Loading...
Will Keith Kellogg: Rajanya Cornflake

Ketika Will Keith dan John Harvey Kellog menemukan sereal flake pertama pada 1894, mereka mengubah kebiasaan diet Amerika. Tetapi jauh sebelum nama Kellogg menjadi anugerah di meja makan pada pagi hari di sepanjang Negeri. Di balik ceritanya ada kisah mencengangkan dari dua abang-adik yang berbeda – satunya seorang dokter eksentrik, yang lainnya pebisnis bijaksana – yang ranking persaingan antar saudaranya sudah seperti Kain dan Habel.

Will Keith Kellogg lahir di Battle Creek, Michigan, pada April 1860. Ayahnya, John Kellogg, pembuat sapu yang sukses dan seorang Advent yang setia, mempercayai kedatangan Kristus kedua kalinya telah begitu dekat dan karena itu juga tidak terlalu mempedulikan pendidikan. Maka selagi masih mudanya Will Keith dan sudah cukup besar, ia ditaruh bekerja di pabrik ayahnya. Will Keith menemukan bahwa ia memiliki bakat alami berbisnis, dan pada usia 14, ia adalah penjual keliling termuda perusahaan tersebut. Lima tahun kemudian, ia mengelola pabrik sapu di Dallas.

KelloggJohn Harvey Kellog mengambil jalur yang sangat berbeda. Seorang ilmuwan flamboyant, penulis dan penemu, Dr. Kellogg telah menghimpun perhatian dunia kepadanya sebagai kepala dari Sanitarium Battle Creek. Menawarkan pengobatan-pengobatan radikal yang menjanjikan merevitalisasi tubuh, pikiran, dan jiwa, Sanitarium tersebut telah menjadi Mekah bagi orang-orang yang mencari untuk meningkatkan kesehatan mereka. Sebagai perlindungan bagi sanitarium tersebut meningkat, sang dokter yang baik memutuskan bahwa ia membutuhkan seseorang untuk menjaga buku-bukunya dan menolong dia menjalankan tempat tersebut. Untuk hal ini ia datang kepada adik prianya, Will Keith, yang telah kembali ke Michigan pada 1880. Sebagai tambahan dari pengetahuan bisnisnya, ada hal lain lagi mengapa John memilih Will Keith – ia mengetahui bahwa pria muda yang pemalu itu bukanlah ancaman bagi dia untuk mengkontrol Sanitarium.

Inti dari program "hidup alami" Dr. Kellogg adalah keyakinan pasti akan vegetarianisme. Tetapi ia memiliki kesulitan menyakinkan orangtuanya untuk angkat tangan dari daging. Maka John mendirikan sebuah dapur eksperimental dan menaruh Will Keith bekerja menemukan pengganti daging yang enak yang terbuat daru gandum. Selama beberapa tahun, John telah mencoba menduplikasikan sebuah produk sereal yang dibuat di Denver yang disebut Shredded Wheat. Sayangnya, Shredded Wheat tidak berjalan dengan baik dengan para pengunjung Sanitarium. Kebanyakan mengatakan bahwa rasanya seperti "jerami."

Will Keith mencari sebuah cara untuk mengubah gandum menjadi sesuatu yang lezat, dan ia mendapatkan sebuah ide menciptakan flake gandum. Setelah beberapa percobaan yang tidak sukses, Will Keith pulang ke rumah memikirkan ulang mengenai masalah tersebut. Ketika ia kembali ke lab setelah beberapa hari kemudian, ia menemukan bahwa adonannya telah terbentuk. Dengan jijik, ia menaruhnya ke mesin "flaking" – dan yang mengejutkan, keluarlah flake-flake yang sempurna. Tampaknya bentukan tersebut telah memberikan adonan tersebut yang diperlukan untuk menjadi flake.

KelloggWill Keith dengan cepat menemukan bahwa proses tersebut bekerja dengan baik sebagaimana juga diberlakukan dengan oat, nasi, dan jagung. Tetapi meskipun Will Keith-lah yang telah menemukan jawabannya, adalah John yang mendapatkan semua pujian, mengatakan bahwa ide tersebut datang dari mimpinya. Karena frustrasinya Will Keith, John memaksakan bahwa sereal baru tersebut hanya akan dijual kepada pasien-pasien Sanitarium. Dimana Will Keith melihat tanda-tanda dolar, John hanya melihat tanda kesehatan. Kedua abang-adik tersebut tidak menjadi dekat semenjak memulainya, dan sekarang perbedaan mereka membuka jurang di antara mereka.

Pada 1891, seseorang yang akan menjadi pengusaha bernama Charles W. Post tiba di Sanitarium untuk pengobatan kasus dyspepsia (sebuah sakit salah sistem pencernaan). Charles melihat sebuah tambang emas pada produk-produk yang diproduksi di dapur-dapur eksprimen San, dan khususnya terkagum pada pendekatan Kellogg untuk menciptakan pengganti kopi yang terbuat dari sereal. Ketika melihat akan rasa ingin tahu Charles, John menjawab, "Mari biarkan dia melihat semuanya apa yang kita lakukan. Saya akan senang sekali jika ia membuat kopi sereal."

Charles melakukan itu, dan pada 1895, ia mulai memasarkan Postum, sebuah kopi sereal yang terbuat dari biji gandum dan – seperti Kellogg. Postum adalah sebuah kesuksesan besar, terutama pada musim dingin. Tetapi Charles memerlukan sebuah produk untuk musim panas, maka ia mulai memasarkan sebuah sereal yang disebut Grape Nuts. Pada 1901, Charles telah memiliki sejuta pertamanya.

Kesuksesan Charles melukai Will Keith, yang membenci ide naiknya seorang warga Texas yang menjadi kaya karena ciptaan Sanitarium-nya. Setelah beberapa pendekatan yang tidak sukses pada abangnya untuk menjual cornflake sanitarium secara komersial, Will Keith memutuskan untuk melakukannya sendiri. Mencari sebuah cara untuk membuat cornflakes terasa lebih enak, ia menambahkan gandum berair dengan rasa pada resep. Ketika Dr. Kellogg – yang mempromosikan diet bebas gula – mengetahui hal itu, ia menjadi geram. Tetapi Will Keith tidak memperdulikannya. Ia yakin bahwa ia menemukan formula dari kesuksesan miliknya, dan pada 1906, ia terpisah dari abangnya dan membentuk The Battle Creek Toasted Corn Flake Co. Penciuman bisnis Will Keith yang tajam telah ditunjukkannya semenjak masa remajanya, dan pada 1910 ia adalah seorang pebisnis jutawan.

KelloggKesuksesan Will Keith membuat geram John, yang marah akan komersialisasi dari ciptaan"nya" dan nama"nya." Untuk pembalasan, Dr. Kellogg mengubah nama dari perusahaannya menjadi Kellogg Food Co. Dan sebaliknya, Will Keith mengubah perusahaannya menjadi Kellogg Toasted Corn Flake Co., dan untuk membedakan produk flakenya dari milik saudaranya dan pesaing lainnya, ia menambahkan tanda tangannya ke setiap kotak dengan slogan, "Hati-hatilah dengan tiruan. Tak ada yang asli tanpa tanda ini." Itu menandakan mulainya apa yang akan menjadi sebuah dekade – pertempuran di pengadilan mengenai siapa yang memiliki nama Kellogg.

Pada 1910, Will Keith menggugat John. Dan lalu pada 1916, John menggugat Will Keith. Akhirnya, "pertempuran" tersebut mencapai Pengadilan Tinggi Michigan, dimana sang adik dikabulkan memiliki hak untuk menjual sereal di bawah nama Kellogg. Dikalahkan, John pindah ke Florida dan akhirnya tak ada berita lagi.

Akhirnya bangkit dari bayang-bayang abangnya, Will Keith dengan cepat menjadi figur dominan dalam bisnis Amerika. Seorang jenius pemasaran sesungguhnya, ia mulai memberikan cuma-cuma sampel dari serealnya, yang menyebabkan penjualan meledak. Pada 1920, Kellogg Co. memimpin bungkusan apa yang akhirnya menjadi industri berjuta dolar.

Sumber : entrepreneur.com

Ross Perot: Pemuda Pramuka Jutawan

Penjual super. Wirausahawan giat. Patriot. Dermawan. Kandidat presiden. Dalam karirnya yang panjang dan berwarna, Ross Perot telah memainkan semua peranan tersebut dan lebih lagi. Jutawan kelas bantam "bisa semuanya" dari Texas ini telah mengambil-alih raksasa industri seperti IBM dan General Motors Corp., menolong menghimpun perlakuan lebih baik bagi tawanan-tawanan AS sepanjang Perang Vietnam, dan bahkan memelopori sebuah komando penyerbuan untuk menyelamatkan dua karyawannya dari teroris Iran. Tetapi mungkin kontribusi terpentingnya, meskipun tidak begitu menyolok dibandingkan yang lainnya, adalah dobrakannya dalam pengembangan industri teknologi informasi.

Lahir di Texarkana, Texas, pada 1930, Perot mulai bekerja ketika ia masih sangat muda. Dimulai sewaktu berusia 7 tahun dan terus berlanjut hingga sekolah menengah atas, ia mencoba menaruh tangannya dalam berangkaian pekerjaan, termasuk merawat kuda poni, menjual kartu-kartu Natal, merawat kebun, menjual majalah, dan mengantarkan dokumen dengan berkuda. Entah bagaimana ia masih mendapatkan waktu hingga menjadi Pramuka Elang (tingkat tertinggi dalam Pramuka di AS, red), dimana kemudian ia katakan bahwa adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.

Mengikuti masa sekolah atas, Perot memasuki Akademi Angkatan Laut AS, dimana ia menjadi komandan battalion sebelum melayani empat tahun di laut. Pada 1957, ia kembali ke Texas untuk bergabung dengan IBM. Seorang penjual yang memiliki bakat alam, Perot dengan cepat mendapatkan komisi-komisi tinggi dibandingkan kolega-koleganya yang lain dan sekali mencapai kuota penjualan tahunannya pada 19 Januari.

Selalu mencari cara-cara baru untuk peningkatan, Perot mendekati para eksekutif IBM dengan sebuah proposal bahwa perusahaan tidak hanya menjuat hardware, tetapi juga menyediakan software kustom dan dukungan teknis. IBM tidak terkesan. Terluka oleh karena tertolaknya ide miliknya, Perot pergi untuk memotong rambut. Selagi menunggu gilirannya, ia mengambil sebuah kopi majalah Reader’s Digest dan mendapatkan pernyataan dari Henry Thoreau’s Walden: "The mass of men lead lives of quiet desperation." Ia mempertimbangkannya dan kemudian melangkah dengan kemampuan sendiri. Pada ulang tahunnya yang ke-32 – 27 Juni, 1962 0 dengan pinjaman $1000 dari istrinya, Margot, Perot mendirikan Electronic Data Systems Corp. (EDS).

Ross PerotEDS berjalan dengan lancar, menghitung Frito-Lay di antara klien-klien pertamanya. Tetapi dobrakan yang sesungguhnya datang pada 1965, ketika membentuk program-program Medicare dan Medicaid menciptakan sebuah pasar besar untuk proses klaim kesehatan. Perot masuk di lantai dasar sebagai subkontraktor bagi Blue Cross/Blue Shield. Hanya di tahun 1965 saja, EDS memenangkan kontrak-kontrak dari 11 negara bagian untuk mengkomputerisasi sistem pembayaran Medicare dan Medicaid mereka. Menemukan ceruknya sendiri dalam bisnis asuransi, Perot mencari klien-klien baru di sector privat, dan pada 1968, EDS menjadi berharga $2.4 juta. Di tahun yang sama, dalam apa yang majalah Fortune katakana "penggulingan pribadi terbesar dalam sejarah keuangan Amerika," Perot menjadikan EDS publik dan dalam satu minggu menjadi seorang milyuner.

Terkejut dengan gambaran berita dari American POW di Vietnam, Perot memutuskan untuk menaruh kekayaan barunya untuk digunakan menjadi sesuatu yang baik. Pada Desember 1969, ia menyewakan dua jet Braniff dan memenuhi mereka dengan 30 ton makanan, obat-obatan dan hadiah-hadiah bagi POW. Meskipun yang berwenang di Vietnam Utara menolak untuk membiarkan pesawat tersebut mendarat di Hanoi, publisitas Perot menghimpun sebuah peningkatan lebih baik untuk perlakuan bagi POW (sebagaimana dilaporkan oleh mereka beberapa tahun kemudian setelah bebas).

Sepanjang 1970an dan 1980an, memulai sejumlah usaha-usaha sosial baru, termasuk memulai perang di Texas terhadap narkoba, reformasi pendidikan, dan pertolongan lebih lanjut bagi para tentara Amerika yang terhilang dalam aksi.

Pada 1984, di hari ulang tahunnya ke-54, Perot menjual EDS kepada General Motors (GM) seharga $2.5 milyar dan bergabung dengan dewan direktur GM. GM berharap EDS dapat mengkonsolidasi dan mempersingkat sistem informasi terkomputerisasi, dimana tersebar pada lebih dari 100 pusat data. Tetapi permasalahan-permasalahan muncul dengan cepat. Kekusutan birokrasi GM membuatnya lebih sulit bagi Perot untuk memerankan apa yang ia lihat sebagai reformasi penting. Frustrasi, ia mulai mengkritik GM publik dengan pernyataan menggigit seperti, "Merevitalisasi GM itu seperti mengajarkan seekor gajah untuk berdansa tap. Anda melihat bagian-bagian sensitif-nya dan mulai pusing." Setelah dua tahun bergulat dan bertempur secara publik yang luas dengan chairman GM Roger Smith, hubungan kerjasama EDS-GM bubar pada Desember 1986, ketika GM membeli keluar Perot yang dilaporkan $700 juta.

Delapan belas bulan kemudian, Perot membentuk perusahaan pemroses datanya yang kedua, Perot Systems Corp. Dengan sedikit pelintiran yang aneh, ia dipekerjakan oleh IBM untuk menolong memperluas kehadiran raksasa komputer tersebut pada pasar manajemen-sistem seharga $5.9 milyar.

Ross PerotPerot benar-benar membuat sejarah, bagaimanapun, pada Januari 1992, ketika wawancara dalam "Larry King Live," host talk show yang banyak ingin tahu ini menanyakan Perot jika ada scenario lain dimana mungkin ia akan menjadi presiden. Perot mengatakan kepada penonton seluruh Negeri, "Jika Anda, semua warga, dengan keinginan sendiri mendaftarkan saya pada 50 negara bagian, saya akan menjanjikan Anda ini: Antara sekarang dan pemilihan, kita akan berhadapan langsung dengan kedua partai tersebut." Jalur telepon dengan cepat dipenuhi dari panggilan oleh orang-orang yang ingin menjadi sukarelawan mengendarai kampanye presiden independen Perot. Apa yang terjadi selanjutnya mungkin adalah kampanye presiden ter-aneh dalam sejarah Amerika Serikat.

Milyuner yang terjadi karena usaha ini membuktikan sistem kapitalis memang bekerja, Ross Perot adalah seorang ikon Amerika. Koboi yang tanpa basa-basi ini adalah seseorang yang berkemauan menjalankan sendiri sebagai contoh apa yang seseorang bisa capai dari apa yang ia inginkan.

Sumber : entrepreneur.com

Wulan Tilaar: Menerima Tongkat Estafet Dari Ibu

Wulan Tilaar Menjadi pewaris kerajaan bisnis Martha Tilaar Group bukanlah perkara mudah. Setidaknya inilah yang dirasakan Wulan Tilaar kala didaulat untuk meneruskan aktivitas ibundanya, pemilik sekaligus penggagas Martha Tilaar.

"Rasanya risih banget. Enggak enak aja, kemana-mana harus ikut ibu pastinya dilihat orang. Sedangkan saudara yang lain enak, bisa santai ikut acara duduk dibelakang memakai pakaian seadanya, bahkan cuma pakai daster," kata Wulan Tilaar sewaktu ditemui wartawan saat bertandang ke Martha Tilaar Beauty Galery, di Jakarta.

Wulan memang dipasrahi tugas untuk mengemban tongkat estafet sosok ibu Martha Tilaar. Selama ini, ibu Martha dikenal publik sebagai ikon kecantikan. "Sosok ibu inilah yang diserahkan kepada saya," ujarnya.

Sedangkan untuk operasional di Martha Tilaar Group, dipegang oleh lima bersaudara Tilaar, yakni Wulan dan keempat saudaranya. Wulan mengaku, tugas ini terbilang berat. Terlebih, dia tergolong anak rumahan, pemalu, dan tidak suka tampil di depan umum.

Namun, seiring berjalannya waktu dia sadar bahwa ini merupakan jalan hidupnya. Perlahan dia mulai belajar dari ibu Martha. Misalnya, kata Wulan, ibu bicara apa, saya lihat dan saya dengarkan jawabannya. Tak terkecuali juga belajar dari orang lain. "Saat ini saya memang sudah basah kuyup, sampai masuk angin segala. Tidak mungkin mundur," tutur Wulan.

Untuk operasional, Wulan mendapat jatah meng-handle PT Martha Beauty Gallery, yang merupakan anak perusahaan dari Martha Tilaar Group. PT Martha Tilaar Beauty Galery ini membawahi Martha Tilaar Salon and Day Spa. "Namun sekarang, sebenarnya saya sudah harus masuk ke Puspita Martha secara total. Itu lebih besar lagi," kata Wulan.

Dalam menjalankan bisnisnya, agaknya Wulan tidak main-main. Keinginan terbesarnya adalah ingin menguasai market Asia dan internasional. Menurutnya, saat ini produk Martha Tilaar sudah beredar di kawasan Asia, seperti Malaysia, Brunai Darussalam, Singapura, dan sebagainya. Untuk ke depan, dia ingin lebih mantap lagi. Sedangkan untuk spa, Martha Tilaar memiliki sekitar 10 tempat di luar negeri.

Wulan Tilaar – Martha Tilaar Group"Rencananya,akan membuka di Rusia, Hanoi, dan Malaysia lagi. Saya sih mimpinya ingin perusahaan ini go international beneran," tuturnya.

Untuk bisa eksis di setiap negara, Wulan menyebut, pihaknya harus membuat produk yang sesuai dengan keinginan masyarakat di luar negeri. Karena itu, dituntut pula untuk terus melakukan inovasi dan kreatif menampilkan sesuatu yang unik dan berbeda dengan produk lain, namun tetap mengusung kekayaan alam di Indonesia. "Itu pesan ibu Martha. Tetap mengangkat tradisi Indonesia. Dari situlah kami menggali sesuatu yang unik," tuturnya.

Walaupun imej, Martha Tilaar identik dengan tradisi kebudayaan Indonesia, namun menurut Wulan, pihaknya tidak ketinggalan dengan tren-tren dunia, seperti mandi coklat, kopi, atau cranberry.

Meski menjadi putri mahkota Group Martha Tilaar, namun tidak membuat Wulan ingin diistimewakan. Dalam mencapai sesuatu hal, dia tidak ingin melakukannya secara instan. "Jangan tiba-tiba jebret, sopo iku. Saya paling enggak suka, mentang-mentang anaknya Ibu Martha jadi langsung di awang-awang," ujarnya. Saat ini, Wulan ingin menjalankan proses dan terus belajar dan terus belajar.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : kompas.com

H. Wayne Huizenga: Pengusaha Sampah Bertangan Emas

H. Wayne Huizenga dianggap oleh banyak orang sebagai salah satu pria dengan ide terhebat dalam sejarah bisnis Amerika. Dengan kemampuannya yang luar biasa memilih sebuah industri matang yang terbagi untuk konsolidasi dan menciptakan sebuah perusahaan yang mendominasi industri tersebut begitu cepat sehingga para pesaingnya tertinggal di luar kedinginan, Huizenga menjadikan dirinya sendiri seorang milyuner. Dipilih oleh majalah Forbes sebagai salah satu "Pebisnis Amerika Yang Paling Berkuasa," ia memimpin sebuah kerajaan bisnis bernilai milyaran dolar yang termasuk tim olahraga professional hingga ritel mobil terbesar di Negeri itu. Dan itu semua dimulai hanya oleh satu truk sampah.

Fakta bahwa Huizenga akan menjadi salah satu pengusaha paling sukses di dunia bukanlah sebuah kejutan. Faktanya, wirausaha sudah mendarah-daging pada keluarganya. Kakeknya yang seorang imigran Belanda memulai sebuah bisnis sampah di Chicago dan ayahnya mengepalai perusahaan konstruksinya sendiri. Ketika ia masih seorang remaja pria, ayah Huizenga mengatakan kepadanya, "Kamu tidak bisa mendapatkan uang dengan bekerja bagi orang lain."

Wayne muda mengambil saran dari ayahnya hingga ke hati dan mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam dunia bisnis. Pada 1962, di usia 25, Huizenga memulai Southern Sanitation Service dengan meminjam $5000 dari ayahnya dan membujuk seorang penarik sampah lokal di Fort Lauderdale, Florida, untuk menjualnya sebuah truk bekas dan beberapa peralatan. Setiap harinya, Huizenga akan bersiap untuk rutenya pada pukul 2 pagi, mengangkat sampah dan mengangkutnya ke pembuangan hingga sore menjelang. Lalu ia mandi, berpakaian terbaik, dan menghabiskan sisa hari menelpon para pemilik rumah, supermarket-supermarket, dan toko-toko ritel untuk menggalang bisnis bagi perusahaannya. "Saya tidak mengetahui apapun mengenai bisnis," terangnya pada sebuah wawancara dengan majalah The New York Times. "Saya hanya bekerja keras dan memberikan pelayanan yang baik."

Pendekatan itu bekerja, dan pada 1968 Huizenga memiliki 20 truk dan melayani para kustomer sampai selatan jauh hingga Key West. Pada waktu itulah seorang kerabat, Dean Buntrock, yang menjalankan firma pembuangan asli yang didirikanoleh kakek Huizenga, menyarankan penggabungan perusahaannya dengan Southern Sanitation. Huizenga setuju, dan Waste Management pun terbentuk.

Wayne HuizengaVisi Buntrock adalah untuk menciptakan sebuah perusahaan sanitasi nasional. Untuk mencapai tujuan ini, ia dan Huizenga memulai sebuah pelesir pembelian, mencakup 90 pengangkut sampah selama sembilan bulan. Sepanjang masa inilah Huizengan mengembangkan strategi-strategi kunci dan keahlian-keahlian yang akhirnya ia pakai untuk menjalankan perusahaan-perusahaannya yang lain. Pembelian-pembelian itu utamanya dilakukan untuk stok Waste Management. Huizenga dan Buntrock merasakan bahwa pencairan saham-saham kepemilikan mereka itu lebih baik daripada menekan pembayaran bunga uang bisa menguburkan perusahaan lebih lagi. Mereka juga umumnya menjaga pemilik-pemilik sebelumnya sebagai manajer, mempercayai bahwa jika perusahaan-perusahaan mereka cukup baik untuk dipersunting, begitu juga keahlian mereka. Terima kasih kepada strategi ini, Waste Management pun akhirnya menjadi perusahaan pemusnahan sampah terbesar di Negeri itu, menjadikan Huizenga dan Buntrock jutawan.

Pada 1984, perolehan Waste Management mencapai puncak $1 milyar. Tetapi Huizenga menjadi lelah dengan bisnis sampah, dan ia pensiun pada usia 46. Bagaimanapun masa pensiunnya tidak bertahan lama. Tanpa lelah dan berharga $21 juta terima kasih kepada sahamnya di Waste Management, Huizenga mulai membeli bisnis-bisnis kecil lokal. Selama tiga tahun pertama, ia memiliki lebih dari 100 bisnis dimulai dari air minum botol dan jasa berkebun untuk hotel dan perkantoran. Sebagai seorang penulis berkata, "Huizenga begitu mendominasi Fort Lauderdale sehingga seorang warganya tidak mungkin melewati hari tanpa usaha jasanya." Pada 1986, koleksi bisnisnya yang menjemukan telah memiliki pendapatan tahunan hingga $100 juta. Tetapi ia belum mendapatkan perjanjian yang akan menjadikannya legenda bisnis.

Pada 1987, John Melk, seorang mantan karyawan, dan Don Flynn, wakil presiden senior Waste Management, meyakinkan Huizenga untuk melirik kepada serantaian kecil toko video yang disebut Blockbuster. Sebenarnya, Huizenga menolak keras. Ia selalu mengasosiasikan toko-toko video dengan perusahaan-perusahaan pornografi yang kotor. Tetapi ketika ia melihat bahwa toko-toko Blockbuster itu bersih, tertata rapi dan berkaryawankan para pekerja yang berpotongan rapi, satu kata muncul di kepalanya: "McDonald’s." Seperti rantai toko hamburger terkenal, Huizenga menyadari bahwa Blockbuster adalah sebuah konsep produk mudah yang bisa bergerak agresif – dan menguntungkan secara nasional. Dalam satu minggu, Huizenga, Melk dan Flynn memiliki perhatian mengontrol dalam Blockbuster.

Sekarang untuk menanganinya, Huizenga memulai apa yang menjadi strategi standarnya: akuisisi dalam skala besar. Ketika ia membeli Blockbuster pada 1987, itu memiliki delapan toko dan 11 waralaba. Hanya dalam satu tahun setelahnya, Blockbuster menjadi serantaian rental video terbesar di dunia. Pada pertengahan tahun 1991, toko tersebut telah terhitung mencapai 1.654, tidak termasuk 27 toko di Inggris Raya dan 51 di Kanada.

Huizenga membuat uang begitu cepat hingga ia tidak bisa membelanjakan semuanya pada perusahaan, maka ia pergi untuk pembelian plesir yang lain, kali ini untuk membeli semua atau sebagian kepemilikan dari Miami Dolphins, Joe Robbie Stadium, the Florida Marlins, the Florida Panthers, the Super Club Retail Entertainment, Republic Pictures, Sound Warehouse dan Music Plus. Huizenga telah menjadi salah seorang pria termakmur di Amerika, berharga hampir mencapai $700juta. Tetapi sekali lagi, Huizenga merasakan keinginan untuk maju. Maka pada 1984, ia menjual Blockbuster kepada Viacom untuk $8.4 milyar dan mulai melirik industri baru untuk dikalahkan.

Ia menemukannya pada 1995, tetapi itu bukanlah sebuah industri baru. Faktanya, itu adalah sesuatu yang Huizenga sangat familiar. Menginvestasikan $64 juta dengan uangnya sendiri dan menghimpun tambahan $168 juta, ia membeli perusahaan sanitasi di Atlanta Republic Waste Industries. Pergerakan ini membingungkan banyak ahli Wall Street. Mereka tidak mengerti mengapa Huizenga mau kembali lagi ke bisnis sampah. Sebenarnya, dia tidak. "Saya hanya ingin melihat sebuah kerangka (perusahaan), dan ini muncul begitu saja," jelasnya dalam sebuah wawancara Forbes. "Itu bisa apa saja."

Pada waktu itu, perusahaan tersebut, dimana Huizenga mengganti namanya dengan Republic Industries, adalah sebuah perusahaan kecil yang berjuang dalam pemusnahan sampah dan bisnis keamanan elektronik. Hingga susunannya, Huizenga dengan hebat memperlebar baik kedua aspek dari bisnis tersebut, menjadikan mereka sapi perahan yang menguntungkan. Tenggelam dengan uang, Huizenga melatih tempat-tempatnya dengan target dia selanjutnya, industri ritel otomotif, dan mulai membangun jaringan nasional dari outlet-outlet mobil baru dan bekas. Selama masa enam bulan, ia membeli 65 hak penjualan otomotif dengan 109 outlet menjual 31 merek, membuka 11 superstore mobil bekas yang disebut AutoNation USA, dan membeli tiga agensi rental mobil, termasuk Alamo dan National.

Wayne HuizengaSekali lagi, "sentuhan Midas" Huizenga bekerja dengan ajaib. Pada 1999, Republic, sekarang bernama AutoNation Inc., memiliki perjanjian-perjanjian hak penjualan 400 mobil baru dan lebih dari 40 toko mobil bekas, dan telah beroperasi hampir pada 4000 lokasi rental mobil di seluruh Negeri, menjadikannya ritel otomotif nomor satu di dunia dan penyedia jasa rental kendaraan terbesar kedua di Amerika Serikat.

Sebagaimana bagi Huizenga, ia dinyatakan sebagai salah satu seorang pria terkaya di dunia. Tetapi ironisnya, uang tidaklah penting baginya. Ia bahkan tidak mempedulikan untuk mengambil gaji dari AutoNation. Yang mendorongnya adalah sensasi yang ia dapatkan dari kompetisi satu lawan satu antara dirinya dan rivalnya. Itulah sebabnya di waktunya ketika kebanyakan orang di usianya diperkirakan untuk pensiun, Huizenga menekannya dan berjanji untuk menjadi salah seorang pengusaha sukses yang paling berpengaruh dalam percaturan peta bisnis dunia hingga abad selanjutnya.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Tom Monaghan: Penggagas Pizza Delivery

Tom Monaghan Ia adalah pahlawan bagi mahasiswa Amerika yang kelaparan dengan sofa kentang di asramanya – pria yang membuat pizza segar dan panas semudah mengangkat telepon. Dengan menjadi pionir untuk rantai usaha pizza delivery, Tom Monaghan mengubah sebuah tempat makan pizza yang lusuh menjadi serangkaian usaha pizza terbesar di negeri itu. Sepanjang masa itu, ia telah mengumpulkan kekayaan yang diperkirakan mencapai $1 milyar. Tidak buruk untuk seorang anak miskin dari Ann Arbor, Michigan, yang lulus terakhir dari sekolah menengah atasnya, ditendang dari sekolah seminari, dan didaftarkan di kampus selama enam kali tanpa melewati status praja muda.

Awal masa kehidupan Tom Monaghan jika dibaca nyaris seperti novel Charles Dickens. Ketika ia berusia 4 tahun, ayahnya meninggal di malam Natal. Ibunya merasa tidak mampu merawat dua putranya selagi belajar di sekolah keperawatan, maka Monaghan menghabiskan banyak masa remajanya di panti asuhan dan rumah-rumah adopsi. Ketika ia masih praja muda di sekolah menengah atasnya, ia memutuskan untuk menjadi seorang pendeta. Tetapi peraturan disiplin seminari yang ketat membuktikan banyak anak muda yang liat yang perlu ditangani, dan ia dikeluarkan kurang dari setahun setelah melakukan pelanggaran peraturan seperti perang bantal dan berbicara sewaktu kapel. Kembali ke sekolah, Monaghan lulus yang ke-44 dari kelas 44. Sebuah tulisan di bawah fotonya dalam buku tahunan tahun 1955 terbaca, "Semakin sulit saya mencoba untuk menjadi baik, semakin buruk yang saya dapatkan; tetapi mungkin selanjutnya saya melakukan sesuatu yang sensasional."

Monaghan bermimpi untuk belajar arsitektur di Universitas Michigan, tetapi tingkatnya yang rendah ditambah lagi dengan hanya memiliki sedikit uang membuat itu tak tercapai. Ia terdaftar di Marine Corps, dan di akhir perjalanan selama tiga tahun, ia telah menyimpan $2.000 untuk uang kuliah. Tetapi ia dengan lugunya menginvestasikan uang tersebut dalam skema cepat kaya pebisnis minyak yang tidak jujur. Tentu saja ia tidak pernah melihat uangnya atau si pengusaha minyak itu lagi. Dengan hanya $15 di kantongnya, Monaghan menumpang dari mobil ke mobil dari San Diego kembali ke Ann Arbor.

Pada 1960, keberuntungan Monaghan akhirnya mulai berubah ketika ia dan saudaranya, Jim, meminjam $900 dan membeli sebuah toko pizza yang gagal di Ypsilanti, Michigan. Monaghan menceburkan dirinya ke dalam bisnis tersebut dalam 100 jam setiap minggunya. Delapan minggu setelah usaha baru tersebut, saudaranya mulai lelah dengan rutinitas pekerjaan dan menukar setengah dari bisnisnya dengan Volkswagen Beetle milik Monaghan. "Itu adalah kemunduran, tetapi saya mengambil dengan langkah panjang dan tetap optimis," tulis Monaghan dalam otobiografinya, Pizza Tiger. "Saya membuat keputusan untuk mengkomitmenkan diri saya dengan sepenuh hati dan jiwa untuk menjadi pria pizza. Tujuan saya sangat jelas, dan pengetahuan mengenai kesuksesan atau kegagalan masa datang dari bisnis ini saya sambut berada di pundak saya."

Tak lama setelah itu, Monaghan mendobrak dengan formula yang akan menjadi keberuntungan. Ia menyederhanakan menunya, membatasi jumlah ukuran dan topping, mengatur standar ketat untuk bahan makanan, dan menawarkan jasa pengantaran dalam 30 menit atau kurang. "Ide dari mengetatkan penghantaran 30 menit muncul dari keyakinan saya untuk memberikan para pelanggan pizza yang berkualitas," Monaghan menjelaskan dalam Pizza Tiger. "Sangatlah tidak beralasan untuk menggunakan hanya bahan makanan terbaik jika pizzanya dingin dan tak berasa lagi ketika pelanggan menerimanya." Untuk memotivasi para supirnya untuk mengantarkan pesanan secepat mungkin, Monaghan memberikan bonus bagi yang bisa mengumpulkan kas paling banyak.

Di akhir 1965, Monaghan menikmati kesuksesannya dengan sederhana dan membeli dua toko lagi. Di tahun yang sama, Monaghan mengubah nama dari tiga toko pizzanya menjadi Domino’s Pizza.

Domino’s PizzaDomino’s Pizza Inc. menemukan pasarnya di daerah perkampusan dan dekat basis militer, dan pada 1967, Monaghan menjual waralaba pertamanya, mengakhiri tahun itu dengan keuntungan $50.000, Monaghan membangun sebuah gol ambisius dengan membuka satu toko baru setiap minggunya – dan ia nyaris mencapai gol tersebut. Pada 10 bulan pertama di tahun 1969, 32 toko Domino baru muncul, kebanyakan di area tempat tinggal.

Tetapi ekspansi yang cepat terbukti menjadi bencana. Kebanyakan toko-toko tersebut gagal, dan Monaghan mendapati dirinya terjebak dalam hutang $1.5 juta. Untuk menghindari kebangkrutan, ia menyerahkan kontrol dari perusahaan kepada pebisnis lokal. Ia mendapatkan kendali selama setahun, tetapi perjanjian tersebut mengajari dirinya pelajaran berharga. Monaghan berjanji "tidak akan ada lagi ekspansi demi ekspansi," mengurangi gol-nya menjadi 20 toko baru per tahun, dan mulai memilih tempat dengan hati-hati.

Strategi tersebut bekerja, dan di akhir 1980, Domino’s bertumbuh menjadi 290 toko. Untuk merayakan pembukaan dari 1000 waralabanya pada 1983, Monaghan menghidupkan mimpi seumur hidupnya dengan membeli klub bisbol Detroit Tigers seharga $35 juta. Pada tahun-tahun setelahnya, Tigers memenangkan seri Dunia.

Pertumbuhan Domino’s yang mengagumkan berlanjut hingga setengah tahun selanjutnya di tahun 1980, dan pada 1989 perusahaan meledak hampir menjadi 5000 toko di Amerika Serikat dan 260 di negara-negara lainnya. Di tahun yang sama, Monaghan mengejutkan dunia bisnis dengan menyerahkan jabatan presidennya di Domino untuk lebih menghabiskan waktu di kegiatan amal Katolik.

Ia menjabat sebagai ketua dan CEO hingga 1998, ketika ia sekali lagi mengejutkan industri dengan mengumumkan pensiunnya dan menjual 93 persen sahamnya di Domino’s kepada firma investasi Bain Capital yang berbasis di Boston untuk sejumlah kira-kira $1 juta.

Semenjak pensiun, Monaghan menjadi lebih aktif di Gereja Katolik, memberikan waktu dan uangnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan amal seperti membangun gereja-gereja dan misi-misi di Honduras dan Nikaragua, dan mendirikan sekolah hukum Katolik.

Untuk Domino’s, semuanya berjalan baik tanpa pendirinya. Pada 1999, itu meledak hingga 6200 toko pada lebih dari 60 negara, dan adalah perusahaan pesan antar pizza nomor 1 di dunia dan rantai usaha pizza nomor 2 di antara semuanya.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Berry Gordy: King of Motown

Berry Gordy Ketika Berry Gordy mendirikan sebuah label rekaman independen kecil pada 1959 dalam dua bangunan kokoh di West Grand Boulevard, Detroit, ia tidak berpikir sama sekali bahwa dengan menulis dan memproduseri sendiri musiknya akan menimbulkan sebuah revolusi musikal. Sepanjang 1950an dan di akhir 1960an, industri musik dengan jelas terbagi dalam garis rasial. Jazz, blues, R&B, soul dan yang lain yang disebut "black music" hanya dimainkan di stasiun-stasiun radio "black". Tetapi Gordy ingin merubah semua itu. Style musiknya yang unik, yang ia sebut "the Sound of Young America"-lah yang pertama mendobrak batas rasial. Sebagai tambahan dari menghimpun penerimaan nasional akan black music dan pengakuan yang layak diterima dari para penyanyi dan pemusik di belakangnya, "suara Motown" Gordy memberi kelahiran untuk bisnis kulit hitam terbesar dan tersukses di Amerika.

Bertumbuh di Lower East Side Detroit, dua kecintaan terbesar Gordy adalah bertinju dan jazz. Ketika ia lulus dari Northeastern High School di tahun 1948, awalnya Gordy telah siap untuk mulai bertinju. Tetapi setelah memenangkan 15 Golden Gloves, karirnya sebagai seorang petinju terhenti ketika ia terdaftar untuk bertempur pada konflik Korea. Setelah perang, Gordy sudah terlalu tua untuk melanjutkan bertinju, maka ia berpaling kepada cintanya yang lain, membuka sebuah toko rekaman musik khusus musik jazz. Sayangnya, Gordy gagal memperhatikan bahwa para kaum kulit hitam di Detroit khususnya tidak tertarik pada jazz. Mereka ingin mendengar rock ‘n’ roll. 3-D Record Mart milik Gordy bangkrut setelah bertahan hanya selama dua tahun.

Setelah kegagalan awal ini, Gordy sebenarnya tak berkeinginan menerima sebuah pekerjaan di Ford Motor Co., memasang kain pelapis di otomobil Lincoln. Tetapi ia tidak menyerah begitu saja akan mimpinya berkarir di musik. Ia mulai mendengar rock ‘n’ roll dan mulai menulis beberapa lagu dengan style tersebut, yang ia coba jual kepada para penyanyi lokal dan label-label musik. Ia mendapatkan beberapa kesuksesan, tetapi gebrakannya datang ketik ia menarik perhatian penyanyi Jackie Wilson, yang merekam "Reet Petite" karya Gordy dan yang legendaris "Lonely Teardrops." Baik kedua lagu itu menjadi hits instan, dan berdasarkan kesuksesan mereka, Gordy keluar dari pekerjaan $85 per minggunya di Ford dan muncul sebagai produser independen.

Tetapi meskipun dengan dua lagu hit di ikat pinggangnya, Gordy masih sangat jauh dari kesuksesan finansial. "Sebagai penulis, saya memiliki masalah mendapatkan uang sewaktu saya membutuhkannya," jelasnya. "Saya bangkrut meskipun memiliki rekaman-rekaman hit." Dalam satu kasus, sebuah penerbit New York menolak untuk membayar Gordy. Dinasihati bahwa biaya untuk menuntut penerbit tersebut akan menghabiskan lebih banyak uang daripada royalti yang didapatkan jika menang, Gordy memutuskan untuk membiarkan kehilangannya. Tetapi insiden tersebut mengajarinya sebuah pelajaran penting mengenai industri musik: Jika Anda tidak memiliki kendali, Anda tidak memiliki kuasa.

Untuk memiliki kendali yang ia butuhkan, Gordy memutuskan untuk memulai perusahaan rekamannya sendiri. Meminjam $800 dari keluarganya, ia mendirikan Hitsville USA pada 1959. Hit besar pertama dari label muda yang siap bersinar ini adalah "Way Over There" oleh William "Smokey" Robinson – seorang penyanyi remaja yang Gordy temukan di pojok jalan. Di bawah pengarahan Gordy, Robinson dan grup-nya, the Miracles, dengan cepat menjadi sebuah sensasi, menarik performer hitam muda lainnya ke perusahaan rekaman berusia muda tersebut. Dalam tiga tahun, para performer Gordy yang stabil bertumbuh termasuk sejumlah pencapai puncak chart, seperti Mary Wells, the Marvelettes, Marvin Gaye, the Contours, the Prime (yang Gordy ubah namanya menjadi Temptations), dan bocah buta berusia 9 tahun bernama Stevie Morris-yang lebih dikenal sebagai Stevie Wonder. Pada 1960, Gordy telah memproduksi tidak kurang dari 5 rekaman hit dan mengubah nama perusahaannya menjadi Motown, sebuah singkatan dari julukan Detroit, Motor Town.

Diana RossMenyusuri klub-klub malam dan setiap sudut jalanan dari Detroit, Gordy menemukan masukan talenta tak terbatas, para performer hitam muda, termasuk The Four Tops, Diana Ross and the Supremes, dan Martha Vandella and the Spinners, semuanya yang dengan cepat ia ajak tanda tangan kerjasama dengan Motown Records. Pada 1966, tiga dari empat yang dirilis Motown menjadi hit single di top chart. Perusahaan tersebut sangat sukses hingga Gordy membuka Tamla-Motown Records di London pada 1965. Hits-hits tersebut berlanjut tanpa sengaja, dan Motown pun berlanjut dengan mendominasi chart-chart pop sepanjang 1960an.

Pada 1970an membawa serangkaian perubahan pada Motown, tidak semuanya menjadi lebih baik. Gordy memindahkan operasi-operasinya dari Detroit ke jantung dunia hiburan – Hollywood. Gordy mencabangkannya, mendirikan sebuah divisi perfilman yang film pertamanya, "Lady Sings the Blues," sebuah biografi dari legenda blues Billie Holiday yang dibintangi Diana Ross, yang mendapatkan sukses baik komersil maupun kritik. Gordy juga membuatg rencana untuk memproduksi show-show Broadway, spesial televisi dan film-film televisi. Pada 1973, Gordy resign sebagai presiden dari Motown Records untuk mengepalai Motown Industries, payung perusahaan besar yang mengawasi semua anak perusahaannya. Tetapi sebagaimana Gordy mencapai sukses dari usaha-usahanya, Motown Records mulai kehilangan pegangan dalam chart-chart pop sebagaimana kebanyakan bintang-bintang besar labelnya mulai meninggalkan berpindah ke perusahaan lain dan talenta-talenta baru tampaknya kurang memiliki "khas" Motown yang karenanya Motown dikenal. Dalam waktu dekat, tidak ada lagi hits yang muncul.

Pada 1988, Gordy menjual Motown kepada MCA dan grup investasi Boston Ventures untuk $61 juta. Di tahun yang sama, ia masuk dalam Rock and Roll Hall of Fame. Sekarang, Gordy dikenal aktif dalam industri hiburan, menulis lagu-lagu, memproduksi rekaman-rekaman dan bekerja dengan Motown Historical Museum yang baru saja berdiri di Detroit.

Berry GordyMeskipun Motown tidak lagi mendominasi chart-chart sebagaimana dahulunya, dampak Gordy dalam industri musik tidak bisa berlebihan. Sound Motown telah mempengaruhi semuanya dimulai dari the Beatles dan the Rolling Stones hingga pencapai puncak chart sekarang seperti Janet Jackson dan Paula Abdul. Seorang pionir sejati, Gordy membentuk tidak lebih dari era putaran rock ‘n’ roll mengagumkan dari para artis, pemusik, penulis lagi dan produser, dan dalam mengejar mimpinya, ia telah membawakan dua ras bersama dalam satu musik.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Thomas Watson Jr.: Pengubah Industri Komputer

Thomas Watson Ketika Thomas Watson Jr. memegang kendali atas IBM dari ayahnya, ia memiliki banyak sepatu yang harus diisi. Setelah semuanya itu, Watson senior telah mendirikan IBM dari perusahaan pembuat jam dan tabulator punch-card menjadi perusahaan raksasa. Meragukan kemampuan diri sendiri, penerus tahta IBM ini pernah meratap kepada ibunya, "Saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak bisa bekerja untuk IBM." Tetapi sebenarnya ia tidak hanya meneruskan ayahnya, tetapi bahkan mengunggulinya. Ia dengan berani membawa IBM – dan dunia – ke dalam era komputer, menciptakan sebuah perusahaan yang memiliki penjualan luar biasa dan pelayanan mantak budaya jas hitam yang berdiri atas semua yang baik… dan buruk… mengenai korporat Amerika.

Thomas Watson Jr. lahir pada tahun 1914, di tahun yang sama ketika ayahnya ditunjuk sebagai manajer dari Computing-Tabulating-Recording Co. (CTR). Pada 1924, Watson Sr. menjadi CEO dan merubah nama perusahaan tersebut menjadi International Business Machines (IBM). Dikarenakan posisi ayahnya, Thomas Jr. memiliki pendidikan yang sangat istimewa, bersekolah di sekolah swasta, berkeliling dunia dan menikmati keuntungan dari kemakmuran keluarga. Ini justru akan membuktikan lebih sebagai sebuah rintangan dan bukannya keuntungan bagi pria muda bermasalah tersebut.

Watson Sr. adalah pribadi yang kaku dan sulit memaafkan, dan memiliki ekspetasi tinggi tak beralasan putranya – harapan-harapan yang Watson Jr. kerap rasakan bahwa ia tidak dapat melakukannya. Tentu saja, pada awalnya terlihat jelas bahwa ia tidak bisa disamakan dengan ayahnya, tidak juga sebagai penerus yang kompeten. Seorang murid gagal yang abadi, "Terrible Tom," sebagaimana teman-teman sekelasnya dan instrukturnya memanggil dirinya, menghembuskan frustrasinya dengan berseloroh berlebihan dan melawan otoritas. Itu memerlukan enam tahun dan tiga sekolah untuk melewati masa sekolah menengah atas, dan kampus tidaklah lebih baik. Pada Brown University, ia menghabiskan kebanyakan dari waktunya dengan bermain, dan hanya lulus dikarenakan intervensi seorang dekan yang simpati padanya.

Setelah kuliah, Watson terdaftar pada sekolah penjualan IBM, tetapi tidaklah juga cukup baik padanya. "Masa tiga tahun saya sebagai salesman adalah masa meragukan diri sendiri yang menyakitkan," tulisnya dalam otobiografinya Father, Son & Co.: My Life at IBM and Beyond. Dan Watson memiliki alasan bagus untuk merasa seperti itu. Ia tidak pernah yakin apa yang ia telah capai karena dirinya sendiri dan apa yang telah direncanakan untuk memberi ‘bumbu’ berita bagus bagi ayahnya, sebagaimana kepala dari kelas training penjualannya membereskannya hingga ia bisa terpilih sebagai presidennya. "Buruknya bagi saya," Watson mengingat, "Saya kekurangan kekuatan karakter untuk mengatakan ‘Saya tidak akan memiliki ini.’"

Tetapi Perang Dunia II mengubah itu semua. Sebagai ajudan dan pilot bagi Mayor Jenderal Follett Bradley, jenderal inspektur Tentara Angkatan Udara, Watson terbang hingga Asia, Afrika, dan Pasifik, menunjukkan syaraf mentah, pandangan visioner dan kemampuan perencanaan yang cerdas. Sebagai hasil dari pengalaman-pengalamannya, ia kembali dari perang dan berpikir semakin yakin untuk pertama kalinya bahwa ia mungkin berkemampuan menjalankan IBM.

Ayahnya, bagaimanapun, tidaklah terlalu percaya diri. Watson Jr. telah sangat tidak mengesankan dirinya sebelum masa perang yang artinya itu adalah sulit bagi Watson senior untuk menerima bahwa ia telah berubah. Dan tidak hanya juga ia telah berubah, ia juga telah kembali ke IBM dengan sebuah perspektif baru. Ia dengan cepat menyadari bahwa masa depan IBM terletak pada komputer-komputer, tidak pada teknologi yang telah ketinggalan jaman seperti tabulator-tabulator, dimana adalah barang dagang perusahaan. Kebanyakan orang, termasuk ayahnya, menolak untuk mempercayai bahwa produk inti perusahaan secepatnya akan menjadi kuno.

Thomas Watson – IBMMeskipun begitu, ketika Watson menjadi presiden IBM pada 1952, ia mengikuti visinya, merekrut para ahli elektronik, seperti pionir komputer John von Neumann, yang bertanggung-jawab untuk menciptakan komputer-komputer IBM pertama yang sukses, seri 700 dan seri 650. Pada 1963, IBM telah meraup memimpin dari 8-sampai-1 penghasilan atas Sperry Rand, competitor terdekatnya dan pencipta Univac – komputer komersial terbesar pertama.

Dengan IBM yang sudah jelas berada di puncak, Watson mengambil resiko terbesar dalam karirnya. Ia mengajukan untuk menghabiskan lebih dari $5 milayar untuk mengembangkan sebuah standar baru komputer-komputer yang akan menjadikan mesin-mesin perusahaan yang telah ada menjadi kuno. Visinya adalah untuk menggantikan unit-unit spesial dengan komputer-komputer kompatibel bernama System/360 yang dapat mengisi setiap data-processing dan dinaikkan sebagaimana kebutuhan-kebutuhan mereka bertambah, tanpa memiliki untuk mengesampingkan software mereka yang sudah ada.

Itu adalah strategi yang sangat jelas yang hampir gagal karena masalah software menciptakan delay pengiriman. Watson menugaskan 2000 teknisi untuk bekerja memecahkan masalah software tersebut. Meskipun mesin yang pertama masih lambat, mereka menjadi lebih baik sebagaimana terus-menerus dibangun. Pada 1966, program software yang ber-delay lama dikirimkan, dan System/360, yang pada akhirnya akan merevolusi industri komputer, terbukti menjadi sukses fenomenal. IBM menginstal dasar untuk komputer-komputer ‘skyrocketed’ dari 11.000 pada 1964 hingga 35.000 pada 1970, dan perolehannya lebih dari dua kali lipa menjadi $7.5 milyar.

Thomas WatsonPada 1971, tahun-tahun akan masa kerja keras dan stress menghinggapi Watson, dan ia pernah mengalami serangan jantung yang nyaris fatal. Selagi memulihkan kesehatan, ia memutuskan untuk pensiun. "Saya ingin hidup lebih lama dibandingkan saya ingin untuk menjalankan IBM," ia menjelaskan dalam buku Father, Son & Company. "Itu adalah sebuah pilihan yang tidak pernah ayah saya lakukan, tetapi saya pikir ia akan menghargainya." Setelah masa pensiunnya, Watson mengejar ketertarikannya yang lain akan berlayar dan terbang, dan bahkan melayani sebagai duta bagi USSR di bawah Presiden Jimmy Carter. Pada Desember 1993, pria yang majalah Fortune puji sebagai "kapitalis terbesar yang pernah hidup," meninggal karena komplikasi diikuti dengan stroke.

Di bawah Thomas Watson Jr., IBM sepenuhnya mendominasi industri komputer yang akhirnya meninggalkan kompetitor-kompetitor seperti Sperry Rand yang terpukul karena kebangkitan IBM. Dan meskipun pendatang-pendatang baru seperti Compaq dan Microsoft nyaris membawa IBM bertekuk di lutut mereka pada masa 1980an, sebagaimana millennium baru berganti, patung raksasa yang Watson wariskan dan kuat pada tahun 1950an dan 1960an berdiri tegak sebagai perusahaan keenam terbesar di Amerika Serikat.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

David Ogilvy: Bapak Revolusi Industri Periklanan

Ogilvy Berkacamata mengenakan "Man in the Hathaway Shirt." Kolonel Whitehead dan "Schweppervescence." Wagon bakery The Pepperidge Farm. Semuanya telah menjadi ikon-ikon periklanan. Dan semuanya berasal dari pikiran David Ogilvy. Salah seorang bapak pendiri dari periklanan modern, Ogilvy menghabiskan masa hidupnya ‘mengkhotbahkan’ keuntungan-keuntungan dari riset; kopi iklan panjang yang informatif, dan juga, keuntungan-keuntungan. Keyakinan dasarnya bahwa "konsumen tidaklah bodoh" menolong memulai revolusi kreatif pada era 1960an yang mengubah pandangan dari periklanan Amerika.

Lahir pada West Horsley, Inggris, pada Juni 1991, Ogilvy mengambil rute yang cukup berputar dalam jalan menjadi legenda periklanan. Setelah mengalami gagal di Oxford pada 1931, ia pergi ke Paris untuk mengambil sebuah pekerjaan sebagai koki magang di Hotel Majestic. Monsieur Pitard, kepala koki, memberi kesan abadi kepada Ogilvy dan menolong membentuk prinsip-prinsipnya akan manajemen ketika ia memecat koki yunior yang tidak bisa membuat roti yang layak. Saya terkejut dengan sikap jahat itu, "Ogilvy mengingat dalam bukunya, Confessions of an Advertising Man, "tetapi itu membuat koki-koki lainnya merasakan bahwa mereka bekerja dalam dapur terbaik di dunia."

Kembali ke Inggris setahun kemudian, Ogilvy mencari uang bagi dirinya sendiri dengan menjual kompor door to door. Ia begitu sukses sehingga majikannya meminta kepadanya untuk menulis sebuah manual instruksi bagi sesama penjual. Manual tersebut, bersama dengan campur tangan dari abangnya, Francis, menolong Ogilvy memenangkan sebuah pekerjaan copywriting di agensi periklanan London Mather & Crowley, dimana Francis sebagai eksekutif. Periklanan menjadi sebuah gairah yang paling menghabiskan banyak waktu Ogilvy. "Saya cinta periklanan," tulisnya. Saya melahapnya. Saya belajar dan membacanya dan menjadikannya sebagai sesuatu yang sangat serius." Dedikasi Ogilvy dengan cepat terbayar. Mather & Crowley mempromosikan dirinya sebagai account executive. Tetapi Ogilvy menaruh matanya pada padang rumput yang lebih hijau.

Terdaftar untuk belajar teknik periklanan Amerika, Ogilvy meyakinkan Mather & Crowley untuk mengirimnya ke Amerika Serikat pada 1938. Ia menjadi terkagum dengan Amerika dan orang-orang Amerika itu sendiri, dan di akhir 1939, ia resign dari Mather & Crowley untuk mengambil sebuah posisi dengan guru riset George Gallup. Ogilvy selanjutnya menyebut ini sebagai "putusan paling beruntung dalam hidup saya," dan mengutip Gallup sebagai salah satu pengaruh paling besar dalam pemikirannya. Metode-metode riset sangat teliti Gallup dan setia pada realitas adalah fondasi dari apa yang disebut "pendekatan Ogilvy pada periklanan."

David OgilvySepanjang Perang Dunia II, Ogilvy bekerja untuk British Intelligence di Amerika Serikat, mengumpulkan intelijen-intelijen ekonomik di Amerika Latin, dan ia selanjutnya melayani sebagai sekretaris kedua di Kedutaan Inggris Raya. Setelah pengerahan keluar pada 1945, Ogilvy dan istrinya pindah ke sebuah pertanian di wilayah Amish di Lancaster County, Pennsylvania. Ogilvy telah jatuh cinta dengan area tersebut selagi dalam perjalanan bersepeda. Lalu Ogilvy ‘menaruh’ tangannya pada pertanian tembakau, tetapi menemukan itu "fisik dan ekonomis mustahil untuk sukses." Dan pada 1948, dengan backingan dari mantan atasannya, Mather & Crowley, Ogilvy menaruh dasar untuk agensi periklanan yang akhirnya ternyata menjadi dikenal sebagai Ogilvy & Mather.

Dari awalnya, Ogilvy mengelak penjualan cepat, gaya periklanan yang keras menjual yang adalah standar masa itu baik untuk jangka panjang lebih, pendekatan penjualan yang lembut. Strategi Ogilvy berfokus pada pembangunan kesadaran akan nama brand, dan juga copy yang panjang, informatif, orientasi keuntungan dan orang atau simbol yang eye-catching. Kesuksesan terbesar pertamanya berasal dari sebuah kampanye yang ia ciptakan untuk perusahaan clothing kecil dari Maine bernama Hathaway.

Kopi iklan Ogilvy untuk iklan pertamanya bercampur dengan literatur yang memikat intelijensia pembaca. Tetapi itu juga karena fotograf yang menemani yang menggerakkan kampanye tersebut menjadi sejarah periklanan. Dengan tingkahnya, Ogilvy memutuskan untuk memfoto model prianya mengenakan kaos Hathaway – dan eye patch. Ketika "The Man in the Hathaway Shirt" muncul untuk pertama kalinya di majalah The New Yorker pada September 1951, itu menimbulkan sensasi instant. Perusahaan pun berhadapan dengan banyak permintaan akan kaos tersebut.

David OgilvyReputasi Ogilvy sebagai master image dan brand recognition semakin meningkat ketika ia mengambil alih penggarapan Schweppes, produsen air obat kuat asal Inggris yang berjuang menjejakkan kaki di Amerika. Ia mendesain sebuah kampanye iklan cetak seputar Kolonel Edward Whitehead yang berjenggot, kepala operasi Schweppes asal Inggris di Amerika. Selama lima tahun, Schweppes telah menjual lebih dari 30 juta botol setiap tahunnya.

Apa yang menjadikan pekerjaan dari Ogilvy & Mather begitu memukau adalah desakan Ogilvy bahwa iklan-iklan cetak tidak hanya menaruh nama klien, atau nama brand, di setiap headline-nya, tetapi menjanjikan sebuah keuntungan… mengirimkan berita-berita… menawarkan pelayanan… mengutip kustomer yang puas… menyadari masalah yang ada… atau mengatakan sebuah kisah yang signifikan." Sebuah contoh sempurna dari headline klasik Ogilvy salah satunya yang ia tulis pada 1958 untuk Rolls-Royce: " Pada kecepatan 60 mil per jam, suara bising yang terdengar dari Rolls-Royce baru ini hanyalah suara jam elektrik." Kampanye ini menolong melipat-gandakan penjualan perusahaan Amerika tersebut dalam satu tahun.

Sepanjang 1960 dan akhir 1970an, Ogilvy & Mather meraih sukses luar biasa dari gelombang pekerjaan yang tidak hanya menghimpun penjualan-penjualan bagi klien-kliennya. Tetapi juga kekaguman dari industri dan menerima sejumlah penghargaan. Ogilvy menjadi sebuah icon bagi orang-orang agensi periklanan, yang terbebaskan dalam revolusi kreatif pasca perang yang ia percikkan. Seiring waktu Ogilvy melangkah sebagai direktur kreatif Ogilvy & Mather pada 1975, yang adalah agensi periklanan terbesar kelima di dunia.

David OgilvySekarang, David Ogilvy dipandang banyak orang dalam industri sebagai pengiklan berpengaruh pada abad 20. Ide-ide periklanannya telah menjadi icon-icon, tulisan-tulisan dan bukunya, adalah kitab yang menyusun apa yang menjadi iklan yang buruk dan baik. Tetapi warisan terbesarnya, satu-satunya yang sebenarnya membentuk wajah periklanan modern, adalah pendekatan pada periklanan bahwa konsumen adalah pembeli yang pintar.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

George Lucas: Paling Berkuasa Di Hollywood

Tak ada lagi filmmaker di abad 20 ini yang memiliki dampak luar biasa dalam industri film dibandingkan George Lucas. Semangatnya akan berinovasi menempa hubungan baru akan hiburan dengan teknologi yang merevolusi seni motion pictures. Bisnisnya yang cerdas dan tak lazim mengubah lisensi perfilman dan menjadikannya merchandise hingga menjadi industri jutaan dolar. Dan trilogy "Star Wars"-nya menyambut dalam era mega-blockbuster Hollywood.

Lucas lahir di Modesto, California pada 14 Mei 1944. Sebagai seorang beranjak dewasa yang, ia katakan, "hampir ciut karena sekolah menengah atas," Lucas berkeinginan untuk menjadi pembalap otomotif. Ia mengubah pikirannya mengenai karir balapannya, bagaimanapun, ketika kecelakaan hampir fatal menghantam paru-parunya dan mengirimkan dirinya ke rumah sakit selama tiga bulan hanya beberapa hari sebelum kelulusan sekolah menengah atasnya. Pengalaman itu merubah Lucas. "Saya menyadari bahwa menghidupi hidup saya begitu dekat dengan ujungnya dalam waktu begitu lama," ujarnya. "Itulah ketika saya memutuskan untuk tetap maju, menjadi murid yang lebih baik, untuk mencoba sesuatu dengan diri saya sendiri."

Lucas terdaftar pada Modesto Junior College, dimana ia mengembangkan pesona yang luar biasa akan bakat sinematografi-nya. Memutuskan untuk berkarir di film, ia mendaftar pada sekolah film University of Southern California (USC) yang prestisius. USC adalah batu loncatan bagi Lucas. "Tiba-tiba saja hidup saya adalah film film film dan film – setiap saya bangun," ujarnya dalam wawancara dengan Playboy pada tahun 1997. Ia berkonsentrasi dalam membuat film-film sains fiksi abstrak dan dokumenter-dokumenter ejekan, yang menarik perhatian sutradara Francis Ford Coppola, yang mengundang Lucas untuk duduk sewaktu syuting "Finian’s Rainbow." Coppola juga merangkul Warner Bros untuk membuat salah satu film kuliah Lucas. Durasi penuh, "THX-1138," berisikan dongeng Orwellian yang suram dirilis pada 1971 untuk review-review sopan dan penerimaan hangat pada box office. Tetapi eksekutif-eksekutif studio terpesona dengan talenta Lucas yang sangat jelas.

"THX-1138" telah memberi Lucas sebuah reputasi sebagai filmmaker yang berkeahlian tinggi tetapi mekanis menghindari humor dan perasaan. Film keduanya, "American Graffiti," yang berdasarkan masa ia selama berada di Modesto, akan mengubah itu. Difilmkan dengan budget seadanya hanya dengan $780.000, film tersebut dengan cepat menjadi hit semenjak perilisannya pada Juni 1973 dan ternyata akhirnya menghimpun $120 juta.

Film tersebut mendapatkan review-review yang hangat dan menjadikan Lucas sebagai sensasi Hollywood. Itu juga membuktikan momen menentukan bagi Lucas, baik sebagai pembuat film dan pebisnis. Orang-orang yang berwenang di studio memukul peringkat dan membuat perubahan pada versi akhir Lucas. Perubahan yang ada memang minim, tetapi luka-lukanya tahan lama. "Saya sangat waspada sebagai orang kreatif yang mengendalikan makna kontrol produksi atas visi kreatif," ujarnya. "Bukanlah sebuah masalah seseorang berkata "Anda harus membiarkan saya memiliki potongan akhirnya," karena tak peduli apapun yang orang lakukan dalam kontrak, mereka akan tetap melakukannya. Walaupun jika Anda yang memiliki kamera dan Anda memiliki film tersebut, tidak ada yang bisa mereka lakukan untuk menghentikan Anda." Dan itulah apa yang Lucas tetapkan untuk lakukan.

Ketika bernegosiasi dengan 20th Century Fox pada tahun 1975 untuk filmnya yang selanjutnya, "Star Wars," Lucas memotong bayarannya sebagai sutradara sebanyak $500.000 untuk menukarkan dengan hal-hal yang dianggap Fox sesuatu yang nyaris tak berguna: kepemilikan atas merchandising film dan semua hak-hak sekuel. Itu menjadi sebuah gerakan yang brilian, suatu yang memastikan Lucas sebuah independensi sejati dan kontrol kreatif yang selama ini ia cari. "Star Wars" memecahkan semua record box office, memberikan Lucas sekitar $40 juta untuk perilisan awalnya – merchandising selanjutnya memberikan dirinya puluhan juta seterusnya. Yang paling penting, Lucas memiliki sekuel-sekuelnya, dan juga sebuah waralaba. Untuk memaksimalkan nilainya, ia membiayai sekuel pertamanya, "The Empire Strikes Back," dirinya sendiri, meminjam sangat banyak untuk menutupi biaya produksi sekitar $30 juta. Berdasarkan dari kesuksesan "Star Wars," itu adalah taruhan yang bagus, tetapi juga resiko besar – jika film tersebut meledak, Lucas akan menjadi bangkrut. "Empire" berjalan sangat baik, bagaimanapun, sama dengan film ketiga dalam trilogy, "Return of the Jedi," yang juga Lucas biayai.

George LucasLucas menambahkan lebih banyak lagi kekayaannya pada 1980an dengan memproduksi tiga film Indiana Jones, dimana ia menghasilkan lebih dari $100 juta. Lalu, di puncak dari permainannya, ia sebagian besar meninggalkan pembuatan film dan mencurahkan kekayaannya pada eksperimen-eksperimen digital yang, ia rasa benar, akan mentransformasi bisnis perfilman.

Fokus utamanya adalah Industrial Light & Magic (ILM), yang ia bangun pada 1975 ketika ia tidak bisa mencari sebuah perusahaan luar untuk melakukan efek-efek spesial untuk "Star Wars." Gebrakan pertaman ILM adalah sebuah kamera motion-control, dimana bisa berputar berulang-ulang mengelilingi obyek yang tak bergerak selagi mengambil fokus tetap, juga simulasi penerbangan. Untuk menghimpun uang, Lucas mengalihkan ILM menjadi sebuah perusahaan jasa. Menciptakan sebuah pasar bagi film-film yang memuat efek-efek spesial, ia mulai mengambil pekerjaan dari para pembuat film lainnya. Dengan cara ini ia bisa menjaga mengembangkan teknik-teknik selagi orang lain membiayai risetnya.

Mengenakan biaya hingga $25 juta per film, ILM dengan cepat menjadi sesuatu yang menguntungkan, menyediakan efek-efek spesial untuk film-film blockbuster seperti "Jurassic Park" dan "Twister." Lucas menyalurkan keuntungan-keuntungan ILM ke dalam bisnis-bisnis yang berasal dari risetnya. Skywalker Sound muncul menjadi perusahaan teratas dalam industri audio pasca-produksi, lalu bercabang lagi untuk menyediakan sebuah sound system digital untuk bioskop-bioskop dan rumah-rumah di bawah nama THX (sebagai penghormatan dalam film pertamanya). Dan dengan berdirinya LucasArts Entertainment, Lucas pindah ke video games, memproduksi produk-produk top-seller seperti yang terinspirasi Star Wars: Rebel Assault, X-Wing dan Dark Forces.

George Lucas – Star WarsPada pertengahan 1990an, Lucas memutuskan untuk kembali dalam pembuatan film dan mulai bekerja menciptakan skrip untuk prekuel Star Wars, "Star Wars: Episode I, The Phantom Menace." Untuk menciptakan desas-desus untuk film terbaru tersebut, ia masuk dalam strategi marketing yang terencana dengan baik. Pada 1997, ia merilis ulang trilogi "Star Wars" sebagai edisi spesial, yang mencetak $475 juta dalam box office. Popularitas besar dari film-film tersebut membangun audiens baru untuk "The Phantom Menace." Sama pentingnya, itu menyediakan Lucas sejumlah $115 juta yang ia butuhkan untuk membiayai produksi, menjamin ia baik untuk kontrol kreatif dan keuntungan-keuntungan yang lebih besar. Lagi, itu juga adalah sebuah taruhan. Tetapi lagi, itu terbayar impas.

Dirilis pada 19 Mei 1999, film ini mematahkan semua record box office, diawali dengan perkiraan $42 juta pada hari pembukaannya. Pada September, itu telah menjadi film dengan pendapatan kotor terbesar di musim panas, mencapai $419,9 juta, lebih dari dua kali lipatnya sama banyaknya dengan pesaing terdekat.

Kesuksesan dari "The Phantom Menace" dengan tegas mengukuhkan Lucas sebagai salah seorang yang paling kuat – dan menguntungkan – di Hollywood. Tetapi pria yang mengaku workaholic ini tidak langsung beristirahat dalam kemenangan-kemenangannya. Berencana untuk "Star Wars" Episodes II and III yang sudah ada di meja, begitu juga rencana-rencana untuk film keempat Indiana Jones.

Selama hampir 30 tahun sebagai filmmaker, George Lucas telah meningkatkan seni dari motion pictures dengan mengambil resiko-resiko dan melanjutkan membuka amplop. Ia telah merubah cara Hollywood membuat film-film dengan men-setting standar untuk bisa jadi seperti apa film komersial modern. Dan itu belum berakhir, Jedi muda.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : entrepreneur.com

Monique Kocke: Kaus Parental Untuk Edukasi

Ibu satu anak berusia 30 tahun ini mendirikan Parental Advisory Baby Clothing, sebuah distro baju anak. Desainnya tak biasa. Misalnya, t-shirt bertuliskan: Kill Sinetron-Kids Against Television, Where’s My F*ckin’ Milk, atau gambar gajah dan tulisan: It’s an elephant not a penis. Menyeramkan? Ya. Tapi, Monique punya misi lain di balik desain yang ia gagas.

Kapan bikin Parental Advisory Baby Clothing (PABC)?
Sekitar akhir 2006. Ide awalnya sih karena saya enggak menemukan distro anak yang sesuai selera. Tahun-tahun itu di Bandung banyak distro buka, tapi 90 persen cuma menjual produk untuk remaja dan dewasa, enggak ada produk buat anak. Saya juga enggak begitu tertarik dengan baju anak yang kebanyakan ada.
Nah, kebetulan waktu itu saya baru saja melahirkan. Akhirnya terpikir membuat baju anak. Itu pun tadinya cuma buat anak sendiri atau buat anak teman-teman.

Punya latar belakang desain?
Enggak. Saya lulusan Sastra Inggris Universitas Padjadjaran, Bandung. Jadi, saya masuk bisnis pakaian ini ya ibaratnya terjun bebas saja. Selain karena soal selera, saya juga melihat ada peluang di situ. Ya sudah, jalan deh.

Kenapa memilih nama PABC?
Karena dari awal, idenya ingin membuat baju anak yang agak nyeleneh. Selain itu, ada misi yang ingin saya sampaikan. Kalau melihat desain atau kata-katanya, baju-baju PABC kata orang terlalu kasar untuk anak-anak. Padahal, justru sebetulnya saya ingin supaya orangtua yang membeli baju buat anaknya bisa menjelaskan maksudnya ke anak. Anak dapat bimbingan (parental advisory). Jadi, bukan hanya bikin tanpa ada makna apa-apa di balik desain. Rata-rata, desain atau kata-kata PABC ada sejarahnya.

Misalnya?
Contohnya t-shirt bertuliskan Kill Sinetron; Kids Against Television. Itu karena menurut saya, anak sekarang enggak bisa hidup tanpa televisi. Sementara acara buat anak-anak di televisi kita sekarang ini kayaknya enggak ada edukasinya, enggak ada yang pas. Baru sekarang ada "Si Bolang" atau "Laptop Si Unyil" lumayanlah. Sebelum-sebelumnya kan sinetron melulu. Hampir di semua stasiun televisi ada sinetron, dari pagi sampai malam. Jadi, kapan jam-jam anak bisa nonton?
Celakanya kalau orang tua juga suka sinetron. Supaya anaknya diam, anak diajak nongkrong di depan televisi, nonton sinetron. Yang ada anak mengikuti adegan di sinetron. Orang marah-marah, memaki-maki enggak jelas. Itu kan membunuh karakter anak.

Contoh lain?
Ada t-shirt tulisannya Where’s My F*ckin’ Milk? Lumayan laku. Penjualannya bagus terus meski sudah beberapa produksi ulang (repeat). Misi tulisan di desain itu adalah supaya ibu-ibu muda mau memberi ASI eksklusif minimal 6 bulan ke anaknya. Syukur-syukur 2 tahun. Soalnya ada kecenderungan, orang sekarang lebih mementingkan pekerjaan ketimbang hak anak. Nah, minum ASI itu hak anak. Ada kekhawatiran yang enggak perlu, seperti, "Aduh kalau saya nyusuin, bentuk badan jadi berubah", "Saya enggak punya waktu nyusuin karena harus kerja," dan sebagainya yang buat saya sangat tidak masuk akal.

Anda sendiri memberi ASI ke putri Anda?
Saya termasuk yang kurang beruntung enggak bisa memberi ASI eksklusif ke anak saya, Magia Calluella Chaszta Az-Zurra (2,8). Waktu itu habis melahirkan, saya harus menjalani operasi, masuk ICU 2 hari. Jadi, enggak bisa langsung kasih ASI. Setelah operasi, ASI jadi terhambat. Saya sudah coba bermacam cara, tapi enggak bisa keluar juga. Saya menyesal sekali. Bukan mau irit, tapi karena itu hak anak. Kalau saya bisa membayar, berapa pun saya akan bayar supaya saya bisa kasih ASI eksklusif ke anak saya. Tapi mungkin saya memang tidak beruntung, ya. Jadi, tolong kalau bisa memberi ASI eksklusif, kasihlah anak ASI eksklusif. Kalau bisa yang alami, kenapa harus kasih susu pabrikan?

Efektif enggak pesan-pesan itu disampaikan lewat desain t-shirt?
Cukup efektif karena desain sangat berbicara. Desain Kill Sinetron tadi misalnya, ternyata banyak orang tua yang memang enggak setuju dengan acara-acara yang ada di televisi.

Orang yang enggak mengerti bisa-bisa berkomentar, "Kok kalimatnya seperti itu?"
Makanya ada product knowledge. Jadi kalau ada konsumen, kami jelaskan satu-satu maksud kalimatnya apa. Pernah ada yang berkomentar, "Gila, ini apa-apaan sih maksudnya? Ya saya sih mencoba berpikir positif saja, menerima itu sebagai masukan. Tapi, rata-rata konsumen yang beli di sini adalah pelanggan tetap yang sudah enggak kaget lagi. Ada sih satu-dua orang yang bilang, "Oh, ternyata ada desain begini buat anak?" Ya kami jelaskan saja. Jadi, kami enggak sekadar jual tanpa makna atau misi.

Pendekatan ke pelanggan personal sekali, ya
Betul. Kami ajak pembeli ngobrol dan memberi pengertian. Tapi sejauh ini enggak ada yang komplain sampai ngotot yang gimana gitu. Kami malah banyak melakukan kerjasama, misalnya jadi sponsor acara anak-anak. Jadi, enggak cuma sekadar jualan.

Sekilas seperti kaus dewasa yang dipakai anak, ya?
Bisa jadi ada yang melihat begitu. Tapi anak sekarang lebih kritis, lho. Banyak pelanggan yang datang anaknya memilih sendiri. Karena saya punya anak, jadi saya tahu juga. Dan memang orang tua harus menjelaskan.

Siapa sih yang membuat desain dan kalimat-kalimatnya?
Saya dibantu teman saya, Phaerly. Karena saya enggak punya latar belakang desain, biasanya kalau ada ide di benak langsung eksekusinya saya serahkan ke dia. Saya bikin gambar gunung aja pakai penggaris ha-ha-ha. Paling kalau ada yang kurang saya kasih masukan.

Sekarang sudah ada berapa desain?
Lebih dari 60 desain. Mayoritas warnanya memang hitam, putih, dan abu-abu. Kami sengaja pilih warna-warna tua karena baju anak-anak sekarang kan kebanyakan warna-warna pastel. Kami ingin beda. Dan ternyata banyak yang bilang justru lebih menarik. Karena itu tadi, warna mainstream-nya kan warna-warna pastel yang colourfull. Kami juga pikirkan bahan dan sablon seperti apa yang yang nyaman buat anak-anak.

Model kausnya juga panjang. Kebanyakan baju anak kan pendek di bagian torsonya. Nah, saya sengaja modifikasi. Saya masih ingat kultur orang Timur, kalau bajunya pendek pusarnya jadi kelihatan. Saya lihat masih banyak kok orangtua yang enggak kepingin pusar anaknya kelihatan. Model memanjang kayaknya juga lebih enak daripada ngatung.

Selain kaus, apalagi yang dijual PABC?
Macam-macam, dari diapers bag, tas anak, topi, jaket, celana, sepatu, sandal. Pasarnya lumayan bagus kok. Omzet per bulan kalau sedang ramai bisa Rp 70 juta. Meskipun sekarang sudah mulai banyak brand lain. Di Bandung aja ada sekitar 5 brand yang konsepnya mirip-mirip PABC. Cuma enggak tahu ya, mungkin orang tahu PABC lebih awal, jadi mereka biasanya membandingkan sama produk-produk PABC. Tapi banyak saingan justru bagus karena kami jadi harus berpikir, bikin saya terpacu.

Rencana bisnis ke depannya seperti apa?
Yang jelas saya mau ekspansi. Banyak sih yang minta atau menawarkan kerja sama, cuma belum ada yang menawarkan display sendiri. PABC ini kan baju anak, kalau display-nya disatukan sama baju dewasa, susah. Enggak kelihatan. Apalagi warna-warna kami warna dewasa.

Soal anak, pola pendidikan seperti apa sih yang Anda terapkan?
Saya dan suami sangat terbuka ke anak. Hal-hal yang masih tabu buat sebagian orang, saya sampaikan ke anak. Contohnya pendidikan seks, sudah saya kenalkan ke Magia sejak dini. Jadi, ia sudah tahu lho, proses kelahiran dia, dia keluar dari mana, dia punya vagina, menstruasi itu apa, dan sebagainya. Tapi tentu disesuaikan dengan perkembangannya. Hal-hal kecil seperti ini menurut saya justru jadi starting point yang harus disampaikan sejak dini.

Sambil bisnis, enggak repot punya anak balita ?
Saya selalu mengajari Magia untuk mandiri. Jadi, saya hampir enggak pernah merasakan repotnya punya anak balita. Saya enggak pernah gendong dia, tidur sendiri, saya tinggal pergi juga enggak rewel. Paling-paling dia nanya, "Ibu mau ke mana? Oh, mau nyari duit ya? Buat beli susu ya?" Dari lahir sampai sekarang enggak pernah pakai pembantu atau baby sitter. Semua saya kerjakan sendiri. Dia juga enggak pernah nonton televisi, kecuali acara musik. Kalau musik, 2-3 jam dia betah. Kalau pas kebetulan lihat adegan sinetron, dia malah suka nanya, "Kenapa sih orangnya marah-marah? Memang siapa yang nakal, kok dimarahin?"
Memang cukup kreatif dan kontroversial juga usaha yang dikelola oleh ibu muda ini. Tetapi di balik kontroversialnya, ia membawa visi dari setiap product-nya. Dan itulah yang disukai dan dicari oleh konsumennya.

Artikel pendukung kontes Stop Dreaming Start Action

Sumber : kompas.com

Powered by ExtJS Theme flavored Wordpress.