dalam kesempatan ini, Diana juga memberikan pesan buat para perempuan yang memiliki dan yang ingin memiliki karir yang bagus, agar tak mengabaikan kodratnya sebagai perempuan, menjadi ibu rumah tangga. "Setinggi apapun karir yang bisa kita capai, jadikan keluarga sebagai prioritas utama, atur waktu sebaik mungkin sehingga karir dan rumah tangga bisa berjalan dengan baik," tutup Diana mengakhiri perbincangan.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : perempuan.com
Mungkin terdengar aneh di masa sekarang, dimana banyak bank yang bisa kita temukan di setiap sudut dan para pemberi pinjaman tak putus-putusnya menjajakan pinjaman bunga rendah pada TV dan radio, tetapi dalam putaran abad ke masa lampau, bank-bank hanya tertarik untuk meminjamkan uang kepada orang-orang yang kaya. Faktanya, banyak hal yang dilakukan para nasabah bank sekarang, seperti men-cek akun, menyimpan uang, pinjaman KPR, pinjaman otomotif, dan cicilan kredit lainnya tidaklah ada… setidaknya tidak bagi pekerja. Mereka lebih suka menyimpan tabungan mereka di bawah kasur dan meminjam dari lintah darat dengan pertimbangan astronomis. Tetapi Amadeo Peter "A.P." Giannini mengubah itu semua. Melalui pertimbangannya yang mantap dan fokus yang jarang dimiliki orang lain kepada "wong cilik," Giannini telah membangun pada waktu kematiannya sebuah bank terbesar di negerinya, dan menciptakan sebuah model bagi perbankan internasional modern.
Putra dari imigran Italia yang miskin ini, lahir di San Jose, California, pada 1870. Pada usia 14, ia keluar dari sekolahnya untuk membantu ayah angkatnya berbisnis. Pada usia 19, pemuda penuh pesona yang baik hati ini adalah partner bagi perusahaan yang berkembang, dibangun dengan besar atas reputasinya akan keadilan dan integritas.
Pada 1892, Giannini menikahi Clorinda Cuneo, putrid dari seorang imigran Italia yang kaya raya dari bisnis real estate. Pada masa itu, Giannini memiliki penghasilan dari investasi sekitar $250 per bulan, ditambah dari saham modalnya di firma ayah angkatnya. Ia memutuskan bahwa itu cukup. "Saya tidak menginginkan untuk menjadi kaya," ujarnya. "Tak seorang pria pun yang sebenarnya memiliki kekayaan; kekayaan itu yang menguasai dirinya." Maka ia menjual sahamnya dari bisnis keluarga ke karyawan-karyawannya untuk harga $100,000 dan "pensiun" pada usia tua yang matang yakni usia 31. Tetapi takdir memiliki rencana-rencana lain, dan tanpa diketahui oleh Giannini, karirnya yang sebenarnya baru saja dimulai.
Kurang dari setahun setelah Giannini pensiun, ayah angkatnya meninggal, dan Giannini mengambil alih kursinya di jajaran dewan dari Columbus Savings and Loan Society, sebuah bank kecil di area "Little Italy" North Beach di San Fransisco. Tetapi Giannini dengan cepat menemukan dirinya merasa janggal dengan direktur-direktur lainnya, yang memiliki sedikit ketertarikan untuk meminjamkan uang bagi para imigran pekerja keras. Seperti kebanyakan bank di masa tersebut, Columbus S&L membuat deal hanya dengan pebisnis dan yang kaya. Giannini mencoba dengan keras untuk meyakinkan jajaran dewan bahwa itu akan lebih menguntungkan untuk memberi pinjaman kepada kelas pekerja, dimana ia sendiri mengetahui dari pengalaman pribadinya menjadi pekerja keras dan sangat bisa dipercayai. Tetapi jajaran dewan menutup telinga dengan hal tersebut, maka pengusaha yang tekun ini memutuskan untuk menciptakan jalannya sendiri.
Bank of AmericaPada tahun 1904, Giannini mengumpulkan sejumlah $150,000 dari ayah angkatnya dan 10 temannya, dan membuka Bank of Italy di sebuah bar yang disulap menjadi bank tepat di jalan yang sama dengan Columbus S&L. Itu adalah pertama kalinya berdiri apa yang dikenal pada masa sekarang sebagai bank full-service, memiliki layanan baik tabungan dan akun komersial, selagi juga menawarkan pinjaman-pinjaman kecil. Dari awalnya, Giannini menginginkan bank-nya menjadi "sahabat kecil," dan ia dengan rutin meminjamkan uang pada para petani, pedagang, dan buruh, yang kebanyakan dari mereka adalah imigran. Ia juga mendorong para imigran tersebut untuk memindahkan pinjaman-pinjaman kecil mereka dari bawah kasur ke bank-nya.
Bank of Italy berlanjut bertumbuh dan makmur hingga satu pagi hari pada 18 April 1906, ketika, seperti kebanyakan orang di Bay Area, Giannini terjatuh dari tempat tidurnya sewaktu terjadi gempa bumi Great San Francisco mengubah kota tersebut menjadi puing. Setelah memastikan keselamatan keluarganya, Giannini mengebut ke North Beach dengan truk sayur, tiba di bank-nya hanya sedikit saja lagi api sudah menyapu area pusat kota. Memasuki gedung yang sudah berserakan, ia mengeluarkan emas, koin, dan surat-surat yang total senilai $80.000 ke dalam truk dan, mewaspadai perampok, menutupi semuanya dengan buah-buah dan sayur-sayuran.
Beberapa hati setelah bencana, kebanyakan banker San Fransisco mengingin area bank untuk ditutup hingga segala kerusakan dibereskan. Tetapi Giannini memiliki sebuah rencana berbeda. Ia membuka toko di dermaga dekat North Beach. Dengan sebuah papan kayu yang disangga dua tong sebagai meja, ia menawarkan kredit "langsung berhadapan dan sebuah tanda-tangan" untuk bisnis-bisnis kecil dan setiap orang yang membutuhkan uang untuk membangun hidup mereka kembali. Giannini menjadi seorang pahlawan, dan tindakannya memacu pembangunan kembali kotanya.
Pengalaman Giannini di tahun 1906 tersebut membuatnya menjadi pria yang baru. "Sewaktu dikelilingi api, saya mencoba membuat uang untuk diri saya sendiri. Tetapi api menyembuhkan saya dari pemikiran itu," ingatnya. Ia melihat bagaiamana kekuatan perbankan bisa meningkatkan kehidupan banyak orang dan membuat itu sebagai misi hidupnya. Ia datang dengan sebuah ide sistem Negara bagian dari setiap cabang bank yang bisa membawa sumber moneter bagi komunitas-komunitas yang jauh sekali. "Dengan membuka cabang-cabang, saya melihat lebih jauh lagi kita bisa memberi pelayanan yang lebih baik setiap orang," jelasnya.
Amadeo Peter GianniniPada masa tersebut, tak ada bank lain di Amerika yang memiliki sistem seperti itu, yang kebanyakan dalam bisnis tersebut mencemooh mimpi Giannini sebagai sesuatu yang bodoh. Tetapi pada 1909, Giannini membuka cabang pertamanya yang bukan di perkotaan di San Jose, dan pada 1913, ia memperluasnya ke California Selatan. Kurang dari 10 tahun, Bank of Italy telah memiliki 24 cabang di sepanjang California dan menajdi bank terbesar keempat di Negara bagian tersebut. Lalu pada tahun 1928, Giannini mendirikan TransAmerica Corp. untuk bertindak sebagai sebuah perusahaan manajemen untuk perluasan bisnis-bisnisnya, dimana sekarang termasuk industri-industri yang tidak hanya perbankan. Di tahun selanjutnya, ia mengkombinasikan Bank of Italy dengan bank-bank lain yang ia akuisis, dibawah nama Bank of America. Di sekitar akhir tahun 1920an, Bank of America telah menjadi salah satu bank terbesar di Negara tersebut.
Giannini pensiun untuk kedua kalinya pada tahun 1930, yakin bahwa para penerusnya akan membawa semangatnya. Tetapi sepanjang masa Great Depression, manajemen TransAmerica berganti fokus dan mencoba untuk menjual beberapa cabang Bank of America. Merasa dikhianati, Giannini kembali ke Amerika melancarkan perselisihan atas perwalian yang sukses untuk meraih kontrol. Sekali lagi menjalankan show, Giannini dengan sukses menyuntik bank tercintanya sepanjang krisis bank pada Maret 1933 dan melipatgandakan asset-asetnya dalam waktu enam tahun selanjutnya. Pada saat Giannini pensiun sebagai kepala yang aktif di tahun 1945, Bank of America telah menjadi bank terbesar di Amerika Serikat.
Mengejutkannya, ketika Giannini meninggal pada tahun 1949, ia meninggalkan sebuah estate yang relatif kecil hanya sebesar $500.000. Tetapi itu semua murni berdasarkan pilihan. Ia bisa saja menjadi seorang bilyuner, tetapi meremehkan kekayaan yang luar biasa, takut itu akan menyebabkan dirinya kehilangan sentuhan dengan orang-orang yang ingin ia layani. Dalam analisis akhir ini, kebesaran Giannini tidaklah terletak pada uang yang ia tinggalkan, tetapi pada bank yang ia ciptakan – sebuah bank yang telah bertumbuh untuk kepentingan akan cita-cita radikal untuk melayani warga biasa.
Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action
Sumber : entrepreneur.com
Menyadari pentingnya untuk menjembatani desain-desain tersebut ke pasaran secepatnya yang memungkinkan, Wexner membeli Mast Industries untuk memproduksi line fesyennya, dan menyiapkan jaringan distribusi terkomputerisasi yang memampukan The Limited untuk mempabrikkan garmen-garmennya sendiri dan menaruh mereka di rak penjualan hanya dalam hitungan minggu. Sebagai hasilnya, The Limited bisa mengirimkan desain-desain baru ke toko-tokonya setiap beberapa minggu daripada bukannya secara musiman, sebagaimana standar industri pada masa itu.
Kutipan kata-kata diatas benar-benar perwujudan dari slogan Stop Dreaming Start Action , yang artinya tidak ada yang bisa menghalangi anda untuk bermimpi dan mewujudkannya. Semuanya tergantung anda.
Mengikuti ide sederhana dengan menjual sistem-sistem komputer personal yang terkustomisasi langsung ke para kustomer ia dapat sangat mengerti kebutuhan-kebutuhan mereka dan menyediakan solusi-solusi komputer paling efektif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, Michael telah menjadikan Dell Computer Corp. Sebagai perusahaan pemimpin penjualan langsung sistem-sistem komputer.
Orang-tua Michael menginginkan ia menjadi seorang dokter. Tetapi sewaktu ia berada di masa sekolah menengah pertama, Michael terpaku pada komputer-komputer. Selagi kebanyakan teman-teman seangkatannya terpaku di bawah atap-atap mobil tua, Michael menyukai terpaku dengan Apple IIe-nya.
Untuk menyenangkan orang-tuanya, Michael terdaftar sebagai pra-mahasiswa kedokteran di Universitas Texas pada tahun 1983, tetapi tetap saja yang menjadi kegemarannya adalah komputer-komputer. Sepanjang semester pertamanya, Michael menghabiskan waktu luangnya membeli PC-PC lama yang perlu dibetulkan dari ritel-ritel lokal, lalu meng-upgradenya dan menjualnya dari kamar asramanya. Usahanya itu sukses, hingga akhirnya satu hari teman sekamarnya menumpuk inventarisnya yang semakin banyak dekat pintu kamar asrama mereka.
Michael menganggap itu sebagai satu tanda sudah waktunya untuk memindahkan bisnisnya yang berkembang dari kampus. Kedua orang-tuanya geram ketika ia mengatakan kepada mereka bahwa ia ingin drop out dari kampus, maka untuk menenangkan mereka, Michael setuju untuk kembali ke sekolah jika penjualan musim panas terbukti mengecewakan. Di bulan pertama bisnisnya, Michael menjual beberapa PC seharga $180.000. Ia pun tak pernah kembali lagi masa senior sekolahnya.
Selagi mencari jalan untuk memperlebar bisnis awalnya yang sedang bertumbuh, Michael menyimpulkan bahwa komputer dengan cepat akan menjadi sebuah komoditas, dan dengan komoditas-komoditas, apa yang paling penting adalah harga dan pengantarannya. Michael melihat bahwa cara tercepat untuk menerima kedua gol tersebut adalah dengan memotong perantara. Ia menyadari bahwa ia bisa membeli komponen-komponen dan merakit keseluruhan PC sendiri dengan harga lebih murah. Lalu ia bisa menjual setiap mesinnya melalui telepon langsung ke para pelanggan dengan 15 persen untuk membangun brand-nya. Teknik ini, yang selanjutnya dikenal sebagai "model penjualan langsung," dapat merevolusi industri dan menjadikan Michael Dell sebagai multi-milyuner dalam prosesnya.
Michael Dell yang berusia 19 tahun memakukan usaha bisnisnya PCs Ltd., dan perusahaan yang berbasis di Austin ini dengan cepat menjadi salah satu perusahaan yang bertumbuh paling cepat di negerinya. Daripada membanjiri pasaran dengan ratusan dari ribuan komputer "berkulit coklat yang tawar," perusahaan dapat berfokus pada apa yang terbaik – menciptakan mesin-mesin yang terkustomisasi untuk meng-order.
Strategi ini bekerja. Dalam operasinya di tahun pertama, PCs Limited menarik hingga lebih dari $6 juta dari penjualan, dan Michael dengan cepat mendapat reputasi sebagai "pria muda ajaib." Untuk membayar namanya yang semakin tenar, ia mengubah nama perusahaan menjadi Dell Computer Corp. pada tahun 1987. Penjualan terus berlanjut mengembang, mencapai puncak $159 juta pada akhir tahun 1988. Di tahun yang sama, Dell membuat sebuah penawaran awal publik yang meraup $30 juta, dan sekitar $18 juta-nya masuk langsung ke kantong Michael.
Bagi banyak pengusaha awal, itu bisa menjadi sinyal puncak bahwa sudah waktunya untuk berpindah ke petualangan selanjutnya yang menjanjikan. Tetapi dalam pikiran Michael ia baru saja mulai. Ia sekarang mengatur pandangannya untuk mengambil alih pemimpin industri IBM, mengatakan kepada para stafnya bahwa kata pertama dari putrinya yang baru lahir adalah "Daddy, kill IBM." Teknik ini mendapat responm dan penjualan Dell melompat pada lebih dari $800 juta pada tahun 1991. Pada tahun 1992, Michael menyiapkan sebuah gol untuk melewati $1,5 milyar di akhir tahun tersebut. Selalu melewati pencapaiannya, Michaell mendapatkan gol-nya dan lalu, penjualan pun meroket hingga $2juta milyar. Tetapi di tengah kesuksesannya, ada awan-awan mendung yang bertemu di langit-langit.
Pertumbuhan perusahaan melangkah terlalu cepat bagi si pengusaha muda untuk menanganinya. Pada pertengahan 1993, Dell Computer Corp. terlihat berada di luar kendali. Harga-harga saham terpantul dari $49 pada Januari 1993 menuju sekitar $16 pada bulan Juli. CFO dari Dell pun resign , meninggalkan kekosongan manajemen. Dan yang terburuknya, Michael membongkar semua merek baru dari komputer-komputer notebook dikarenakan produksi yang miskin dan dipaksa untuk duduk di atas sisi dari segmen yang bertumbuh cepat dari pasar PC untuk lebih dari 12 bulan.
Michael menyadari bahwa ia perlu untuk melakukan sesuatu – dan melakukannya dengan cepat. Solusinya adalah mencari para manajer yang lebih tua berpengalaman untuk menolongnya mengambil kendali dari juggernaut-nya yang berusia 9 tahun. Pertama ia membawa Mort Topfer, eksekutif musiman dari Motorola, untuk menangani operasi sehari-hari. Selanjutnya ia memanfaatkan talenta-talenta Kevin Rollins, sebuah pakar organisasi dari Bain and Co., untuk menjalankan operasi-operasi pekerja Amerikanya. Dan, mungkin saja kudetanya yang paling penting, Michaell mencuri desainer Apple Powerbook yakni John Medica.
Dalam 12 bulan penyusunan perusahaan sangatlah benar, dan di tahun selanjutnya keuntungan-keuntungan pun mendaki hingga $149 juta. Tetapi bahkan dengan perubahan haluan yang luar biasa ini, Michael mengetahui tempat perusahaannya di persaingan industri PC yang terus meningkat biar bagaimanapun tak ada jaminannya. Untuk memastikan agar terus berlanjut sukses, Michael dan para eksekutif top-nya membuat sepasang keputusan strategi kontroversial yang menjalankan penghitungan tren industri yang sedang terjadi. Pertama, bukannya mengawali perang harga untuk mengejar penjualan unit-unit yang luar biasa, Michael memutuskan untuk berfokus pada para pelanggan bisnis yang bermargin tinggi. Kedua, perusahaan memandang untuk bersandar secara eksklusif pada pasar langsung daripada ritel.
Para pengamat industri mempertanyakan gerakan yang kedua, menunjuk bahwa dengan menjual langsung Dell merendahkan pasar home PC. Tetapi Michael mengetahui lebih baik. Dalam penyelidikan awal ke toko-toko ritel, Michael menemukan bahwa ia tidak bisa berkompetisi dengan nama brand Compaq yang kuat dan harga Packard Bell yang mematikan. Menjual melalui toko-toko ritel sudah pasti di luar rencana. Tetapi Michael tidak menyerahkan pasar konsumen yang menguntungkan begitu saja. Melainkan, ia memutuskan untuk menjual PC-PC yang terkustomisasi penuh melalui telepon, fax, dan penjualan langsung untuk para pembeli komputer rumah yang lebih mutakhir.
Sekali lagi, Michael memutuskan para pengkritiknya bahwa mereka salah. Pendekatan baru perusahaannya telah memiliki penjualan yang mencapai puncak $5,5 milyar pada akhir tahun 1996. Tetapi Michael memiliki kartu as yang lain di balik lengan bajunya. Pada Juli 1996, Dell meluncurkan salah satu website penjualan komputer langsung pertama, dan hanya dalam dua bulan, telah meratakan penjualan internet dengan kelebihan dari $2 juta sehari (sebuah angka yang dapat terus naik hingga $6 juta sehari pada 1998). Kombinasi dari penjualan langsung via telepon dan Internet mendorong penjualan Dell hingga $7.7 juta pada Februari 1997.
Hingga saat ini, para pakar industri dan tiga lawan utama Dell yakni, Compaq, IBM, dan Hewlett-Packard, teryakinkan bahwa penjualan langsung hanya dapat memberi sebuah ceruk pasar. Tetapi sebagaimana serangan langsung Dell mulai meningkatkan potongan ke pembagian pasar mereka, semua ketiga kompetitornya mengadopsi model penjualan langsung itu, tetapi tidak seperti Dell, melanjutkan untuk menawarkan mesin-mesin mereka melalui toko-toko ritel juga.
Baik ya tidaknya Compaq, IBM dan Hewlett Packard merubah strategi mereka sebenarnya selanjutnya akan menangkap kembali pembagian pasar yang terhilang akan hadirnya Dell. Tetapi dengan menjadi yang pertama kali, Dell tentu saja memiliki keuntungan, sebagaimana ketika angka-angka dengan jelas bermunculan. Selagi industri PC bertumbuh dengan 5 persen yang diremehkan pada tahun 1998, Dell bertumbuh dalam jalur yang luar biasa dengan lebih dari 50 persen, mencapai penjualan $12.3 milyar. Pada Januari 1999, Dell habis terjual baik IBM dan Hewlett-Packard pun seimbang untuk mengambil ali sebagai pembuat komputer nomor satu, meninggalkan Compaq.
Selagi ia telah benar-benar mendiamkan para pengkritiknya, Michael Dell telah membuktikan bahwa ia memiliki fleksibilitas, stamina, dan visi untuk berada di puncak dari bisnis paling kompetitif di negeri itu, bahkan dengan melalui waktu-waktu yang bergelombang. Sebagai roketer penjualan internet ($30 juta sehari pada Juli 1999), Dell melanjutkan untuk mengherankan para kompetitornya, mencengangkan para analis, dan mempesona para pemegang saham.
Hari ini pertama kali saya membaca tentang kontes Stop Dreaming Start Action yang diadakan oleh Joko Susilo . Terus terang ini adalah suatu tantangan tersendiri buat saya karena saya memang sedang mendalami dunia SEO . Jika anda juga merasa tertantang, dan ingin bergabung dengan kontes ini silahkan join di kontes SEO Joko Susilo .
Jika mendengar kata Joko Susilo, memang sedang menjadi fenomena saat ini. Pak Joko Susilo ini adalah salah satu jagoan Internet Marketer di Indonesia, sekarang penghasilannya sudah mencapai milyaran rupiah. Itulah bukti nyata dari Stop Dreaming Start Action . Seorang insinyur menjadi seorang Internet Marketer.
Memang luar biasa jika membaca kesaksian Pak Joko Susilo yang berani meninggalkan pekerjaannya dan mendalami dunia Internet Marketing, dia benar-benar sudah Stop Dreaming dan sudah mulai Start Action . Saat ini saya saja masih berpikir berulang kali untuk meninggalkan pekerjaan saya yang sekarang walau saya tidak pernah Stop Dreaming tapi untuk Start Action nya itu yang susah.
Saya sendiri memang memiliki keinginan kuat untuk berhenti bekerja dan memulai usaha sendiri akan tetapi banyak sekali halangan-halangan yang membendung keinginan saya ini. Pernah suatu kali saya berhenti bekerja dan memulai usaha sendiri karena slogan Stop Dreaming Start Action yang memang selalu meledak-ledak di otak saya. Akan tetapi hanya bertahan 2 tahun lalu saya kembali lagi bekerja karena ada tawaran pekerjaan yang gajinya terlalu besar untuk ditolak. Akhirnya saya menjadi terbalik, kembali seperti dulu Stop Action Start Dreaming .
Sekarang saya sedang mengumpulkan tenaga untuk bangkit kembali, untuk membangun usaha dengan skala yang lebih besar lagi dengan modal yang saya dapatkan selama saya bekerja saat ini. Menunggu saat yang tepat untuk mewujudkan mimpi yang sudah sangat lama ditunda-tunda terus. Untuk mewujudkan mimpi haruslah dipersiapkan secara matang, harus dipikirkan segala aspek agar perencanaan benar-benar matang.
Sebetulnya saya sedikit mengambil resiko dalam mengikuti kontes Stop Dreaming Start Action ini karena saya membangun blog baru yang sama sekali tidak memiliki pagerank . Jika saya menggunakan salah satu blog saya yang sudah ada pageranknya, pastilah akan lebih mudah untuk meraih posisi yang tinggi dalam waktu sekejap. Apa yang ingin saya raih disini? Saya ingin mengunakan kesempatan ini tidak hanya untuk memenangi kontes tapi juga untuk menantang diri saya sendiri dalam dunia SEO .
Saya sendiri sudah mulai belajar Internet Marketer dari tahun 2002. Waktu dulu belom ada ilmu SEO belum secanggih sekarang, dimana tools-tools pembantu sudah sangat banyak. Mulai aktif menjadi internet marketer sewaktu ikutan Anne Ahira dengan bisnis FFSI (singkatanya saya lupa). Dari situ saya belajar bagaimana mempromosikan website lewat adwords, menggunakan autoresponders untuk memfollow-up leads, dan lainnya. Sayang bisnis tersebut tidak berlangsung lama karena FFSI tidak lagi menerima anggota dari Indonesia. Seketika bisnis tersebut langsung bubar.
Dari situ saya belajar, untuk memiliki bisnis online yang kuat janganlah kita menggantungkan diri pada orang lain. Belajarlah intinya lalu buat sendiri. Maka dari itu saat ini tidak ada satu haripun saya lewatkan untuk belajar. Semua informasi tentang bisnis internet terus saya ikuti. Mulai dari mencari uang lewat blog, affiliate, dropshipping dan metode-metode lainnya.
Jika saya menang, saya akan benar-benar Stop Dreaming dan akan benar-benar Start Action . Itu tandanya saya sudah bisa mendalami dunia SEO, yang artinya saya bisa menjadi seperti Pak Joko Susilo yang sudah sukses menjadi Internet Marketer dengan penghasilan milyaran rupiah.
Mohon dukungan dari teman-teman sekalian untuk mendukung saya dalam kontes ini. Dukungan bisa dilakukan dengan cara menulis artikel lalu menyertakan kata kunci Stop Dreaming Start Action yang dilink ke artikel ini, atau bisa juga dengan menambahkan link di blog / website anda dengan kata kunci yang sama lalu di link ke artikel ini.
Akhir kata, Terima kasih kepada teman-teman yang sudah mendukung saya dalam kontes ini. Uang yang saya menangkan akan saya sumbangkan seluruhnya ke organisasi GREENPEACE Indonesia , agar Indonesia menjadi lebih hijau dan anak-anak kita di masa depan tetap bisa melihat hijaunya hutan Indonesia.